Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Beberapa orang mengikuti Danu menelusuri pemukiman warga yang kosong. Sisanya tetap berada di perkemahan. Di tepian sungai, Natalia duduk sendirian, melempar batu ke air satu per satu, menahan rasa kesal yang tak kunjung hilang.
Tak jauh dari sana, Kakek Ramli dan Nenek Indah memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Dia sedang marah... sebaiknya kau menenangkannya," bisik Nenek Indah.
Kakek menggeleng pelan. "Marahnya seperti anak kecil yang tak dibelikan permen saja."
"Itulah anak muda... Mungkin Natalia belum sadar kalau Danu menaruh hati padanya," jawab Nenek Indah lembut.
Mega yang melihat Natalia sendirian pun berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya.
"Kalau kau terus melempar batu begitu, takutnya ikan-ikan di sungai itu pada mati semua," canda Mega pelan.
Natalia menoleh sekilas, lalu kembali menatap air yang mengalir. "Aku cuma kesal..."
"Ingin ikut mereka, kan?"
Natalia mengangguk. "Iya... aku bisa membantu, bukan cuma diam di sini saja."
Mega menepuk punggung tangan temannya. "Danu melarang mu bukan karena meremehkan mu. Dia tak ingin kau kenapa-kenapa. Dia menjagamu."
"Tapi kan..."
"Dengar, Nat..." Mega menatapnya lembut. "Danu sebenarnya menyukaimu. Hanya saja, situasi begini belum tepat untuk diucapkan. Makanya dia canggung, mudah marah, ingin selalu memastikan mu aman. Apalagi setelah kehilangan Aldo... dia takut kehilangan orang yang berharga lagi."
Natalia terdiam, memandang riak air. "Aku paham... tapi aku tak bisa membalas perasaannya, Mega."
"Aku tahu... tak mudah melupakan Justin, kan?"
Natalia mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Mega. "Semoga kita tetap bersama-sama, ya... sampai kita menemukan tempat yang benar-benar aman."
Mega tersenyum, merangkul bahu Natalia. "Semoga saja... Kalau nanti kita sampai di tempat yang damai, aku ingin membuka kedai kecil, jual makAnan enak setiap hari."
Keduanya tertawa pelan, diiringi suara air sungai yang mengalir tenang. Di tengah dunia yang penuh bahaya ini, harapan sederhana itulah yang membuat mereka terus melangkah — berharap esok masih ada, dan teman-teman yang pergi akan pulang dengan selamat.
****
Di pemukiman yang sunyi itu, rumah-rumah berdiri tertutup rapat, kaca jendela pecah berantakan, sepeda motor terparkir sembarangan di depan pintu. Langkah mereka pelan dan waspada, sesekali menoleh ke belakang — takut ada bahaya yang mengikuti tanpa suara.
"Aneh... kalau mereka mengungsi, pasti membawa barang berharga," ucap Zacky memecah keheningan.
"Seharusnya begitu... atau mereka tak sempat membawa apa-apa sama sekali," jawab Dimas pelan.
Danu memberi isyarat. "Kita berpencar. Dimas ikut aku. Andri, Zacky — periksa rumah sebelah kiri. Rafli, kau periksa toko besar di ujung sana."
Rafli menggeleng. "Aku sendiri saja, lebih aman."
Mereka pun berpisah. Danu dan Dimas masuk ke rumah sebelah kanan lewat pintu yang tak terkunci, lalu menutupnya kembali. Ruangan itu sunyi, tak ada siapa-siapa — hingga di dapur, keduanya terhenti terpaku. Di lantai, terbaring sepasang suami istri yang mengakhiri hidupnya sendiri.
"Innalilahi..." Dimas menahan napas, hatinya perih.
"Mereka menyerah..." bisik Danu tak percaya.
"Mereka memilih pergi dengan tenang, ketimbang terus dikejar ketakutan setiap hari," ucap Dimas pelan.
Danu mengangguk berat. "Ayo pergi dari sini."
Di rumah sebelah kiri, Andri dan Zacky justru menemukan sesuatu yang berharga: senjata, obat-obatan, dan tumpukan makanan yang masih utuh. Namun di saat itu juga, Andri menyampaikan niat yang terpendam di hatinya.
