Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Kewaspadaan Sang Predator dan Malaikat Kecil yang Kedinginan
Kesadaran datang tidak dengan perlahan, melainkan menyentak layaknya tarikan napas pertama orang yang nyaris tenggelam.
Hal pertama yang dirasakan Arga Danendra adalah rasa sakit yang luar biasa, sebuah denyutan panas yang membakar sisi pinggang kirinya. Saraf-saraf di sekujur tubuhnya seolah menjerit bersamaan, memprotes setiap milimeter pergerakan yang ia buat. Diikuti kemudian oleh rasa pening yang berputar hebat di kepalanya akibat benturan airbag dan pukulan tongkat bisbol semalam.
Arga tidak langsung membuka matanya. Pengalaman hidup di dunia bawah yang keras dan bertahun-tahun menghadapi ancaman pembunuhan dari pesaing bisnis telah melatih instingnya hingga setajam pisau. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya yang terpejam, ia membiarkan indranya yang lain bekerja untuk menilai situasi.
Di mana ia sekarang? Apakah ia disekap oleh komplotan Grup Wijaya? Apakah ini adalah ruang penyiksaan?
Namun, alih-alih bau bahan kimia, karat, atau debu beton khas gudang terbengkalai, indra penciumannya justru menangkap aroma yang sangat asing. Tidak ada bau cerutu murahan atau keringat para pembunuh bayaran. Yang menguar di udara adalah aroma sabun cuci baju yang sangat murah, samar-samar wangi vanila, dan... aroma roti panggang. Udara terasa lembap, sedikit dingin, namun entah mengapa tidak terasa mengancam.
Arga juga mendengar suara. Bukan suara kokangan pistol atau langkah sepatu bot militer, melainkan suara gemercik air hujan yang jatuh menetes dari atap yang bocor dan menabrak permukaan ember plastik berirama tik-tik-tik yang konstan. Samar-samar dari kejauhan, terdengar deru mesin motor tua yang melintas dan suara tukang sayur yang meneriakkan dagangannya.
Ini bukan ruang penyiksaan. Ini adalah area permukiman.
Perlahan, dengan kewaspadaan penuh bak seekor predator yang terluka, Arga membuka sebelah matanya. Sinar abu-abu dari balik celah tirai tipis menyengat retinanya. Hari sudah pagi.
Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit berbilik bambu yang sudah menghitam karena usia dan kelembapan, dengan noda bekas rembesan air hujan di mana-mana. Ia menolehkan kepalanya sedikit. Ruangan ini sangat sempit, mungkin tidak lebih besar dari kamar mandi tamu di penthouse mewahnya. Dindingnya hanya dicat putih kusam yang sudah mengelupas di banyak bagian. Ada sebuah kompor gas kecil bermata satu di sudut ruangan, beberapa perabotan plastik, dan sebuah lemari kain yang retsletingnya sudah rusak.
Arga menyadari bahwa ia sedang berbaring di atas sebuah kasur busa tipis yang diletakkan langsung di atas lantai plesteran semen. Anehnya, meski ruangan ini meneriakkan kemiskinan yang ekstrem, kasur yang ia tiduri berbau sangat bersih, wangi matahari, seolah-olah sang pemilik mencucinya dengan penuh dedikasi.
Insting bertahannya menyala. Ia harus segera bangun dan pergi dari sini. Ia tidak tahu siapa yang membawanya kemari. Bisa saja ini adalah jebakan lain.
Arga menahan napas, mengerahkan tenaga ke kedua lengannya untuk mendorong tubuhnya duduk. "Ukh...!"
Erangan tertahan lolos dari bibirnya yang pucat saat luka di pinggangnya kembali tertarik. Ia menunduk, dan seketika keningnya berkerut dalam.
