Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19.

 Raja melangkah masuk ke dalam mansion hanya untuk mengambil sisa barang-barang pribadinya. Di ruang keluarga, ia mendapati mama, kakek, dan neneknya sedang duduk berkumpul. Ketiganya langsung melempar tatapan tajam ke arah Raja. Mengabaikan atmosfer mencekam itu, Raja melenggang begitu saja tanpa berniat menoleh atau menyapa mereka.

"Dari mana saja kamu? Sudah tiga hari baru pulang!" tegur sang mama, Helen, dengan suara meninggi.

Raja menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh sekilas. "Bukan urusan Mama," sahutnya dengan tatapan sedingin es.

BRAK!

"Jangan keterlaluan, Raja! Dia itu mama kamu!" bentak nenek Raja sambil menggebrak meja ruang tamu.

"Saya tidak peduli," jawab Raja datar.

"Kenapa kamu sengaja tidak datang ke acara pertemuan dengan Selly?!" tanya Helen berang, menuntut penjelasan.

Raja mengembuskan napas pendek. "Saya sudah bilang berulang kali, saya tidak pernah mau dan tidak akan sudi dijodohkan."

"Kamu harus mau! Selly itu anak dari teman dekat Mama. Jika kamu bertunangan dengan Selly, keluarga mereka berjanji akan menyuntikkan dana dan bekerja sama dengan perusahaan milik Mama!" tekan Helen, menyuarakan ambisinya.

"Saya tetap tidak mau."

"Mau tidak mau, kamu harus menurut!" bentak Helen mutlak.

Napas Raja mulai memburu. Perasaan tertekan yang ia pendam selama ini akhirnya meledak. "Mama kenapa selalu memaksakan kehendak sendiri, sih?! Mama tidak pernah mau mengerti sedikit pun perasaan anak-anak Mama! Mama itu terlalu egois, tahu gak?!" teriak Raja dengan raut penuh kemarahan.

"KAMU JANGAN KETERLALUAN, RAJA! SAYA INI MAMA KAMU! SAYA BERHAK UNTUK MENENTUKAN DENGAN SIAPA KAMU HARUS BERSAMA!" balas Helen berteriak higenis, tidak terima otoritasnya dilawan.

"Termasuk memaksa anak Mama sampai tertekan seperti ini?! Asal Mama tahu, Mama adalah orang paling jahat dan egois yang pernah ada! Mama hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau tahu apakah anak-anak Mama bahagia atau tidak, terpaksa atau tidak!"

Kedua mata Raja mulai berkaca-kaca menahan sesak. "MAMA ITU EGOIS! GARA-GARA MAMA, KETIGA ABANGKU MEMILIH PERGI! GARA-GARA MAMA JUGA PAPA MEMILIH PERGI! MAMA SANGAT EGOIS DAN JAHAT!"

Raja kemudian mengalihkan pandangan tajamnya ke arah dua orang tua di dekat Helen. "Kakek dan Nenek juga sama saja seperti Mama, sama-sama egois! Seharusnya kalian itu menasihati Mama supaya tidak bersikap gila seperti itu dengan terus memaksa anaknya!"

"Sejak kecil kami kehilangan peran Papa murni karena kecemburuan Mama yang terlalu posesif! Sikap gila Mama yang membuat Papa pergi! Dan Bang Regan ... dia terpaksa pergi ke luar negeri karena Mama menjebak dan memaksanya untuk menikahi wanita yang bahkan usianya jauh lebih tua dari Bang Regan sendiri!"

"Terus, Mama juga memaksa Bang Louis menikah sampai akhirnya mereka bercerai dalam waktu seminggu pernikahan! Dan gara-gara kebiadaban Mama juga, Bang Brian sampai diusir dan pergi dari rumah ini!" lanjut Raja dengan napas tersengal-sengal setelah meluapkan seluruh emosi yang menggebu-gebu.

Tanpa menunggu balasan dari ketiganya, Raja langsung menghentakkan kaki menaiki tangga menuju kamarnya. Ia menyambar ransel besar, lalu memasukkan semua pakaian dan barang penting miliknya tanpa sisa.

Saat Raja kembali turun ke lantai bawah sambil menyandang tasnya, Helen sudah berdiri menghadang di undakan tangga terakhir.

"Kamu mau kemana?! Apa kamu juga mau menjadi anak durhaka dan meninggalkan Mama seperti ketiga abangmu itu?!" tanya Helen dengan nada bergetar, separuh jiwanya mendadak didera ketakutan akan kesendirian.

Raja menatap ibunya lurus-lurus tanpa rasa gentar sedikit pun. "Mama bisa hidup sendiri dengan perusahaan dan seluruh kekuasaan yang Mama agungkan itu."

Raja melangkah lebar melewati ibunya, keluar dari mansion, dan menutup pintu depan dengan dentuman keras.

Melihat kepergian anak bungsunya, Helen jatuh terduduk di lantai dengan tangan terkepal erat. "Ini pasti gara-gara Brian ... si sialan itu pasti sudah menghasut Raja untuk berani melawan saya!" desis Helen penuh dendam.

