Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Dari semalam Mili tidak bisa tidur nyenyak setelah mendengar kabar adik yang akan mengakhiri hidupnya.
Mili mendekat ke arah suaminya yang baru saja selesai mandi.
"David,"
"Ada apa sayang? Apa ada yang sakit?" tanya David.
Mili menggelengkan kepalanya dan mengajak suaminya untuk duduk.
"Ayo, kita ke Bali. Antarkan aku menjenguk adikku,"
Mendengar permintaan itu, tubuh David seketika menegang kaku.
Rahangnya mengeras seketika, dan sorot matanya yang tadinya penuh kelembutan berubah menjadi dingin setajam es.
"Tidak," tolak David mentah-mentah dengan nada rendah yang mutlak.
"Kamu tidak akan pergi ke mana-mana, apalagi menemui wanita beracun itu setelah apa yang dia lakukan padamu!"
"David, dengarkan aku," bujuk Mili dengan suara bergetar, mencoba meredam amarah suaminya.
"Bagaimanapun juga, dia masih adikku. Aku tidak bisa tenang tahu dia hampir mati di sana. Aku hanya ingin melihatnya sekali saja, memastikan dia baik-baik saja, lalu menutup bab itu selamanya."
"Aku tidak peduli, Mili!" sergah David tajam, genggaman tangannya di pinggang istrinya mengencang protektif.
"Dia hampir membuatmu stres berat, dia hampir merenggut ketenangan jiwa istriku dan anakku! Nyawa dia tidak ada apa-apanya dibanding ujung kuku kamu! Kenapa kamu harus peduli pada orang yang sudah menginjak-injak harga dirimu?!"
"Karena aku kakaknya, David," Ucap Mili dengan air matanya yang akhirnya tumpah membasahi pipi.
"Aku ingin melepaskan semua beban masa lalu ini agar aku bisa melahirkan anak kita dengan hati yang bersih dan tenang. Tolong, antarkan aku."
Melihat air mata Mili menetes, pertahanan keras kepala David perlahan runtuh.
Pria itu menghela napas berat, menyerah sepenuhnya pada tatapan memohon sang istri.
Dengan gerakan hati-hati, ia menghapus air mata di pipi Mili menggunakan ibu jarinya.
David memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk kecil penuh kepasrahan.
"Baiklah, kita ke Bali," bisik David pasrah, mencium kening istrinya lama-lama.
"Tapi ingat, hanya sebentar. Jika dia atau keluarganya berani menaikkan nada suaranya di depanmu, aku sendiri yang akan menyeretnya ke tempat yang lebih gelap."
Mili menganggukkan kepalanya dan menuruti perkataan suaminya.
David menghubungi Jonas untuk menyiapkan jet pribadinya.
"Jonas, siapkan jet pribadi sekarang juga. Kita berangkat ke Bali pagi ini," perintah David tegas melalui sambungan telepon, matanya tak lepas dari sosok Mili yang sedang merapikan pakaian ke dalam tas kecil.
"Baik, Tuan. Semua kru sudah bersiaga," jawab Jonas dari ujung telepon.
Setelah itu mereka menuju ke bandara dimana Jonas sudah menunggu disana.
Penerbangan singkat menuju Bali terasa begitu hening.
Selama di dalam kabin jet pribadi, David terus memeluk Mili erat, memastikan istrinya duduk nyaman dengan selimut hangat menutupi tubuhnya.
Pria itu menolak melepaskan genggaman tangannya, seolah khawatir angin malam atau sisa ketegangan akan kembali meruntuhkan pertahanan sang istri..
Dua jam kemudian jet pribadi mendarat di bandara Ngurah Rai, iring-iringan mobil hitam berplat khusus sudah menunggu untuk membawa mereka langsung ke rumah sakit tempat Gea dirawat.
Suasana di koridor ruang perawatan rumah sakit tempat Gea dipindahkan terasa dingin dan steril.
Penjagaan di depan pintu kamar inap Gea diperketat oleh beberapa pengawal kepercayaan David atas perintah langsung sang tuan besar, memastikan tidak ada celah bagi siapa pun untuk berbuat hal yang tidak diinginkan.
Langkah kaki tegap David menggema di lantai keramik putih, merangkul pinggang Mili protektif di sisinya.
Pintu kamar inap terbuka perlahan. Di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus menempel di tangannya, Gea berbaring lemah.
Wajahnya pucat pasi, matanya sayu, dan tatapannya kosong menatap langit-langit ruangan.
