Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Ujung jarum biru Formasi Duri Roh Pembunuh berdesing tajam, menyisakan jarak setengah ruas jari dari kain sutra putih di punggung Gu Ran.

“Tuan Muda Gu, jangaannn—!” jerit Song Ming dengan suara parau melengking, kedua tangannya mencakar udara dalam kepanikan luar biasa.

Di saat yang sama, sebuah raungan penuh teror meledak dari langit Puncak Pedang Utama.

“Berhenti, anjing tua keparat!”

Suara gemuruh itu memecah awan tebing. Sesosok bayangan abu-abu meluncur turun dari angkasa bagai meteorit api yang menghantam bumi. Kecepatannya begitu tinggi hingga menciptakan pusaran angin badai yang merobek dedaunan pinus di lereng bukit.

Sebelum punggung Gu Ran sempat menyentuh sehelai pun jarum energi pembunuh, sepasang lengan tua yang kokoh menyambar tubuh kurus pemuda itu dari samping.

Song Pojun mendekap tubuh Gu Ran di udara, memutar arah jatuh mereka berdua dengan gerakan sangat lembut, lalu mendarat dengan aman di atas tanah pualam yang bersih.

Kedua tangan sang Leluhur gemetar hebat saat memeriksa punggung jubah sutra Gu Ran. Ketika memastikan kain putih itu tidak robek dan tidak ada setitik pun darah yang menetes, Song Pojun menghela napas panjang yang tersengal-sengal.

Rasa takut yang baru saja membakar jantungnya kini berubah menjadi amarah liar yang tak terbendung.

Leluhur berusia tujuh ratus tahun itu berbalik menghadap gerbang Paviliun Harta. Sepasang matanya merah menyala dipenuhi aura pembunuh yang pekat.

“Formasi sampah!” raung Song Pojun dengan urat pelipis menegang keras.

Kaki kanan sang Leluhur menghentak lantai pelataran.

BUMMM!

Gelombang kejut tenaga dalam menghancurkan susunan formasi duri spiritual di lantai batu. Ratusan jarum energi biru seketika meledak berkeping-keping, lenyap menjadi kepulan debu kapur yang berhamburan ke udara.

Namun amarah Song Pojun belum terpuaskan.

Lengan kanannya terangkat, mengepalkan tinju sebesar periuk tembaga yang diselimuti pusaran energi ranah Puncak Transformasi Jiwa.

DUAAARRR!

Hantaman tinju itu mendarat telak di tengah gerbang tembaga berlapis emas Paviliun Harta.

Gerbang pusaka setebal satu depa yang telah berdiri kokoh selama tiga ratus tahun itu seketika melengkung retak, sebelum akhirnya meledak berkeping-keping menjadi serpihan logam dan bongkahan batu kapur yang runtuh berhamburan.

Dinding depan bangunan Paviliun Harta ambruk, melemparkan debu tebal setinggi sepuluh tombak ke langit.

Tetua Chen Feng berdiri mematung di tengah kepulan debu. Kacamata kristalnya retak seribu, sementara mulutnya menganga lebar menatap reruntuhan gerbang emas kebanggaannya yang kini berubah menjadi tumpukan puing batu bata.

“G-gerbang suci sekte…” bisik Chen Feng dengan suara tercekat menahan tangis. “Dua ratus ribu batu roh untuk membangun gerbang itu…”

Belum sempat Chen Feng menyelesaikan ratapannya, sesosok bayangan abu-abu sudah melesat berdiri tepat di depan hidungnya.

PLAK!

Tamparan telapak tangan kiri Song Pojun mendarat keras di pipi Chen Feng.

Tubuh kurus sang bendahara sekte terpental sejauh lima depa, membentur tumpukan puing tembaga sebelum tersungkur mencium tanah berdebu. Tiga gigi gerahamnya tanggal bersama ludah merah kental.

Song Pojun melangkah mendekat dengan langkah berat. Tangannya menyambar pergelangan tangan kiri Chen Feng, lalu dengan kasar menarik sebuah cincin giok hitam berukir sembilan naga dari jari telunjuk sang tetua.

Cincin Penyimpanan Master Paviliun Harta—kunci utama yang memegang wewenang penuh atas seluruh brankas obat, gudang batu roh, dan senjata pusaka sekte.

“Kau berani mengarahkan formasi pembunuh ke arah tamu agungku demi tumpukan batu mati?!” desis Song Pojun tepat di depan wajah Chen Feng yang berlumuran darah. “Mulai hari ini, hak pengelolaan gudang dicabut!”

Song Pojun berbalik, melangkah cepat menghampiri Gu Ran yang masih berdiri santai merapikan lengan jubahnya.

Dengan kedua tangan gemetar dan kepala sedikit membungkuk, sang Leluhur meletakkan cincin giok master itu ke telapak tangan Gu Ran.

“Adik Gu… anak baik,” ucap Song Pojun dengan nada merayu yang terlalu lembut dan memelas. “Ambil cincin ini. Seluruh batu roh, rumput salju, dan tanaman obat di dalam gudang adalah milikmu. Pakai sesukamu untuk air mandi… jangan pernah berniat rebahan di tempat berbahaya lagi, ya…”

Gu Ran melirik cincin giok master di telapak tangannya.

Ia menyelipkan cincin tersebut ke jari manis kanannya, merasakan koneksi spiritual tanpa batas ke dalam jutaan batu roh dan ribuan kotak herbal yang tersimpan di sembilan lantai paviliun.

Di atas puing-puing tembaga, Tetua Chen Feng mengangkat kepalanya dengan sisa tenaga.

Melihat cincin master perbendaharaan sekte berpindah ke tangan mantan budak penempa, jantung Chen Feng mendadak serasa berhenti berdetak.

“Kas sekte… seluruh tabungan tiga ratus tahun…” rintih Chen Feng dengan mata membelalak putih.

BRUK!

Kepala Tetua Chen Feng terkulai ke tanah kapur, pingsan tak sadarkan diri di samping serpihan sempoa gioknya yang hancur.

Gu Ran tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Xiao Zhu yang masih memegang karung kain sutra dengan mata melotot takjub.

“Xiao Zhu,” panggil Gu Ran santai sambil mengibaskan kipas bambunya. “Bawa karungmu masuk. Kita borong semua kotak obat di lantai sembilan.”

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!