Indonesia
NovelToon NovelToon
Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bonggiw01

Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!

Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.

ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35.

Di Base Camp Aliansi Pedang Tujuh Langit.

Langkah Morgan terdengar mantap di antara jalan panjang yang diapit oleh barisan ribuan pendekar.

Mereka semua mengenakan jubah kebesaran Aliansi Pedang Tujuh Langit, wajah mereka penuh ketegasan, mata mereka mengikuti tiap langkah Morgan.

Morgan berjalan lurus ke depan, semakin dekat menuju panggung batu megah tempat seorang pria berdiri tegak.

Sosok itu begitu berwibawa, tubuhnya menjulang, sorot matanya tajam.

Dia adalah Kyros Herilios, pemimpin tertinggi Aliansi Pedang Tujuh Langit, pria yang disebut-sebut sebagai manusia terkuat di benua saat ini.

Begitu sampai di hadapan Kyros, Morgan langsung berlutut, menundukkan kepala dengan penuh hormat.

“Salam hormat, Pemimpin!” ucapnya lantang.

Kyros menatap Morgan dengan ekspresi dingin. “Morgan, kau kembali dengan selamat dari medan perang.” Suaranya tenang, tapi penuh tekanan. “Apakah ini bisa diartikan bahwa Aliansi Pedang Tujuh Langit telah menang berperang melawan Kultus Iblis?”

Morgan membuka gulungan kain yang dibawanya.

Bau darah menyengat segera memenuhi udara. Dari dalam kain itu, tampak jelas kepala Azril, Panglima terkuat Kultus Iblis.

Mata kosongnya masih terbuka lebar, wajahnya membeku dalam ekspresi marah.

“Dia adalah Azril, Panglima Kultus Iblis. Aku sendiri yang mengalahkan dan memenggal kepala nya, Tuan,” ucap Morgan dengan suara berat.

Sejenak, suasana berubah tegang.

Semua pendekar di sekitar panggung menatap kepala itu dengan kagum sekaligus lega.

Namun Kyros tetap dingin, matanya tidak menunjukkan sedikit pun emosi.

Morgan melanjutkan. “Kami berhasil membantai sekitar 350 anggota Kultus Iblis, mereka semua anggota yang memilih berperang sampai mati.” ia berhenti sejenak. “Namun… di pihak kita juga kehilangan sekitar 800 orang, Tuan.”

Kyros mengangguk pelan. “Kultus Iblis memang memiliki jumlah yang lebih sedikit. Kehilangan 350 orang seharusnya membuat kekuatan mereka berkurang drastis. Namun ada yang mengganggu pikiranku…” Kyros menatap jauh ke arah langit. “Bagaimana mungkin mereka memilih perang terbuka tanpa tanda-tanda mundur sedikit pun?”

Morgan mengepalkan tangan, wajahnya tegas. “Mereka yang turun ke medan perang kemarin adalah para senior dari Kultus. Mereka bertempur mati-matian hanya untuk membuka jalan bagi generasi muda agar bisa meloloskan diri dari kepungan kita.”

Kyros mengalihkan pandangannya kembali ke Morgan, “Jadi, kau melepaskan para bibit baru itu begitu saja?”

Morgan menunduk lebih dalam, tubuhnya sedikit gemetar. “Kami tidak punya pilihan, Tuan. Para senior Kultus bertarung seperti orang yang sudah tidak peduli dengan nyawa mereka. Mereka hanya ingin anak-anak itu selamat. Fokusku saat itu hanya mengalahkan Azril. Aku… berpikir dialah ancaman terbesar.”

Hening sesaat. Aura tekanan dari Kyros semakin terasa, membuat udara seakan berat.

“Bodoh…” suara Kyros tajam. “Jika para iblis tua itu rela mengorbankan diri demi generasi muda, berarti ada sesuatu yang mereka lindungi. Mungkin… ada seorang anak dengan potensi mengerikan di antara mereka. Potensi yang bisa mengguncang benua ini.”

Morgan semakin merunduk, rasa bersalahnya membebani. “Ampuni aku, Tuan. Aku terlalu gegabah.”

Kyros akhirnya menarik napas panjang, “Tidak masalah. Kepala Azril ini tetap kemenangan besar bagi kita. Masih ada kesempatan lain untuk membasmi anak-anak itu.”

