Indonesia
NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang yang Tidak Pernah Menunggu

Pagi itu, Alya bangun dengan tubuh yang lebih lemah daripada biasanya.

Kepalanya terasa berat, seolah semalaman ia tidak tidur meski matanya terpejam. Tenggorokannya kering. Ada rasa pahit yang tertinggal di lidah. Ketika mencoba duduk, pandangannya sempat mengabur beberapa detik hingga ia harus berpegangan pada sisi ranjang.

Sisi ranjang Arga kembali kosong.

Namun kali ini, ada sebuah selimut tipis yang terlipat di sofa dekat jendela.

Alya menatapnya lama.

Semalam Arga tidak tidur di ruang kerja. Lelaki itu rupanya memilih berada di kamar yang sama, meski tidak di sisi ranjangnya. Ia duduk di kursi sampai larut, lalu mungkin tertidur di sofa. Jarak antara mereka hanya beberapa langkah, tetapi tetap terasa seperti dua dunia yang tidak pernah bertemu.

Alya tidak tahu apakah harus merasa tersentuh atau justru semakin sedih.

Jika Arga benar-benar ingin ada untuknya, mengapa ia tetap memilih duduk begitu jauh?

Ia menghela napas dan memaksakan diri berdiri. Kakinya sedikit gemetar saat menyentuh lantai. Saat berjalan ke kamar mandi, ia melihat map rumah sakit yang kemarin ia sembunyikan di laci paling bawah kini terletak di atas meja rias.

Alya berhenti.

Jantungnya berdebar.

Map itu tertutup, tetapi posisinya berbeda. Ia yakin semalam telah menyimpannya di laci. Tidak mungkin Mbok Sari masuk ke kamar tanpa izin. Tidak mungkin ia sendiri lupa.

Berarti Arga menemukannya.

Alya mendekat perlahan. Map itu tetap tertutup. Tidak ada kertas yang terlipat keluar. Tidak ada tanda jelas bahwa Arga membacanya.

Namun ia pasti melihatnya.

Mungkin ia tahu. Mungkin ia ingin bertanya. Mungkin ia hanya belum sempat.

Atau mungkin ia menemukan map itu, melihat nama rumah sakit, lalu memilih meletakkannya kembali tanpa membaca.

Kemungkinan terakhir terasa paling menyakitkan.

Alya tidak membuka map tersebut. Ia memasukkannya ke dalam tas, lalu pergi ke kamar mandi.

***

Arga sudah berada di ruang makan ketika Alya turun.

Ia mengenakan setelan hitam lengkap, siap menuju kantor. Di meja depan lelaki itu ada kopi, roti panggang, tablet kerja, dan ponsel yang beberapa kali bergetar. Tidak ada makanan hangat seperti biasanya. Tidak ada meja yang ditata Alya dengan harapan akan makan bersama.

Mbok Sari mungkin sengaja hanya menyiapkan sarapan sederhana.

Atau mungkin Mbok Sari mulai mengerti bahwa tidak semua meja makan bisa menyatukan dua orang yang hatinya sudah terpisah.

“Pagi,” sapa Arga ketika Alya memasuki ruangan.

“Pagi.”

Alya menarik kursi yang jauh dari tempat Arga duduk. Ia tidak punya tenaga untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Arga memperhatikannya. “Kamu kelihatan pucat.”

“Aku cuma kurang tidur.”

“Kamu demam?”

“Nggak tahu.”

Arga meletakkan cangkir kopinya. “Periksa suhu tubuhmu.”

Alya mengangkat wajah. “Nggak perlu.”

“Kenapa selalu nggak perlu?” Nada Arga terdengar sedikit kesal. “Kemarin kamu bilang tidak apa-apa, padahal ternyata sampai harus ke rumah sakit. Sekarang kamu bilang tidak perlu lagi.”

Alya menatapnya dalam diam.

Ia ingin bertanya mengapa Arga baru merasa berhak marah ketika ia mulai menarik diri. Selama bertahun-tahun, ia menunggu perhatian. Ketika perhatian itu datang hanya sebagai tuntutan, Alya tidak tahu bagaimana harus menerimanya.

“Maaf,” katanya pelan.

Arga mengatupkan rahang.

“Jangan minta maaf setiap kali aku bicara.”

