Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tamu Tak Diundang
Kirana bergegas memasuki lobi rumah sakit, napasnya masih tersengal setelah menyetir dengan kecepatan yang mungkin sedikit berlebihan. Ia menemukan Sari berdiri tegang di ruang tunggu, berhadapan dengan seorang pria berjas rapi yang tampak asing—bukan sosok yang pernah Kirana temui sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Kirana, melangkah cepat mendekati kakaknya.
Pria itu menoleh, mengulurkan tangan dengan senyum profesional yang terasa dingin. "Anda pasti Kirana. Saya Bimo, kuasa hukum Ibu Ratna Wijaya."
Nama itu membuat Kirana semakin waspada. "Kuasa hukum? Untuk urusan apa?"
"Ibu Ratna ingin menyampaikan bahwa mengingat kondisi kesehatan Bapak Hartono yang menurun drastis, penting untuk segera membicarakan pengalihan sementara kendali operasional PT Wijaya Sejahtera," Bimo menjelaskan dengan nada yang terlatih, seolah sudah terbiasa menyampaikan hal-hal semacam ini. "Ini demi menjaga stabilitas perusahaan di tengah situasi darurat."
"Pengalihan kendali?" Sari akhirnya bersuara, suaranya tak menyembunyikan ketidakpercayaannya. "Bapak bahkan belum menjalani operasi. Kalian sudah bicara soal mengambil alih perusahaan?"
"Ini murni langkah pencegahan, Bu Sari," Bimo menjawab tenang, terlalu tenang hingga terasa mencurigakan. "Ibu Ratna hanya ingin memastikan bisnis keluarga tetap berjalan lancar. Beliau, sebagai kerabat tertua yang masih aktif di perusahaan, merasa bertanggung jawab."
Kirana mengingat surat yang ia temukan pagi itu, kata-kata manis yang dibungkus ancaman terselubung. Kini, melihat langsung utusan yang dikirim, kecurigaannya semakin menguat.
"Dengan segala hormat," Kirana berkata tajam, "keluarga kami sedang menghadapi krisis kesehatan yang serius. Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas urusan perusahaan."
"Justru inilah waktu yang paling tepat," Bimo tersenyum tipis, nada suaranya berubah sedikit lebih tegas. "Semakin lama ditunda, semakin besar risiko bagi kelangsungan perusahaan. Saya yakin Anda tidak ingin melihat warisan Bapak Hartono runtuh hanya karena kurangnya pengambilan keputusan cepat, bukan?"
Kirana merasakan amarah membakar dadanya, tapi ia berusaha menahan diri. Ia belum cukup memahami situasi ini untuk bereaksi gegabah.
"Kami akan mempertimbangkan," Sari akhirnya menjawab, suaranya berusaha tegas meski tangannya sedikit gemetar. "Tapi keputusan apa pun soal perusahaan harus menunggu sampai Bapak sadar, atau setidaknya sampai kami sebagai keluarga membahasnya bersama."
Bimo mengangguk, meski senyumnya tidak sepenuhnya meyakinkan. "Tentu saja. Saya akan sampaikan pesan Anda pada Ibu Ratna. Tapi saya sarankan untuk tidak menunda terlalu lama." Ia menyerahkan sebuah kartu nama pada Sari. "Hubungi saya kapan pun keluarga sudah siap membicarakannya."
Setelah pria itu pergi, Kirana dan Sari saling berpandangan, kekhawatiran yang sama tergambar jelas di wajah mereka berdua.
"Siapa sebenarnya Bu Ratna ini?" tanya Kirana. "Aku tidak pernah dengar namanya sebelumnya."
Sari menghela napas, mencoba mengingat. "Dia... aku rasa dia semacam bibi jauh Bapak. Aku juga tidak terlalu mengenalnya. Setahuku, dulu dia dan Bapak pernah berselisih soal warisan kakek, tapi aku tidak tahu detailnya."
"Dan sekarang dia muncul tepat saat Bapak sekarat, mencoba mengambil alih perusahaan?" Kirana merasakan firasat buruk yang semakin menguat. "Ini tidak kebetulan, Kak."
Sari mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sama. "Kita perlu bicara dengan Ibu soal ini. Mungkin dia tahu lebih banyak."
Mereka bergegas menuju ruang tunggu ICU, tapi langkah Kirana terhenti sejenak saat matanya menangkap sosok Denis yang baru saja tiba, membawa tas berisi keperluan seperti janjinya semalam. Ia tampak tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi.
Kirana menghela napas. Rahasia soal Denis mungkin sudah mulai terkuak, tapi tampaknya keluarga ini masih menyimpan lebih banyak badai yang harus mereka hadapi bersama.