Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHKOTA KAMPUS DAN MUSUH DALAM SELIMUT

Sinar matahari pagi menembus kaca depan sedan mewah yang mengantarkanku tepat ke pelataran Universitas Nusantara.

Kampus swasta papan atas di kawasan Jakarta Selatan ini berdiri megah bagai istana modern di tengah kepungan gedung pencakar langit.

Deretan mobil sport berharga miliaran rupiah terparkir rapi di area VIP, sementara mahasiswa dan mahasiswi berpakaian serba merek ternama berlalu lalang dengan aura kepercayaan diri yang meluap.

Kampus ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan arena pamer kekayaan dan status sosial bagi anak-anak elit ibu kota.

Aku melangkah keluar dari pintu mobil dengan gaun terusan kasual berwarna krem lembut yang membalut ketat lekuk tubuhku.

Di usiaku yang kini tepat menginjak 20 tahun, perubahan fisikku berkembang dengan sangat matang dan mencolok.

Tubuhku yang tinggi semampai dengan lekuk tegas bagai gitar Spanyol, dipadu dengan kulit putih bersih, wajah tirus, serta mata bulat yang tajam, langsung menyedot perhatian seketika.

Hanya dalam waktu tiga bulan sejak semester pertama dimulai, namaku sudah menjadi bahan perbincangan hangat di seluruh penjuru fakultas.

Aku menolak semua tawaran untuk bergabung dengan geng-geng sosialita kampus yang dangkal.

Sikapku yang cenderung misterius, irit bicara, dan dingin justru membuat orang-orang semakin penasaran.

Bagi para mahasiswa, aku adalah figur ‘Dewi Yunani’ yang mustahil untuk digapai, sementara bagi para mahasiswi elit, kehadiranku adalah ancaman terbesar bagi tahta kecantikan mereka.

"Clarissa!

Tungguin gue, woi!

Bisa gila gue ngejar langkah kaki lu yang panjang banget itu!"

Sebuah teriakan melengking yang sama sekali tidak mencerminkan kemewahan kampus memecah riuh koridor utama.

Belum sempat aku berbalik, sebuah lengan merangkul bahuku dengan sangat kencang hingga aku hampir tersandung ke depan.

Siapa lagi pelakunya kalau bukan Karin, satu-satunya manusia di kampus ini yang berhasil menembus pertahanan dinginku dan menjadi sahabat karibku.

Karin adalah gadis berwajah manis dengan gaya busana serba tabrak warna yang eksentrik, memiliki potongan rambut pixie-cut, dan kelakuan yang sangat bar-bar.

Meskipun ayahnya adalah seorang kontraktor kaya raya yang memegang proyek-proyek besar, Karin sama sekali tidak menyukai kepalsuan dan kepura-puraan dunia high society.

"Kamu panggil dari tadi?

Maaf, Rin, aku tidak denger," jawabku pelan sambil tersenyum tipis, mencoba merapikan bagian gaunku yang agak kusut akibat ulah spontannya.

"Gue panggil dari ujung parkiran, Clarissa!

Lu jalan cepat banget kayak orang yang lagi dikejar-kejar debt collector tahu nggak," gerutu Karin heboh sambil memutar bola matanya, menyesuaikan langkah kakinya yang lebih pendek dengan langkah kakiku.

"Lagian lu kenapa sih santai banget?

Hari ini kan jadwal kelasnya Dosen Hendra.

Lu tahu sendiri kan itu dosen killer-nya tiada tanding.

Kalau kita terlambat semenit aja, kelar hidup kita semester ini!"

"Makanya aku jalan cepat supaya kita tidak terlambat, Rin," balasku terkekeh pelan melihat ekspresi wajahnya yang selalu dramatis.

"Halah, Dosen Hendra mah mana tega marah sama cewek sekelas lu.

Lu cuma perlu kedip sekali sambil benerin posisi duduk, nilai A murni langsung keluar tanpa ditanya syarat," celetuk Karin asal-asalan tanpa beban, membuatku hanya bisa menggelengkan kepala menghadapi kepolosannya yang terlewat batas.

Namun, suasana santai kami mendadak buyar saat kami berjalan melewati lorong utama menuju ruang kuliah gedung B.

Langkah kaki beberapa mahasiswa di sekitar kami perlahan melambat, dan bisik-bisik kasak-kusuk mulai terdengar dari kanan dan kiri.

Di ujung lorong yang menyempit, tiga gadis berdiri menanti dengan tangan bersedekap di dada, menghalangi akses jalan kami secara terang-terangan.

