Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
We're Watching... End
Suasana di alun-alun perlahan mulai lengang seiring bubarnya kerumunan rakyat yang puas merayakan akhir dari rezim yang mereka benci. Para algojo dan pengawal istana telah memindahkan jasad Aragoto dari atas panggung, meninggalkan panggung eksekusi yang sunyi senyap. Yang tersisa di sana hanyalah sebuah alat pancung besar dengan genangan serta bercak darah segar yang mengotori kayunya—menjadi saksi bisu atas tragedi paling kelam dalam sejarah Kerajaan Hikari.
Miyura masih terpaku di tempatnya berlutut selama sekian lama. Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah panggung eksekusi yang kini kosong dan berdarah. Tidak ada lagi air mata yang tersisa di pelupuk matanya; yang ada hanyalah kehampaan mutlak yang menggerogoti jiwanya dari dalam.
Dengan napas yang masih tersengal dan tubuh yang terasa remuk redam, Miyura perlahan mulai mengerahkan sisa-sisa tenaga di kedua kakinya. Ia bertumpu pada tanah, berusaha keras untuk berdiri dan bangkit dari kejatuhannya. Langkah pertamanya terasa begitu berat, seolah setiap jengkal tanah di bawahnya menolak untuk melepas kepergiannya.
Di tengah langkahnya yang terhuyung-huyung menjauhi tempat eksekusi itu, seorang wanita paruh baya dengan mata sembab dan langkah gontai tiba-tiba muncul dari balik reruntuhan bayangan gang sempit. Itu adalah Martha, yang didampingi oleh Goro dengan setia di sisinya. Martha menghentikan langkah Miyura dengan suara yang serak, parau, dan bergetar hebat menahan sisa isak tangisnya.
"Tunggu... berhenti sebentar, Yang Mulia—atau harus kupanggil apa sekarang?" suara Martha terdengar bergetar hebat, memecah kesunyian langkah kaki Miyura. Wanita tua itu menatap tajam namun sarat akan duka mendalam kepada gadis yang kini mengenakan pakaian pelayan milik anaknya. "Kau... kau melihat bagaimana ia mengorbankan nyawanya untukmu, bukan?"
Miyura menghentikan langkahnya secara perlahan. Ia tidak menoleh ke belakang, namun bahunya terlihat bergetar mendengar suara wanita yang selama ini merawat kakaknya dengan penuh kasih sayang—sebuah kasih sayang tulus yang tidak pernah ia dapatkan di dalam istana.
Martha melangkah mendekat dengan perlahan, air matanya kembali tumpah membasahi pipinya yang keriput. "Aragoto... anakku menghabiskan seluruh hidupnya hidup dalam bayang-bayang, menderita demi orang-orang yang tidak pernah peduli padanya. Tapi di detik-detik terakhirnya, ia memilih melindungimu. Ia menyerahkan lehernya agar kau bisa hidup bebas dari mahkota terkutuk itu."
Goro merangkul pundak istrinya, mencoba menenangkan Martha, namun ia sendiri menatap Miyura dengan sorot mata yang menyiratkan kepedihan yang sama. "Jangan sia-siakan pengorbanan itu, Nak," tambah Goro dengan suara berat bernada penasihat. "Jika kau terus berjalan membawa dendam dan penyesalan ini ke mana pun kau pergi, maka kematian Aragoto akan menjadi sia-sia."
Miyura menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa tercekat, dan butiran air mata kembali menetes jatuh ke atas tanah debu. Dengan suara yang hampir tak terdengar, parau dan patah, ia akhirnya membuka mulut untuk berbicara kepada kedua orang tua angkat kakaknya itu.
"Aku... aku tidak pernah meminta semua ini..." bisik Miyura, suaranya pecah di tengah jalan. "Aku tidak pernah tahu bahwa ia adalah saudaraku... aku adalah monster yang bahkan tidak mengenal kakaknya sendiri, dan justru membiarkannya mati di tanganku..."
