Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

"Gila! Brengsek! Bajingannnnn!!"

Elara tak berhenti mengumpat di toilet sambil membasuh wajahnya terutama mulutnya, dia benar-benar merasa jijik sekaligus malu.

Jika saja dia sudah benar-benar bebas dari semua ini, hal yang pertama dia lakukan adalah memenggal kepala Dreven sekarang.

"Cecunguk itu, akan ku buat kau membayar ini semua!" Serunya dengan keras. Dia menatap wajahnya di cermin, sorot matanya tajam seolah benar-benar ingin membunuh sekarang.

Tok! Tok!

"Kau di dalam? Sudah tiga puluh menit, kau baik-baik saja?" Suara Dreven terdengar dari luar, namun Elara enggan menjawab pria itu. Dia masih kesal karena pria itu menciumnya di depan umum terlebih dia tak tahu bekas siapa bibir menjijikkan itu.

Tok! Tok!

"Elara, aku tahu kau di dalam." Suara Dreven terdengar lebih tegas kali ini.

Elara mendengus, menghapus air di wajahnya dengan kasar, lalu menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Tatapan matanya langsung menusuk ke arah pria itu, yang duduk di kursi rodanya dengan tangan diselipkan di saku celana.

"Kau puas?" Elara bertanya dengan nada dingin.

Dreven tersenyum miring. "Cukup."

Elara mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak langsung menampar pria itu di tempat. "Kalau kau pikir aku akan diam saja setelah ini, kau salah besar."

Dreven hanya menatapnya, lalu tiba-tiba dia meraih dagu Elara dan mendekat lagi. Refleks, Elara mundur, tapi punggungnya sudah menempel di dinding.

"Apa kau benar-benar jijik?" bisik Dreven dengan suara rendah yang membuat Elara semakin marah.

Tanpa pikir panjang, Elara langsung mengangkat kakinya dan menginjak kuat sepatu pria itu. Dreven meringis, namun masih tetap mempertahankan posisinya.

"Coba lakukan itu lagi, dan aku pastikan liburanmu akan berubah menjadi neraka," Elara berbisik tajam sebelum mendorong kursi rodanya dan keluar dari toilet, meninggalkan Dreven yang kini tersenyum kecil.

"Menarik," gumamnya, sebelum akhirnya menggerakkan kursi rodanya menyusul Elara dengan langkah santai.

---

Andre tertawa sambil memakai kacamata hitamnya saat turun dari pesawat. "Wow, angin Dubai memang beda! Apalagi liburan gratis seperti ini."

Leandro menepuk bahunya sambil menyeringai. "Liburan gratis? Jangan lupa siapa sponsornya."

Andre melirik sekilas ke arah Dreven yang berjalan di depan mereka dengan kursi roda elektroniknya, lalu terkekeh. "Tentu saja aku ingat! Justru itu aku makin menikmatinya."

Kiera merapikan rambutnya, matanya berbinar saat menatap pemandangan Dubai. "Aku harap tempat ini punya hiburan yang cukup menarik."

Rastha, yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, menambahkan dengan nada malas, "Selama kita bersama Dreven, pasti ada sesuatu yang terjadi."

Sementara itu, Elara melangkah turun dengan wajah datar. Sinar matahari Dubai menyambutnya, tetapi suasana hatinya masih buruk setelah insiden di pesawat. Dia melirik sekilas ke arah Dreven yang bergerak tanpa ekspresi, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ayo, mobil sudah menunggu," kata Dreven akhirnya.

Semua langsung bergerak menuju kendaraan yang telah disiapkan, masing-masing dengan ekspektasi mereka sendiri.

Elara dan Dreven berada di mobil yang berbeda dengan teman-temannya. Bahkan dari kamar hotel mereka juga beda lantai dengan mereka.

Elara bersyukur dalam diam. Setidaknya dia tidak harus berurusan dengan teman-teman Dreven selama di hotel.

Begitu masuk ke dalam kamar suite mewahnya, dia segera melepas sepatu dan berjalan menuju balkon. Pemandangan kota Dubai yang gemerlap di bawah sinar matahari sore membuatnya sedikit rileks. Namun, pikirannya masih dipenuhi berbagai rencana yang harus segera dia jalankan.

