Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbincangan dengan Hamzah

Hari ini adalah hari liburku. Setelah halaqah ba’da Subuh yang hanya berlangsung setengah jam, aku memutuskan untuk melakukan rutinitasku di pagi hari, yaitu berlari-lari kecil mengelilingi pondok.

Baru satu putaran, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.

“Gimana, Lam? Proses ta’aruf-nya dengan Aisyah?” tanyanya.

Aku langsung mengenali suara itu. Hamzah.

Seketika dahiku mengernyit. Dari mana dia tahu soal ini? Apakah keluarga Aisyah sudah mengetahui semuanya?

“Aku tahu dari Abah, Lam. Lebih tepatnya, tanpa sengaja tahu,” katanya sambil meringis, seolah merasa tidak enak karena telah mengetahui sesuatu yang seharusnya bukan urusannya.

Aku hanya menggeleng kecil.

“Kalau sama teman sendiri, sering-sering cerita, dong,” godanya. Kami pun terus berlari kecil berdampingan.

“Insyaallah lancar, Ham. Doakan saja, semoga tidak ada halangan,” jawabku.

“Aamiin,” katanya mengamini.

Kami kembali berlari dalam diam. Namun, beberapa saat kemudian, Hamzah kembali membuka pembicaraan.

“Aisyah mungkin terlihat sebagai orang yang ceria. Memang, pribadinya seperti itu. Tapi aku tahu, pasti ada banyak luka yang dia simpan.”

Langkahku tetap berlari, tetapi pikiranku mulai tertarik pada ucapannya.

“Kamu sudah tahu, bukan, kalau Abahnya sudah meninggal?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Setelah Abahnya meninggal, Bulek sempat mengalami stres. Itu berlangsung sekitar tiga tahun. Padahal, Aisyah waktu itu baru berusia sembilan tahun. Akhirnya, Jiddah yang mengasuhnya.”

Aku terdiam.

Baru kali ini aku mengetahui bahwa Ummu Aisyah pernah mengalami masa seberat itu. Tapi kalau dia dibesarkan neneknya setelah Abahnya meninggal aku sudah tahu.

“Setelah Bulek sembuh, baru sekitar satu tahun kemudian, ternyata beliau mengidap penyakit kanker paru-paru.”

Aku menelan ludah. Entah mengapa, langkahku terasa sedikit melambat.

“Karena berkali-kali berobat, akhirnya beliau memutuskan untuk menikah lagi agar ada seseorang yang bisa menemaninya selama menjalani pengobatan. Lagi-lagi, Aisyah harus ditinggal. Uminya harus ikut bersama suaminya,” jelas Hamzah.

Aku tak langsung menjawab.

Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dada. Selama ini, aku mengenal Aisyah sebagai sosok yang ceria, mudah tersenyum, dan terlihat begitu kuat. Tak pernah terpikir olehku bahwa di balik keceriaan itu, ada begitu banyak kehilangan yang pernah ia lalui.

Ayahnya pergi ketika usianya masih begitu kecil. Ibunya harus menjalani masa sulit karena sakit, kemudian pergi bersama suaminya. Sementara Aisyah harus belajar tumbuh bersama Jiddah.

Memang tidak mudah.

Namun, mungkin justru karena kehidupan telah mengajarinya tentang pahitnya kehilangan sejak dini, Aisyah tumbuh menjadi perempuan yang tegar.

Atau mungkin...

di balik ketegarannya itu, masih ada luka-luka yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Aku masih terdiam. Kakiku terus bergerak mengikuti langkah Hamzah, tetapi pikiranku sudah jauh ke mana-mana.

Entah kenapa, cerita yang baru saja kudengar membuat sosok Aisyah di dalam pikiranku terasa berbeda.

Selama ini aku melihatnya sebagai perempuan yang ceria. Yang mudah tersenyum. Yang mampu berbicara dengan ringan, seolah hidup tak pernah memberinya alasan untuk bersedih.

Ternyata, aku salah.

Ada bagian dari hidupnya yang belum pernah ia tunjukkan kepadaku.

Dan justru bagian itulah yang sekarang membuat dadaku terasa sesak.

Kasihan.

Entah sudah berapa kali kata itu muncul di kepalaku.

Kasihan karena kehilangan ayah di usia yang begitu muda.

Kasihan karena harus melihat ibunya berjuang melawan penyakit.

Kasihan karena harus menerima kenyataan bahwa ibunya menikah lagi dan meninggalkannya untuk mengikuti suaminya.

Namun, semakin kupikirkan, semakin aku merasa tidak nyaman dengan rasa kasihan itu.

Bukankah aku sedang menjalani proses ta’aruf dengannya?

Bukankah aku sedang berusaha mencari seorang perempuan yang akan menjadi pendamping hidupku?

Kalau pada akhirnya aku memilihnya hanya karena merasa kasihan, apakah itu adil untuk Aisyah?

Aku mengembuskan napas panjang.

Tidak.

Aku tidak boleh menjadikannya sebagai seseorang yang harus kuselamatkan hanya karena masa lalunya.

Aisyah bukan sekadar perempuan yang pernah terluka.

Ia adalah seorang perempuan dengan kepribadian, pemikiran, prinsip, dan pilihan hidupnya sendiri.

Dan jika suatu hari aku benar-benar memilihnya, aku ingin memilihnya bukan karena aku iba terhadap kisah hidupnya.

Aku ingin memilihnya karena aku menghargai siapa dirinya.

Karena aku yakin dengannya.

Karena aku melihat kebaikan yang ada dalam dirinya.

Karena aku ingin berjalan bersamanya, bukan karena merasa harus menyembuhkan luka-lukanya.

Aku menunduk, memperhatikan langkah kakiku yang terus bergerak.

Namun, ada satu pertanyaan lain yang justru lebih sulit kujawab.

Kalau bukan karena rasa kasihan...

lalu sebenarnya apa yang membuatku terus memikirkan Aisyah?

Pertanyaan itu membuat langkahku tanpa sadar melambat.

Hamzah menoleh.

“Kenapa, Lam?”

Aku segera menggeleng.

“Nggak apa-apa.”

Padahal, ada sesuatu yang sedang berusaha kupahami sendiri.

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menilai apakah Aisyah adalah perempuan yang tepat untukku.

Sampai aku lupa bertanya kepada diriku sendiri...

apakah hatiku mulai memilihnya karena siapa dirinya?

Atau karena aku ingin menjadi seseorang yang hadir setelah begitu banyak orang pergi dari hidupnya?

Aku kembali berlari kecil.

Namun kali ini, pikiranku terasa jauh lebih berat.

Aku tahu satu hal.

Aku tidak ingin menikahi Aisyah karena merasa kasihan.

Sebab rasa kasihan bisa membuat seseorang bertahan untuk sementara.

Tapi pernikahan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada itu.

Keyakinan.

Penerimaan.

Dan kemauan untuk berjalan bersama, bahkan ketika masa lalu sudah tidak lagi menjadi alasan untuk bertahan.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!