"Kita bisa pergi sendiri, Zacky. Ikut aku atau tetap dengan Danu?"
Zacky menatapnya tegas. "Aku tetap bersama Danu. Kalau kau mau pergi, pergilah sendiri. Jangan ajak aku."
Andri mendengus kesal. "Tak berguna kau..." Ia pun menyusun rencana lain — meninggalkan kelompok itu sendirian, dan sebelum pergi, menjebak Danu di sini.
Sementara itu, Danu dan Dimas keluar dari rumah itu. Danu menyodorkan seikat umbi jalar yang ditemukannya. "Dimas, bawa ini kembali ke perkemahan dulu. Bagian ini untuk bekal kita."
"Kau tidak ikut?"
"Aku menyusul nanti. Ada yang ingin kuperiksa lagi." Dimas pun menurut, berjalan meninggalkan tempat itu menuju sungai.
Di toko besar yang diperiksa Rafli, ia menemukan hal yang luar biasa — tempat itu cukup kokoh, memiliki kamar tidur, kamar mandi, dan persediaan makanan yang melimpah. Bisa jadi tempat berlindung yang aman. Namun saat hendak keluar, ia melihat sepuluh orang mayat hidup melintas di depan pintu. Ia segera bersembunyi, menunggu kerumunan itu pergi menjauh.
Danu berjalan menuju rumah tempat Andri dan Zacky berada. Namun saat masuk, tak ada siapa-siapa di sana. Ia melangkah lebih dalam, hingga tiba-tiba — brak! — pintu tertutup rapat dari luar. Terdengar suara ledakan kecil seperti mercon tepat di depan pintu, menarik perhatian makhluk-makhluk di sekitar sana.
Danu bergegas membuka pintu itu. Betapa terkejutnya ia — sepuluh zombie sudah berdiri di sana, dan seketika menyerbu masuk ke arahnya.
***
Dimas kembali ke camp dengan membawa karung kecil yg berisi umbi-umbian, di sana Natalia dan yg lain nya menatap heran pada Dimas, kenapa dia kembali ke camp sendiri tanpa Rafli dan yg lain nya.
"kemana yg lain nya, kenapa kamu kembali sendirian." tanya Toni yg mendekati Dimas.
"aku di suruh Danu untuk membawa ini duluan, kata nya dia lagi periksa area sekitar." jawab nya, namun ada yg mengganjal.
"biar aku yg menyusul mereka, kalian tetap di sini." sahut Amar, ia lalu membawa linggis nya dan tombak.
"perasaan ku gak enak.." gumam Natalia mantap Toni.
"semoga mereka baik-baik aja.." ucap Toni, kedua nya saling pandang.
***
Amar berlari menyusul ke arah pemukiman itu, namun langkahnya terhenti saat melihat sepuluh mayat hidup mendesak masuk ke rumah tempat Danu berada. Ia ragu, tak tahu harus berbuat apa — hingga tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya.
Amar terlonjak kaget, berbalik cepat — itu Rafli. Keduanya sama-sama mengintai ke arah pintu rumah yang tertutup itu.
"Kau di sini?" bisik Rafli.
"Aku menyusul kalian," jawab Amar pelan. "Dimas sudah kembali ke perkemahan, tapi kami curiga ada sesuatu... jadi aku ke sini."
Rafli menunjuk ke arah jalan yang menjauh. "Aku melihat Andri dan Zacky. Mereka yang menyalakan mercon itu, lalu pergi ke arah sana... ke sekolah yang hancur."
"Dan Danu?"
"Di dalam sana. Kita tak tahu apa yang terjadi, tapi tak boleh diam saja. Ayo kita habisi mereka," ajak Rafli tegas.
Mereka bergerak cepat dan senyap. Dengan senjata tajam di tangan, mereka menyerang dari belakang — satu per satu mengayunkan senjata tepat ke kepala makhluk-makhluk itu. Tubuh mereka jatuh satu per satu, hingga tak ada yang tersisa.
Keduanya segera masuk ke dalam rumah. Di sana, berdiri Danu — napasnya memburu, pedang di tangannya masih terangkat, bercak darah menodai pakaiannya. Apakah Ia selamat dari gigitan zombie..?
Bersambung