Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Baru di Balik Badai

Mentari pagi perlahan merangsek naik, membelah awan kelabu yang sempat menggantung semalaman di atas langit kota. Sinar keemasan menghangatkan permukaan kaca jendela penthouse lantai empat puluh, memantul lembut ke dalam kamar tidur utama yang bernuansa hangat.

Reina Lunox membuka matanya perlahan. Sensasi berat di kepalanya yang semalam terasa seperti dihantam palu kini telah jauh berkurang, menyisakan rasa nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma khas woody bercampur mint yang begitu menenangkan.

Tunggu dulu. Aroma ini...

Reina mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya terang pagi hari. Ia baru menyadari bahwa posisi tidurnya saat ini sangat tidak biasa. Wajahnya terbenam tepat di dada bidang seseorang, dan sebuah lengan kokoh melingkar erat di pinggang rampingnya, mengunci tubuhnya agar tetap berada dalam deapan hangat yang sempurna.

Manik mata cokelat Reina melebar seketika. Ia mendongak pelan, mendapati wajah Jino West yang sedang tertidur pulas di sebelah balutannya.

Pria yang biasanya selalu tampil kaku, angkuh, berjas rapi, dan bermulut tajam itu kini terlihat begitu damai. Garis wajah tegasnya tampak melunak dalam lelap, dengan beberapa helai rambut hitamnya jatuh menutupi dahi. Tidak ada raut dingin atau senyuman menyebalkan; yang ada hanyalah sosok pemuda biasa yang tampak kelelahan karena harus terjaga semalaman demi merawatnya yang demam tinggi.

Reina tertegun. Jantungnya berdegup kencang secara tidak normal—bukan lagi karena sisa-sisa demam, melainkan karena gelombang kehangatan luar biasa yang mendadak menyerbu relung hatinya. Bayangan bagaimana pria itu semalaman mengompres keningnya, menemaninya, hingga mendekapnya dengan penuh perlindungan berputar kembali di dalam ingatannya.

Jadi... semalam itu bukan mimpi? Pria es batu ini benar-benar menjagaku sampai tertidur? batin Reina takjub, menatap wajah Jino dari jarak yang sangat dekat.

Tanpa sadar, tangan Reina terulur pelan, berniat merapikan sehelai rambut yang menutupi dahi Jino. Namun, baru beberapa sentimeter jarinya bergerak, mata kelam Jino tiba-tiba terbuka tajam. Manik mata itu langsung mengunci pandangan Reina tanpa jeda, memancarkan kesadaran penuh yang membuat Reina terpaku seketika.

Bukannya terkejut atau melepaskan pelukannya, sudut bibir Jino justru perlahan terangkat membentuk senyuman miring yang sangat familier—senyuman penuh kemenangan yang langsung menyadarkan Reina dari lamunannya.

"Puas mengagumi ketampananku sedari tadi, gadis desa?" suara serak khas bangun tidur milik Jino meluncur rendah, langsung menyapa indra pendengaran Reina dari jarak yang sangat tipis.

Wajah Reina seketika merona merah padam hingga menjalar ke telinganya. Rasa salah tingkah, malu, dan gengsi bergejolak menjadi satu dalam dadanya. Dengan gerakan cepat, Reina mendorong dada bidang Jino kuat-kuat dan bergeser mundur menjauh dari pelukan pria itu.

"Si... siapa juga yang mengagumimu! Jangan kegeeran, ya!" sangkal Reina dengan suara bergetar gugup, buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang salah tingkah. "Aku cuma... cuma memastikan kalau kau ini manusia atau robot jadi-jadian!"

Jino terkekeh pelan—sebuah suara bariton yang rendah dan sangat seksi, membuat pesona pria itu berkali-kali lipat lebih berbahaya di pagi hari. Ia bangkit perlahan dari ranjang, merapikan sedikit kemejanya yang agak kusut akibat tidur semalaman, lalu menatap Reina dengan sebelah alis terangkat.

"Manusia jadi-jadian atau bukan, kenyataannya semalaman suntuk kau terus merengek memanggil namaku saat demam tinggi," balas Jino dengan nada menggoda, sengaja memancing emosi gadis itu.

"Mana ada aku merengek!" protes Reina ngegas, wajahnya semakin memerah padam menahan malu. "Jangan suka mengarang cerita, Tuan Muda Jino!"

Jino tidak mendebat lagi. Ia hanya tersenyum tipis—senyuman tulus yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar. Ia melangkah mendekati sisi tempat tidur, lalu tanpa ragu meletakkan punggung tangannya di kening Reina untuk mengecek suhu tubuh gadis itu.

