Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Napas Lega
Raka melepas maskernya perlahan, dan untuk sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, tidak ada yang berani bicara. Seluruh keluarga menatapnya dengan napas tertahan, mencoba membaca ekspresi wajahnya sebelum kata-kata sempat terucap.
Kemudian, senyum kecil namun tulus muncul di wajah Raka yang lelah.
"Operasinya berhasil," ujarnya, dan seketika ruang tunggu itu dipenuhi suara isak tangis bercampur tawa lega. "Penyumbatan berhasil kami atasi. Kondisi Pak Hartono kritis, tapi stabil. Beberapa jam ke depan akan sangat menentukan, tapi untuk sekarang, beliau sudah melewati bagian tersulit."
Ibu langsung ambruk ke kursi terdekat, tangannya menutup wajah sambil menangis—kali ini air mata kelegaan, bukan lagi ketakutan. Sari memeluknya erat, ikut menangis dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
Kirana merasakan tubuhnya melemas seketika, seperti seluruh ketegangan yang menumpuk selama berjam-jam akhirnya menemukan jalan keluar. Ia menoleh pada Denis, yang berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca, dan tanpa berpikir panjang, mereka berdua saling berpelukan—pelukan pertama sejak Denis muncul dalam hidup mereka, penuh kelegaan yang tak terbendung.
"Dia berhasil," bisik Denis, suaranya bergetar. "Bapak berhasil melewatinya."
"Ya," Kirana mengangguk, air mata mengalir bebas di pipinya. "Dia berhasil."
Raka membiarkan mereka menikmati momen itu sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. "Pak Hartono sekarang berada di ruang pemulihan. Dalam beberapa jam, kami akan memindahkannya kembali ke ICU untuk pemantauan intensif. Kalian bisa menjenguknya sebentar nanti, tapi beliau masih dalam pengaruh obat bius, jadi mungkin belum sepenuhnya sadar."
"Terima kasih, Dokter," Ibu berkata di sela isak tangisnya, meraih tangan Raka dan menggenggamnya erat. "Terima kasih sudah menyelamatkan suami saya."
"Ini kerja tim, Bu," Raka menjawab rendah hati. "Tapi saya senang bisa menyampaikan kabar baik ini pada kalian."
Setelah Raka kembali ke tugasnya, keluarga itu duduk bersama dalam keheningan yang berbeda dari sebelumnya—bukan lagi keheningan yang mencekam karena ketakutan, melainkan keheningan yang tenang, dipenuhi rasa syukur yang mendalam.
"Aku perlu menelepon seseorang," Kirana tiba-tiba teringat sesuatu. Ia bangkit, melangkah menjauh ke sudut ruang tunggu yang lebih sepi, mengeluarkan ponselnya.
Ia menekan nomor atasannya di kota tempat ia bekerja selama ini—perusahaan desain grafis yang sudah memberinya cuti mendadak sejak kepulangannya.
"Pak Anton," sapa Kirana begitu panggilan tersambung. "Saya ingin mengabarkan bahwa ayah saya baru saja menjalani operasi, dan alhamdulillah berhasil. Saya mungkin perlu memperpanjang cuti saya beberapa minggu lagi untuk memastikan pemulihannya."
Ada jeda di seberang telepon sebelum suara atasannya menjawab, nadanya terdengar berat. "Kirana, aku turut senang mendengar ayahmu berhasil melewati operasi. Tapi... aku juga perlu bicara denganmu soal proyek besar yang sedang kita kerjakan. Klien mulai menanyakan progresmu, dan tim butuh kejelasan apakah kamu bisa kembali dalam waktu dekat atau tidak."
Kirana merasakan beban baru menghampiri pundaknya. Proyek yang dimaksud adalah proyek terbesar yang pernah ia tangani—kesempatan yang bisa melambungkan kariernya jika berhasil diselesaikan dengan baik.
"Saya... saya perlu waktu untuk memikirkannya, Pak," jawab Kirana, suaranya menunjukkan keraguan yang sesungguhnya. "Keluarga saya sedang membutuhkan saya di sini."
"Aku mengerti," atasannya menjawab, meski nada suaranya menyiratkan tekanan yang tidak sepenuhnya tersembunyi. "Tapi aku juga perlu jawaban dalam beberapa hari ke depan. Kalau kamu tidak bisa kembali, kita mungkin perlu mempertimbangkan opsi lain untuk proyek ini."
Panggilan itu berakhir dengan perasaan berat di dada Kirana. Ia menyadari bahwa kepulangannya, yang awalnya ia bayangkan hanya sementara, kini mulai menuntut pengorbanan yang lebih besar dari yang ia perkirakan—pilihan antara karier yang sudah ia bangun selama delapan tahun terakhir, atau keluarga yang baru saja mulai ia perbaiki hubungannya.
Ia kembali ke ruang tunggu dengan pikiran yang berkecamuk, mencoba menyembunyikan kekhawatiran barunya di balik kelegaan yang masih dirayakan keluarganya.