Di posisi paling depan berdiri Valerie, putri seorang pejabat tinggi negara yang selama ini menganggap dirinya sebagai ratu terpuji di kampus sebelum aku datang dan menggeser posisinya tanpa pernah berniat untuk bertarung.

Valerie menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan mata yang sarat akan rasa benci dan dengki.

Dua pengikut setianya, Sheila dan Jessica, berdiri di samping kiri dan kanannya sambil menyunggingkan senyum sinis yang dibuat-buat.

"Wah, lihat siapa yang akhirnya datang melintas.

Si sok suci dan sok eksklusif dari jurusan Manajemen," sindir Valerie dengan suara keras yang sengaja ditinggikan, memancing perhatian belasan mahasiswa lain yang sedang berada di lorong untuk berhenti dan menonton.

"Gue dengar-dengar dari anak-anak lain, lu bisa masuk kampus mahal ini pakai jalur belakang ya?

Setahu gue, keluarga lu kan sebenarnya sudah bangkrut total dan melarat.

Kok bisa-bisanya lu tiba-tiba tinggal di apartemen penthouse paling mahal di pusat kota?

Lu sebenarnya simpanan tante-tante Girang atau jadi piaraan om-om berkantong tebal, Ris?"

Sheila dan Jessica tertawa geli mendengar ucapan itu, berpura-pura menutup mulut mereka dengan gaya yang sangat kekanak-kanakan.

Darahku mendidih seketika.

Bayangan tentang almarhum Ayah yang berjuang jualan di tepi jalan raya mendadak berkelebat di benakku, membuat dadaku bergemuruh oleh amarah yang membakar.

Namun, sebelum aku sempat membalas atau memukul wajah sok cantiknya itu, Karin sudah lebih dulu melompat ke depan.

Sahabatku itu membusungkan dadanya dan menunjuk tepat di depan hidung Valerie tanpa rasa takut sedikit pun.

"Eh, Valerie!

Mulut lu itu kayak sampah komplek yang belum diangkut tiga hari ya, bau dan kotor banget!" sembur Karin dengan nada tinggi hingga suaranya bergema di seluruh lorong.

"Lu ngomong kayak gitu cuma karena lu iri setengah mati kan?

Lu iri karena pangeran-pangeran kaya di kampus ini semua matanya cuma tertuju ke Clarissa, bukan ke muka lu yang tebal racikan bedak pasar itu!

Sadar diri, Mbak!"

"Lu bilang apa, hah?!

Berani banget lu bentak gue?!" bentak Valerie, wajahnya yang penuh dengan fondasi mahal mendadak memerah padam menahan malu di depan umum.

"Aku tidak pernah punya niat untuk mencari masalah sama kamu, Valerie," potongku dengan nada suara yang sangat tenang namun amat dingin, menatap lurus ke dalam manik matanya tanpa berkedip sedikit pun.

Suaraku yang rendah dan penuh penekanan mendadak mematikan keberanian orang-orang di sekitar kami.

"Kalau kamu punya masalah pribadi atau rasa tidak aman dengan kehidupan pribadi orang lain, simpan itu baik-baik untuk dirimu sendiri.

Jangan mengotori jalan yang sedang aku lewati."

Tanpa menunggu respon balasan darinya, aku memutar tubuh dan melanjutkan langkah kaki dengan tenang tanpa sedikit pun memedulikan makian frustrasi Valerie yang makin menjadi-jadi di belakang kami.

Karin tertawa puas dengan suara keras sambil menjulurkan lidahnya ke arah geng pembully itu sebelum akhirnya berlari kecil menyusul langkahku.

"Gue puas banget lihat muka si Valerie berubah merah kayak kepiting rebus gitu!" ujar Karin heboh saat kami berdua akhirnya duduk di salah satu sudut kantin kampus yang interiornya dirancang mirip restoran bintang lima.

Karin menepuk meja berkali-kali sambil menyedot es teh manisnya.

"Kamu jangan terlalu sering memprovokasi dia, Rin.

Aku tidak mau punya masalah panjang yang membuang-buang energi di kampus ini," jawabku tenang sambil memutar sedotan di dalam gelas jus alpukatku.

"Elah, cewek modelan kayak gitu emang harus dikasih paham sesekali, Ris!

Kalau didiemin malah makin melunjak," sahut Karin santai sambil mengunyah kentang gorengnya.

"Eh, omong-omong soal pangeran kampus..."

Karin mendadak menyikut lenganku pelan, mengarahkan pandangan matanya ke arah pintu masuk utama kantin.