"Raja benar, Helen. Kamu sudah terlalu gila dengan kekuasaan, jabatan, dan perusahaanmu itu," ucap sang kakek tiba-tiba, suaranya terdengar lesu dan sarat akan penyesalan. "Seharusnya sejak dulu saya menasihati dan menyadarkanmu, bukannya malah membenarkan dan mendukung semua perlakuan gila kamu kepada anak-anakmu."

Helen mendongak, menatap ayahnya tidak percaya. "Ayah sekarang berbalik menyalahkan saya?!"

"Saya tidak menyalahkarmu, Helen, tapi saya menyalahkan diri saya sendiri karena tidak becus mendidik putrinya sendiri. Kamu terlalu posesif dengan Agra dulu, dan sekarang kamu terlalu mengekang anak-anakmu sendiri hingga mereka satu per satu memilih pergi dari hidupmu. Apa kamu belum sadar dan bertobat juga, Helen?!" cecar sang kakek.

"Saya bersikap posesif ke Mas Agra karena dia terlalu dekat dengan beberapa wanita, Yah! Saya tidak suka milik saya disentuh orang lain!" kilat Helen, tetap keras kepala menolak disalahkan.

Kakek hanya bisa menghela napas berat melihat ketegaran hati putrinya yang sudah telanjur menghitam. "Haaaa ... keras kepala. Terserah kamu, Helen. Ayah mau ke atas, pusing," ucap kakek lalu beranjak menuju kamarnya.

Nenek yang sejak tadi diam kini menatap Helen cemas. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Temanmu itu pasti tidak akan terima karena Raja menolak anaknya mentah-mentah."

Helen perlahan bangkit berdiri. Sebuah senyuman miring yang terlihat sangat licik terukir di wajahnya. "Saya akan membawa Raja pulang, bagaimanapun caranya. Bila perlu ... saya akan mengancamnya lewat Brian."

Nenek hanya menggeleng pasrah. "Terserah kamu saja, Helen."

Di luar gerbang mansion, Raja memakai helmnya dengan kasar. "Arghhhh! Dasar wanita sialan! Jika bukan karena mengingat pesan Bang Regan, sudah saya hancurkan isi mansion itu!" umpat Raja menumpahkan sisa emosinya.

Ting! Ting!

Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel yang berada di saku jaketnya. Raja segera merogoh benda pipih itu dan membaca pesan dari Brian.

Bang BrianAda di mana elo, Dek?

Raja dengan cepat mengetikkan balasan dengan satu tangan.

RajaSedang dalam perjalanan ke apartemen, Bang.

Tidak ada lagi pesan balasan dari Brian setelah itu. Raja segera memasukkan kembali ponselnya, menyalakan mesin, dan langsung melajukan motor sportnya membelah jalanan menuju apartemen sang abang.

Sementara itu, di dalam ruang tengah apartemen yang sejuk.

"Haaaa ... bosan banget gue kalau cuma rebahan di apartemen melulu," keluh Revangga yang kini sedang berguling-guling tidak jelas di atas karpet bulu.

"Elvian belum pulang juga, Brian?" tanya Tian yang baru keluar dari dapur membawa camilan.

"Belum, Kak," sahut Brian yang fokus pada ponselnya.

"Biarin aja lah, Kak. Mungkin mereka berdua lagi asyik bersenang-senang mencoba semua wahana di pasar malam," timpal Revangga menyahut dari lantai.

Tian manggut-manggut mengerti, lalu beralih duduk di samping Brian. "Hmm, omong-omong ... ini adek kamu jadi ikut tinggal di sini, Brian?"

"Jadi, Kak. Dia sekarang lagi dalam perjalanan ke sini kok," jawab Brian.

Tian menatap Brian dan Revangga bergantian secara bergantian. "Sebenarnya ... kalian itu totalnya ada berapa bersaudara, sih?" tanya Tian penasaran dengan latar belakang mereka.

"Kalau aku cuma tiga bersaudara aja, Kak. Dan kebetulan aku anak nomor dua, tapi nasibnya selalu kayak anak sulung yang dituntut harus selalu mengalah," curhat Revangga diselingi tawa hambar.

"Kalau aku empat bersaudara, Kak. Laki-laki semua. Aku anak nomor tiga, dan si Raja itu adik bungsu aku," jelas Brian.

Tian tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Haaaa ... ternyata nasib kita mirip, ya. Sama-sama memiliki konflik yang rumit dari keluarga dan urusan kekasih."

Ting-tong! Suara bel apartemen berbunyi nyaring.

"Iya, sebentar!" Brian beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu. Ceklek.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Raja yang berdiri tegak dengan ransel besar di punggungnya. "Bang," sapa Raja pelan.

"Masuk, Dek," titah Brian membuka pintu lebih lebar.

Raja melangkah masuk dan mengikuti Brian menuju ruang tengah. "Nah, kenalin, Kak, dia Raja, adik bungsu gue. Dan Raja, ini Kak Tian. Panggil Kak Tian aja, dia usianya lebih tua dari gue," ucap Brian memperkenalkan.