Sementara itu, Dreven masuk ke kamarnya sendiri. Dia memindahkan dirinya ke sofa dan menuang segelas whiskey. Matanya menatap pemandangan kota yang sama, namun pikirannya jelas berbeda dari Elara.

Tak lama, ponselnya bergetar. Dia melirik layar dan melihat nama yang muncul di sana.

"Apa?" jawabnya tanpa basa-basi.

"Tuan, seseorang sedang mencoba membeli tanah di wilayah yang Anda incar," suara di seberang terdengar waspada.

Dreven menyipitkan mata. "Siapa?"

Masih ada jeda sebelum orang di seberang menjawab. "Kami belum tahu, tapi pembelinya bergerak dengan sangat cepat. Seolah sudah tahu nilai tanah itu akan naik dalam waktu dekat."

Dreven mendecakkan lidah. "Cari tahu siapa orangnya. Aku ingin laporan dalam waktu satu jam."

Dia mengakhiri panggilan dan meneguk whiskey-nya dalam sekali minum. Matanya menyipit, kecurigaan mulai muncul dalam benaknya.

Seseorang mencoba mendahuluinya dalam permainan ini. Dan dia tidak suka itu.

Karena merasa moodnya sangat buruk sekarang, dia akhirnya pergi ke kamar Elara yang terhubung dengan kamarnya.

Setidaknya melihat wanita itu kesal menjadi hiburan tersendiri.

Dreven membuka pintu yang menghubungkan kamar mereka tanpa mengetuk. Elara, yang sedang duduk di sofa balkon sambil menikmati segelas wine, langsung menoleh dengan ekspresi kesal.

"Apa kau tidak tahu sopan santun?" Elara mendengus.

"Sejak kapan aku punya sopan santun?"

Oke. Elara kalah kali ini. Dia lupa jika di depannya adalah pria kurang waras.

"Sekarang apa? Aku sedang malas berdebat denganmu," kata Elara dengan datar.

Dreven tersenyum penuh arti, "pijat kepalaku," ucapnya dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu tanpa permisi, memindahkan dirinya dari kursi roda ke sofa dengan gerakan yang terampil.

Elara membeku di tempat, menatap pria yang sekarang dengan santainya menggunakan pahanya sebagai bantal.

"Hei! Aku bukan pelayanmu!" Elara berusaha mendorong kepala Dreven, tapi pria itu malah semakin nyaman.

"Hmm... kau enak dijadikan bantal," gumam Dreven tanpa membuka mata.

Elara menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan ekspresi frustasi. "Kau ini tidak tahu malu atau memang sudah hilang akal?"

Dreven hanya terkekeh kecil, lalu menggenggam pergelangan tangan Elara yang hendak mendorongnya lagi.

"Sudah, Elara. Aku lelah. Sebentar saja."

Elara menatapnya, ingin membantah, tapi pria itu terlihat... berbeda. Garis rahangnya yang biasanya tegang kini lebih rileks, napasnya lebih tenang.

"Terserah," gumamnya akhirnya, lalu dengan malas mulai memijat pelipis Dreven. "Tapi kalau kau ngorok, aku tendang ke lantai."

Dreven hanya tersenyum tanpa membuka mata. "Aku tak akan ngorok."

Elara mendecak, namun tetap membiarkan tangannya bergerak dengan lembut.

"Kapan kau akan menceraikanku? Setidaknya kita harus jelas soal ini."

Dreven yang memejamkan matanya mulai terbuka saat mendengar hal itu, "Orang luar menganggap ini sebagai bulan madu kita, dan kau membahas perceraian di bulan madu kita? Kau wanita yang kejam," ucapnya dengan dramatis.

Elara menghela nafasnya, menunggu pria ini menjadi orang saleh seperti perjanjiannya dengan Raviel untuk bercerai. Tapi, mengingat waktunya yang masih panjang dan sikap pria itu yang bebas sepertinya dia tak bisa membuang waktu.

"Jangan membuat seolah aku wanita jahat. Kau juga tak ingin pernikahan ini kan? Dan aku juga tid–"

"Aku menikmati pernikahan ini," kata Dreven dengan santai.

Elara langsung menghentikan pijatannya dan menatap Dreven dengan curiga. "Apa?"