Ia lalu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah barat. “Dengar perintahku. Mulai hari ini, kita akan mencari setiap jejak markas Kultus Iblis. Mereka sedang dalam kondisi paling lemah. Ini waktu yang tepat untuk menghancurkan akar mereka sampai ke dasar. Aku yakin, mereka sedang kebingungan, dan Si Zoqori sedang sakit parah, dia akan segera mati! Kita akan menghancurkan mereka!”

(Note: Zoqori, Raja Kultus Iblis yang sudah tua dan dalam kondisi rapuh hampir mati)

Morgan mengangkat kepalanya sedikit, matanya berbinar penuh tekad. “Laksanakan, Pemimpin!”

Kyros menatap pasukan ribuan pendekar yang berdiri tegap di hadapannya.

“Kultus Iblis telah merusak keseimbangan benua ini terlalu lama. Aku tidak akan membiarkan bibit terkutuk mereka tumbuh menjadi pohon besar. Aku bersumpah, sebelum generasi baru mereka sempat bangkit, Aliansi Pedang Tujuh Langit akan menghapus mereka dari muka dunia!”

“UURRRAAAAAAA...!!” ribuan pendekar menjawab serentak, suara mereka mengguncang bumi, bergema ke seluruh lembah.

Kyros menyipitkan mata, ‘Aku merasakan sesuatu yang buruk… Generasi baru Kultus Iblis tidak boleh dibiarkan hidup. Jika tidak, perang besar di masa depan tak terhindarkan.’

Dengan itu, puluhan ribu pendekar segera dikerahkan.

Pasukan raksasa bergerak ke segala arah, siap menggali setiap sudut benua untuk menemukan markas besar Kultus Iblis.

---------

Sementara itu, Di benua Efandor, di dalam ruang pertemuan agung yang terbuat dari batu putih berukir lambang matahari tenggelam, tujuh sosok berjubah emas duduk melingkar.

Mereka adalah 7 Pendekar Suci Ordo Cahaya Senja, orang-orang yang disebut sebagai pilar kekuatan dan kebijaksanaan ordo.

Suasana di ruangan itu berat, udara seperti menahan napas menunggu kata pertama.

Egi, salah satu dari tujuh pendekar itu, membuka rapat dengan suara tegas.

“Kita kehilangan kontak dengan Risman. Sudah lebih dari tiga hari tidak ada laporan. Tidak ada pesan, tidak ada tanda. Ia benar-benar lenyap dari jangkauan kita.”

Daniel, duduk di seberangnya, mengetukkan jari ke meja bundar. “Bagaimana bisa? Risman bukan orang ceroboh. Selama ini dia selalu menyelesaikan tugas dengan sempurna.” Nada suaranya sarat dengan kegelisahan.

Egi menghela napas. “Aku juga terkejut. Tapi ini kenyataan. Jika bukan sesuatu yang besar, Risman tidak mungkin hilang begitu saja.”

Dari sisi lain, Marsel, sang peramal ordo, seorang pria berambut Merah dengan mata tajam seperti orang yang selalu melihat melampaui kenyataan.

Ia mengangkat sebuah kartu dari tumpukan di hadapannya. “Aku sudah meramalnya. Saat kuletakkan niatku untuk mencari nasib Risman, yang muncul adalah kartu Death. Kalian tahu artinya.”

Semua mata langsung menoleh ke arahnya.

Boris, tubuhnya besar dan berotot, bersandar ke kursi. “Jika kau yang mengatakan itu, Marsel, maka 95% bisa dipastikan benar. Risman… sudah mati.”

Namun Sanim, sang pertapa tua dengan janggut panjang putih, menggeleng pelan. “Sulit dipercaya. Risman memiliki kemampuan unik. Tubuhnya bisa mencair menjadi air jika ia terluka parah. Hampir mustahil membunuhnya. Siapa yang bisa mengatasi kekuatan semacam itu?”

Keheningan menyelimuti ruangan. Semua menyadari betapa seriusnya pernyataan itu.

Isco, ketua dari 7 Pendekar Suci, akhirnya berbicara.

"Kita simpulkan saja bahwa Risman telah mati. Dengan begitu, kita tak lagi menunggu laporan yang tidak akan datang. Pertanyaan berikutnya adalah... siapa yang sanggup membunuh seorang pendekar suci sekuat Risman?”

“Benar,” sambung Boris. “Jika musuh sudah menemukan cara mengalahkan kekuatan suci, maka Ordo Cahaya Senja berada dalam bahaya besar.”