Raja menurunkan sedikit egonya, lalu membungkuk sopan kepada pria manis di depan sofa. "Saya Raja, Kak Tian."

"Saya Tian. Salam kenal ya, Raja," balas Tian hangat dengan senyuman tulus.

"Dan gue Revangga!" sahut Revangga bersemangat, memperkenalkan dirinya sendiri dari atas karpet.

Raja menoleh datar ke arah Revangga. "Sudah tahu. Kan kita pernah bertemu dan adu mulut di tengah jalan tadi siang."

Sontak tawa canggung lolos dari bibir Revangga sambil menggaruk tengkuknya. "Oh iya, benar juga, hehehe."

Brian menepuk pundak adiknya. "Ya sudah, elo langsung ke kamar aja buat beres-beres barang elo. Kamar elo tepat di samping kamar gue, ya."

"Hmm, oke," angguk Raja lalu berjalan menuju kamar yang ditunjuk.

Menatap punggung Raja yang menjauh, Tian berbisik takjub kepada Brian. "Adik kamu kok bisa jauh lebih tinggi daripada kamu ya, Brian?"

"Iya, Kak, aku juga heran dia dikasih makan apa selama ini sampai tingginya kelewatan begitu. Di antara dua abang gue yang lain, cuma Raja sepertinya yang tingginya mirip tiang listrik. Waktu aku diusir dari rumah dulu, tinggi Raja masih di bawah dagu aku. Tapi setelah lama tidak bertemu, kok makin menjulang aja badannya," aku Brian dengan nada kagum sekaligus sedikit iri.

Revangga ikut duduk tegak di karpet. "Mungkin adek elo itu atlet pemain basket, Brian. Coba elo lihat struktur tangannya, kelihatan lebih kekar, besar, dan kuat. Ditambah tinggi badannya yang proporsional, itu tipikal pemain basket banget."

"Mungkin juga sih," sahut Brian setuju.

Beberapa menit kemudian, Raja selesai merapikan pakaiannya. Ia keluar dari kamar dengan pakaian santai yang sudah diganti, lalu memilih duduk di sofa tepat di samping Brian.

Brian yang peka mendapati raut wajah sang adik yang masih mengeras menahan amarah langsung menggeser duduknya. "Wajah elo kenapa, Dek? Kelihatan emosi banget begitu. Apa si wanita tua itu sempat bilang sesuatu yang aneh lagi ke elo sebelum elo pergi?" tanya Brian menyelidik.

Raja mengepalkan jemarinya di atas lutut. "Gue beneran marah banget sama Mama, Bang. Dia masih saja keras kepala memaksa gue buat bertunangan sama putri temannya itu. Padahal gue udah tegas menolak beberapa kali, tapi dia tetap tidak mau dengar dan terus menekan gue."

Brian mendengus remeh, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Namanya juga nenek tua gila harta. Elo mau ngomong sampai mulut berbusa pun gak akan pernah didengar sama dia. Pikiran dia itu sudah dibutakan sama kekayaan dan kekuasaan. Sudah, elo tetap di sini saja tinggal sama gue, gak usah pulang-pulang lagi ke sana."

"Kita lihat saja nanti, sampai sejauh mana nenek tua itu bisa bertahan hidup dalam kesendirian tanpa ada satu pun anak-anaknya yang sudi menemani," sambung Brian sinis.

Raja mengangguk setuju, merasakan beban di dadanya sedikit terangkat. "Hmm. Gue juga gak akan sudi pulang sebelum Mama benar-benar berubah dan berhenti memaksa gue untuk bertunangan." Raja kemudian meregangkan otot lehernya yang kaku. "Ya sudah, Bang, gue ke kamar dulu mau istirahat."

Brian mengangguk membiarkan adiknya kembali ke kamar.

Setelah pintu kamar Raja tertutup, Brian menatap kosong ke arah langit-langit apartemen sambil menghela napas panjang. "Gue kira Raja tidak akan mengambil keputusan nekat seperti gue dan dua abang gue yang lain. Gak tahunya nasib dia berakhir sama saja," gumam Brian lirih.

Tian yang mendengarnya mengernyit bingung. "Kenapa kamu bisa bilang begitu, Brian?"

"Raja itu dulu waktu masih kecil adalah anak yang paling disayang dan paling dimanja sama wanita itu, Kak. Tapi setelah Papa memutuskan untuk berpisah dari rumah, wanita itu mulai berubah drastis. Dia menjadi sangat gila harta, haus kekuasaan, dan selalu menuntut anak-anaknya untuk tunduk mutlak di bawah perintahnya," jelas Brian dengan nada miris.

Revangga ikut mengembuskan napas berat dari bawah. "Haaaa ... ternyata polanya sama saja, ya. Keluarga yang terlalu egois dan lebih mementingkan ambisi diri sendiri daripada kebahagiaan anak-anaknya."

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!