"Semua baik-baik saja?" tanya Sari, memperhatikan ekspresi Kirana yang sedikit berubah.
"Ya," Kirana mengangguk cepat, memaksakan senyum. "Cuma urusan kerja."
Sari menatapnya sejenak, seolah tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih untuk tidak mendesak lebih jauh mengingat momen bahagia yang sedang mereka rayakan.
Denis, yang duduk di kursi seberang, memperhatikan pertukaran singkat itu tanpa berkomentar. Namun setelah Sari beranjak untuk membeli minuman, ia bergeser mendekati Kirana.
"Kamu tidak harus cerita kalau belum siap," ujarnya pelan, "tapi kalau kamu butuh teman bicara soal apa pun yang sedang kamu pikirkan, aku di sini."
Kirana menatap Denis, sedikit terkejut dengan kepekaannya. "Bagaimana kamu tahu ada yang mengganggu pikiranku?"
"Ekspresimu," Denis tersenyum tipis. "Kita baru saling kenal beberapa hari, tapi ternyata kita punya ekspresi yang mirip saat menyembunyikan sesuatu. Mungkin itu warisan dari Bapak."
Ucapan itu, meski ringan, membuat Kirana tanpa sadar tersenyum kecil—senyum pertama sejak telepon yang membebani pikirannya tadi. "Atasanku memberi tenggat waktu untuk memutuskan apa aku kembali bekerja di kota atau tidak. Ada proyek besar yang sedang kutangani, dan aku tidak yakin bisa mengerjakannya sambil tetap di sini menemani Bapak."
"Itu keputusan yang berat," Denis mengangguk paham. "Tapi mungkin kamu tidak harus memilih salah satu secara mutlak. Zaman sekarang, banyak pekerjaan bisa dikerjakan dari jarak jauh, kan? Terutama pekerjaan desain."
"Aku sudah memikirkan itu," Kirana menghela napas. "Tapi proyek ini butuh koordinasi tim yang intens. Tidak semudah itu mengerjakannya dari jauh, apalagi dengan semua yang terjadi di sini."
"Kalau begitu, mungkin ini saatnya bicara jujur dengan atasanmu soal situasi yang sebenarnya," saran Denis. "Orang yang punya hati biasanya bisa memahami keadaan darurat keluarga. Dan kalau dia tidak bisa memahami itu, mungkin itu juga jadi jawaban tersendiri soal tempat kerja seperti apa yang benar-benar kamu inginkan."
Kata-kata itu memberi Kirana perspektif baru yang belum sempat ia pikirkan. Ia mengangguk pelan, menyimpan saran itu dalam-dalam untuk dipikirkan lebih lanjut nanti.
"Terima kasih, Denis," ucapnya tulus. "Aku mulai mengerti kenapa Bapak begitu menyayangimu, meski dengan caranya yang rumit."
Wajah Denis sedikit memerah mendengar pengakuan itu, sesuatu yang jarang terjadi pada pria yang biasanya tenang tersebut. "Itu... berarti banyak buatku, Kirana. Terima kasih."
Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya diizinkan menjenguk Bapak di ruang ICU secara bergantian. Kirana masuk lebih dulu, mendapati ayahnya terbaring dengan wajah yang masih pucat namun terlihat lebih tenang dibanding sebelum operasi. Selang-selang medis masih terpasang di berbagai bagian tubuhnya, tapi monitor di sampingnya menunjukkan detak jantung yang stabil dan teratur.
"Bapak," bisik Kirana, menggenggam tangan ayahnya yang masih terasa lemah. "Kamu berhasil melewatinya. Aku bangga padamu."
Meski masih dalam pengaruh obat bius, jari-jari Bapak sedikit bergerak, seolah merespons kehadiran putrinya meski tak sepenuhnya sadar. Kirana merasakan matanya kembali memanas, tapi kali ini karena haru, bukan kesedihan.
Ia duduk di samping ranjang, membiarkan keheningan mengalir di antara mereka, ditemani hanya oleh bunyi mesin yang terus mengukur kehidupan yang berhasil dipertahankan hari itu.
"Aku akan tetap di sini, Pak," janji Kirana pelan, meski di dalam hatinya, pertanyaan tentang kariernya masih menggantung tanpa jawaban. "Sampai kau benar-benar pulih."
Di luar jendela ruang ICU, matahari sore mulai turun, memberikan cahaya keemasan yang menghangatkan ruangan yang selama ini terasa dingin dan menakutkan. Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Kirana merasakan secercah harapan nyata bahwa keluarganya, meski retak oleh kebohongan dan luka lama, mungkin masih bisa disembuhkan—satu langkah kecil demi satu langkah kecil, sama seperti detak jantung Bapak yang perlahan kembali menguat.
Namun jauh di sudut pikirannya, bayang-bayang keputusan besar yang harus segera ia ambil—antara karier yang telah ia bangun susah payah, dan keluarga yang baru saja mulai ia rajut kembali—terus mengintai, menunggu waktu untuk kembali menuntut jawaban.