Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Berbalik
Enzo mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara rahangnya mengeras menahan amarah yang membakar dada.
Sebagai bagian dari garis darah bangsawan, ia merasa sangat dipermalukan oleh seorang pelayan rendahan yang bahkan status sosialnya dianggap lebih rendah daripada lapisan lumpur di bawah sepatu yang ia pakai.
"Kau—berani sekali kau mengangkat kepala dan berkata seperti itu padaku!" bentak Enzo, suaranya menggelegar memecah keheningan malam yang membeku.
Ia mundur satu langkah demi mengambil jarak, lalu menggerakkan kedua tangannya dengan cepat, membentuk formasi silang di antara kedua telapak tangannya. Seketika, sisa-sisa aspal berselimut salju tebal di bawah kaki mereka mulai bergetar hebat dan bergelombang layaknya air pasang.
"Bangkitlah, Harimau Es!" teriak Enzo mengerahkan mana magisnya.
GGGGRRRRRRRR!
Bumi seakan runtuh saat seekor binatang buas raksasa tercipta dari udara tipis.
Harimau Es yang seluruh tubuhnya memancarkan pendaran biru dari kristal es murni itu mengaum keras, melepaskan gelombang hawa dingin yang menusuk tulang.
Mendengar auman mengerikan itu, pengikut Enzo yang berdiri mengelilingi arena justru tersenyum sinis.
Mata mereka berkilat penuh kepuasan, berpikir bahwa sebuah pertunjukan pembantaian yang seru dan berdarah akan segera dimulai di atas hamparan salju ini.
Sementara itu, di sudut lain, Aurel berusaha keras untuk bangkit berdiri. Namun, dinginnya cuaca membuat otot kakinya kram hebat hingga ia kembali terjatuh berlutut.
"Enzo, jangan! Hentikan semua kegilaan ini!" teriak Aurel dengan suara serak, mencoba memohon.
Sedetik kemudian, pandangannya beralih pada pemuda yang berdiri disana. "Arthur! Lari dari sana! Menyingkir!" jerit Aurel histeris hingga air matanya nyaris membeku di pipi.
Namun, Arthur sama sekali bergeming. Sepasang matanya tampak begitu tenang, sedingin es abadi di puncak gunung tertinggi.
Ia hanya melipat kedua tangannya di dada dengan santai. Tidak ada sedikit pun gurat ketakutan, gemetar, atau kepanikan di wajah pemuda itu.
Sikap tenang yang ditunjukkan oleh Arthur justru menjadi bahan bakar yang membuat kemarahan Enzo semakin meledak-ledak. Ego bangsawannya tercoreng melihat seorang budak tidak gemetar di hadapan kekuatannya.
"Kau pikir kau siapa, hah?! Ini adalah wilayah kekuasaan Klan Es!" teriak Enzo dengan sepasang mata yang kini telah berpendar biru terang akibat luapan sihir. "Dan kau harus sadar, di wilayah ini... akulah satu-satunya hukum yang berkuasa!" Katanya lagi dengan nada angkuh yang memuakkan.
"Harimau Es... maju dan hancurkan tubuh penjaga kuda rendahan yang tidak tahu diri ini sampai menjadi serpihan debu!" teriaknya memberi perintah tegas.
GRRRRRR!
Bersamaan dengan perintah itu, sang harimau Es mengaum panjang hingga menggetarkan udara dingin malam itu.
Hewan buas itu melompat, berlari kencang membelah hujan salju, bersiap menerjang dan mencabik-cabik tubuh Arthur.
Semua orang yang menonton spontan menahan napas, namun sepasang mata mereka memancarkan antusias yang sadis.
Berbeda terbalik dengan Aurelia yang semakin histeris hingga menutup wajahnya, tidak sanggup melihat pemuda itu mati mengenaskan.
Sementara itu, Arthur tetap berdiri dengan tenang. Tidak ada kepanikan dimatanya.
