Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata Aku Telah Melukai Banyak Orang

Pagi yang sejuk.

Aku berdiri di koridor lantai dua, tepat di depan kamarku. Dari sini, hamparan sawah terlihat begitu luas. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun, sementara udara pagi terasa begitu menyejukkan.

Kuhirup dalam-dalam udara pagi sembari berdzikir. Mataku menyapu pemandangan di hadapanku. Sungguh, betapa agung ciptaan Allah. Hal-hal sederhana seperti ini sering kali membuatku kembali menyadari betapa kecilnya diriku.

Sudah lima menit aku berdiri di sini.

Tak lama kemudian, kulihat sebuah motor melewati gerbang pondok.

Motor itu dikendarai seorang perempuan. Ia mengenakan gamis hitam dengan lis putih, dipadukan dengan jilbab senada.

Aisyah.

Keponakan Ustadz Syaiful.

Sudah dua belas hari ia berada di sini, tetapi baru tiga kali aku melihatnya.

Pertama, saat ia datang.

Kedua, ketika kejadian dua Aisyah sekaligus berhadapan denganku.

Dan pagi ini.

Padahal sebelumnya aku mengira kami akan sering bertemu. Namun kenyataannya tidak demikian. Aku terlalu sibuk dengan berbagai urusan di pondok. Bahkan, untuk sekadar mengobrol dengannya pun hampir tidak pernah ada kesempatan.

Dia pun sepertinya tidak pernah mengajakku bertemu.

Ah, kenapa aku justru mengharapkan hal itu?

Bukankah dua hari lalu aku telah menyakiti hati Aisyah yang lain?

Sekarang aku sudah memikirkan Aisyah yang satunya.

Apakah aku semudah itu berpindah perasaan?

Aku menghela napas panjang.

Seharusnya aku tidak memikirkan ini.

Tak berselang beberapa saat, sebuah mobil yang kukenal memasuki gerbang pondok.

Aku memperhatikannya lebih saksama.

Bukankah itu mobil pondok Umi?

Kenapa Umi datang ke sini lagi?

Aku ingin turun untuk menyapa beliau. Namun langkahku tertahan.

Bagaimana kalau Aisyah ada di dalam mobil?

Bagaimana aku harus menghadapinya?

Aku tetap berdiri di tempatku, menunggu seseorang keluar dari mobil tersebut.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar.

Hammad.

Tentu saja. Dia memang sering mengantar Umi bepergian.

Kemudian keluarlah seorang perempuan paruh baya.

Umi.

Mereka hanya berdua.

Entah kenapa, aku merasa lega.

Namun sesaat kemudian, sebuah pertanyaan justru muncul di benakku.

Benarkah aku sudah tidak mengharapkan Aisyah berada di hadapanku?

Aku terdiam.

Rasanya aku jahat sekali.

***

Ternyata Umi datang ke sini hendak ikut mengantar Ummu Aisyah menjalani radioterapi.

Aku pun menawarkan diri untuk ikut serta. Kebetulan aku juga akan berjaga di rumah sakit hari ini.

Setelah sarapan bersama, kami berangkat.

Hammad duduk di balik kemudi, sedangkan aku berada di sampingnya. Umi, Ummu Aisyah, dan Aisyah duduk di bangku belakang.

Kalau dilihat-lihat, kami seperti rombongan yang hendak pergi menghadiri acara keluarga. Ramai sekali.

Anehnya, suasana itu justru membuatku bahagia.

Mungkin karena kebersamaan seperti ini bisa memberi Ummu sedikit harapan untuk tetap bertahan. Setidaknya beliau tahu bahwa dalam keadaan sesulit apa pun, masih ada orang-orang yang bersedia berada di sisinya.

Sesampainya di rumah sakit, kami langsung menuju ruang radioterapi. Memang sudah ada jadwal dan janji sebelumnya.

Kulihat wajah Ummu datar. Mungkin karena beliau sudah berkali-kali datang ke tempat ini. Tidak ada lagi ketegangan seperti orang yang baru pertama kali menjalani pengobatan.

Namun, berbeda dengan perempuan yang duduk di sampingnya.

