Indonesia
NovelToon NovelToon
GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Zombie
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.

Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.

Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?

Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.

"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"

Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.

Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"

Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Setia Kawan

Ruby sudah bertemu kembali dengan Manda dan jack. Saat ini mereka sedang berusaha membunuh zombie yang ada di tangga menuju lantai tiga.

Sedangkan orang-orang yang berhasil mereka temui tetap menunggu dilantai dua. Ruby meminta mereka menunggu di Apotik, sambil menunggu, mereka harus mengambil obat-obatan sebisa yang mereka bawa.

Di lantai dua ada sekitar dua puluh orang berhasil mereka temukan. Dan semuanya sepakat untuk ikut Ruby keluar daripada menunggu bantuan yang entah kapan.

"Dari informasi yang aku dapat. Ayah Sila ada di ruangan Melati, katanya di ruangan itu sekitar 10 orang, kebanyakan dari mereka adalah pasien yang sempat dirawat!"

Manda sangat senang saat mengetahui suaminya masih hidup. Tidak sia-sia mereka mempertaruhkan nyawa masuk ke sarang zombie.

"Bukannya semua pasien yang sakit sudah berubah jadi zombie?" tanya Manda dengan heran.

"Tidak semua, mereka yang nggak jadi zombie mungkin memiliki penyakit yang berbeda. Bukan gejala yang seperti kebanyakan orang!" jelas Ruby.

"Hmm benar juga!"

Tiba di lantai tiga mereka mendengar sebuah pertarungan. Ruby meminta untuk tidak langsung menampakkan diri, mereka harus lihat situasinya lebih dulu.

Beberapa orang pemuda, sedang membasmi zombie yang jumlahnya dua kali lipat dari lantai dua. Mereka hanya mengandalkan tongkat besi sebagai senjata.

Jika diperhatikan, besi itu adalah kaki dari sebuah kursi yang sengaja dilepaskan bautnya. Ada juga yang mengunakan ganggang sapu, dan tiang infus.

Grrr-Khhh....

Grrr-Khhh....

Grrr-Khhh....

Clas... Jleb.... krek.... krak....

"Aku nggak sanggup lagi! Jumlahnya sangat banyak.!" ucap salah satu dari mereka yang sudah kehabisan tenaga.

"Aku juga sama. Apa kita akan berakhir di sini?" tanya rekannya yang lain.

Grrr-Khhh....

"KAPARAT MATI KAUU..!" Dia sudah sangat lelah dan Zombie itu tidak ada habisnya. Mereka hanya berlima mana mungkin bisa menang melawan mereka.

Jleeeb...

"Bertahanlah! Tinggal satu lantai lagi, kita sudah setengah jalan." Ucapnya memberi semangat. "Kita dari lantai lima, pasti kita bisa!"

"Aku.. Aku sudah nggak kuat lagi..!" balas seseorang dengan air mata yang berlinang. Tenaganya sudah diambang batas, bahkan tongkat kayu di tangannya sudah tidak mampu dia genggam lagi.

Clas... Jleb.... krek.... krak....

Grrr-Khhh....

Grrr-Khhh....

"Tidaaaak... Jangan seperti itu.!" Teriaknya dengan marah. Marah pada dirinya sendiri, karena dirinyalah yang mengajak mereka untuk nekat turun dari lantai lima.

Grrr-Khhh....

Dia juga sudah mulai terpojok, para zombie sudah mengelilinginya. Tidak ada lagi jalan keluar, meski dia masih punya banyak tenaga, tetap saja zombie itu akan memangsanya dari belakang.

"Haaah.. Haaahh.. Haaaah..!" Nafasnya ngos-ngosan. Dia berdiri ditengah menatap zombie yang kian mendekat.

Dia melihat teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Mereka sudah pasrah, percuma lagi memberi semangat satu sama lain. Dia berdiri sendiri, sedangkan temannya yang lain berdiri sambil membelakangi.

"Maaf!" ucapnya sambil memejamkan mata. Dia sudah siap menerima cakaran atau gigitan zombie.

Tapi dia merasa aneh, karena apa yang dia tunggu tak kunjung datang. Dia memberanikan diri untuk membuka matanya kembali.

Dan dia sangat terkejut melihat tiga orang yang tiba-tiba datang menyelamatkan mereka. Zombie yang tadinya tinggal selangkah ternyata sudah mati dengan anak panah di kepalanya.

Dia melihat keempat temannya masih selamat, mereka juga sedang berdiri mematung melihat bagaimana ketiga orang itu membantai Zombie dengan ganas.

Dia segera mencabut anak panah di kepala zombie itu, semangatnya yang tadi habis kembali berkobar. Mana mungkin dia hanya tinggal diam melihat penyelamatnya berjuang.

Keempat teman lainnya juga kembali bertarung dengan zombie, mereka membunuh zombie-zombie itu seperti sedang balas dendam.

Karena bantuan Ruby dan yang lainnya, mereka berhasil mengalahkan zombie yang ada di koridor. Untuk sementara, mereka sudah aman.

Semuanya menjatuhkan diri ke lantai untuk beristirahat, mereka sudah sangat lelah dan juga haus.