Dreven membuka satu matanya, menatapnya dengan ekspresi malas tapi penuh arti. "Kenapa terkejut? Aku tidak pernah bilang kalau aku membenci pernikahan ini, kan?"

Elara mendengus. "Jadi sekarang kau ingin mempertahankannya?"

Dreven mengangkat bahu kecil, lalu menutup matanya lagi. "Aku hanya bilang aku menikmatinya. Aku tidak pernah bilang aku akan melepasmu."

Elara merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Dia menatap pria itu dalam diam, mencoba memahami pikirannya yang sulit ditebak.

Tapi dia tak ingin mengatakan itu lagi, jika memang tak bisa dia masih punya plan lain.

Dreven yang melihat Elara akhirnya diam mengira jika wanita itu telah menyerah dan akan bersamanya sepanjang waktu. Moodnya kembali naik, dengan tenang dia memainkan rambut panjang Elara.

"Kau tak akan mengalami kerugian menikah denganku, hartaku banyak, reputasi keluarga bagus dan juga yang paling penting aku tampan dan panjang. Kau tenang saja, tak ada yang perlu kau khawatirkan di masa depan," ucapnya santai.

Elara yang mendengar itu langsung tersedak ludahnya sendiri kala mendengar kata 'panjang' dari mulut bajingan itu.

Elara memukul dada Dreven tanpa pikir panjang. "Dasar mesum! Kau pikir aku peduli soal itu?"

Dreven hanya tertawa, sama sekali tak terganggu dengan pukulan kecil itu. Dia justru semakin nyaman di pangkuan Elara, seperti kucing besar yang menikmati belaian majikannya.

"Kenapa tidak? Wanita pasti peduli," katanya dengan nada menggoda. "Tapi tenang, aku pria yang setia. Jika kau menerimaku sepenuhnya, aku tidak akan melirik wanita lain."

Elara langsung mencibir saat mendengar kata setia dari mulut si brengsek itu. "Setia? Sepertinya kau kebalikannya. Kau bahkan berciuman dengan teman wanitamu sebagai sambutan. Benar-benar menjijikkan."

Dreven tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Elara. "Itu hanya sapan biasa. Kau terlalu serius."

Elara menatapnya tajam. "Kalau begitu, bagaimana kalau aku menyapa pria lain dengan cara yang sama? Apa kau akan tetap berpikir itu hal biasa?"

Tawa Dreven langsung mereda. Matanya menyipit, dan seringai di wajahnya menghilang dalam sekejap. "Jangan coba-coba."

Elara tersenyum sinis. "Kenapa? Bukankah itu hanya sapan biasa?"

Dreven mendekat, menatapnya dengan intens. "Aku tidak suka berbagi, Elara. Ingat itu."

Elara mendengus, lalu menyilangkan tangan di dadanya. "Dasar egois."

Dreven hanya tersenyum miring. "Mungkin. Tapi kau akan terbiasa."

Elara mendecak kesal. "Keluar dari kamarku."

Alih-alih menurut, Dreven justru duduk lebih santai di sofa. "Aku nyaman di sini."

Elara menarik napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak melempar sesuatu ke kepala pria itu. "Kalau kau tidak keluar, aku yang akan pergi."

Dreven mengangkat bahu. "Silakan."

Elara mendengus frustrasi. Dia tahu, apa pun yang dia lakukan, Dreven selalu punya cara untuk mengganggunya.

Tapi panggilan dari ponselnya membuat Elara mengalihkan perhatiannya, melihat nama Leo yang muncul di layar, Elara bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.

Dreven yang melihat itu menjadi penasaran sekaligus sedikit kesal, "apa pria di cafe itu?"

Bersambung

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Siapa yang wanita ini maksudkan? Elara?🤔
🦋Little Butterfly🦋
sadis banget...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
iya tau kok emak.. dia lagi cemburu, hanya saja dia sendiri pun gak sadar sama perasaan nya, ego nya aja yang di duluin.. kan ngenes, makin mnedihkan aja lu drev! udah lum*** juga!!! coy.. coy.. takut kualat emak, 🗿😭
naws
bodo amat. elara juga cuma manfaatin lu biar lepas dari keluarga palsunya kok /Smug/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cembukur nih pasti perkara elara sama leo.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!