"Tuh, lihat.

Penggemar rahasia lu yang pantang menyerah akhirnya datang lagi membawa amunisi baru."

Aku menoleh perlahan dan mendesah napas panjang yang amat berat.

Dari pintu masuk kantin, berjalan seorang pria berparas sangat tampan dengan kemeja kasual tergulung rapi hingga siku.

Nama pria itu adalah Aris.

Ia merupakan putra tunggal dari seorang konglomerat pengembang properti ternama di Indonesia yang sudah mengejarku tanpa kenal lelah sejak hari pertama masa orientasi kampus dimulai.

Aris memiliki segalanya ia pintar, sangat kaya, berparas rupawan bagai aktor, dan menjadi incaran utama bagi hampir separuh mahasiswi di kampus ini.

Namun bagiku, hatiku sudah terlanjur membeku dan tertutup rapat untuk urusan asmara.

"Clarissa," sapa Aris dengan suara bass yang sangat lembut saat ia berdiri di samping meja kami, menyunggingkan senyuman manis yang sanggup meluluhkan hati wanita mana pun.

Tanpa ragu, ia meletakkan seikat bunga mawar putih segar dan satu kotak cokelat impor mahal tepat di atas mejaku.

"Aku tahu kamu pasti belum sempat sarapan karena harus masuk kelas pagi.

Aku sengaja belikan ini dari kafetaria khusus di gedung depan."

"Terima kasih atas perhatiannya, Aris.

Tapi sebaiknya kamu simpan atau berikan bunga dan cokelat ini buat orang lain saja.

Aku sudah sangat kenyang," jawabku sejujur dan sehalus mungkin, tidak ingin memberinya sedikit pun celah atau harapan palsu yang membuang waktunya.

"Sampai kapan kamu mau terus-terusan bersikap dingin dan membentengi diri seperti ini sama aku, Ris?"

Aris menatapku penuh dengan kesungguhan, lalu memberanikan diri duduk di kursi kosong tepat di sebelahku tanpa diundang.

"Aku tidak sedang bermain-main.

Aku sangat serius sama kamu.

Aku mau jadi pria yang bisa menjaga dan melindungi kamu dari apa pun."

Karin yang duduk di hadapan kami hanya menatap kami berdua secara berselang-seling sambil terus mengunyah kentang gorengnya, menikmati adegan drama romantis gratis di depan matanya sendiri.

"Aris, tujuan utamaku datang ke kampus ini adalah untuk belajar dan menyelesaikan pendidikanku, bukan untuk menjalin hubungan asmara dengan siapa pun," balasku tegas, menatap matanya secara lurus untuk menegaskan batasan.

"Tolong hargai keputusanku dan batasi dirimu."

Sebelum Aris sempat membuka mulut untuk membalas argumentasiku, ponsel di dalam tas kainku mendadak bergetar hebat disertai nada dering yang nyaring.

Aku melihat nama yang tertera di layar sebuah panggilan masuk dari Ibu.

Aku menggeser tombol hijau dan menempelkan layar ponsel ke telingaku.

"Halo, Bu?

Ada apa?"

"Clarissa!

Kamu harus segera pulang sekarang juga ke apartemen!"

suara Ibu dari seberang telepon terdengar sangat panik dan terengah-engah, namun di balik ketegangannya, terselip nada gembira yang terkesan sangat aneh dan tidak wajar.

"Malam ini juga kita harus segera mengepak barang-barang dan pindah dari sini.

Ada hal yang sangat penting dan besar yang harus Ibu bicarakan secara langsung denganmu!"

"Pindah lagi?

Kita mau pindah ke mana lagi, Bu?

Bukannya apartemen ini sudah cukup?" tanyaku dengan kening berkerut dalam, merasa ada ketidakwajaran yang sangat besar.

"Sudah, kamu jangan banyak bertanya di telepon!

Cepat pulang sekarang, ini menyangkut seluruh masa depan dan kemewahan hidup kita!"

jerit Ibu tajam sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak tanpa memberikan kesempatan bagiku untuk membalas.

Aku menurunkan ponselku dengan gerakan perlahan, menatap layar hitam yang baru saja mati.

Firasat buruk yang sangat tajam dan dingin mendadak merayap perlahan dari punggung hingga ke tengkukku.

Ada sesuatu yang sangat besar dan mengerikan sedang menungguku di rumah sesuatu yang lambat laun akan membongkar semua kepalsuan dan mengubah jalan hidupku selamanya.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!