Indonesia
NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. Pertandingan Pertama

Pagi di Gunung Hua datang dengan suara lonceng besar yang menggema dari puncak sampai ke kaki gunung, suaranya berat dan panjang seolah sedang mengumumkan kepada seluruh dunia murim bahwa hari ini darah akan tumpah, nama-nama baru akan lahir, dan beberapa orang akan mati tanpa ada yang mengingat mereka, dan di bawah langit yang masih berwarna biru pucat itu, sepuluh arena besar yang terbuat dari batu putih sudah dipenuhi oleh puluhan ribu orang, mulai dari murid sekte kecil yang datang hanya untuk melihat, sampai Tetua dan Pemimpin Sekte yang duduk di tribun tertinggi dengan wajah tanpa ekspresi.

Tang Hyun berdiri di barisan peserta Klan Tang, mengenakan jubah ungu gelap yang sama seperti kemarin, tetapi hari ini jubah itu terasa lebih berat, bukan karena kainnya, melainkan karena tatapan orang-orang di sekitarnya, tatapan yang penuh jijik, takut, dan waspada, karena semua orang tahu bahwa siapa pun yang berasal dari Klan Tang tidak pernah bertarung secara jujur, mereka bertarung untuk membunuh, dan mereka bertarung dengan cara yang paling kotor yang bisa dibayangkan.

Di sebelahnya, Tang So-yeon berdiri dengan tenang, matanya terpejam seolah dia sedang bermeditasi, dan tidak ada satu orang pun dari sekte lain yang berani berdiri terlalu dekat dengannya, karena kabar tentang apa yang terjadi di hutan tiga malam lalu sudah menyebar ke seluruh kamp, bahwa Nona Tang hanya perlu mengibaskan lengan dan dua puluh orang bisa mati tanpa sempat berteriak.

"Aturan turnamen sederhana," suara Pemimpin Aliansi Murim menggema dari atas tribun, tua tetapi penuh tenaga, "tidak ada pembunuhan di arena kecuali lawan menyerah atau wasit menghentikan pertandingan, menggunakan racun diperbolehkan karena ini juga bagian dari teknik, tetapi racun yang bisa membunuh seketika dilarang, pelanggar akan didiskualifikasi dan diserahkan kepada sekte mereka."

Tang Hyun mendengus pelan di dalam hati, karena aturan seperti itu hanya menguntungkan sekte ortodoks yang mengandalkan kekuatan fisik dan teknik pedang, sementara Klan Tang harus bertarung dengan satu tangan diikat di belakang punggung, tetapi dia tidak peduli, karena sejak awal dia tidak berniat menang dengan cara yang terhormat, dia berniat menang dengan cara yang membuat orang takut.

Undian dilakukan dengan menarik bambu dari dalam guci besar, dan nama Tang Hyun keluar di pertandingan keempat di Arena Ketiga, lawannya adalah seorang murid dari Sekte Tinju Besi, sekte kecil yang terkenal karena para muridnya memiliki tubuh sekeras batu dan tinju yang bisa menghancurkan batu bata.

Nama itu disebut, dan sorak sorai langsung terdengar dari sisi tribun Sekte Tinju Besi, karena bagi mereka, melawan murid Klan Tang adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak takut pada racun, bahwa kekuatan sejati ada di tubuh dan semangat, bukan di botol kecil dan jarum tersembunyi.

Tang Hyun melangkah ke arena dengan langkah pelan, dan setiap langkahnya membuat kerumunan menjadi sedikit lebih hening, karena orang bisa mencium bau samar dari tubuhnya, bau racun yang tidak seperti bau racun Klan Tang pada umumnya, melainkan bau yang lebih liar, lebih tajam, seperti darah yang sudah bercampur dengan bisa ular selama bertahun-tahun.

Lawan di depannya adalah seorang pemuda bertubuh besar dengan otot yang menonjol di setiap bagian tubuhnya, kepalanya gundul, dan di kedua tangannya dia memakai sarung tangan besi yang dipenuhi paku kecil, dan begitu wasit memberi isyarat, pemuda itu langsung berlari ke arah Tang Hyun seperti banteng yang mengamuk.

"Anak Klan Tang! Mati kau!" teriaknya, dan tinjunya menghantam ke arah dada Tang Hyun dengan kekuatan yang bisa meremukkan tulang.

Namun Tang Hyun tidak menghindar dengan cara biasa, dia hanya memiringkan tubuhnya sedikit, dan pada saat yang sama kipas di tangannya terbuka dengan suara "tak" yang tajam, dan dari dalamnya melesat enam jarum tipis yang hampir tidak terlihat oleh mata.

