Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 URUSAN KELUARGA

Di mansion, Maya masih menunggu.

Ponsel bergetar di atas meja. Ia menyambarnya sebelum dengungan pertama usai.

"Bara?"

"Kami baik-baik saja," ujar suara berat itu di ujung sambungan. "Kami sudah dapat yang kami butuhkan. Dua jam lagi aku sampai di rumah."

"Papa baik-baik saja?"

"Dia baik-baik saja. Malah sempat bercanda. Sepertinya dia mulai menyukaiku."

Maya tertawa gugup, setengah isak, setengah tawa lepas.

"Jangan ge-er."

"Aku tak pernah ge-er. Tunggu aku, jangan tidur."

Sambungan terputus. Maya termangu sejenak dengan ponsel di tangan, merasakan ketegangan meninggalkan tubuhnya seperti gelombang yang surut.

Tunggu aku, jangan tidur.

Empat kata. Begitu sederhana. Namun entah bagaimana, Maya merasa kata-kata itu menyentuh satu tempat yang tak pernah ia sangka ada.

* * *

Bara menepati janjinya: dua jam kemudian, mobil melewati gerbang mansion.

Maya berlari menuruni tangga, tak peduli Marta melihatnya, tak peduli para pengawal mengamatinya. Ia tiba di ruang depan tepat saat Bara membuka pintu utama.

Ia tampak lelah. Mata kelabunya, yang biasanya tak tertembus, kini menyimpan kilau letih. Jasnya kusut, lengan bajunya berlepotan debu dari peti-peti yang ia congkel. Namun begitu melihat Maya, ada sesuatu di wajahnya yang berubah.

"Kamu baik-baik saja," ucap Maya, dan itu bukan pertanyaan.

"Aku baik-baik saja," jawabnya, dan itu sebuah jawaban.

Mereka bertatapan sejenak, terpisah hanya beberapa meter, dengan udara malam menyusup lewat pintu yang terbuka.

Bramantyo muncul di belakang Bara, dengan raut yang tak bisa Maya tafsirkan.

"Suamimu," katanya, kini kepada putrinya. "Ternyata tak seloyo yang kukira."

"Papa."

"Itu pujian. Di duniaku, itu sebuah pujian."

Bramantyo menaiki tangga tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Maya dan Bara berdua di ruang depan.

"Kalian menemukan sesuatu?" tanya Maya.

"Ya. Cukup untuk menenggelamkan pamanmu."

"Lalu sekarang apa?"

"Sekarang," ucap Bara, menaiki satu anak tangga mendekatinya, "sekarang kita tidur. Besok, kita berperang."

Maya mengangguk. Ia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka, dan menyandarkan kepalanya di dada Bara. Hanya sedetik. Cukup untuk merasakan detak jantungnya, kuat dan mantap, membuktikan bahwa ia masih hidup.

"Terima kasih," bisiknya.

"Jangan berterima kasih dulu," jawabnya, merangkulnya dengan satu lengan. "Ini belum berakhir."

Maya mendekapnya sedikit lebih erat.

"Tapi kita makin dekat."

Maya memejamkan mata dan membiarkan dirinya dipeluk.

* * *

Serangan balasan Mahendra tak butuh waktu lama untuk datang.

Keesokan paginya, saat Maya dan Bara sarapan, ponsel Bramantyo berdering dengan panggilan yang membekukan darah semua orang.

Itu Ratna.

Bukan Ratna yang terbius, yang absen, yang nyaris tak mampu membuka mata. Ini Ratna yang sadar, yang sudah berhari-hari tak muncul di meja makan, yang nyaris tak bertukar sepuluh kata dengan putrinya sejak mereka tiba di mansion.

Suaranya terdengar bergetar, terputus-putus, gema kepanikan.

"Maya... Nak... Mama tidak tahu ada di mana... mereka membawa Mama keluar dari kamar... beberapa orang laki-laki... Mama dibawa ke sini... Mama tidak tahu di mana..."

Maya merasa dunia berhenti berputar.

"Mama?" ucapnya, suaranya pecah. "Mama, di mana?"

"Mama tidak tahu... ada jendela... terlihat sungai... dan sebuah gereja... gereja dengan kubah hijau..."

Maya menatap Bara dengan mata berlinang.

"Mereka menculiknya," katanya. "Pamanku menculiknya."

Bara merenggut ponsel dari tangan Maya dan mengaktifkan pengeras suara.

"Bu Ratna," ucapnya, dengan ketenangan yang tak ia rasakan. "Dengarkan saya. Jangan tutup teleponnya. Tetap di sambungan. Kami akan menemukan Anda."

Namun panggilan itu terputus. Satu nada tuut, kering, panjang, final.

Keheningan di ruang makan pun total.

Bramantyo sudah berdiri, wajahnya pucat bagai lilin. Kedua tangannya, yang bertumpu di meja, gemetar jelas terlihat.

"Mahendra," katanya, dan kata itu terdengar bagai ludah yang disemburkan. "Bajingan itu. Dia akan membayarnya. Demi Tuhan, dia akan membayarnya."

Bara sudah bergerak. Ia mengeluarkan ponselnya, memencet sebuah nomor, memberi perintah dengan suara dingin dan tajam.

"Aku mau pelacakan lokasi terakhir dari panggilan itu. Aku mau peta semua properti Mahendra Adiwangsa dalam radius sepuluh kilometer. Aku mau anak buahku turun ke jalan dalam lima menit. Dan aku mau seseorang membawakan pengacaranya padaku. Sekarang."

Ia memutus sambungan dan berbalik menghadap Maya.

"Aku akan membawanya pulang," ucapnya, dengan kepastian yang tak menyisakan ruang keraguan. "Tapi aku butuh kamu tetap di sini. Aku butuh kamu aman."

"Tidak," jawab Maya, bangkit berdiri. "Aku tidak mau tinggal. Aku ikut denganmu."

"Maya..."

"Bara!" teriaknya, dan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah. "Itu ibuku. Aku tidak akan duduk diam di mansion ini menunggu kabar sementara dia berada di tangan monster itu. Kamu bawa aku ikut, atau aku berangkat sendiri. Tapi aku tidak mau tinggal."

Bara menatapnya lama. Mata kelabunya yang dingin bertemu dengan mata Maya. Lalu, perlahan, ia mengangguk.

"Marta," ucapnya. "Ambilkan jaket Nyonya. Dan jaketku."

"Baik, Tuan," jawab Marta, lalu lenyap menaiki tangga.

Bramantyo melangkah maju.

"Aku juga ikut."

"Tidak," ucap Maya dan Bara serempak.

Bramantyo menatap mereka dengan mata membara oleh amarah.

"Dia istriku."

"Dan dia ibu mertua saya," jawab Bara. "Tapi Anda sedang menjalani pembebasan bersyarat. Kalau Anda terlihat bersama saya dalam operasi penyelamatan, Anda dikembalikan ke penjara. Lalu, siapa yang menjaga Maya? Siapa yang menjaga Ratna saat kami membawanya pulang? Tidak, Pak Bramantyo. Anda tinggal. Dan menunggu. Seperti Maya menunggu seminggu lalu. Seperti saya menunggu sepanjang hidup saya."

Bramantyo mengatupkan rahang. Namun ia mengangguk.

"Bawa dia pulang, Prakoso. Atau aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."

"Setuju," jawab Bara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!