Indonesia
NovelToon NovelToon
DAMAR: Si Pemandu Arwah

DAMAR: Si Pemandu Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Menyusup

​Menara Arsip Pusat Dewan Gaib menjulang tinggi membelah kabut keperakan Sektor Empat bagaikan jarum raksasa bertuliskan aksara kuno. Bangunan batu bergaya gothic itu dikelilingi oleh parit sihir penyegel dan dijaga oleh puluhan entitas patroli berzirah kaku.

Di tempat inilah seluruh riwayat hidup, dosa, pahala, serta jalur transmisi jiwa sejak era purba tersimpan dalam jutaan gulungan berkas berisikan Tinta Jiwa.

​Di sebuah lorong gelap yang bersebelahan dengan dinding luar menara, Bus 000 terparkir dalam mode samaran gaib.

​Damar memeriksa kerapian seragam pemandunya, lalu memasang jam saku Chrono-Compass di saku dada.

Di sampingnya, Madam Helga telah mengubah gaun malam mewahnya menjadi setelan gaun mantel serba hitam yang lebih ringkas, lengkap dengan sarung tangan sutra yang siap menyalurkan pendar sihir keemasan.

​"Ingat, Damar," bisik Madam Helga, suaranya terngiang halus tepat di samping telinga Damar saat mereka mengintai dari balik bayangan Pilar Abadi. "Jantung Arsip dilindungi oleh Sistem Segel Penjaga Tinta. Jika kau menyentuh berkas yang salah atau memicu alarm emosi, seluruh penjaga Sektor Empat akan mengepung kita dalam hitungan tiga detik."

​"Saya mengerti, Madam," balas Damar pelan seraya membetulkan tali clipboard-nya. "Kita cari berkas asli Budi Santoso, cetak ulang dokumen koreksinya, lalu keluar tanpa meninggalkan jejak."

​"Dan jangan menyentuh apa pun yang bersinar merah," tambah Madam Helga dengan tatapan menajam. "Atau jiwamu akan tersedot menjadi tinta cetak berkas baru."

​Dengan gerakan anggun, Madam Helga mengibaskan ujung jarinya. Pendar sihir keemasan tipis meluncur memutus aliran mantra deteksi di celah ventilasi bawah menara. Pintu besi kuno bergetar halus lalu terbuka sedikit, cukup untuk dilalui oleh tubuh Damar dan wujud melayang Madam Helga.

​Keduanya menyelinap masuk ke dalam interior Menara Arsip.

​Pemandangan di dalam menara sangat spektakuler sekaligus mencekam. Ribuan rak kayu jati raksasa setinggi puluhan meter berjejer tak bertepi, dipenuhi oleh jutaan buku dan gulungan kertas yang melayang-layang secara otomatis. Cahaya redup berasal dari lentera-lentera es gaib yang tergantung di langit-langit berukir.

​"Luar biasa," gumam Damar takjub, matanya menyapu deretan rak yang seolah tak memiliki ujung.

​"Fokus, Pemandu Amatir," tegur Madam Helga pelan seraya menepuk bahu Damar dengan terlipatnya kipas sutra. "Sektor Registrasi Kematian Abad Ini ada di lantai tiga. Ikuti aku."

​Madam Helga memimpin jalan, melayang tanpa suara di antara celah-celah rak raksasa. Damar melangkah cepat di belakangnya, mengendalikan derap langkah sepatunya agar tidak menimbulkan gema di atas lantai pualam yang dingin.

​Setibanya di lantai tiga, hening yang mencekam terasa makin tebal. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja pualam besar yang memuat Konsol Utama Tinta Jiwa, sebuah mekanisme bola kristal raksasa tempat mengakses data karma seluruh entitas.

​"Itu konsolnya," kata Damar seraya melangkah mendekati meja pualam.

​"Biar aku yang meretas mantra pengunci birokrasinya," kata Madam Helga. Ia menempelkan jemari bersarung tangan sutranya ke permukaan bola kristal. Pendar api emas perlahan merayap masuk, membongkar susunan kata kunci sihir yang mengunci sistem data Dewan.