Jarum itu tidak mengenai titik vital, karena itu melanggar aturan, tetapi tiga di antaranya menggores lengan lawan dan tiga lainnya menancap di bahu, dan dalam waktu kurang dari tiga detik, wajah pemuda itu berubah dari merah marah menjadi pucat, lalu menjadi biru, dan lututnya mulai gemetar.

"Apa... apa yang kau lakukan?" gumamnya sambil terhuyah-huyah, karena dia bisa merasakan seluruh lengannya mati rasa dan jantungnya berdetak tidak beraturan.

"Racun Kelumpuhan Saraf Tingkat Tiga," jawab Tang Hyun datar, suaranya tidak keras tetapi cukup untuk didengar oleh semua orang di tiga baris pertama tribun, "tidak membunuh, hanya membuatmu tidak bisa menggerakkan tangan selama tiga hari. Menyerah, atau aku akan menambah dosisnya."

Pemuda itu mencoba mengangkat tinjunya lagi, tetapi tangannya tidak mau bergerak, dan dengan wajah penuh rasa malu dan marah, dia akhirnya berlutut dan berteriak, "Aku menyerah!"

Wasit langsung menghentikan pertandingan, dan nama Tang Hyun diumumkan sebagai pemenang, tetapi tidak ada sorak sorai, yang ada hanya keheningan yang canggung dan beberapa bisikan, "Sialan Klan Tang, curang sekali."

Tang Hyun turun dari arena tanpa melihat ke belakang, karena dia sudah menduga reaksinya akan seperti ini, dan bagi Gu Cheol yang dulu, mungkin dia akan merasa sakit hati, tetapi bagi Tang Hyun sekarang, rasa benci orang lain adalah bukti bahwa dia sudah tidak bisa diabaikan lagi.

Di tribun, Tetua Kedua Klan Tang mengangguk pelan, sebuah tanda persetujuan yang sangat langka, sementara Tang So-yeon membuka matanya sebentar, menatap ke arah Tang Hyun, lalu menutupnya lagi, seolah pertarungan tadi tidak cukup menarik untuk membuatnya terus menonton.

Pertandingan berikutnya berlangsung cepat, murid-murid dari Gunung Hua, Wudang, dan Shaolin menunjukkan teknik mereka yang indah dan kuat, dan penonton bersorak setiap kali ada jurus pedang yang memotong udara atau tinju yang menghancurkan batu, tetapi setiap kali nama Klan Tang disebut, suasana langsung menjadi dingin.

Hingga akhirnya, di pertandingan kesepuluh hari itu, nama yang membuat seluruh arena meledak dalam sorakan disebut: Tang So-yeon.

Lawannya adalah murid inti dari Klan Nangong, seorang pemuda tampan dengan pedang panjang dan senyum percaya diri, yang jelas-jelas sudah berlatih berminggu-minggu untuk bisa bertarung melawan Tiga Bunga dan mungkin mendapatkan perhatian dari Nangong Yeon yang duduk di tribun VIP.

" Nona Tang," kata pemuda itu sambil memberi hormat, "aku tahu aku tidak akan menang, tapi izinkan aku menunjukkan sedikit teknik Klan Nangong kepada Anda."

Tang So-yeon tidak menjawab, dia hanya berjalan ke tengah arena dengan langkah ringan, dan ketika wasit memberi aba-aba, dia bahkan tidak menghunus senjata.

Dia hanya mengangkat tangannya, dan dari ujung jarinya keluar kabut ungu tipis yang menyebar ke seluruh arena dalam waktu kurang dari satu detik.

Pemuda itu mencoba menahan napas dan menutup mulutnya, tetapi sudah terlambat, karena kabut itu sudah masuk melalui pori-pori kulitnya, dan dalam waktu lima detik dia jatuh berlutut, wajahnya membiru, dan tubuhnya kejang-kejang.

"Aku... aku menyerah..." katanya dengan suara hampir tidak terdengar, dan wasit segera melemparkan pil penawar ke dalam mulutnya.

Pertandingan selesai dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dan seluruh arena terdiam, karena inilah pertama kalinya banyak orang melihat kekuatan sejati dari Racun Bunga Plum.

Setelah itu, hari pertama turnamen berakhir, dan Tang Hyun kembali ke penginapan Klan Tang dengan perasaan yang aneh di dadanya, karena meskipun dia menang, dia merasa seperti belum melakukan apa-apa, kemenangan itu terlalu mudah, terlalu cepat, dan tidak ada yang benar-benar menganggapnya serius.