Kemeja mahalnya yang bersimbah darah sudah dilepas. Tubuh bagian atasnya yang atletis dan penuh bekas luka masa lalu kini telanjang, ditutupi sebagian oleh sebuah selimut motif bunga yang warnanya sudah pudar. Dan di pinggang kirinya, tempat di mana pisau berburu itu merobek dagingnya semalam, kini sudah terbebat rapi.
Bebatan itu bukan berasal dari perban medis standar rumah sakit. Itu adalah robekan kain katun putih bersih—yang sepertinya berasal dari sebuah kaus bekas yang dikorbankan—yang dililitkan dengan sangat kuat untuk menghentikan pendarahan. Di atas meja kecil di dekatnya, ia melihat sebuah kotak P3K plastik murahan yang terbuka, berisi sisa alkohol, kapas yang berlumuran darah kering, dan sebotol obat merah yang isinya tinggal separuh.
Seseorang telah mengobatinya. Seseorang telah merawatnya semalaman.
Di saat itulah, sudut mata Arga menangkap sebuah siluet kecil di sisi lain kasurnya.
Napas Arga terhenti sejenak. Tangannya yang diam-diam sudah mengepal siap untuk memukul, perlahan mengendur.
Di lantai yang dingin, tanpa alas apa pun selain sehelai tikar anyaman tipis, duduk seorang gadis. Gadis itu tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang disandarkan pada lengan kasur tipis tempat Arga berbaring.
Ingatan samar dari malam tadi kembali menghantam kepala Arga seperti kilat. Hujan badai. Rasa sakit yang mematikan. Bau darah. Dan... suara tangisan yang menyayat hati, memohonnya untuk tidak menutup mata. Gadis yang membuang payung satu-satunya, membiarkan tubuhnya diguyur hujan es demi menopang tubuh raksasa Arga dan membawanya kemari.
Gadis itu ada di sini. Di bawah kakinya.
Arga memutar tubuhnya perlahan, mengabaikan rasa perih di pinggangnya, demi bisa melihat gadis itu lebih jelas.
Wajah gadis itu sangat mungil, seukuran telapak tangannya. Kulitnya pucat pasi, nyaris membiru karena kedinginan. Rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat masih setengah basah, menjuntai berantakan menutupi separuh pipinya. Ia mengenakan kaus kebesaran yang tampak tipis, tanpa jaket sama sekali.
Arga menatap selimut hangat bermotif bunga yang menutupi tubuhnya, lalu menatap gadis yang meringkuk kedinginan di lantai dengan bibir gemetar. Sebuah fakta menampar kesadaran sang CEO dingin itu dengan sangat keras: Gadis ini memberikan satu-satunya kasur dan satu-satunya selimut yang ia miliki untuk orang asing yang terluka, sementara ia sendiri rela tidur duduk di lantai semen yang membekukan sepanjang malam.
Di tangan kanan gadis itu, masih tergenggam erat sebuah handuk kecil yang lembap. Di sebelahnya terdapat baskom kecil berisi air yang sudah berubah warna menjadi kemerahan. Gadis ini tidak tidur nyenyak. Ia pasti begadang semalaman, terus-menerus memeras handuk itu untuk membersihkan darah dan mengompres luka Arga agar tidak infeksi.
Kenapa?
Satu kata itu menggema keras di dalam kepala Arga, memantul di dinding-dinding es hatinya yang tebal. Mengapa ada manusia sebodoh ini di dunia? Mengapa ada orang yang mempertaruhkan nyawanya, mengorbankan kenyamanannya, demi pria asing yang ia temukan sekarat di gang gelap?
Di dunia yang Arga kenal, segala sesuatu ada harganya. Kebaikan adalah transaksi. Senyuman adalah alat negosiasi. Natasha meninggalkannya di tengah hujan saat ia tidak punya apa-apa karena Arga "tidak menguntungkan". Para direktur di perusahaannya menjilat sepatunya karena mereka menginginkan kekayaan. Semua orang di sekelilingnya bergerak dengan motif yang sangat jelas: Uang. Harta. Kekuasaan.
