Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 — Perhatian yang Tak Diminta
Beberapa hari berikutnya berjalan dengan ritme yang buat ukuran hidup Kaito biasanya penuh drama, sekarang kerasa hampir terlalu nyaman. Tiap malem sepulang kerja, dia login, ketemu Rin di titik yang udah jadi semacam "markas" dadakan mereka, reruntuhan kecil deket Vale Aurora yang sepi dari pemain lain, terus lanjut farming, ngetes skill baru, sesekali diselingi obrolan ringan yang lama-lama nggak lagi berasa canggung.
Fortune's Eye ternyata berguna banget. Kaito bisa nunjuk arah lokasi item atau monster langka dari jarak jauh, dan Rin dengan pengetahuan taktisnya, bisa nentuin mana yang worth didatengin dan mana yang kelewat berbahaya buat level mereka sekarang.
Kombinasi itu bikin mereka naik level jauh lebih cepet dari rata-rata pemain baru, dalam waktu kurang dari seminggu, Kaito udah lompat dari level satu ke level dua puluh sekian, angka yang menurut Rin sendiri "nggak masuk akal buat pemain seumur itu."
"Coba lagi, tapi kali ini jangan nunggu gue kasih aba-aba," kata Rin suatu sore, pas mereka lagi latihan spar kecil-kecilan di sudut dungeon yang udah mereka bersihin. "Lo harus bisa baca pola musuh sendiri, nggak selalu ada gue buat kasih tau."
"Iya iya Rin sensei," Kaito ngangkat kedua tangan, pura-pura hormat yang langsung dibales lemparan batu kecil ke kepalanya dari arah Rin.
"Serius, Kaito."
"Oke oke," dia ketawa, terus balik fokus nyoba baca gerakan monster kelinci besar berduri yang jadi lawan latihan mereka hari itu. Kali ini tanpa nunggu aba-aba, dia berhasil nebak arah serangan monster itu dan ngasih counter yang bersih.
"Nah... gitu," Rin ngangguk puas, walau raut mukanya tetep datar kayak biasa. "Lo belajar cepet."
"Ada gurunya yang galak, jadi kepaksa cepet," balas Kaito, nyengir.
Rin muterin mata, tapi Kaito nangkep sedikit senyum yang buru-buru dia sembunyiin.
Sore itu, mereka baru aja selesai bersihin satu dungeon kecil di pinggiran hutan, dan lagi jalan balik ke Vale Aurora buat jual sebagian loot yang udah kepenuhan di inventory.
"Lo makin jago," kata Rin, natap Kaito yang baru aja ngelakuin kombo serangan yang walau masih agak kaku, udah jauh lebih terkoordinasi dari hari pertama mereka ketemu.
"Ya, ada yang ngelatih gue tiap hari sih," jawab Kaito, nyengir.
"Jangan geer. Gue ngelatih lo karena kalo lo mati, data gue jadi nggak lengkap," kata Rin, walau nada suaranya nggak sekasar kata-katanya.
Mereka masuk gerbang kota, dan begitu ngelewatin plaza utama, seorang pria berjubah biru gelap dengan lambang guild di dadanya tiba-tiba nyamperin, langkahnya cepet dan pasti, kayak emang udah nyari mereka dari tadi.
"Maaf mengganggu," kata pria itu, senyumnya profesional banget, tipe senyum yang biasa dipake orang sales. "Kalian Kaito dan Rin, kan?"
Kaito sama Rin saling lirik.
"Tergantung siapa yang nanya," jawab Rin, nada suaranya langsung berubah waspada.
"Nama saya Hayashi, saya recruiter dari guild Absolute Zero." Pria itu ngeluarin semacam kartu digital transparan, nunjukin lambang guild yang kalo Kaito inget bener dari cerita Souma, salah satu guild top di server. "Kami udah dengar soal aktivitas kalian belakangan ini. Drop rate anomali, progres level yang luar biasa cepat... cukup menarik perhatian banyak orang."
"Dan?" tanya Rin, tetep dingin.
"Dan kami tertarik nawarin posisi buat kalian berdua. Absolute Zero selalu nyari talenta baru yang punya potensi besar, dan terus terang, potensi kalian terutama kamu," dia natap Kaito, "cukup langka buat dilewatin gitu aja."
Kaito ngerasa nggak nyaman, badannya refleks agak mundur selangkah. Perhatian kayak gini bukan sesuatu yang dia terbiasa hadepin, seumur hidup dia lebih sering jadi orang yang nggak diliat sama sekali, bukan orang yang diincer.
"Kami belum tertarik gabung guild manapun buat sekarang," kata Rin tegas, sebelum Kaito sempet jawab apa-apa.
Hayashi ngangguk, walau senyumnya nggak ilang. "Saya ngerti. Tapi mungkin kalian belum tau, tawaran dari Absolute Zero itu jarang banget dikasih ke pemain baru. Guild kami punya fasilitas terbaik, akses dungeon eksklusif, mentor dari pemain top-tier, bahkan sponsor buat turnamen resmi."
"Kami hargai tawarannya," kata Rin, masih dengan nada yang sama tegasnya, "tapi jawaban kami tetap sama."
Hayashi diem sebentar, natap mereka berdua bergantian, kayak lagi ngukur seberapa serius penolakan itu. "Sayang sekali," katanya, nada suaranya masih santai walau ada nada kecewa yang samar. "Boleh saya tanya sesuatu yang agak personal? Ini murni rasa penasaran pribadi, di luar tugas rekrutmen."