"Syukurlah, demammu sudah turun," gumam Jino lega, menarik kembali tangannya. "Tunggu sebentar di sini. Aku akan menyuruh pelayan membawakan bubur hangat dan obat penurun panas."

Sebelum Reina sempat membalas atau melontarkan protes, Jino sudah berbalik melangkah keluar kamar, meninggalkan Reina yang terdiam kaku di atas ranjang dengan debaran jantung yang masih menggila.

Tiga puluh menit kemudian, suasana di meja makan penthouse terasa jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi piring pancake gosong atau perang dingin yang diwarnai sindiran tajam. Di hadapan Reina kini tersaji semangkuk bubur ayam hangat beraroma sedap dan segelas air putih hangat yang disiapkan langsung atas instruksi Jino.

Meskipun masih sedikit salah tingkah mengingat kejadian di kamar tadi, Reina menikmati sarapannya dalam diam. Di sisi seberangnya, Jino duduk sambil menyesap kopi hitamnya, sesekali melirik memastikan bahwa gadis itu menghabiskan makanannya dengan baik.

"Mulai hari ini, jadwal kuliahmu akan kubatasi sampai siang," ucap Jino tiba-tiba di sela-sela keheningan, suaranya kembali bernada mutlak layaknya seorang bos besar.

Reina langsung mendongak, melotot tidak terima. "Hei! Batasi bagaimana maksudmu? Tugasku di kampus masih banyak, dan aku harus menyelesaikan semuanya sendiri!"

"Kau baru saja sembuh dari demam akibat ulah cerobohmu sendiri kemarin," sanggah Jino telak tanpa memberi ruang bantahan. "Kesehatanmu adalah prioritas utama sekarang, terutama karena minggu depan kita harus menghadiri beberapa fitting baju pernikahan tambahan."

Mendengar kata "pernikahan", Reina mendadak terdiam. Perutnya terasa bergemuruh aneh. Perjodohan yang tadinya ia anggap sebagai mimpi buruk dan penjara paling mengerikan dalam hidupnya, kini perlahan-lahan mulai berubah bentuk. Di balik sikap angkuh, dingin, dan hobi mengejek yang selalu ditunjukkan Jino, tersimpan sisi kepedulian nyata yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Reina menunduk, memainkan sendok di mangkuk buburnya. "Jino..." panggilnya lirih.

"Hmm?" Jino mengangkat sebelah alisnya, menatap lurus ke arah Reina.

"Tentang perjodohan ini..." Reina menarik napas pelan, memberanikan diri menatap manik mata kelam pria di hadapannya. "Kenapa... kenapa kau tidak menolak sejak awal saat ayahmu menjodohkan kita? Kau kan punya segalanya, bebas memilih siapa saja wanita di luar sana."

Jino terdiam sejenak. Ia meletakkan cangkir kopinya secara perlahan ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tatapan yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan intens.

"Awalnya, aku mengira ini hanyalah beban merepotkan yang harus kuselesaikan demi menghormati mendiang sahabat ayahku," jawab Jino jujur, suaranya rendah namun menusuk langsung ke hati Reina. "Tapi... setelah aku mengenalmu, setelah aku melihat bagaimana cara gadis liar sepertimu melawan dunia tanpa rasa takut..." Jino terhenti sepersekian detik, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lembut yang membuat napas Reina tercekat. "...aku sadar, tidak ada wanita lain di dunia ini yang sanggup membuat hidupku jungkir balik sedemikian rupa selain kau, Reina Lunox."

Deg.

Jantung Reina seolah berhenti berdetak seketika. Rona merah di pipinya kembali merekah, jauh lebih panas dari saat ia demam semalam. Sumpah serapah dan rasa benci yang dulu ia bangun rapat-rapat kini runtuh berkeping-keping, tersapu bersih oleh ketulusan yang tersembunyi di balik kalimat arogan pria itu.

Reina menelan ludahnya susah payah, mencoba mencari kata-kata untuk membalas, namun lidahnya mendadak kelu.

Jino berdiri dari kursinya, berjalan mendekati sisi meja tempat Reina duduk. Ia membungkuk sedikit, mengecup sekilas puncak kepala Reina dengan penuh kelembutan, lalu berbisik tepat di telinganya:

"Habiskan buburmu, calon istriku. Perjalanan kita masih panjang, dan aku tidak sabar melihat sejauh mana kau bisa bertahan dalam pelukanku."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Jino berbalik melangkah pergi meninggalkan ruang makan menuju pintu keluar untuk berangkat ke kantor, meninggalkan Reina yang terpaku membisu dengan ribuan kupu-kupu yang bergejolak liar di dalam perutnya.

Awas saja kau, Tuan Muda Jino West! batin Reina dalam hati sambil tersenyum malu-malu tanpa bisa ia cegah. Kali ini... aku menyerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!