ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sore harinya, saat bel berakhirnya jam kuliah bergema, Luna langsung bertindak gesit. Ia celingak-celinguk di sepanjang koridor, memastikan keberadaan Adrian sudah cukup jauh darinya.
Luna merasa lelah dengan rentetan drama dan sorotan mata tajam seisi kampus hari ini. Pikirannya cuma satu: menghindari Adrian agar tidak ditawari tumpangan pulang lagi.
Dengan langkah seribu, Luna berlari kecil menembus gerbang utama. Beruntung baginya, sebuah ojek pangkalan melintas tepat waktu. Tanpa berpikir panjang, Luna langsung naik dan bernapas lega sepanjang jalan.
Sesampainya di pinggir jalan raya dekat pemukimannya, Luna turun dan melangkah lesu menyusuri gang sempit menuju Apartemen Cemara.
Namun, tepat saat ia tiba di ujung gang yang sepi, dua orang pria berbadan tegap dan berjas hitam mendadak melangkah keluar dari balik tembok, mencegat jalannya.
Luna tersentak kaget. Langkahnya terhenti seketika. Begitu mengamati raut wajah dingin kedua pria itu, matanya membelalak—ia mengenali mereka.
"Orang-orang Papa!" batin Luna panik.
Tanpa membuang waktu, Luna memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, berniat lari kembali ke arah jalan raya.
Namun, baru dua langkah dua orang pria bertubuh besar lainnya entah muncul dari mana sudah berdiri kokoh memblokir jalan keluarnya.
Luna terkepung total. Napasnya memburu, matanya menatap liar mencari celah untuk meloloskan diri, tapi keempat pria itu menguncinya tanpa cela.
"Nona Luna, mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucap salah satu pengawal dengan suara berat dan datar.
"Tuan Alan meminta Anda untuk segera pulang ke rumah. Ada hal yang sangat penting yang harus dibicarakan."
"Gue gak mau!" gertak Luna, mencoba bersikap berani meski jantungnya berdegup kencang. "Kalian suruh Papa ngomong sendiri sama gue!"
"Kami hanya menjalankan perintah, Nona. Mohon kerja samanya agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan," balas pengawal itu tegas seraya membuka pintu mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.
Luna mengepalkan tangannya erat-erat. Ia menatap keempat pria bertubuh kekar di sekelilingnya, lalu menghela napas panjang penuh kekecewaan. Memilih melawan empat pengawal terlatih di gang sepi ini jelas tindakan konyol dan sia-sia.
Dengan bahu terangkat pasrah dan wajah ditekuk kesal, Luna akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil.
"Awas aja kalau Papa cuma mau bahas perjodohan gila itu lagi," gumam Luna sengit, tidak menyadari bahwa kepulangannya kali ini adalah awal dari jebakan besar yang telah disiapkan ayahnya dan Moreno.
Sesampainya di rumah, Luna melangkah masuk melewati pintu utama dengan perasaan waswas.
Namun, pemandangan di ruang tamu seketika membuat langkahnya terhenti. Alan—ayahnya—sudah berdiri di sana, menyambut kedatangannya dengan raut wajah hangat.
Sebelum Luna sempat berprasangka buruk, Alan melangkah mendekat dan langsung merengkuh tubuh Luna ke dalam pelukan erat.
"Papa kangen banget sama kamu, Luna..." bisik Alan dengan suara yang bergetar penuh kerinduan.
Kehangatan itu membuat benteng pertahanan Luna runtuh. Tanpa ada firasat buruk sedikit pun, Luna membalas pelukan ayahnya, merindukan sosok pelindung yang sempat merenggang gara-gara masalah perjodohan.
Alan melepaskan pelukannya, lalu merangkul bahu Luna dan membimbingnya menuju ruang tengah. Mereka duduk berhadapan di sofa kulit yang empuk.
"Gimana keadaan kamu selama ini, Nak?" tanya Alan menatap wajah anak gadisnya dengan iba. "Kamu kelihatan agak kurusan."
Luna tersenyum tipis, merapikan rambutnya. "Luna baik-baik aja kok, Pa. Namanya juga anak kosan, wajar kalau agak kurusan," jawabnya sekadarnya.