Sanim mengerutkan kening. “Apa ini perbuatan Kultus Iblis? Atau Aliansi Pedang Tujuh Langit? Mereka memang musuh utama kita.”

Marsel menggeleng pelan.

Ia menatap kartu lain yang ia buka dari tumpukan. “Aku sudah melihat. Kartu kedua menunjukkan… pelaku itu bukan dari Kultus Iblis maupun Aliansi Pedang Tujuh Langit.”

Egi mencondongkan tubuhnya, wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu. “Bukan keduanya? Lalu, siapa? Dari mana datangnya orang itu?”

Marsel menarik napas dalam, lalu membuka kartu ketiga.

Namun saat melihatnya, tangannya bergetar. Matanya membelalak.

“Kosong…?” gumamnya lirih.

Yang lain menatap bingung.

“Kartu ini… kosong. Tak ada lambang, tak ada bayangan masa depan. Seumur hidupku meramal, hal seperti ini belum pernah terjadi.” Marsel menunduk, wajahnya suram. “Artinya aku tidak bisa mengetahui siapa pelaku. Seakan-akan dia berada di luar jangkauan takdir. Orang seperti itu… tidak seharusnya ada.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Bahkan para pendekar suci, yang biasanya selalu tenang, tampak gelisah.

Isco mengetuk meja dengan tenang, memutus kegaduhan. “Baik. Ramalanmu memang kuat, Marsel, tapi kita tidak bisa terpaku pada hal yang tak jelas. Anggap saja kartumu kali ini sedang keliru. Kita harus tetap bergerak.”

Daniel mengangkat tangan. “Ketua, izinkan aku menyarankan seseorang. Kenzo. Dia pemuda yang sedang naik pesat, kekuatannya berkembang luar biasa. Jika Risman gagal, maka inilah kesempatan Kenzo untuk membuktikan diri.”

Egi mengangguk. “Kenzo memang berbakat. Aku juga setuju.”

Sanim menambahkan, “Aku sudah memperhatikan latihannya. Potensinya melebihi para pendekar muda lainnya. Ini saatnya ia mendapatkan ujian nyata.”

Boris menepuk meja. “Kurasa ini ide bagus. Dia masih muda, lincah, dan tidak dikenal luas oleh musuh. Cocok untuk misi penyusupan.”

Isco menutup mata sejenak, lalu mengangguk mantap. “Baiklah. Kirimkan Kenzo ke benua Eryndor. Aku ingin dia menjadi mata dan telinga kita. Biarkan dia mengamati gerakan Kultus Iblis dan Aliansi Pedang Tujuh Langit. Jika perlu, gunakan kesempatan untuk mengadu domba keduanya. Sama seperti yang Risman lakukan sebelumnya.”

Semua pendekar suci menjawab serentak. “Laksanakan, Ketua!”

Cahaya senja yang masuk dari jendela kaca berwarna merah keemasan jatuh ke meja pertemuan, memantulkan bayangan tujuh sosok berjubah emas itu.

Mereka tahu, Ordo Cahaya Senja tidak akan turun tangan secara langsung.

Mereka adalah pengamat dan pemangsa.

Mereka hanya menunggu, membiarkan dua raksasa, Kultus Iblis dan Aliansi Pedang Tujuh Langit saling mencabik, hingga tiba waktunya Ordo muncul untuk memberi gigitan terakhir.

Namun di balik semua itu, satu hal membuat hati mereka tak tenang.

Mereka bertanya-tanya Siapa sebenarnya yang telah membunuh Risman. Dan mengapa bahkan ramalan Marsel tidak bisa menyentuh takdirnya.

1
Endi Tu Endy
dari awal lagi kah
Terserah
gass thor 🍻
V.MaryGrace
lanjut thorr
Terserah
ninggalin jejak dulu
Ed Troivan
update terus💪👍
The Rizki: kenalan yuk
total 1 replies
Ed Troivan
Lumayan ceritanya thorku 💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
xebeck D ron
awal lagi nih?
ZAHRANI
keren mantap jiwa thor👍👍
Heroik gg
katanya season 2 bang kok balik season 1
Anonim
👍
Betesyon Betesyon
ini cerita nya di mulai dari awal lagi kah?
RR
lagi pindahan atau lagi tes ombak nih bang😁, semangat terus pokonya dahh
ZAHRANI: bang jangan sampek hiatus😭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!