"Ini minumlah!" Ruby tiba-tiba menyodorkan beberapa botol air. Dia sangat salut dengan keberanian mereka berlima. Orang-orang seperti ini, sangat layak diajak untuk gabung untuk membantu menyelesaikan misinya.

"Terima kasih!" mereka menerimanya dengan sungkan.

"Hmm..!" Ruby beranjak setelah melihat jam yang ternyata sudah jam dua belas malam. "Kak, ayo kita cari Ruangan Melati!"

"Ayo. Aku juga sudah sangat lelah, aku nggak sanggup lagi untuk membunuh zombie!" kata Manda dengan lemas.

"Ehh tunggu!"

"Ada apa?"

"Perkenalkan, namaku Mohan. Terima kasih sudah menyelamatkan kami.!" ucapnya, dia adalah pria yang mengajak teman-temannya untuk nekat turun.

"Benar. Kami benar-benar sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup.!" sela satu dari mareka.

"Tidak masalah! Kami hanya kebetulan lewat jadi sekalian saja.!" balas Ruby dengan jujur.

"Oh, emang kalian turun dari lantai berapa?" tanya Mohan.

"Itu.. Kami dari luar, sengaja masuk ke sini untuk mencari seseorang. Katanya ada di lantai tiga, di Ruangan Melati, apa kalian tahu di mana?"

Mohan dan temannya sangat syok mendengarnya. Hanya untuk mencari seseorang, mereka rela menerjang ribuan zombie di bawah sana.

Mereka saja, sangat ingin keluar dari Rumah Sakit itu, tapi Ruby malah masuk seolah-olah para zombie itu bukanlah makhluk yang berbahaya.

"Kalian tinggal belok kanan!" ucap Mohan.

"Baiklah.. Oh, sejak kapan kalian di sini?" tanya Ruby.

"Kemarin siang!"

Mereka berada di Rumah Sakit karena menjenguk seorang teman yang sakit. Tapi siapa sangka, teman mereka tiba-tiba berubah jadi zombie dan langsung menyerang mereka.

Karena tidak tega membunuhnya, mereka mengikatnya di brankar menggunakan tali pinggang.

Saat ingin ke luar dari Rumah Sakit, situasinya sudah kacau balau. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri, dan mereka melihat sendiri bagaimana zombie-zombie itu menerkam orang yang berhasil mereka tangkap.

Mereka masih bingung apa yang terjadi, tubuh mereka merinding dan mual. Tapi jika terus tetap tinggal mereka juga mungkin tidak akan selamat.

Terpaksa, mereka menunggu semalaman, dan polisi yang berjaga di luar gerbang meminta mereka untuk tenang, karena akan ada yang datang menyelamatkan semuanya yang masuh hidup.

"Turunlah dengan pelan, Kami sudah menghabisi zombie yang ada di tangga dan juga di lantai dua.!"

"Benar! Tapi itu cuman yang terlihat. Kami nggak tahu berapa banyak lagi yang bersembunyi. Jadi tetaplah berhati-hati!" sela Manda.

"Satu lagi, jangan pernah ganti pakaian. Karena Zombie nggak bakalan nyerang kalau ada bau darah mereka di tubuh kalian. Tapi, jangan memperlihatkan sesuatu tindakan yang aneh, karena mereka akan langsung tahu jika kalian adalah manusia hidup!".

"Baik. Terima kasih sudah mengingatkan kami!" Ucap Mohan. "Tapi, bisakah kami berlima kaluar bersama?"

"Ya. Kami janji nggak bakalan jadi beban!"

Ruby tersenyum, dalam hatinya dia bersorak bahagia. Dia lebih suka jika orang-orang menawarkan dirinya sendiri, daripada dirinya yang harus merayu mereka.

Ruby suka melihat pertamanan mereka yang begitu setia. Tidak ada yang mengorbankan teman hanya untuk selamat sendiri.

Padahal, mereka bisa menjadikan salah satu dari mereka dijadikan umpan agar yang lainnya bisa segera berlari untuk kabur. Tapi mereka memilih untuk berjuang dan mati bersama.

"Hmm bisa saja. Tapi dengan satu syarat!"

.

.

.

.

.

.

1
Dandelion
ohhh Tuhan...di gantung lagi sama ka othor nya...
Dandelion
next ka
Dandelion
berasa kurang banyak bacanya...😁
next ka...
Dandelion
seru2 semoga orang2 yg di tolong oleh tim ruby di bawa keperkebunan milik ruby...
next ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
lanjut kq
Dandelion
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
lanjut ka
Dandelion
next ka
Dandelion
hmmmm...nggak berasa bacanya...berasa kurang trs 😁
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
makin seru dan menegangkan ceritanya
next ka
Dandelion
lanjut ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
seru...seru...seru...
next ka
Dandelion
bener2 menegangkan ceritanya 😁
next ka..
Dandelion
knp novel ka othor yg ini bikin menegangkan...serasa ikut terbawa suasana mengerikan 😁
lebih seram dr cerita horror...next ka...
Fii: makasih kk🙏 jangan lupa ajak teman2nya mampir kk 😊
total 1 replies
Dandelion
ceritanya bikin dag dig dug ...serasa ikut jd spt ruby..😁
next ka
Dandelion
wahhh jd ikut deg2an 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!