Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_25
"Rani! Jangan takut! Aku datang!" teriak Adrian keras. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran, sementara langkahnya terus mendekati bangunan sekolah tua itu.
"Adrian, jangan masuk!" balas Rani dari dalam ruangan. Wajahnya panik, sementara kedua tangannya mengepal kuat. "Ini jebakan!"
Adrian berhenti sejenak. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara matanya bergerak cepat mengamati keadaan sekitar. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Ruangan itu terlalu sunyi, bahkan tidak terdengar suara langkah siapa pun di bangunan tersebut.
"Rani, aku tahu!" jawabnya tegas. Wajahnya serius, sementara matanya menyapu seluruh bangunan. "Tapi aku tidak akan meninggalkanmu di sini."
Pria berjubah hitam yang berdiri di dekat Rani terkekeh. Suara tawanya menggema di ruangan yang sunyi, membuat bulu kuduk Rani meremang.
"Persis seperti yang kuduga." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi senyum sinis. "Kau memang selalu datang ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan."
Adrian langsung menatap ke arah suara tersebut. Tatapannya berubah tajam. Ia memperhatikan pria itu dari ujung kepala hingga kaki, mencoba mengenali siapa orang yang selama ini bersembunyi di balik jubah hitam tersebut.
"Keluar!" bentaknya. Wajahnya dipenuhi kemarahan. "Jangan bersembunyi di balik pintu!"
Pria itu perlahan keluar dari ruangan. Namun, kali ini ia tidak mengenakan topi yang menutupi wajahnya.
Adrian langsung terdiam. Mata mereka bertemu. Suasana di dalam bangunan itu seolah membeku. Tidak ada seorang pun yang berani bergerak. Hanya suara napas mereka yang terdengar samar di antara kesunyian.
Adrian mengerutkan kening.
"Kau..." gumamnya lirih. Wajahnya berubah tegang ketika sebuah ingatan lama muncul di kepalanya.
Pria itu tersenyum.
"Akhirnya kau ingat." ucapnya dingin. Wajahnya dipenuhi kepuasan.
Nathan maju selangkah.
"Siapa dia, Tuan?" tanyanya tegang. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
Adrian tidak menjawab. Tangannya perlahan mengepal. Kuku-kuku jarinya memutih karena tekanan. Napasnya terdengar berat, menahan amarah yang tiba-tiba membuncah.
"Raka..." ucap Adrian akhirnya. Wajahnya dipenuhi kebencian yang bercampur keterkejutan.
Raka tertawa kecil.
"Masih ingat namaku?" tanyanya mengejek. Wajahnya menunjukkan kepuasan.
Rani menatap Adrian dengan kebingungan.
"Adrian... siapa dia?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
Raka justru menjawab lebih dulu.
"Aku adalah orang yang dulu membuat hidup Adrian seperti neraka." ucapnya dingin. Wajahnya dipenuhi kebencian. "Aku dan teman-temanku selalu membully dia."
Rani terdiam. Matanya membesar.
"Jadi..." gumam Rani. Wajahnya mulai dipenuhi keterkejutan. "Kau anak laki-laki yang dulu sering menyakiti Adrian?"
Raka tertawa.
"Bukan hanya menyakitinya." jawabnya sinis. Wajahnya dipenuhi kebanggaan yang menyimpang. "Kami membuatnya merasa bahwa dia tidak pantas berada di antara kami."
Adrian menatapnya tajam.
"Sudah cukup." katanya dingin. Wajahnya dipenuhi kemarahan. "Itu masa lalu."
"Masa lalu?" Raka mendengus. Wajahnya berubah masam. "Bagimu mungkin masa lalu. Bagiku, itu alasan kenapa aku membencimu sampai sekarang!"
Nathan mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada beberapa orang di belakangnya untuk bersiap.
"Kenapa kau menculik Rani?" tanyanya tajam. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
Raka menatap Adrian.
"Karena aku ingin melihatmu kehilangan sesuatu." jawabnya dingin. Wajahnya dipenuhi kebencian.
Adrian melangkah maju.
"Kalau masalahmu denganku, jangan libatkan Rani." bentaknya. Wajahnya dipenuhi amarah. "Lepaskan dia!"
Raka tertawa keras.
"Itulah masalahmu!" balasnya. Wajahnya dipenuhi kebencian. "Kau selalu merasa harus menyelamatkan semua orang!"
Adrian menatapnya tanpa gentar.
"Karena aku tahu rasanya tidak ada seorang pun yang menyelamatkanmu." jawab Adrian pelan. Wajahnya menunjukkan luka lama yang belum sepenuhnya hilang.
Raka terdiam. Senyumnya perlahan menghilang.
"Kau pikir kau hebat sekarang?" tanyanya dingin. Wajahnya dipenuhi iri dan kebencian. "Dulu kau hanya anak miskin yang bahkan tidak mampu membeli sepatu baru."
Adrian tidak menjawab. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tetap tertuju pada Raka. Ada ketegangan yang perlahan memenuhi ruangan, membuat suasana terasa semakin mencekam.
Raka semakin mendekat. Langkahnya terdengar pelan namun pasti, matanya menyipit seolah sedang berusaha membaca setiap perubahan ekspresi di wajah Adrian. Jarak di antara mereka semakin dekat, hingga Adrian dapat merasakan tekanan dari kehadiran pria itu.
"Kau anak orang susah!" bentaknya. Wajahnya dipenuhi kemarahan. "Tidak punya apa-apa! Tidak punya keluarga kaya! Tidak punya koneksi!"