Lalu, apa yang diinginkan gadis ini darinya?
Arga mengamati wajah polos itu dalam-dalam. Apakah gadis ini tahu siapa dirinya? Apakah gadis ini sengaja merawatnya dengan harapan jika Arga sadar, Arga akan memberikannya cek senilai miliaran rupiah?
Tidak mungkin, batin Arga menolak. Jika gadis ini tahu ia adalah Arga Danendra, penguasa kota ini, ia pasti sudah menelepon pihak rumah sakit atau media untuk mencari panggung pahlawan. Ia tidak mungkin menyembunyikan Arga di ruangan kumuh berukuran 3x4 meter ini.
Gadis ini benar-benar tidak mengenalnya. Ia menolong murni karena insting kemanusiaan. Sebuah konsep yang bagi Arga sudah punah tujuh tahun lalu.
Tiba-tiba, tubuh gadis itu bergetar. Ia menggigil dalam tidurnya. Hawa dingin dari lantai semen pasti sudah menyusup ke tulang-tulangnya. Sebuah kerutan halus muncul di dahi mulusnya, dan bibirnya yang pucat menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
Tanpa sadar, tangan Arga yang besar dan dipenuhi kapalan bekas luka itu bergerak terulur. Ia menyentuh perlahan puncak kepala gadis itu. Rambutnya terasa lembut meski masih lembap. Ada perasaan asing yang tiba-tiba berdesir di dada Arga. Perasaan hangat yang aneh, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya.
Seumur hidupnya setelah pengkhianatan itu, tidak pernah ada orang yang merawatnya saat ia lemah. Raka memang sahabatnya, tapi mereka berdua adalah pria keras yang tidak pernah menunjukkan kelemahan. Jika Arga sakit, ia akan menelan obat keras dan kembali bekerja. Ia tidak pernah tahu lagi rasanya dijaga. Ia tidak pernah tahu lagi rasanya menjadi manusia yang berhak untuk diselamatkan.
Dan hari ini, penyelamatnya adalah seorang gadis rapuh yang bahkan rumahnya tidak bisa menahan rintik hujan.
Saat tangan Arga hendak mengelus pipi gadis itu untuk merasakan suhunya, bulu mata panjang gadis itu bergetar. Matanya perlahan terbuka.
Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Sepasang mata bulat yang jernih, sebening genangan air setelah hujan mereda, bertabrakan dengan mata elang Arga yang segelap malam.
"Uhm..." Gadis itu—Senja—mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Rasa kantuknya luar biasa berat. Lehernya kaku dan pinggangnya terasa seperti mau patah karena tidur dalam posisi duduk semalaman.
Namun, begitu fokus matanya menangkap sosok besar pria itu tengah duduk menatapnya, rasa kantuknya hilang seketika. Kedua matanya membelalak lebar.
"Tuan! Tuan sudah sadar?!" seru Senja panik. Suaranya serak dan parau, khas seseorang yang kurang tidur dan akan segera terkena flu.
Tanpa aba-aba, Senja langsung bangkit berdiri, walau kakinya sedikit terhuyung karena kesemutan. Ia mengabaikan jarak, mendekatkan wajahnya, dan langsung menempelkan telapak tangan kecilnya ke dahi Arga.
Arga tersentak kaget. Selama bertahun-tahun, ia mengidap mysophobia ringan—ia benci disentuh oleh orang lain, apalagi oleh wanita. Jika ada wanita yang berani menyentuhnya di kantor atau di pesta, ia tidak segan-segan mematahkan tangan mereka atau memecat mereka saat itu juga. Insting menolaknya bekerja lebih cepat dari otaknya.
Dengan kasar, Arga menepis tangan Senja dan mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan kekuatan yang mengerikan.
"Akh! S-Sakit, Tuan..." ringis Senja, wajahnya berkerut menahan nyeri saat cengkeraman Arga nyaris meremukkan tulang pergelangan tangannya yang kecil.