“Lalu aku harus bilang apa?”

Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Keduanya terdiam.

Alya menunduk, menyadari suaranya barusan sedikit meninggi. Namun ia tidak menarik kata-katanya. Untuk pertama kalinya, ada bagian dari dirinya yang terlalu lelah untuk selalu menjadi pihak yang mengalah.

“Aku cuma nggak mau merepotkan Mas,” lanjutnya dengan lebih tenang.

“Kamu istri aku.”

“Mas selalu bilang begitu.”

Arga mengernyit. “Memangnya salah?”

“Tidak.” Alya menggeleng perlahan. “Tapi setiap Mas bilang aku istri Mas, rasanya seperti aku cuma kewajiban. Bukan seseorang yang Mas inginkan ada di hidup Mas.”

Wajah Arga berubah kaku.

Ponselnya bergetar lagi.

Alya melirik layar yang terletak di dekat tangan lelaki itu. Nama yang muncul membuat hatinya kembali mengeras.

**Keisya.**

Arga tidak segera menjawab. Ia justru mematikan layar ponselnya dengan satu sentuhan, lalu kembali menatap Alya.

“Ini tidak ada hubungannya dengan Keisya,” ucapnya.

Alya tersenyum hambar. “Semua yang terjadi di rumah ini selalu ada hubungannya dengan Keisya.”

“Jangan mulai lagi.”

“Mas yang bilang aku jangan minta maaf setiap kali Mas bicara. Sekarang aku sedang jujur.”

“Aku dan Keisya punya urusan yang rumit.”

“Sedangkan aku?” Alya menatapnya tepat di mata. “Aku ini apa, Mas?”

Pertanyaan itu membuat ruang makan terasa beku.

Arga tidak menjawab.

Tidak ada satu kata pun.

Dan diamnya adalah jawaban yang paling jelas.

Alya mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan rasa pedih yang menusuk dadanya. “Sudahlah. Lupakan.”

Ia berdiri dari kursinya.

“Aku mau ke kamar.”

“Kamu belum makan.”

“Aku nggak lapar.”

“Alya.”

“Aku bilang aku nggak lapar.”

Kali ini suaranya pecah.

Alya segera membalikkan badan sebelum Arga melihat air matanya. Ia berjalan cepat keluar dari ruang makan. Begitu tiba di lorong, langkahnya melambat. Dadanya terasa sesak. Napasnya memburu. Pandangan di depannya mendadak bergoyang.

Ia meraih dinding.

Suara Arga memanggil dari belakang.

“Alya!”

Namun sebelum Alya sempat menjawab, lututnya melemah.

Tubuhnya jatuh.

***

Ketika kesadaran Alya kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah aroma minyak kayu putih.

Hal kedua adalah tangan seseorang yang menggenggam jemarinya.

Alya membuka mata perlahan.

Ia berada di kamar. Tirai jendela telah dibuka, membuat cahaya pagi masuk dengan lembut. Mbok Sari duduk di kursi dekat ranjang, wajahnya cemas. Di sisi lain, Arga berdiri dekat meja, sedang berbicara melalui telepon dengan suara tertahan.

“Iya, Dok. Dia sempat pingsan,” katanya. “Napasnya pendek, tubuhnya dingin… baik, saya bawa sekarang.”

Alya menggerakkan jemarinya sedikit.

Mbok Sari langsung mendekat. “Non sudah sadar?”

Alya mengangguk lemah. “Aku kenapa?”

“Non pingsan di lorong. Untung Tuan Arga langsung menangkap Non sebelum kepala Non terbentur lantai.” Mata Mbok Sari berkaca-kaca. “Jangan bikin Mbok takut seperti ini.”

Arga menutup telepon dan berbalik.

Tatapannya jatuh pada Alya.

Untuk pertama kalinya, Alya melihat ketakutan nyata di wajah lelaki itu.

Bukan marah.

Bukan kesal.

Bukan terganggu.

Takut.

“Kita ke rumah sakit sekarang,” katanya.

Alya ingin membantah, tetapi tubuhnya terlalu lemah. “Aku bisa istirahat di rumah.”

“Tidak.” Suara Arga tegas. “Dokter bilang kamu harus dibawa ke IGD.”