Mendengar pintu terbuka, Gea menolehkan kepalanya pelan.
Saat matanya menangkap sosok Mili yang berdiri di ambang pintu didampingi oleh David yang memancarkan aura mengintimidasi, tubuh Gea mendadak gemetar. Air mata langsung meleleh di sudut matanya.
Mili menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya.
Dengan langkah pelan, ia melepaskan rangkulan David dan berjalan mendekati ranjang, sementara David berdiri tegap melipat tangan di depan dada tepat di dekat pintu, mengawasi setiap gerak-gerik dengan tatapan tajam menghunus.
"Gea," panggil Mili lirih, suaranya terdengar begitu lembut, tanpa ada secercah pun kebencian atau dendam di dalamnya.
Gea tersedak isak tangisnya sendiri. Ia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk, namun tenaganya terlampau lemah.
Melihat kakaknya datang menemuinya setelah segala dosa dan kejahatan yang ia perbuat, dada Gea terasa dihantam beban ribuan ton.
"K-Kak Mili," bisik Gea parau, suaranya pecah bergetar.
"Kenapa, Kakak masih mau datang ke sini? Aku, sudah jahat sama Kakak. Aku hancurkan nama Kakak, aku fitnah Kakak, tapi kenapa Kakak masih mau melihatku?"
Mili berhenti tepat di sisi ranjang. Ia menatap adiknya dengan sorot mata penuh ketulusan, mengabaikan bayangan masa lalu yang kelam.
Tangannya yang hangat terulur perlahan, menggenggam jemari Gea yang dingin dan gemetar.
"Aku datang karena aku adalah kakakmu, Gea," jawab Mili pelan, air matanya sendiri menetes membasahi pipi.
"Aku ingin melihatmu dengan mataku sendiri, memastikan kamu masih diberi kesempatan untuk hidup."
Gea menangis sesenggukan dan menenggelamkan wajahnya ke tangan Mili, meratap penuh penyesalan yang teramat dalam.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku! Aku iri sama Kakak, aku serakah. Aku kira dengan menyingkirkan Kakak, aku bisa bahagia. Tapi ternyata aku salah, aku hancur, Kak! Aku hancur!" raung Gea pilu, menciumi punggung tangan Mili berulang-ulang.
Mili membiarkan adiknya meluapkan segala penyesalan itu.
Ia mengusap rambut Gea dengan penuh kelembutan, membiarkan air matanya ikut mengalir sebagai tanda penyucian dari segala luka masa lalu.
"Sudah, Gea. Lepaskan semuanya," bisik Mili menenangkan.
"Aku sudah memaafkanmu. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sudah memaafkanmu. Tapi setelah ini, jalani hidupmu dengan benar. Perbaiki dirimu."
Di dekat pintu, David memperhatikan pemandangan itu dalam diam.
Meskipun raut wajahnya masih menyisakan ketus dan dingin, tatapannya sedikit melunak saat melihat kebesaran hati istrinya.
Mili benar-benar wanita luar biasa—malaikat yang bahkan mampu merangkul ular yang pernah mencoba mematuknya.
Setelah beberapa saat, Mili menarik tangannya perlahan. Ia tersenyum tipis pada adiknya, memberikan satu isyarat anggukan kepala terakhir.
"Aku harus pergi, Gea. Suamiku sudah menunggu," ucap Mili tenang.
Gea menatap kepergian kakaknya dengan air mata yang terus tumpah, menyadari bahwa pertemuan itu adalah batas akhir dari segalanya—babak masa lalu telah resmi ditutup, meninggalkan dirinya untuk merajut kembali sisa hidupnya di atas puing-puing penyesalan.
Mili berbalik, berjalan menghampiri David yang langsung menyambutnya dengan rangkulan posesif, merengkuh pinggang Mili erat-erat dan mencium kening istrinya penuh cinta.
"Sudah selesai?" tanya David lembut.
Mili menganggukkan kepalanya, menyandarkan kepalanya di dada bidang David dengan perasaan lega yang teramat sangat.
Beban bertahun-tahun yang menghimpit dadanya kini benar-benar telah sirna.
"Sudah, David. Ayo kita pulang," bisik Mili tulus.
David tersenyum tipis, merangkul istrinya erat-erat keluar dari ruangan itu, meninggalkan masa lalu yang kelam di belakang, siap menyongsong masa depan baru bersama keluarga kecil mereka yang utuh.