Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31

Kekalahan di taman Fikom Unpad sama sekali tidak membuat Hanni mundur ataupun mengalah. Baginya sebagai putri tunggal Maheswari Group yang sejak kecil terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Rasa malu setelah dipermalukan secara elegan oleh Kirana dan Kenan justru memicu dendam serta ambisinya semakin kuat ingin mendapatkan Kenan.

Pukul 11.00 WIB, suasana kafe di kawasan Ciumbuleuit terasa sangat tenang. Hanni duduk di meja sudut dekat dinding kaca yang menghadap langsung ke hamparan lembah hijau. Ia mengenakan kemeja sutra dan kacamata hitam yang terpasang anggun di atas kepalanya. Di atas meja, layar tablet menyala memperlihatkan data profil keluarga besar Alister. Langkah kaki seorang pemuda berpenampilan modis terdengar mendekat. Pemuda itu mengenakan kemeja casual bermerek internasional, jam tangan mewah yang menonjol di pergelangan tangannya, serta membawa senyuman sinis yang terukir jelas di bibirnya.

Dialah Julian Alister, mahasiswa tingkat tiga Jurusan Manajemen Bisnis Universitas Parahyangan (Unpar), sekaligus kakak sepupu kandung Kenan dari pihak keluarga ayah. Julian baru saja kembali dari program pertukaran pelajar di Australia. Berbeda dengan Kenan yang tenang, berintegritas, dan penuh tanggung jawab, Julian adalah sosok yang ambisius, suka bersenang-senang, serta memendam rasa iri mendalam terhadap Kenan karena Kenan selalu dipandang sebagai sosok tuan muda yang sempurna di mata keluarga besar.

Julian menarik kursi di hadapan Hanni, melemparkan kunci mobil mewahnya ke atas meja dengan gaya acuh tak acuh.

"Gak nyangka primadona ITB kayak lo rela meluangkan waktu buat ngajak ketemuan cowok dari Unpar kayak gue," ujar Julian dengan nada percaya diri khasnya. "Ada angin apa, Hanni?"

Hanni menyesap kopi pelan, menatap Julian dengan pandangan menilai. "Gue gak suka basa-basi, Julian. Gue panggil Lo kesini karena Lo sepupunya Kenan"

Mendengar nama Kenan diucapkan, raut wajah Julian seketika berubah. Senyuman santainya melunak menjadi kilatan ketidaksukaan yang tajam. "Kenan? Kenapa sama adik sepupu sok sempurna gue itu?"

Hanni menyodorkan tablet di meja ke hadapan Julian. Layar tersebut menampilkan foto kebersamaan Kenan dan Kirana yang tampak begitu mesra. "Dia udah nikah sama cewek bernama Kirana Amanda," kata Hanni dingin. "Dan cewek itu dengan percaya dirinya berani menghalangi jalan gue buat mendapatkan Kenan."

Julian menyandarkan punggungnya di kursi, menatap foto itu sebelum akhirnya tertawa terkekeh bernada sinis.

“Jadi ceritanya Lo suka sama junior Lo sendiri, Astaga!” 

Hanni mendengus, “Kenapa? Ada masalah” 

Julian menggeleng tapi suara kekehan nya masih terdengar, "Ah, Kirana... cewek yang dijodohkan sama Kenan itu?" cetus Julian seraya menyilangkan tangannya. 

"Gue emang pernah dengar cerita dari Bokap pas gue masih di Australia. Bokap sama keluarga Alister dari cabang kedua sebenarnya kurang setuju sama pernikahan itu. Buat mereka, Kirana cuma cewek dari keluarga kaya biasa ayahnya, Pak Irfan, itu dosen senior terhormat yang cuma sahabat karib Om Baskoro, ayahnya Kenan. Tapi gara-gara hubungan persahabatan dan janji masa lalu antara Om Baskoro dan Pak Irfan, Om Baskoro kekeh menjodohkan dan merestui penuh pernikahan Kenan dan Kirana."