“Mas ada kerja.”

“Aku tidak peduli.”

Alya menatapnya.

Arga mendekat ke ranjang. Ia mengambil tas Alya yang tadi tergeletak di atas meja, lalu memasukkan ponsel dan beberapa barang penting ke dalamnya. Gerakannya cepat, sedikit kasar karena panik.

“Mbok, tolong siapkan jaket Alya,” katanya.

Mbok Sari segera berdiri.

“Aku bisa jalan,” ucap Alya pelan.

Arga menoleh. “Jangan keras kepala.”

Nada suaranya membuat Alya diam.

Beberapa menit kemudian, saat Mbok Sari membawa jaket, Arga membantu Alya duduk. Tangannya menopang punggung Alya dengan hati-hati. Untuk sesaat, tubuh Alya bersandar pada dada suaminya.

Aroma parfum Arga yang samar langsung memenuhi inderanya.

Dulu Alya sering menyukai aroma itu. Ia selalu merasa tenang setiap kali Arga lewat di dekatnya. Namun belakangan, aroma itu sering bercampur dengan wangi parfum perempuan lain dan membuat dadanya sakit.

Hari ini, dalam keadaan lemah, Alya tidak punya tenaga untuk menjauh.

Arga memakaikan jaket ke pundaknya.

“Pelan-pelan,” katanya.

Alya memandang wajah suaminya dari dekat.

Ada garis lelah di bawah matanya. Ada kerutan samar di antara alisnya. Lelaki itu tampak seperti seseorang yang tidak siap menghadapi kemungkinan buruk, tetapi terpaksa harus melihatnya tepat di depan mata.

“Mas,” panggil Alya lirih.

“Hm?”

“Mas takut aku sakit?”

Arga terdiam.

Tangan yang menopang punggung Alya sedikit menegang.

“Jangan bicara yang aneh-aneh,” jawabnya akhirnya.

Alya tersenyum tipis. “Itu bukan jawaban.”

Arga tidak membalas senyum itu.

Ia justru membantu Alya berdiri dan berkata, “Kita berangkat.”

***

Di perjalanan menuju rumah sakit, Alya duduk diam di kursi belakang. Arga memilih duduk di sampingnya, bukan mengemudi. Pak Darto membawa mobil lebih cepat dari biasanya, tetapi tetap hati-hati.

Tangan Arga tidak lepas dari genggaman Alya.

Alya menunduk memandangi tangan mereka.

Jemari lelaki itu besar dan hangat. Genggamannya erat, seolah takut Alya akan kembali jatuh jika ia melepaskannya. Di luar jendela, kota bergerak cepat. Suara klakson terdengar sayup-sayup, bercampur dengan detak jantung Alya yang tidak beraturan.

“Mas nggak usah pegang aku terus,” bisiknya.

Arga menoleh. “Kenapa?”

“Aku nggak akan ke mana-mana.”

Kalimat itu keluar tanpa maksud apa pun.

Namun begitu menyadarinya, Alya ingin menariknya kembali.

Karena sebenarnya, suatu hari nanti ia memang akan pergi.

Arga menatap tangan mereka. “Tetap saja.”

Alya tidak menjawab.

Untuk beberapa menit, mereka hanya diam. Lalu ponsel Arga berdering. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari saku jas. Nama Keisya kembali muncul di layar.

Kali ini Alya tidak terkejut.

Ia hanya memejamkan mata.

Arga memandang layar cukup lama.

Panggilan itu berhenti.

Lalu masuk lagi.

Pak Darto melirik mereka dari kaca tengah, tetapi segera mengalihkan pandangan ke jalan.

“Angkat,” kata Alya pelan.

Arga menggeleng. “Nanti saja.”

“Dia mungkin butuh Mas.”

“Aku sedang sama kamu.”

“Mas juga kemarin sedang sama aku.”

Kalimat itu membuat tangan Arga mengeras di sekitar jemari Alya.

Alya membuka mata, lalu menatap lurus ke depan. “Aku nggak akan marah kalau Mas angkat. Aku sudah terbiasa.”

“Alya.”

“Aku cuma bilang yang sebenarnya.”

Ponsel kembali berdering untuk ketiga kalinya.

Kali ini Arga menekan tombol diam, lalu mematikan layar.