Malam itu, dia duduk sendirian di halaman belakang penginapan, berlatih melempar jarum ke batang bambu, dan setiap jarum yang dia lempar selalu mengenai titik yang sama dengan presisi yang mengerikan, karena dia tahu bahwa di turnamen seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berarti kematian.

"Kau tidak tidur?" sebuah suara pelan terdengar dari belakang, dan ketika Tang Hyun menoleh, dia melihat Tang Ling membawa dua cangkir teh.

"Aku tidak bisa," jawab Tang Hyun, "pikiranku terlalu ramai."

Tang Ling duduk di sampingnya dan menyerahkan secangkir teh, "Itu wajar. Hari pertama memang paling menegangkan. Besok akan lebih banyak orang kuat."

Tang Hyun menyeruput tehnya, dan rasanya pahit, seperti semua hal di hidupnya.

"Kau pikir aku aneh?" tanyanya tiba-tiba.

Tang Ling terkejut, "Kenapa bertanya begitu?"

"Karena semua orang menjauhiku. Karena racunku. Karena cara aku bertarung."

Tang Ling menggeleng, "Aku tidak berpikir kau aneh. Aku pikir... kau hanya orang yang sudah terlalu lama sendirian, sampai-sampai kau lupa bagaimana rasanya punya teman."

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada jarum mana pun, dan Tang Hyun terdiam lama, karena dia tahu itu benar, dia sudah sendirian sejak dia lahir sebagai Gu Cheol, dan bahkan sekarang sebagai Tang Hyun, dia masih sendirian.

Sebelum dia sempat menjawab, langkah kaki terdengar mendekat, dan dari balik bayangan muncul Tang So-yeon, masih dengan gaun ungunya, dan di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil.

Tang Ling langsung berdiri dan memberi hormat, "Nona."

Tang So-yeon mengabaikannya dan berjalan langsung ke arah Tang Hyun, lalu meletakkan kotak itu di tanah di depannya.

"Ini," katanya singkat, "ramuan untuk menetralkan efek samping racunmu. Kau terlalu sering memaksa tubuhmu, dan kalau terus begitu, darahmu akan membusuk dari dalam."

Tang Hyun menatap kotak itu, lalu menatap Tang So-yeon, "Kenapa... kenapa kau memberiku ini?"

Tang So-yeon menatapnya dengan mata ungu gelapnya yang sulit ditebak, "Karena aku penasaran dengan racun di tubuhmu. Aku belum pernah mencium bau seperti itu sebelumnya. Dan juga... karena kau tidak mati di lembah itu, dan itu menarik."

Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi, meninggalkan Tang Hyun dan Tang Ling duduk dengan mulut terbuka.

Tang Ling menutup mulutnya dengan kedua tangan dan berbisik, "Dewa... Nona Tang So-yeon baru saja mengkhawatirkanmu. Dua kali. Dalam dua hari."

Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya membuka kotak itu, dan di dalamnya ada beberapa botol kecil berisi cairan berwarna-warni dan selembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi: "Minum satu botol setiap tiga hari. Jangan berlebihan."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak dia datang ke dunia ini, Tang Hyun tidur tanpa mimpi buruk.

Dan di kejauhan, di kamar murid inti, Tang So-yeon duduk di dekat jendela dan menatap bulan, lalu dia mengangkat tangannya dan mencium ujung jarinya, masih ada sisa bau racun aneh dari anak itu tadi.

"Bau darah, bisa ular, dan... sesuatu yang lain," gumamnya, "sesuatu yang tidak seharusnya ada di Klan Tang."

Dia tersenyum tipis, "Semakin menarik saja."

Hari kedua turnamen akan dimulai besok, dan rumor sudah menyebar bahwa Tang Hyun akan menghadapi murid dari Sekte Pedang Langit, salah satu sekte ortodoks terkuat, dan semua orang menunggu untuk melihat apakah "anak racun" itu bisa bertahan lebih dari sepuluh detik.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di dalam tubuh Tang Hyun, darahnya sudah mulai berubah lagi, menjadi lebih gelap, lebih kuat, dan lebih lapar, karena dia sudah bersumpah bahwa kali ini, dia tidak akan kalah, tidak akan mundur, dan tidak akan membiarkan siapa pun merebut orang yang penting baginya.

Termasuk dirinya sendiri.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!