Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Dansa Pertama

​Denting musik waltz mengalir tenang, mengundang pasangan demi pasangan untuk bergerak seirama di tengah ruang dansa.

​Alunan alat musik gesek itu berhasil memecah ketegangan yang baru saja terjadi. Perhatian para tamu VIP perlahan beralih dari lukisan palsu tersebut menuju ke arah tengah ruangan yang bermandikan cahaya lampu kristal.

​Caremel tidak sanggup lagi menahan rasa malunya. Wanita bergaun merah itu membalikkan badan dengan gerakan kaku. Langkah kakinya terdengar kasar dan terburu-buru saat ia melarikan diri menuju pintu keluar ballroom, meninggalkan kerumunan pengusaha yang kini tak lagi memedulikannya.

​Aku masih berdiri di depan garis pembatas beludru, menatap punggung Caremel yang menjauh.

​Sebuah sentuhan kokoh mendarat di pinggangku.

​Aku menoleh ke samping. Sakti sudah berdiri sangat dekat denganku. Mata elangnya menatap lurus ke arah mataku, mengabaikan seluruh pasang mata miliarder yang masih mencuri pandang ke arah kami.

​"Tugasmu membungkam pengganggu sudah selesai, Tera," ucap Sakti dengan volume suara yang hanya bisa didengar olehku. "Sekarang, ikut aku."

​Sakti tidak menunggu persetujuanku. Pria itu meraih sebelah tanganku dengan genggaman yang kuat namun lembut. Ia menuntunku menjauh dari area pameran seni, melangkah lurus menuju ke tengah lantai dansa.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Kepanikan melanda sistem sarafku dalam hitungan detik.

​Lantai marmer di bagian tengah ballroom telah dipenuhi oleh pasangan eksekutif yang bergerak memutar dengan keanggunan sempurna. Mereka berdansa waltz dengan ritme yang sangat teratur.

​Aku tidak pernah menghadiri pesta dansa seumur hidupku. Jangankan waltz, melangkah dengan sepatu hak setinggi dua belas sentimeter ini saja aku membutuhkan bantuan penyesuaian postur dari sistem.

​Sakti memutar tubuhku hingga kami berhadapan.

​Pria itu meletakkan tangan kanannya di pinggangku, menarik tubuhku lebih dekat ke arahnya. Tangan kirinya menggenggam tangan kananku, mengangkatnya sejajar dengan bahu. Posturnya sangat sempurna, memancarkan dominasi seorang pemimpin yang terbiasa memegang kendali atas segalanya.

​Aku berdiri kaku. Otot-otot kakiku menolak bergerak. Jika aku salah melangkah, aku akan menginjak sepatu mahal Sakti dan mempermalukan diriku sendiri tepat di tengah lautan manusia ini.

​Tampilan antarmuka hijau langsung berkedip liar di depan retinaku.

​[Peringatan: Subjek Sakti Menginisiasi Gerakan Dansa Waltz.]

​[Status Inang: Tidak Memiliki Pangkalan Data Keterampilan Kinetik Menari.]

​[Risiko Kesalahan Gerak: 99%.]

​Aku menatap wajah Sakti. Pria itu mengangkat sebelah alisnya, menunggu respons gerakanku mengikuti alunan biola yang semakin meninggi.

​[Mengaktifkan Mode Bantuan Darurat.]

​[Memindai Ritme Audio. Mengkalkulasi Pola Gerak Subjek Sakti.]

​[Menerapkan Panduan Kinetik Visual 3D ke Bidang Lantai.]

​Sensasi hangat kembali menjalar dari pelipisku, menyebar dengan cepat ke seluruh jaringan saraf motorik di lengan dan kakiku.

​Pandanganku terhadap lantai marmer di bawah kami mendadak berubah.

​Garis-garis cahaya hijau neon memproyeksikan pola langkah kaki tepat di atas lantai. Pola itu membentuk panah penunjuk arah, sudut putaran, dan durasi pijakan. Semuanya terkalibrasi sempurna dengan panjang tungkai kakiku dan tempo pergerakan Sakti.

​[Instruksi Sistem: Ikuti Titik Pijakan Visual. Serahkan Kendali Pusat Gravitasi Pada Subjek Utama.]

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Sakti mengambil langkah mundur pertamanya.

​Tanpa ragu, aku memajukan kaki kananku, mendaratkannya tepat di atas cetakan cahaya hijau yang melayang di lantai.

​Sakti memutar tubuh kami ke arah kiri. Aku meresponsnya dengan menarik kaki kiriku menyilang, bertumpu pada ujung sepatu hak tinggiku persis seperti instruksi visual dari A.U.R.A.