Martha menggelengkan kepalanya perlahan, melangkah maju mendekati Miyura lalu mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut bahu gadis itu untuk terakhir kalinya. "Bukan kau pelakunya, Miyura. Sistem busuk istana inilah yang membunuh kita semua. Tapi sekarang... pergilah. Hiduplah sebagaimana ia menginginkanmu hidup. Jangan kembali lagi ke tempat ini."
Miyura tertegun merasakan kehangatan tangan seorang ibu yang selama ini tidak pernah ia rasakan dari ratu yang melahirkannya. Ia mengangguk pelan, menelan rasa sakit yang teramat sangat di dadanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Miyura membalikkan tubuhnya, melangkah menjauh meninggalkan alun-alun kelam tersebut, meninggalkan puing-puing kekuasaan, darah kakaknya, dan masa lalunya yang hancur berkeping-keping. Ia berjalan seorang diri di bawah terik matahari siang yang mulai meredup, melangkah pergi entah ke mana, membawa sisa hidupnya untuk menepati janji terakhir yang dibisikkan oleh bayangan sang kakak.
Di bawah naungan langit sore yang mulai temaram, kompleks pemakaman umum di luar kota tampak sepi. Sebuah keranda sederhana diletakkan di atas tanah galian yang baru. Di hadapannya, Youra berdiri seorang diri menatap jasad yang terbujur kaku, sementara Yoshi duduk terpaku di atas kursi kayu tua di bawah pohon rindang dari kejauhan, mengamati setiap gerak-gerik dengan tatapan kosong di balik topengnya.
Rasa penasaran yang sejak hari eksekusi menggelayuti benak Youra akhirnya mencapai puncaknya. Dengan napas berat, wanita berambut pendek itu melangkah mendekati jasad yang tertutup kain kasar tersebut. Ia menyingkap sedikit kain kafan yang membalut tubuh sang "Ratu". Seketika, manik mata Youra membelalak kaget. Di balik gaun pelayan lusuh dan balutan kain penutup, ia mendapati bentuk tubuh seorang laki-laki. Jasad di hadapannya bukanlah Ratu Miyura yang asli, melainkan seorang pemuda yang selama ini berdiri di balik bayang-bayang.
"Jadi... ini kenyataannya," bisik Youra pelan, suaranya bergetar hebat di tengah angin sore yang dingin. Ia menatap wajah tenang jasad itu dengan gelombang rasa kasihan yang mendalam menghantam dadanya. "Kau mengorbankan nyawamu sendiri, bertukar tempat dengan saudaramu... dan aku bahkan telah merenggut kepalamu tanpa tahu siapa kau sebenarnya, Aragoto."
Seketika, kenangan saat pesta jamuan istana beberapa waktu lalu berkelebat di kepala Youra. Pertemuan singkat di mana sorot mata pemuda itu sempat meninggalkan debar aneh di dadanya—rasa kagum dan ketertarikan yang diam-diam ia simpan dalam-simpan. Siapa sangka, pria yang sempat mengisi ruang hatinya secara diam-diam itu kini terbujur kaku di hadapannya sebagai pahlawan yang tak dikenal dunia.
Youra memejamkan mata sejenak, menelan ludahnya yang terasa pahit, lalu menarik napas panjang untuk mengendalikan emosinya. Ia merapikan kembali kain kafan tersebut dengan lembut.
Youra kemudian membalikkan badan, memanggil para pengawal pemberontak yang berdiri beberapa meter darinya. "Kalian kemarilah," perintah Youra dengan nada tegas namun menyiratkan kelelahan.
Beberapa pengawal segera mendekat, membungkuk hormat. "Ada apa, Nona?" tanya salah seorang pengawal mewakili rekan-rekannya.
"Kuburkan jasad ini dengan layak," titah Youra tanpa ragu.