“Aish…. Ck, sebenarnya gue nggak sengaja dengar kalau sebenarnya perjodohan mereka sudah direncanakan almarhum kakek gue sama almarhum kakek Kirana dulu” 

“Jadi sejak awal perjodohan mereka karena kesempatan kakek Lo sama kakek Kirana” Hanni memicingkan matanya tak percaya dengan kebenaran tersebut. 

Julian menopang dagunya di atas meja sembari mengangguk, menatap Hanni dengan minat yang kian besar. Kerja sama ini tidak hanya memberi keuntungan akses ke jaringan Maheswari Group baginya, tetapi juga memberi kesempatan emas untuk menjatuhkan Kenan yang selama ini selalu berdiri mendominasi di atas keluarga besar.

"Menarik..." gumam Julian dengan senyuman licik.  

"Bokap dan Om Baskoro memang beda pandangan. Paman-paman gue di cabang kedua lebih ngincer aliansi bisnis raksasa kayak sama keluarga lo. Kalau serangan datang dari acara formal keluarga besar Alister... kita lihat apa Kirana bisa tahan berdiri di tengah-tengah kerabat yang sebenarnya lebih menginginkan sosok cewek berkelas, kaya raya, dan punya aliansi bisnis kuat kayak lo."

Hanni menyunggingkan senyuman puas. "Rencana yang bagus. Sabtu malam besok ada acara jamuan makan malam bisnis keluarga Alister di Dago Pakar, kan?"

"Benar," jawab Julian mantap. "Dan sebagai sepupunya, gue punya hak penuh buat bawa lo datang sebagai tamu kehormatan. Kita tes seberapa kuat mental cewek itu pas dibanding-bandingkan sama lo di depan keluarga besar."

Kedua insan yang dipenuhi ambisi itu berjabat tangan erat di balik keheningan kafe Ciumbuleuit, merajut rencana baru yang lebih halus untuk menggoyahkan pertahanan Kenan dan Kirana. Mungkin lebih tepatnya Kirana.

“Kenan, Kenan… kita lihat apa Lo masih berani bela Kirana nanti” Batin Hanni terkekeh sinis. 

Sedangkan Julian  berkali-kali mendengus dalam hati, sejak dulu ternyata adik sepupu itu selalu saja berada diatasnya, baru juga masuk kuliah sudah ditaksir oleh Hanni sebagai senior nya sendiri. 

….

Sementara itu, suasana di rumah Dago Atas sore harinya dipenuhi ketenangan yang menghangatkan. Hujan gerimis tipis menyiram taman depan, menyebarkan aroma tanah basah dan kesegaran daun pinus yang sejuk.

Di ruang tengah lantai satu, Kirana sedang duduk bersila di atas karpet bulu tebal yang empuk, sibuk menyusun draf materi jurnal komunikasi untuk riset kolaborasi Unpad-ITB di laptopnya. Di sampingnya, Kenan bersandar santai pada rangka sofa, memangku laptopnya seraya memeriksa algoritma simulasi rantai pasok manufaktur.

Meskipun keduanya sibuk dengan tugas perkuliahan masing-masing, kedekatan mereka tak pernah berjarak sedikitpun. Kaki Kirana bersandar nyaman pada paha tegap Kenan, sementara tangan kiri Kenan tanpa sadar selalu mengusap lembut betis halus istrinya di sela-sela memindai papan ketik.

"Sayang..." panggil Kirana pelan, mendongak menatap rahang tegas suaminya.

Kenan menghentikan ketikannya seketika, menunduk menatap Kirana dengan pandangan mata hitamnya yang begitu teduh dan penuh perhatian. "Iya, Sayang? Ada materi yang susah dianalisis?"

"Enggak kok, ini draf jurnalnya hampir selesai," jawab Kirana seraya tersenyum manis. 

"Cuma tadi aku dapat pesan dari Mama kamu lewat WhatsApp."

Alis tebal Kenan terangkat sedikit. "Mama bilang apa, Sayang?"