​KLIK! KLIK! BZZZT!

​Bola kristal berputar cepat, menampilkan barisan nama berkedip dalam tinta emas dan hitam.

​"Berhasil," desis Madam Helga dengan senyum tipis keberhasilan. "Cari data Budi Santoso, kematian tanggal dua puluh empat pukul 23.14."

​Damar memajukan tubuhnya, menatap lincah deretan nama yang bermunculan di atas bola kristal. Jemarinya dengan sigap membantu menyortir daftar nama menggunakan bantuan pendar navigasi Chrono-Compass.

​"Ini dia!" bisik Damar bersemangat. "Budi Santoso – Kode 908-A (Guru SD) dan Budi Santoso – Kode 908-B (Residivis Perampokan). Jalur transmisi mereka tertukar di sub-kategori registrasi terminal Sektor Tiga!"

​"Bagus. Salin data murni 908-A ke atas Lembar Koreksi Darurat ini," Madam Helga menyerahkan selembar kertas perkamen emas khusus bersimbolkan segel Last Trip Express.

​Damar langsung menempelkan perkamen itu ke permukaan bola kristal. Proses transfer data berlangsung cepat, memancarkan pendar biru lembut saat kebenaran tentang jiwa Pak Budi terukir abadi di atas perkamen tersebut.

​Namun, tepat saat proses penyalinan data Pak Budi selesai, bola kristal di Konsol Utama mengalami glitch atau pendar riak yang tak sengaja terpicu oleh getaran pendar Chrono-Compass di dada Damar.

​BZZZZZT!

​Mekanisme pencarian otomatis konsol mendadak bergeser sendiri secara liar, menyusuri arsip terlarang tingkat tinggi yang tersimpan di kedalaman Sektor Arsip Tersegel (Level OMEGA).

​"Damar! Jangan sentuh konsolnya lagi!" peringat Madam Helga kaget seraya mencoba menarik tangannya.

​"S-Saya tidak menyentuhnya, Madam! Alat ini tiba-tiba merespons gelombang Chrono-Compass saya!" sahut Damar panik.

​Di atas permukaan bola kristal, barisan tinta hitam pekat berdarah mendadak muncul membakar layar, menampilkan sebuah berkas tua berdebu yang terikat oleh segel rantai raksasa bertuliskan: BERKAS INSDIEN PEMANDU PERTAMA & AGEN LAST TRIP EXPRESS (TAHUN 1928).

​Langkah Damar membeku seketika. Matanya membelalak menatap judul berkas rahasia tersebut.

​"Madam, ini ...," bisik Damar, menoleh menatap Madam Helga.

​Madam Helga berdiri mematung di tempatnya. Wajah porselennya mendadak memucat drastis, jauh lebih pucat daripada saat ia tersiksa oleh segel Aether milik Gabriel di Benteng Tua.

Mata indahnya yang biasa memancarkan keangkuhan kini bergetar hebat, dipenuhi oleh rasa guncangan emosional dan ketakutan yang teramat dalam.

​"Tutup berkas itu, Damar!" Suara Madam Helga bergetar serak, hampir menyerupai bisikan yang putus asa. "Tutup sekarang!"

​Namun, sebelum Damar sempat mematikan konsol, Chrono-Compass di dadanya berdetik kencang secara otomatis menyedot dan memproyeksikan potongan catatan dokumen rahasia itu ke dalam bayangan emosi di udara.

​Potongan tulisan tinta berdarah terhampar transparan di hadapan Damar:

​[CATATAN RAHASIA DEWAN GAIB - TINGKAT TINGGI]

Subjek: Pemandu Pertama (Manusia Fana - Pengendali Chrono-Compass Generasi I).

Tuduhan: Insubordinasi Berat & Pelanggaran Batas Transmisi Sektor Bawah.

Status Akhir: EKSEKUSI PELEBURAN JIWA.