“Aku tidak akan angkat,” ucapnya.

Alya menoleh pelan.

“Kenapa?”

Arga tidak segera menjawab. Tatapannya keluar jendela, tetapi rahangnya tampak menegang.

“Karena kamu sedang sakit.”

“Cuma itu?”

Lelaki itu akhirnya menatap Alya. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Alya baca sepenuhnya. Rasa bersalah, mungkin. Atau ketakutan yang mulai tumbuh perlahan.

“Kamu terlalu banyak bertanya saat sedang tidak enak badan,” katanya, berusaha terdengar datar.

Alya tersenyum tipis.

Jawaban itu tidak memuaskan. Namun untuk saat ini, ia tidak punya kekuatan untuk meminta lebih.

***

Di IGD, Arga tidak meninggalkan Alya.

Perawat memasang infus di punggung tangannya. Dokter memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan beberapa kondisi lain. Alya menggigil meski tubuhnya terasa panas. Kepalanya pusing, sementara kelopak matanya semakin berat.

Arga berdiri di sisi ranjang.

Setiap kali perawat bertanya, ia menjawab dengan cepat jika Alya terlalu lelah untuk bicara. Ia menyebutkan kapan Alya mulai sering pusing, kapan terakhir kali ia pingsan, dan apa saja yang terlihat berubah pada istrinya.

Alya mendengarnya samar.

Ia merasa aneh.

Selama ini ia pikir Arga tidak memperhatikan apa pun tentang dirinya.

Namun lelaki itu tahu Alya sering tidak menghabiskan makanan. Ia tahu Alya beberapa kali terbangun tengah malam karena demam. Ia tahu Alya mulai sering memakai baju longgar karena berat badannya turun.

“Kenapa Mas tahu?” tanya Alya pelan ketika dokter dan perawat pergi sejenak.

Arga menoleh.

“Tahu apa?”

“Mas tahu aku sering demam. Tahu aku nggak makan.”

Arga terlihat diam beberapa saat.

“Aku tinggal serumah sama kamu,” jawabnya.

“Mas jarang ada di rumah.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan. Justru karena itulah, Arga tidak bisa membalasnya.

Ia menarik kursi dan duduk di sisi ranjang Alya.

“Aku memang jarang ada,” katanya akhirnya. “Tapi bukan berarti aku nggak lihat apa-apa.”

Alya menatapnya.

Untuk sesaat, ia ingin mempercayai kalimat itu.

Namun kemudian ponsel Arga, yang tadi ia letakkan di meja kecil, kembali bergetar. Berulang kali. Tanpa henti.

Arga menoleh ke arah ponsel.

Alya mengikuti arah pandangnya.

Tidak perlu menebak siapa.

“Mas,” ucap Alya lemah, “kalau memang Mas harus pergi, pergi saja.”

Arga menatapnya tajam. “Jangan suruh aku pergi.”

Alya terdiam.

“Kemarin aku pergi karena aku pikir kamu baik-baik saja,” lanjutnya dengan nada rendah. “Hari ini aku lihat sendiri kamu pingsan di depan aku. Jadi jangan bilang aku harus pergi.”

Ada penyesalan samar dalam suara Arga.

Tidak besar. Tidak cukup untuk menghapus semua luka.

Namun Alya mendengarnya.

Jemarinya yang terpasang infus bergerak sedikit di atas selimut. Arga melihat gerakan itu, lalu tanpa berkata apa-apa menggenggam tangan Alya.

“Aku di sini,” ucapnya pelan.

Alya memejamkan mata.

Kali ini, ia tidak menjawab.

Bukan karena ia tidak percaya.

Melainkan karena ia terlalu takut jika kata-kata itu kembali berubah menjadi janji yang tidak bertahan lama.

Beberapa menit kemudian, dokter kembali masuk bersama hasil pemeriksaan awal. Wajah dokter itu serius. Terlalu serius.

Arga langsung berdiri.

“Dok, bagaimana istri saya?”

Dokter memandang Alya, lalu Arga.

“Kondisinya harus dipantau lebih lanjut. Kami sarankan Ibu Alya dirawat inap malam ini.”

Alya membuka mata.

Sementara itu, tangan Arga yang menggenggamnya justru semakin erat.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!