Aisyah.

Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya dalam keadaan seperti itu.

Matanya besar, berbentuk agak almond, dengan tatapan yang biasanya lembut dan ekspresif. Bulu matanya yang lentik membuat sorot matanya semakin terlihat jelas.

Namun pagi ini, mata itu tampak sendu.

Ada kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Ada kecemasan yang selama ini tidak pernah kulihat darinya.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Aisyah sebagai seorang perempuan yang sedang takut kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.

Dan untuk pertama kalinya pula, aku merasa iba kepadanya.

Selama ini, yang kukenal adalah Aisyah yang kuat.

Aisyah yang ceria.

Aisyah yang selalu terlihat baik-baik saja.

Ternyata, di balik semua itu, ia juga memiliki sisi yang rapuh.

“Lam.”

Suara Hammad membuyarkan lamunanku.

“Ya?” jawabku sambil menoleh.

“Aku mau bicara sebentar.”

Aku mengernyitkan dahi.

Ada apa?

Mengapa Hammad tiba-tiba ingin berbicara denganku?

Aku mengikuti langkahnya menuju tempat yang sedikit lebih sepi. Setelah sampai, Hammad terdiam.

Aku pun menunggunya berbicara.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

“Maaf.”

Itulah kata pertama yang akhirnya keluar dari mulutnya.

Aku menatapnya.

“Dua hari lalu, aku mendengar percakapanmu dengan Ustadzah Aisy.”

“Ustadzah Aisy?”

Aku mengulanginya dengan sedikit heran. Entah kenapa panggilan itu terdengar asing di telingaku.

“Kami sekarang memanggilnya Ustadzah Aisy. Karena ada dua Aisyah di pondok.”

Aku mengangguk pelan.

Kini aku mulai memahami arah pembicaraan Hammad.

Namun, aku masih belum mengerti mengapa ia mengatakan semua ini kepadaku.

“Aku sebenarnya sudah tahu kalau kamu banyak memperhatikan Aisy tatkala daurah dulu.”

Hammad berhenti sejenak.

“Sebenarnya, aku juga menaruh rasa kepadanya.”

Aku terdiam.

Entah kenapa, pengakuan itu tidak terlalu mengejutkanku.

Aku sudah menduganya.

“Tapi aku memilih untuk merelakannya.”

Hammad menarik napas panjang.

“Karena sepertinya dia juga tertarik kepadamu.”

Aku menunduk.

“Tapi ketika aku mendengar percakapan kalian dua hari lalu...” Suara Hammad terdengar semakin berat. “Itu membuatku sesak.”

Ia menatapku lekat-lekat.

“Aku kecewa padamu, Lam.”

Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan tekanan yang begitu jelas.

Aku terdiam.

Kulihat tangan Hammad mengepal di sisi tubuhnya.

Saat itulah sesuatu terasa menghantam dadaku.

Ternyata bukan hanya aku yang terluka dalam persoalan ini.

Ada Aisyah.

Ada Hammad.

Dan mungkin masih ada orang lain yang tidak kuketahui.

“Setelah pulang kemarin, aku melihat Aisyah menangis di dalam mobil.”

Aku mengangkat wajah.

“Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa saat itu.”

Hammad menghela napas.

“Dia tidak ingin kembali ke pondok. Akhirnya dia menemui temannya.”

Aku kembali terdiam. Kenyataan itu membuatku seperti lelaki pengecut.

“Entah sekarang dia sudah kembali ke pondok atau belum.”

Hammad menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan.

“Tapi sepertinya kamu di sini tidak merasa bersalah.”

Aku tercekat.

Lagi-lagi aku kehabisan kata-kata.

Bukan karena aku tidak punya jawaban.

Tapi karena untuk pertama kalinya, aku dipaksa melihat semuanya dari sisi orang lain.

Dan semakin kupikirkan, semakin aku sadar...

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memikirkan perasaanku sendiri.

Sampai lupa bahwa keputusan dan sikapku juga bisa melukai orang lain.

1
ARDICK
semangat KA 👍 sukses selalu saling favorit 👍
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!