​Ringkasan Kejadian: Pemandu Pertama terbukti secara sengaja menghentikan Armada 000 di area Tabu demi menyerap Hukuman Karma yang ditujukan kepada Pemilik Agen (Helga). Pemandu Pertama menolak menyerahkan diri kepada Dewan dan memilih mengorbankan inti jiwanya sendiri hingga lebur demi menutupi kesalahan fatal yang dilakukan oleh Helga.

​DEG!

​Jantung Damar berdenyut amat keras hingga dadanya terasa sakit. Kata-kata di dalam berkas resmi Dewan itu merobek seluruh narasi kebohongan yang selama ini disebarkan oleh Gabriel dan agen Eternity Horizon.

​Gabriel selalu mengatakan bahwa Madam Helga adalah monster dingin yang sengaja menumbalkan dan mengorbankan pemandu pertama demi menyelamatkan dirinya sendiri dari hukuman Dewan. Namun berkas asli birokrasi ini mencatat kenyataan yang bertolak belakang.

​Pemandu pertama tidak pernah ditumbalkan oleh Madam Helga. Pemandu pertama memilih untuk meleburkan jiwanya sendiri secara sukarela, demi melindungi Madam Helga dari eksekusi mati Dewan Gaib.

​Damar menoleh pelan menatap Madam Helga.

​Pemilik agen abadi yang selalu tampil begitu perkasa, otoriter, dan tak tersentuh itu kini berdiri menyandarkan punggungnya pada rak kayu, meremas dadanya sendiri dengan jemari yang gemetaran hebat. Air mata keemasan yang murni dan bening menetes pelan dari sudut matanya, membasahi pipinya yang memucat.

​Dosa terbesar dan rahasia kelam Madam Helga yang selama ini menyiksanya bukanlah rasa kejam atau pengkhianatan, melainkan rasa bersalah yang tak terobati karena ia merasa gagal menyelamatkan manusia yang paling ia percayai seratus tahun lalu.

​"N-Nah ...," bisik Madam Helga dengan suara yang sangat rapuh dan patah, menatap Damar dengan pandangan hancur. "Sekarang kau sudah tahu semuanya, Damar. Kau sudah tahu kalau berkerja bersamaku ... hanya akan membawa pemandu manusia seperti kalian ... menuju kehancuran."

​Damar terdiam mematung. Kebenaran kelam masa lalu itu kini terbuka lebar di antara mereka.

​Belum sempat Damar merespons ucapan Madam Helga, alaram darurat Menara Arsip mendadak meledak menggelegar! Cahaya merah menyala liar membakar seluruh penjuru ruangan, memecahkan keheningan lantai tiga!

NGUUUUUUUUUNG!

​"Peringatan! Akses Terlarang terdeteksi di Sektor Tiga!" gema suara sihir mekanis membahana. "Sistem Pertahanan Otomatis Diaktifkan! Kepung Area!"

​Dinding-dinding batu di sekeliling mereka bergetar hebat. Pintu-pintu besi bawah tanah terbuka, memicu pergerakan belasan Penjaga Zirah Besi dan Algojo Tinta yang berjalan cepat mengepung meja konsol.

​"Madam!" jerit Damar seraya menyambar Lembar Koreksi Darurat Pak Budi yang telah selesai dicetak.

​Madam Helga mengusap air matanya cepat-cepat, mencoba mengembalikan raut dingin dan keangkuhannya meskipun napas gaibnya masih tidak teratur. Pendar sihir keemasan menyala kembali di tangannya, namun kali ini dipenuhi kecemasan yang teramat sangat pada keselamatan Damar.

​"Pegang tanganku, Damar!" bentak Madam Helga kencang seraya membuka kipas sutranya. "Kita keluar sekarang juga!"

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
baru tahu
judulnya gantii yaa 🤔
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
alangkah ajaib nya
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat jalan pak Tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kepuasan seorang manusia yg berguna bagi sesama nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
yaa pasti rinduu laah pak tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!