Mata Arga berkilat tajam, kembali ke mode predator yang waspada. "Siapa kau? Apa tujuanmu membawaku ke tempat ini? Siapa yang mengirimmu?" cecarnya dengan suara bariton yang berat dan mengancam, seolah ia sedang menginterogasi mata-mata perusahaan di ruang bawah tanah.
Senja, yang tidak pernah dibentak sekeras itu oleh pria dengan aura membunuh sedemikian rupa, tampak ketakutan. Matanya mulai berkaca-kaca menahan sakit di pergelangan tangannya, namun ia menatap tepat ke mata Arga dengan keberanian murni.
"S-Saya tidak tahu apa maksud Anda, Tuan! Lepaskan, ini sakit!" suara Senja bergetar, namun ia tidak menangis. "Saya Senja... Saya menemukan Anda bersimbah darah di ujung gang sana semalam. Anda hampir mati! Saya tidak punya uang untuk membawa Anda ke rumah sakit, dan saya tidak punya telepon untuk memanggil ambulans... Jadi saya bawa Anda ke mari. Jika Anda mengira saya orang jahat, maka Anda bisa pergi sekarang!"
Kata-kata itu meluncur deras dari bibir Senja, bercampur dengan isakan napas tertahan.
Arga terpaku. Ia menatap ke dalam mata Senja. Di dunia bisnis, Arga dikenal sebagai detektor kebohongan berjalan. Ia bisa melihat kepalsuan hanya dari kedipan mata atau tarikan napas seseorang. Namun saat ia menatap bola mata cokelat terang milik gadis di depannya ini, ia tidak menemukan apa pun selain kejujuran, ketakutan, dan... rasa sakit yang ia sebabkan sendiri.
Tatapan Arga turun ke tangan kecil yang masih ia cengkeram kuat. Kulit putih Senja sudah memerah dan mulai membiru di sekitar jari-jarinya yang kasar.
Bagaikan tersengat listrik, Arga langsung melepaskan cengkeramannya.
"M-Maaf..." kata itu keluar begitu saja dari mulut Arga, membuat dirinya sendiri terkejut. Sejak kapan seorang Arga Danendra, CEO tiran yang tak pernah salah, meminta maaf pada orang asing?
Senja menarik tangannya ke dada, mengusap pergelangan tangannya yang sakit sambil memalingkan wajah. Ia mundur selangkah, menjaga jarak. "Tidak apa-apa," gumam gadis itu pelan. "Saya mengerti. Anda baru saja mengalami kejadian buruk. Wajar jika Anda curiga pada semua orang."
Arga menatapnya dalam diam. Ia menyadari betapa kejamnya ia. Gadis ini baru saja menyelamatkan nyawanya, menghabiskan malamnya untuk mengobati luka busuknya, dan balasan yang ia berikan adalah kekerasan.
"Syukurlah demam Anda sudah turun," ucap Senja lagi, menghela napas panjang seolah melupakan kejadian barusan dengan sangat mudah. "Semalam badan Anda sangat panas. Saya terus mengompres Anda berjam-jam, takut Anda terkena infeksi dari luka itu. Luka Anda sangat dalam, Tuan."
Mendengar penuturan polos itu, Arga menelan ludah. Hatinya kembali berdesir. "Kau... yang mengobatiku?"
Senja mengangguk. Ia berjongkok memungut baskom berisi air kemerahan itu. "Saya hanya memakai alkohol dan obat merah tua. Kain yang saya gunakan untuk membebat luka Anda itu adalah kaus bersih saya, saya sudah merebusnya dengan air panas agar steril. Tapi saya bukan dokter. Anda tetap harus ke klinik untuk mendapat jahitan yang layak nanti."
Arga mengalihkan pandangannya, memperhatikan setiap detail pergerakan gadis itu. Senja bergerak menuju rak piring plastik di sudut ruangan, menuangkan air dari sebuah teko tua ke dalam gelas kaleng.