"Mama bilang Sabtu malam besok ada acara makan malam peringatan hari jadi holding bisnis keluarga besar Alister di Hotel InterContinental Dago Pakar," terang Kirana dengan nada lembut. "Mama sama Papa khusus minta kita berdua hadir resmi sebagai pasangan suami istri di hadapan seluruh kerabat. Tadi Ayah juga sempat menelepon dan nanya di grup keluarga apa kita siap hadir."

Raut wajah Kenan sempat terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyuman hangat. Pria itu menghembuskan napas pelan melalui hidungnya. Sebagai anak tunggal dari pimpinan utama keluarga Alister, Kenan tahu betul bagaimana atmosfer jamuan keluarga besarnya yang cenderung kaku, sarat ekspektasi, dan dipenuhi oleh persaingan prestise antar kerabat dari cabang kedua.

Kenan menutup laptopnya, lalu bergeser turun dari sofa dan duduk bersila tepat di samping Kirana. Tangan tegapnya merangkul pinggang ramping istrinya dari samping, menarik Kirana mendekat ke dalam dekapannya hingga tak berjarak.

"Kalau kamu merasa enggan atau capek karena tugas kuliah padat, kita gak wajib datang kok, Sayang," ujar Kenan lembut di dekat telinga Kirana, tidak ingin istrinya merasa tertekan atau terbebani oleh urusan kerabat.

Kirana memutar tubuhnya di dalam dekapan Kenan, menangkup kedua pipi tegas suaminya dengan penuh kasih sayang.

"Kenapa harus enggan, Sayang?" tanya Kirana manis, menatap lurus mata hitam suaminya. "Aku ini istri kamu yang sah. Pernikahan kita kan landasannya adalah janji suci dan amanah persahabatan dari Ayah dan Papa kamu. Dan juga sesuai amanah kakek kita. Ayah juga selalu ngajarin sama aku, kehormatan sebuah keluarga itu dilihat dari keteguhan memegang janji dan kepercayaan diri, bukan dari kemewahan atau tumpukan harta semata. Aku bangga banget jadi istri kamu dan aku mau berdiri di samping kamu di depan keluarga besar kamu."

Mendengar ucapan tulus, kebanggaan pada ayahnya, dan keberanian yang terpancar dari istrinya, rasa bahagia yang meluap memenuhi dada Kenan. Pria itu merengkuh tengkuk Kirana, mengecup kening istrinya cukup lama, merasakan rasa syukur yang tak terhingga atas takdir hidup mereka.

"Makasih ya, Sayang..." bisik Kenan dengan suara baritonnya yang amat mesra di depan bibir Kirana. "Ayah kamu dan Papa aku emang gak salah mengambil keputusan saat menjodohkan kita. Tapi kamu harus ingat satu hal. Di acara nanti bakal ada banyak kerabat dari cabang kedua, termasuk kakak sepupu aku, Julian. Dia baru balik dari luar negeri dan tipe orang yang suka memprovokasi. Tapi tenang aja, Papa, Mama, dan aku bakal selalu berdiri untuk kamu."

Kirana tersenyum yakin, melingkarkan kedua tangan di leher tegap Kenan. "Siap, Bapak Suami yang protektif. Aku gak akan jauh-jauh dari kamu kok."

Kenan tersenyum lebar, menundukkan wajahnya dan mendaratkan ciuman manis nan hangat di bibir Kirana. Tautan bibir mereka yang mesra di sore yang sejuk itu seolah memompa semangat dan kekuatan baru bagi mereka untuk menghadapi apapun tantangan di depan.

….

Sabtu malam pukul 19.00 WIB, Ballroom Hotel InterContinental Dago Pakar tampak begitu megah dan mewah. Lampu gantung kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan yang memukau di atas lantai marmer yang mengkilap. 

Puluhan pengusaha papan atas, kerabat keluarga besar Alister dari berbagai cabang, serta rekan bisnis elit Kota Bandung berkumpul mengenakan gaun malam dan setelan jas formal.

Di area pintu masuk ballroom, kedatangan Kenan dan Kirana seketika menarik perhatian seluruh hadirin yang ada di dalam ruangan.