Namun, Luna mengenal tabiat ayahnya dengan sangat baik. Sikap manis dan perhatian yang berlebihan ini jelas memiliki arti lain.
"Langsung aja deh, Pa. Hal penting apa yang mau Papa bicarain sampai nyuruh pengawal jemput Luna kayak tadi?" tanya Luna lugas, menatap lurus mata ayahnya.
Alan menghela napas panjang, memasang raut wajah serba salah yang penuh sandiwara. Ia meraih sebuah map tebal dari atas meja lalu menyodorkannya ke hadapan Luna.
Luna menerima map tersebut, membukanya, dan membaca deretan kalimat serta angka-angka formal di dalamnya. Dahinya berkerut rapat. "Ini... surat pelunasan utang? Maksudnya apa, Pa? Luna gak paham."
Alan menunduk sejenak, berpura-pura mengusap wajahnya yang penuh beban.
"Luna... sebenarnya selama ini perusahaan Papa di ambang kebangkrutan total," ujar Alan dengan suara lirih.
"Alasan Papa mau menjodohkan kamu kemarin... karena Papa desperate harus mencari investor yang kuat untuk menyelamatkan keluarga kita."
Luna tertegun, rasa bersalah mendadak mencubit hatinya.
"Tapi sekarang... kita sedang beruntung , Nak," lanjut Alan, mendongak menatap Luna dengan binar mata yang sulit diartikan.
"Ada seorang pemuda kaya raya yang tiba-tiba melunasi seluruh utang puluhan miliar keluarga kita dalam sekejap."
Luna menahan napas. "Siapa, Pa? Terus hubungannya sama Luna apa?"
Alan memegang kedua tangan Luna dengan erat, menatapnya dalam-dalam.
"Dia mau melunasi semua utang kita... tapi dengan satu syarat," kata Alan pelan. "Papa harus menyerahkan kamu ke pemuda misterius itu nanti malam."
"Maksud Papa apa?!" jerit Luna seraya menghempaskan tangan ayahnya. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu diliputi rasa terkejut dan murka yang luar biasa.
"Papa menjual Luna?! Luna ini anak Papa, bukan barang dagangan yang bisa dibarter buat bayar utang!"
Rasa hangat dan haru dari pelukan Alan beberapa menit lalu seketika berubah menjadi rasa dikhianati yang sangat menyakitkan. Luna bangkit berdiri, menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya.
"Luna enggak mau! Sampai kapan pun Luna enggak bakal mau diserahin ke orang asing!" tolak Luna keras.
Alan ikut berdiri, berusaha memegang bahu Luna untuk menenangkannya.
"Luna, tolong dengarkan Papa dulu! Ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keluarga kita, Nak! Kamu pikir Papa tega? Tapi pemuda ini jauh lebih baik dibanding kolega Papa yang sudah tua bangka itu!"
"Tetap aja Papa transaksiin Luna tanpa persetujuan Luna!" Luna berontak, menyapu air mata yang mulai menetes di pipinya. Ia membelakangi Alan, menutup telinganya rapat-rapat, tak sudi lagi mendengarkan semua pembenaran konyol itu.
Melihat Luna yang terus menolak, raut wajah Alan berubah dingin. Ia menghembuskan napas berat dan melontarkan kalimat terakhir yang menjadi Senjata Pamungkasnya.
"Kalau kamu menolak dan lari lagi..." suara Alan terdengar berat dan datar. "Bagaimana dengan Mama kamu, Luna? Bagaimana kita bisa membiayai perawatan Mama yang sedang koma di rumah sakit?"
Kalimat itu terlempar bagai tamparan keras yang menghantam dada Luna.
Seketika, seluruh perlawanan Luna runtuh. Lidahnya mendadak kelu, suaranya tertahan di tenggorokan. Bayangan sang ibu yang terbaring lemah tak berdaya dengan alat-alat medis di tubuhnya menari-nari di ingatan Luna.
Tubuh Luna gemetar hebat. Pertahanannya hancur berkeping-keping. Dengan lutut yang terasa tak bertulang, Luna jatuh terduduk lemas di atas sofa. Matanya menatap kosong ke lantai, sementara air matanya mengalir deras tanpa henti membasahi pipinya.
Ia terjebak. Demi keselamatan ibunya, Luna tahu ia tak lagi memiliki jalan untuk melarikan diri.