"Siapa namamu tadi?" tanya Arga, suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya, meski masih terdengar kaku.
"Senja. Senja Kirana," jawab gadis itu tanpa menoleh. Ia membawa gelas kaleng yang mengepulkan asap tipis itu mendekat, lalu menyodorkannya pada Arga. "Minumlah, Tuan. Ini hanya air putih hangat, saya tidak punya teh atau gula di bulan ini. Tapi ini bagus untuk menggantikan cairan tubuh Anda yang hilang."
Arga ragu sejenak. Jika ini di dunianya, ia tidak akan pernah menerima minuman sembarangan dari orang yang baru ia kenal karena takut diracun. Namun, melihat kepolosan di wajah Senja, Arga mengambil gelas kaleng itu. Jari-jari mereka bersentuhan selama sepersekian detik. Tangan Senja luar biasa dingin bagai es.
Saat Arga meminum air hangat itu, sebuah suara pelan namun sangat jelas terdengar di ruangan yang sunyi tersebut.
Krucuk...
Senja tersentak. Wajah pucatnya tiba-tiba memerah hingga ke telinga. Ia buru-buru memeluk perutnya sendiri dengan canggung, menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajahnya yang merona malu.
Perut gadis itu berbunyi. Sangat keras.
Arga menghentikan minumannya. Ia menatap gadis yang kini salah tingkah di hadapannya.
"Kau... belum makan?" tanya Arga.
"S-Sudah kok! Kemarin sore..." cicit Senja pelan, matanya melirik ke arah luar jendela, menghindari tatapan intens pria di ranjangnya. "S-Saya mau cuci muka dulu di luar!"
Dengan langkah tergesa, Senja berlari kecil keluar melalui pintu belakang yang terhubung ke sebuah sumur umum.
Arga ditinggalkan sendirian dalam keheningan. Ia menatap gelas kaleng usang di tangannya yang besar. Gelas itu sangat murah, mungkin harganya tidak sampai lima ribu rupiah. Air di dalamnya tidak ada rasanya. Namun entah mengapa, air hangat itu mengalir ke kerongkongannya dan membawa sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ini. Kehangatan yang menjalar bukan hanya ke lambungnya, tapi menembus hingga ke rongga dadanya.
Ia melirik ke arah jendela yang berembun, tempat di mana sinar matahari pagi mulai mencoba menembus mendung. Pikirannya berpacu cepat.
Grup Wijaya pasti sedang mencarinya. Jika mereka tahu ia masih hidup, mereka tidak akan segan-segan membakar seluruh kawasan kumuh ini hingga rata dengan tanah untuk memastikannya mati. Jika ia pergi dari sini sekarang, ia mungkin aman. Namun, meninggalkan gadis ceroboh dan terlalu baik hati ini tanpa pengawasan sama saja dengan membunuhnya. Musuhnya bisa melacak jejak darahnya sampai ke rumah ini.
Di sisi lain, jika ia menghubungi Raka sekarang dan kembali ke dunianya sebagai CEO, ia harus menghadapi rentetan peperangan bisnis yang tiada akhir.
Dan yang paling menakutkan bagi Arga... jika ia pergi sekarang, ia harus kembali ke penthouse dinginnya. Ia akan kehilangan kehangatan absurd dari ruangan bocor berukuran 3x4 meter ini. Ia akan kehilangan kesempatan untuk mengenal Senja, malaikat kecil yang rela menahan lapar dan kedinginan demi orang asing.
Arga mengepalkan tangannya. Sebuah keputusan gila mulai terbentuk di kepala sang CEO dingin itu. Sebuah keputusan yang bertentangan dengan semua logika bisnisnya.
Ia memutuskan untuk tidak pergi. Belum.