"Tergantung pertanyaannya," jawab Rin masih waspada.
"Kaito-san," Hayashi natap langsung ke Kaito, "berapa lama kamu main game ini?"
Kaito ragu sebentar sebelum jawab. "Seminggu."
Mata Hayashi sedikit melebar, senyumnya pun berubah jadi lebih tulus, nggak lagi terasa seperti senyum profesional yang biasa dia pakai.. "Seminggu dan udah level segitu, party sama salah satu pemain top server. Wah." Dia geleng kepala pelan, kayak beneran nggak nyangka. "Kalo boleh jujur, saya udah delapan tahun kerja sebagai recruiter di berbagai game, dan baru sekarang saya ketemu kasus kayak gini."
"Itu... bagus atau buruk?" tanya Kaito, nggak yakin harus gimana nanggepin.
"Tergantung dari sisi mana lo liat," Hayashi ngangkat bahu, senyumnya balik lagi ke mode profesional. "Baiklah. Tapi kalo kalian berubah pikiran, jangan ragu buat hubungi guild kami." Dia mundur beberapa langkah, terus sebelum bener-bener pergi nambahin, "Oh, dan satu lagi Ren-san pasti bakal tertarik denger soal kalian. Dia orangnya nggak suka kalo ada bakat besar yang lolos dari radar."
Setelah Hayashi ilang di antara keramaian plaza, Kaito baru bisa narik napas lega.
"Itu... intens banget," gumamnya.
"Itu baru permulaan," kata Rin, ekspresinya masih serius. "Kalo screenshot drop rate lo udah tersebar di forum, cepat atau lambat guild-guild besar bakal mulai nyari tau siapa lo. Absolute Zero cuma yang pertama gerak."
"Siapa itu Ren yang dia sebut?"
Rin natap dia, ekspresinya sedikit berubah, kayak lagi mikir seberapa banyak yang perlu dia jelasin. "Todoroki Ren. Pemimpin Absolute Zero, dan sampai belum lama ini, pemain nomor satu di clear rank server Jepang-3. Orangnya... kompetitif banget. Reputasinya bagus di publik, tapi gue denger dari beberapa orang yang pernah di guild-nya, dia nggak suka ada yang keliatan lebih menonjol dari dia."
"Kedengerannya kayak orang yang bakal jadi masalah," kata Kaito, agak parno.
"Mungkin. Mungkin juga enggak," Rin ngangkat bahu, walau nadanya kedengeran nggak sepenuhnya yakin sama kata-katanya sendiri. "Yang penting buat sekarang, kita tetep jalan sesuai rencana kita. Nggak usah kepikiran soal politik guild dulu."
Mereka lanjut jalan ke toko NPC buat jual loot, tapi Kaito diem-diem masih mikirin nama itu. Todoroki Ren. Ada sesuatu di cara Rin nyebutin nama itu secara hati-hati, kayak lagi milih kata dengan sengaja yang bikin dia curiga ada lebih banyak cerita di balik nama itu daripada yang Rin mau ceritain sekarang.
Malemnya setelah logout, Kaito duduk di sofa apartemennya, mikirin percakapan tadi. Dia buka forum komunitas Aeon Requiem yang selama ini cuma dia lirik sesekali, dan nyari nama "Kaito" di kolom pencarian.
Yang muncul bikin dia sedikit merinding. Bukan cuma satu thread lagi tapi ada belasan, dengan judul-judul yang makin lama makin heboh: "SIAPA SEBENARNYA PEMAIN MISTERIUS INI??", "Drop rate gila, sekarang party sama Rin?? Ada apa ini", "Teori: pemain baru ini punya build rahasia yang belum pernah keliatan".
Dia scroll ke bawah, ngeliatin komen-komen yang campur aduk antara kagum, curiga, dan beberapa yang terang-terangan skeptis, nuduh semuanya cuma settingan buat konten. Satu komen bahkan nulis panjang lebar, coba ngitung ulang probabilitas semua drop yang udah dilaporin, terus nyimpulin "kalo ini beneran, ini bakal jadi salah satu penemuan paling gila dalam sejarah game ini." Komen itu dapet ratusan upvote dalam waktu singkat.
Kaito nutup forum itu, nyender ke sofa, ngerasa campuran perasaan yang aneh antara excited karena akhirnya ada yang notice dia, dan was-was karena dia tau, dari pengalaman seumur hidup, perhatian sebesar ini biasanya nggak pernah berakhir simpel.
Dia inget lagi kata-kata Rin sebelum mereka pisah tadi. "Nggak usah kepikiran soal politik guild dulu."
Tapi entah kenapa dia punya firasat, cepat atau lambat, dia bakal terpaksa mikirin itu juga.
Dia natap layar HP-nya yang masih nyala, thread forum yang tadi dibaca masih kebuka di sana. Buat pertama kalinya seumur hidup, namanya jadi bahan omongan orang-orang yang bahkan nggak dia kenal dan anehnya, bukan karena dia ngerusak sesuatu atau bikin kesalahan konyol kayak biasanya, tapi karena dia berhasil ngelakuin sesuatu yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya ngerti.
Dia matiin layar HP-nya, terus nutup mata, nyoba nenangin pikiran yang tiba-tiba jadi rame sendiri.