Kenan Alister tampil sangat gagah, tampan, dan berwibawa dalam balutan tuxedo hitam kustom potongan slim-fit berpadu kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu hitam. 

Perawakannya yang tinggi tegap serta aura kepemimpinannya yang dingin membuat pria itu tampak seperti seorang tuan muda pengusaha sejati.

Di sampingnya, Kirana berjalan anggun menggandeng erat lengan tegap Kenan. Kirana mengenakan evening dress berwarna biru malam (navy) berbahan sutra yang memeluk bentuk tubuhnya dengan sangat indah namun tetap terlihat sangat santun. Rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan membingkai halus wajah cantiknya yang dipoles riasan alami. Di jari manis tangan kiri mereka berdua, cincin pernikahan perak berkilau indah diterpa cahaya lampu kristal.

"Aduh, anak dan menantu Mama yang paling cantik dan tampan akhirnya datang!" sapa Ibu Kenan, Ny. Sinta Alister, yang tampil sangat anggun dengan kebaya modern keemasan. Beliau langsung melangkah cepat mendekat, memeluk Kirana dengan sangat hangat dan mencium kedua pipi menantunya di depan pandangan para kerabat.

 "Kirana sayang, gaun kamu pas banget, anggun dan cantik sekali."

"Terima kasih banyak, Ma," jawab Kirana lembut seraya tersenyum santun.

Ayah Kenan, Tn. Baskoro Alister selaku pimpinan tertinggi Holding Alister, merangkul bahu Kenan dan Kirana bergantian dengan binar mata yang memancarkan rasa bangga yang luar biasa.

"Kalian berdua luar biasa," puji Tn. Baskoro dengan intonasi suaranya yang mantap. "Tadi sore sebelum kalian berangkat, Irfan ayahmu, Kirana telepon Papa. Beliau titip salam dan pesan kalau beliau sangat bangga melihat kamu dan Kenan tumbuh jadi pasangan yang mandiri dan saling mendukung. Keputusan Papa dan Irfan untuk menjodohkan kalian sejak awal adalah keputusan terbaik”

Namun, momen hangat dan penuh kebanggaan keluarga inti itu mendadak terganggu ketika sebuah suara sapaan yang sengaja ditinggikan menyela dari arah samping.

"Wah, wah... hangat banget ya suasana keluarga utama. Tapi Om Baskoro gak lupa kan kalau di acara bisnis sekelas ini, prestise dan nilai aliansi relasi itu jauh lebih penting?"

Julian melangkah mendekat seraya memegang segelas champagne. Pria itu tersenyum licik, memandang Kenan, Kirana, dan kedua orang tua Kenan dengan pandangan menilai yang meremehkan.

Kenan langsung menggeser posisi tubuhnya sedikit ke depan, melindungi Kirana secara reflektif di belakang tubuh tegapnya. Manik mata hitam Kenan mendingin seketika, memancar intimidasi murni. "Julian. Jaga batasan ucapan lo di sini."

"Gak usah galak gitu, ken" kata Julian terkekeh pelan seraya memutar gelas minumannya. "Gue kan cuma mau mengenalkan tamu istimewa yang sengaja gue undang buat meramaikan acara malam ini. Sosok yang menurut cabang keluarga kedua jauh lebih cocok berdiri di ikatan bisnis Alister."

Julian membalikkan badannya, melambaikan tangan penuh percaya diri ke arah koridor utama ballroom.

Dari balik pilar kristal besar, sosok Hanni melangkah keluar. Sang Primadona ITB itu tampil luar biasa memukau dengan gaun malam berwarna merah burgundy kustom dengan belahan bahu yang elegan. Perhiasan berlian melingkar di leher dan pergelangan tangannya, memancarkan statusnya sebagai putri tunggal dari Maheswari Group.

Kemunculan Hanni di acara internal keluarga Alister seketika membuat beberapa kerabat senior dari cabang kedua berbisik-bisik dan menatap kagum.