Ia akan bersembunyi di sini. Ia perlu waktu untuk menyembuhkan luka fisiknya dari intrik kejam di luar sana, sekaligus tanpa ia sadari, ia ingin menyembuhkan luka tak kasat mata di dalam hatinya. Namun ia tidak bisa memberitahu identitas aslinya. Ia tidak ingin melihat tatapan tulus Senja berubah menjadi ketakutan, atau yang lebih buruk, berubah menjadi tatapan serakah layaknya wanita-wanita lain di luar sana jika tahu ia memegang kendali atas miliaran dolar.
Suara langkah kaki kecil kembali terdengar. Senja masuk ke dalam ruangan, wajahnya masih memerah sisa menahan malu. Wajah pucatnya sedikit lebih segar setelah terkena air dingin.
Gadis itu berdiri agak jauh dari kasur, memilin ujung bajunya dengan gugup.
"Ehm... Tuan," panggil Senja pelan. Ia menatap Arga dengan sorot mata iba yang tidak dibuat-buat. "Luka Anda sudah berhenti berdarah, tapi Anda tidak bisa terus berada di sini. Tempat ini tidak layak untuk orang sakit. Apakah Anda punya keluarga yang bisa dihubungi? Atau istri Anda? Saya bisa meminjam ponsel tetangga agar mereka bisa menjemput Anda ke mari."
Arga terdiam. Ia membalas tatapan Senja dengan wajah datar yang tak terbaca. Di dalam otaknya, naskah kebohongan terbaik sedang ia susun dengan cermat. Ia harus membuat cerita yang sangat menyedihkan agar gadis berhati malaikat ini tidak mengusirnya.
Arga perlahan menundukkan kepalanya, membiarkan rambut hitamnya yang sedikit panjang menutupi matanya, menciptakan kesan rapuh yang sangat bertolak belakang dengan aura membunuhnya beberapa saat lalu.
"Tidak ada," suara Arga dibuat pelan, parau, dan hampa. Sebuah kemampuan akting yang pantas mendapatkan piala Oscar.
Senja mengernyit bingung. "Maksud Anda?"
Arga mendongak, memaksakan seulas senyum pahit yang tampak sangat menyayat hati. "Aku tidak punya siapa-siapa. Aku bukan orang dari kota ini... Aku datang ke mari untuk mencari pekerjaan, namun di jalan, preman-preman itu merampok semua barang bawaanku. Dompetku, identitasku, uang terakhirku... mereka mengambil semuanya sebelum menusukku."
Kedua tangan Senja terangkat menutup mulutnya, terkejut dan terguncang mendengar tragedi malang pria bertubuh besar di hadapannya.
"Lalu... di mana Anda tinggal?" tanya Senja dengan suara bergetar menahan tangis iba.
Arga menggelengkan kepalanya pelan, menatap lurus ke dalam bola mata Senja yang berkaca-kaca.
"Aku tidak punya tempat tinggal. Aku tidak punya uang. Dan sejujurnya..." Arga memejamkan matanya, mengembuskan napas putus asa yang pura-pura, "Aku bahkan tidak terlalu ingat siapa diriku sebelum kecelakaan semalam. Kepalaku sakit sekali jika mencoba mengingatnya."
Jebakan telah dipasang. Sang CEO pemangsa telah melemparkan jaring kebohongannya.
Senja, dengan hati yang terlalu suci dan murni, jatuh tepat ke dalam perangkap itu tanpa sedikit pun kecurigaan. Air matanya menetes jatuh. Ia tidak melihat Arga Danendra si penguasa tak berperasaan; yang ia lihat hanyalah seorang pria sebatang kara yang terluka, bernasib sama malangnya dengan dirinya, yang dibuang oleh dunia yang kejam.
Dan di pagi yang basah itu, di dalam gubuk reot yang atapnya bocor, takdir keduanya resmi terikat dalam sebuah benang merah kebohongan, yang kelak akan menjadi awal dari ujian cinta yang paling mendebarkan.
Dan apakah ini takdir cinta mereka atau sebaliknya