Sepasang mata Arthur yang biasanya memancarkan kepasrahan seorang pelayan, tiba-tiba berubah warna tanpa siapapun sadari.
Kilatan biru safir yang mistis dan sangat pekat mendominasi retinanya selama beberapa saat. Jauh di dalam kesadarannya, jiwa Lucien—sang Penyihir Agung yang tak tertandingi—mengambil ahli dan berbisik lirih melalui bibir Arthur.
"Berhenti," gumam Arthur dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan, namun anehnya bergaung kuat di kepala makhluk buas di depannya.
Seolah terhipnotis oleh kekuatan besar yang tak terbantahkan, Harimau Es yang awalnya berlari kesetanan dengan taring siap menerkam, mendadak menghentikan lajunya secara ekstrem.
Cakarnya mengerem di atas salju hingga menciptakan kepulan es, tepat beberapa langkah saja di depan tubuh Arthur.
Makhluk buas yang diciptakan untuk membunuh itu tiba-tiba menurunkan ekornya. Tanpa diduga, ia duduk bersimpuh di depan Arthur, menjatuhkan tubuh besarnya layaknya seekor anjing peliharaan yang manis dan patuh kepada tuannya.
Para penonton yang awalnya sangat antusias langsung membeku, lalu berubah menjadi syok dengan bola mata yang melotot sempurna.
Seluruh mulut orang yang ada di sana menganga lebar. Keheningan yang mencekam mencekik leher mereka.
"A--apa... apa yang sebenarnya terjadi?" tanya salah satu pria di sana dengan suara bergetar bingung, mundur selangkah karena tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Harimau es pemangsa milik Enzo... bagaimana bisa binatang itu berubah menjadi kucing rumahan yang manis di depan si penjaga kuda?" timpal yang lain dengan wajah pucat pasi.
Sementara itu, Enzo mundur beberapa langkah dengan wajah tidak percaya. Harimau Es miliknya telah sepenuhnya lepas dari kendalinya. Panik dan murka bercampur menjadi satu, mengikis harga dirinya sebagai penerus Klan Es.
"Apa yang kau lakukan, sialan?! Kenapa kau berhenti? Serang penjaga kuda tak berguna itu sekarang juga!" teriak Enzo, urat-urat di lehernya menegang saat ia mencoba memaksakan sisa energinya untuk mengendalikan Harimau Es tersebut.
Namun, makhluk itu bergeming. Ia tetap duduk diam, menundukkan kepalanya yang dilapisi es tebal di hadapan Arthur layaknya seorang prajurit yang setia kepada raja sejatinya.
Di tengah kebingungan massal itu, Arthur tersenyum tipis—sebuah lengkungan bibir yang dingin, dan nyaris tidak terlihat oleh siapa pun.
Detik berikutnya, matanya kembali berkilat dengan pendaran biru yang lebih terang tanpa ada yang menyadarinya. Itu adalah perintah diam.
Tiba-tiba, Harimau Es itu bangkit berdiri. Bulu-bulu es di tengkuknya berdiri tegak seiring dengan lolosan auman yang jauh lebih besar dan menggelegar dari sebelumnya, membuat tanah yang mereka pijak bergetar hebat.
Melihat hal itu, mata Enzo sempat berbinar sesaat. Ia mengira bahwa akhirnya Harimau itu telah tunduk kembali dan akan segera mengoyak tubuh Arthur.
Namun, harapan palsu itu hancur dalam sekejap digantikan oleh kengerian yang murni. Bukannya menerjang maju ke arah Arthur, Harimau Es itu justru memutar tubuhnya dengan cepat berbalik ke arah majikannya sendiri.
GGGRRRRRR!
Tanpa memberikan kesempatan untuk menghindar, Harimau Es itu melompat dahsyat, menerjang langsung ke arah tubuh Enzo yang terpaku.
Brak! AARRRGGGGG!
Jeritan histeris Enzo memecah langit malam saat tubuhnya terhempas ke atas salju dibawahnya, ditindih oleh bobot raksasa makhluk buatannya sendiri.