Hanni melangkah anggun, menghentikan langkahnya tepat di samping Julian. Senyuman percaya diri dan penuh kemenangan terukir di bibirnya yang berpoles lipstik merah mahal. Matanya menatap lurus ke arah Kenan dan Kirana.

"Selamat malam, Om Baskoro, Tante Sinta... dan selamat malam, Kenan, Kirana," sapa Hanni dengan suara renyah nan memikat.

Julian tersenyum sinis, lalu memandang Tn. Baskoro. "Om, Hanni ini putri tunggal Maheswari Group. Rasanya sayang banget kalau Kenan cuma terikat sama perjodohan dengan keluarga kaya biasa, sementara di depan mata ada peluang kerjasama sama Maheswari Group."

Sikap kurang ajar Julian yang terang-terangan merendahkan latar belakang Kirana seketika memancing kemarahan besar dari Tn. Baskoro dan Ny. Sinta Alister.

Sebelum Kenan sempat mengambil tindakan, Tn. Baskoro Alister melangkah maju satu tapak. Wajah pimpinan tertinggi keluarga Alister itu tampak sangat tegas dan penuh wibawa otoritas yang membekukan suasana di sekitar mereka dalam sekejap.

"Julian! Jaga mulut kamu!" pangkas Tn. Baskoro dengan intonasi bariton yang berat dan amat berwibawa, membuat Julian seketika bungkam dan tersentak kaget. "Kamu tidak punya hak sedikit pun untuk menilai atau merendahkan menantu saya di depan umum!"

Ny. Sinta Alister merangkul lengan Kirana dengan erat di depan Hanni dan Julian, menatap Hanni dengan pandangan dingin penuh harga diri dan kebanggaan.

"Asal kamu dan kerabat cabang kedua tahu," tegas Ny. Sinta dengan suara anggun namun sangat tajam menusuk. "Kirana Amanda adalah putri dari Pak Irfan, seorang dosen senior terhormat dan sahabat terbaik keluarga kami. Kirana adalah pilihan terbaik yang kami jodohkan sendiri untuk Kenan sejak awal. Bagi keluarga Alister utama, kehormatan, keteguhan janji, martabat, dan kebaikan hati Kirana jauh lebih bernilai dari puluhan kerjasama dengan saham manapun!"

“Dan sepertinya kalian lupa kalau perjodohan Kenan dan Kirana sudah disepakati oleh tuan besar Alister, kakek kamu sendiri Julian!” Ny. Sinta menatap Julian tajam membuat Julian terdiam kaku karena apa yang dikatakan bibi nya itu memang benar.

Tn. Baskoro menatap Hanni dengan pandangan formal yang sangat kaku dan tegas. " Dan Nak Hanni, kami menghormati Maheswari Group sebagai mitra bisnis. Tapi jika kehadiran kamu di sini dimanfaatkan oleh Julian untuk mengganggu ketenangan menantu dan anak saya, maka saya minta kalian berdua menjaga etika dan tahu diri di acara keluarga ini."

Pembelaan yang begitu mutlak, tegas, dan penuh rasa bangga dari orang tua Kenan seketika menghancurkan skenario licik Julian dan Hanni dalam sekejap mata.

Hanni berdiri membeku di tempatnya. Wajah cantiknya memerah padam oleh rasa malu yang amat sangat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang tua Kenan sendiri yang akan berdiri paling depan pasang badan membela Kirana secara terbuka dengan membawa reputasi dan kehormatan tinggi keluarga besar Alister.

Di samping Kenan, Kirana menatap kedua mertuanya dengan rasa haru dan syukur yang amat membuncah di dalam dada. Genggaman tangan Kenan di jemari Kirana semakin mengencang erat, memancarkan rasa cinta, kebanggaan, dan ketenangan yang tak akan pernah tergoyahkan oleh apa pun.

Di tengah kemewahan ballroom Hotel InterContinental Dago Pakar, cobaan dari Hanni dan Julian bukannya berhasil meretakkan hubungan mereka, melainkan justru semakin membuktikan betapa kokoh dan berharganya posisi Kirana di dalam keluarga besar Alister.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!