Para pengawal itu sontak saling berpandangan dengan kening berkerut. Salah seorang dari mereka maju setengah langkah, menyuarakan kebingungan yang dirasakan semuanya. "Maksud Anda, Nona? Dia adalah Ratu tiran yang baru saja kita hukum pancung atas kejahatannya pada negeri ini. Kenapa kita harus menguburkannya dengan layak seperti pahlawan?"
Youra menatap tajam para pengawalnya, lalu menghela napas panjang sebelum menggelengkan kepalanya perlahan. "Lakukan saja apa yang kukatakan, jangan banyak bertanya," jawab Youra singkat namun penuh mutlak, menutup ruang untuk perdebatan lebih lanjut.
Para pengawal hanya bisa mengangguk patuh meskipun kebingungan masih membayangi pikiran mereka, lalu mulai mengangkat keranda tersebut menuju liang lahat yang telah disiapkan.
Dari kejauhan, Yoshi tetap duduk bergeming di atas kursi kayu usang. Ia menyilangkan kaki, melipat tangan di dada, dan hanya mengawasi proses pemakaman itu dalam diam. Topeng separuh wajahnya menyembunyikan ekspresi apa pun yang mungkin bergejolak di hatinya, membiarkan angin sore membawa pergi seluruh sisa dendam dan rahasia kelam Kerajaan Hikari ke dalam keabadian.
Saat proses penguburan selesai dan para pengawal mulai meninggalkan area pemakaman, Youra melangkah perlahan menghampiri Yoshi yang masih duduk terdiam di atas kursi kayu usang. Ia berhenti tepat di hadapan mantan pangeran itu, lalu menghela napas pelan untuk melepaskan beban berat yang sedari tadi menghimpit dadanya.
"Semua sudah berakhir, Yoshi," ucap Youra dengan suara yang terdengar lebih lembut dari biasanya, menatap lurus ke arah pria di balik topeng separuh wajah tersebut.
Yoshi mendongak perlahan, menatap Youra dengan sorot mata yang menyiratkan kelelahan sekaligus kelegaan yang mendalam. Ia berdiri dari kursi kayunya, merapikan mantel birunya, lalu menangkupkan tangan sebagai bentuk penghormatan.
"Terima kasih untuk semuanya, Youra," ucap Yoshi tulus. "Tanpa perjuanganmu, negeri ini tidak akan pernah lepas dari cengkeraman kebusukan itu. Setelah ini... apa rencana yang akan kau lakukan?"
Youra melipat kedua tangannya di dada, mengalihkan pandangannya sejenak ke arah gundukan tanah baru tempat Aragoto beristirahat, sebelum kembali menatap Yoshi. "Aku berencana memimpin Negara Hikari ini ke arah yang lebih baik bersama orang-orang pilihannya—membangun kembali fondasi yang hancur dari nol," jawab Youra dengan nada penuh keyakinan dan tekad yang kuat.
Mendengar jawaban itu, Yoshi mengangguk pelan, menyetujui visi besar sang pemimpin pemberontak. Ia lantas merogoh saku mantelnya, melepas topeng separuh wajah yang selama ini menyembunyikan identitasnya, dan memasang senyuman kecil di wajahnya.
"Kalau begitu, setelah ini aku akan kembali ke kerajaanku sendiri untuk mengemban tanggung jawab sebagai Raja yang baru," ujar Yoshi mantap. "Tapi jangan khawatir, di masa depan aku pasti akan berkunjung kembali ke sini dengan membawa delegasi resmi untuk menjalin hubungan diplomatik yang setara antara negeri kita."
Youra mengangguk mengiyakan, bibirnya menyunggingkan seulas senyuman tipis yang menyiratkan rasa hormat dan perpisahan yang damai. Ia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Yoshi. Pria itu menyambut uluran tangan tersebut, menyalaminya dengan erat sebagai tanda persahabatan, aliansi, dan akhir dari lembaran kelam masa lalu yang telah mereka lalui bersama.