Tanpa ampun, cakar dan taring es yang tajam mulai mencabik-cabik jubah magis dan daging tubuhnya, menumpahkan darah segar di atas salju yang memutih.
Mata semua orang yang ada di sana semakin melotot, diselimuti kengerian yang mendalam melihat seorang master penyihir dibantai oleh sihirnya sendiri.
"Harimau bodoh! Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!" Enzo berteriak di sela-sela rasa sakitnya yang luar biasa.
Menyadari situasi yang semakin tidak terkendali, para penyihir Klan Es langsung bergerak. "Cepat, selamatkan Tuan Enzo!" teriak salah satu pria disana.
Dalam sekejap, mereka semua langsung memunculkan tombak-tombak Es raksasa di udara dan melemparkannya dengan kecepatan tinggi ke arah Harimau Es tersebut.
Tembakan beruntun itu telak mengenai sasarannya. Akibat hantaran energi padat yang berlawanan, seketika itu juga wujud Harimau Es tersebut hancur, meleleh, dan berubah menjadi genangan air biasa yang meresap ke dalam salju.
"Enzo! Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" tanya Azka dengan napas terengah-engah, mencoba mendekat untuk membantu memapah pemuda itu.
Namun, Enzo yang baru saja berhasil bangkit dengan tubuh penuh luka robek dan darah langsung menepis uluran tangan Azka dengan sangat kasar. "Menjauh dariku! Aku tidak butuh bantuan mu!" desis Enzo dengan napas terengah-engah.
Napas Enzo memburu, matanya merah padam oleh amarah dan rasa malu yang membakar dada. Enzo adalah seorang Penyihir Es jenius yang telah mencapai tingkat 6, sebuah pencapaian yang sangat dihormati di wilayah Klan Es, namun dirinya baru saja dipermalukan secara tragis oleh kekuatannya sendiri di depan umum.
Di sisi lain, tubuh Aurel bergetar hebat saat matanya terkunci pada sosok Arthur. Sebagai seseorang yang mengenal Arthur sejak lama. Ia jelas merasakan perubahan itu.
Matanya—tatapan mata Arthur saat ini—terlihat sangat berbeda dari Arthur yang ia kenal selama ini. Sorot mata yang dingin, agung, dan tidak tersentuh itu seolah mengirimkan sinyal tak kasat mata kepada dunia, memberitahu dengan jelas bahwa raga yang berdiri di sana saat ini dihuni oleh orang lain yang jauh lebih kuat dan berbahaya.
Arthur perlahan membersihkan sisa kotoran di tubuhnya yang polos, lalu menatap Enzo yang sedang merintih kesakitan dengan pandangan meremehkan.
"Sepertinya Tuan Enzo harus lebih banyak berlatih lagi dalam mengendalikan emosi... dan sihirnya," kata Arthur dengan nada suara yang pelan dan santai, namun entah bagaimana, gaung suaranya terdengar begitu jelas dan menusuk di telinga semua orang yang berada di halaman tersebut, meninggalkan keheningan yang mencekam.
Kata-kata itu bagai garam yang ditaburkan di atas luka menganga. Arthur sama sekali tidak mempedulikan tatapan Enzo yang kini dipenuhi oleh kobaran amarah yang murni, ataupun tatapan heran dan curiga dari semua orang yang mulai berbisik-bisik di sekeliling mereka.
Dengan gerakan yang teramat tenang seolah tidak terjadi apapun, Arthur justru berjalan santai menghampiri Aurelia.
Tanpa meminta izin, ia langsung merengkuh tubuh gadis itu dan menggendong Aurelia ke dalam pelukannya seolah ingin memberikannya perlindungan.
Aurelia sempat terkejut, namun sedetik kemudian ia langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Arthur. Ia menyandarkan kepalanya, sambil menatap mata Arthur lebih dalam, mencoba mencari tahu rahasia besar apa yang sedang disembunyikan oleh pria yang kini mendekapnya dengan begitu hangat namun penuh misteri.