​Gerakanku mengalir begitu saja. Tubuhku terasa sangat ringan. Gaun biru tuaku mekar dengan indah saat kami melakukan putaran pertama.

​Sakti menatapku dengan kilat keterkejutan yang sangat jelas di balik lensa kacamata peraknya.

​[Memindai Mikro Ekspresi Subjek Sakti.]

​[Status Emosi: Terkejut, Terpesona, Ketertarikan Visual Meningkat Tajam.]

​"Aku tidak tahu kau juga ahli dalam berdansa waltz," puji Sakti dengan nada bariton yang bergetar rendah di dekat telingaku.

​Aku mempertahankan kontak mata kami, membiarkan sistem mengambil alih penuh pergerakan kakiku. "Ada banyak hal tentang saya yang belum Anda ketahui, Pak Sakti."

​Sakti mengukir senyum miring yang sangat mematikan. Pria itu mempererat pegangannya di pinggangku, menekan tubuh kami hingga nyaris tidak ada jarak yang tersisa.

​Ia mengubah tempo tarian menjadi sedikit lebih agresif dan cepat.

​Sistem di mataku bekerja dengan kecepatan pemrosesan maksimal. Cetakan langkah kaki hijau di lantai berkedip lebih cepat, menyesuaikan perubahan arah yang Sakti lakukan secara mendadak.

​Aku berputar, melangkah, dan mencondongkan tubuh ke belakang dengan presisi seorang penari profesional. Tidak ada satu pun ketukan nada yang terlewat. Tidak ada satu pun pijakan yang meleset.

​Para tamu di sekitar kami mulai memperlambat tarian mereka. Beberapa pasangan bahkan berhenti sepenuhnya, menepi untuk memberikan ruang lebih luas bagi kami.

​Sorot lampu kristal di atas kami seolah hanya menyorot ke arah satu titik. Kami berdua mendominasi lantai dansa, bergerak seirama bagai dua entitas yang saling melengkapi dalam ritme absolut.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Sakti tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajahku.

​Tatapan gelapnya menelusuri garis wajahku, riasan mataku yang tajam, hingga turun ke arah bibirku. Tidak ada lagi dinding pembatas antara atasan dan asisten. Tidak ada lagi aturan kaku perusahaan yang mengikat kami saat ini.

​[Peringatan Inang: Suhu Tubuh Subjek Sakti Mengalami Peningkatan.]

​[Detak Jantung Subjek dan Inang Memasuki Fase Sinkronisasi.]

​Aku berusaha mengabaikan teks laporan medis yang memenuhi pandanganku. Kehadiran Sakti terlalu nyata dan terlalu mendominasi untuk bisa ditepis oleh logika mesin.

​Tangan kasarnya di pinggangku memberikan tekanan protektif yang membuat jantungku berdebar semakin liar.

​Alunan musik biola mencapai bagian puncaknya.

​Sistem menampilkan garis lengkung merah di lantai, mengisyaratkan gerakan penutup tarian.

​Sakti menarik tanganku sedikit ke atas, memberikan ruang bagiku untuk berputar bebas. Aku memutar tubuhku tiga kali secara beruntun. Gaun biru sutraku berkibar membentuk pusaran air yang memukau setiap pasang mata di ruangan itu.

​Pada putaran terakhir, Sakti menangkap tubuhku.

​Pria itu melingkarkan satu lengannya yang kuat di punggung bawahku, sementara tangan yang lain menggenggam jemariku erat. Ia mencondongkan tubuhku ke belakang dalam sebuah gerakan dip yang sangat rendah dan dramatis.

​Lampu-lampu ballroom terasa berputar di atas kepalaku.

​Wajah Sakti berada tepat di atas wajahku. Napas hangatnya menyapu permukaan kulitku. Matanya yang sedingin es kini menyala oleh kobaran emosi yang menolak untuk disembunyikan lebih lama lagi.

​Nada terakhir biola ditarik panjang, lalu berakhir dalam keheningan yang membius seluruh isi ruangan.

​Tepuk tangan meriah meledak seketika dari segala arah.

​Namun, Sakti sama sekali tidak memedulikan riuh tepuk tangan tersebut. Ia tidak segera menarik tubuhku untuk berdiri tegak. Ia mempertahankan posisi kami, mengunci seluruh duniaku hanya pada sosoknya.

​Tatapan mata Sakti mengunci mataku rapat-rapat saat bisikannya terdengar di telingaku, "Kamu selalu berhasil memukauku, Tera."

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!