( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 4 }:{secret journey }
Zeo tidak kalah tampan dari Sora, tetapi sifat mereka bertolak belakang.
Jika Sora lebih banyak menghabiskan waktunya di dekat Artefak Kuno untuk menjaga keseimbangan alam, Zeo justru senang dikelilingi wanita dari berbagai bangsa.
Sora hanya bisa menghela napas melihat sahabatnya.
“Zeo, sebagai orang terpilih, kita tidak bisa bermain-main dengan wanita dari berbagai bangsa.”
Zeo mengangkat alis. “Apa? Kau mau mengaturku terus?”
Sora hanya tersenyum. Baginya, Zeo bukan sekadar sahabat. Ia sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, kabar bahagia menyebar.
Zeo akan menikah dengan Dewi Bunga.
Sora ikut bahagia. Ia bahkan berkeliling mencari sebuah batu kristal run yang tersimpan jauh di lautan sebagai hadiah pernikahan untuk Zeo.
Untuk mendapatkannya, ia harus berhadapan dengan penguasa Bangsa Bumi. Sora memilih tidak menggunakan kekuatannya. Ia mengandalkan kecerdikannya hingga akhirnya berhasil mendapatkan kristal tersebut—meski harus pulang dengan wajah lebam dan pakaian penuh kotoran.
Ia tetap datang ke pernikahan Zeo.
Ketika melihat keadaan Sora, Zeo tidak mampu menahan tawa.
“Apa ini, Sora?” Ia menunjuk wajah sahabatnya. “Wajahmu!”
Sora mengabaikannya dan menyerahkan kristal run.
“Terima kasih, Sora.”
Zeo menerima hadiah itu dengan kedua tangan.
Malam semakin larut. Musik dan tarian memenuhi tempat pernikahan.
Di tengah keramaian, mata Sora tanpa sengaja tertuju pada seorang gadis.
Ia terdiam.
Untuk pertama kalinya, pikirannya tidak tertuju pada Artefak Kuno ataupun kewajibannya.
Hanya pada gadis itu.
Mereka kemudian berada dalam lingkaran tarian yang sama.
Gadis itu menatapnya dan tersenyum.
“Cahayanya sangat indah.”
Sora terkejut.
Dia bisa membaca pikiranku?
Dengan gugup, Sora bertanya, “Maafkan saya. Nama Dewi...?”
“Cahaya indah hanya dapat dilihat di malam hari.”
Sora terus memikirkan kata-kata itu selama berhari-hari.
Hingga suatu malam, ia menatap bulan dan akhirnya berteriak,
“Cahaya indah! Bulan! Apa maksudmu bulan?!”
“Benar.”
Sora menoleh.
Gadis yang selama ini memenuhi pikirannya berdiri di belakangnya.
“Kamu Bulan?”
“Ya.”
“Berarti kamu Dewi Bulan!”
Sora tertawa lega. “Kamu membuatku hampir gila hanya untuk mengetahui namamu.”
Dewi Bulan tersenyum jahil.
“Kalau sekarang sudah tahu namaku, apakah kamu akan menikahiku?”
Sora terdiam.
Dewi Bulan tertawa. “Mana mungkin penjaga Artefak Kuno sepertimu berani meninggalkan kewajiban demi seorang gadis?”
Sora mendekat.
“Aku akan menikahimu,” jawabnya mantap. “Tapi aku tidak akan meninggalkan kewajibanku.”
Dewi Bulan terdiam, pipinya merona.
Sejak malam itu, Sora sering duduk sendirian di bawah cahaya bulan.
Pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
“Aku sangat menyukaimu, Dewi Bulan.”
“Aku juga selalu memikirkanmu, Sora.”
Sora tersentak.
Dewi Bulan sudah duduk di sampingnya.
“Sejak kapan kamu ada di sana?”
“Sejak kamu menatap bulan.”
Sora menatap matanya.
“Dewi Bulan, aku ingin memilihmu sebagai bagian dari hidupku.”
Dewi Bulan tersenyum.
“Kalau begitu, kejar aku.”
Ia berlari menuju hutan.
Sora mengikutinya.
Dewi Bulan terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Namun ketika ia berhenti, Sora sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Apa ini, Sora?” “Kamu membuatku terkejut”
Sora hanya tersenyum dan menggandeng tangannya.
Mereka berjalan berdampingan di bawah cahaya bulan.
Beberapa saat kemudian, Dewi Bulan menoleh.
“Sora, ada apa?”
“Aku hanya ingin melihatmu.”
Wajah Dewi Bulan kembali memerah. Ia mendorong dada Sora pelan, lalu berjalan menjauh.
Sora tersenyum.
“Dewi Bulan, aku akan menikahimu!”
“Buktikan, Sora!”
“Aku serius!”
“Kalau begitu, di bulan berbintang, aku akan menikahimu! Aku tunggu!”
Tawa mereka menggema di antara pepohonan.
Namun tanpa mereka sadari, di balik rimbun pepohonan, seorang laki-laki berkuda mengamati dari kejauhan.
Wajahnya tersembunyi dalam bayangan.
Hanya matanya yang terlihat.
Menatap tajam ke arah Sora dan Dewi Bulan.
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya