Indonesia
NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Dio kembali ke gedung Suryo Group dengan koper hitam yang kini basah kuyup, meneteskan air berbau amis di sepanjang lantai marmer ruang kerja sang CEO.

Bajunya yang mewah pun tak luput dari bau amis ikan dan noda air pasar.

Rimba yang sedang berdiri di balik mejanya langsung berbalik.

Matanya menajam saat melihat penampilan asistennya yang berantakan.

"Bagaimana?" tanya Rimba pendek, suaranya menekan namun sarat akan kepastian bahwa uang itu telah menyelesaikan masalah.

Dio tertunduk dalam, tak berani menatap langsung mata bosnya.

Dengan jemari gemetar, ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Gagal lagi, Pak..." bisik Dio lirih.

"Wanita itu menyiram uangnya dengan air amis ikan dan melempar kopernya ke lumpur. Dia, menolak mentah-mentah."

"APA?!"

Umpatan Rimba menggelegar menggoncangkan seluruh ruangan.

Amarahnya meledak hebat, tak menyangka ada rakyat biasa—seorang wanita penjual ikan—yang berani melemparkan kembali koper uang milik Suryo Group ke kubangan lumpur.

"Dia bahkan bilang," Dio ragu-ragu sejenak, mengumpulkan keberanian sebelum melanjutkan, "Bilang pada Pak Rimba, mau Bapak bawa uang satu truk pun, jawabannya tetap tidak akan pernah."

Urat di rahang Rimba menegang hebat, dadanya naik turun menahan emosi yang membakar sampai ke puncak kepala.

Kepalan tangannya menghantam meja kerja hingga menimbulkan dentuman keras. Harga dirinya benar-benar diinjak-injak di dasar bumi.

"Perempuan berengsek!" geram Rimba dengan nada dingin yang menusuk.

"Dia belum tahu sedang berhadapan dengan siapa. Kalau begitu, aku sendiri yang akan turun tangan mendatangi pasar busuk itu!"

"Tapi dengan caraku sendiri," sambung Rimba dengan senyum miring yang menyimpan rencana berbahaya. Matanya berkilat licik.

Dio mengernyit bingung, mengusap sisa air amis yang menempel di lengannya.

"Cara bagaimana, Pak? Semuanya saja gagal. Mau pakai kekerasan dia jago silat, mau pakai uang pun dibuang ke lumpur."

Rimba menyeringai nipis, melipat kedua tangannya di dada.

"Kekuatan dan uang memang nggak mempan buat orang yang punya harga diri tinggi seperti dia. Tapi manusia selalu punya celah, yaitu empati."

Rimba mempunyai ide licik dengan berpura-pura menjadi lelaki miskin yang kelaparan dan butuh pekerjaan.

Ia tahu betul dari laporan Dio bahwa Dayang adalah sosok yang protektif dan berhati lembut pada rakyat kecil di pasarnya.

Jika ia masuk sebagai orang kaya, Dayang akan membencinya.

Tapi, jika ia menyamar sebagai orang malang yang butuh bantuan, benteng pertahanan gadis itu pasti melunak.

"Beli pakaian terkilas yang paling kumal, siapkan penampilan paling berantakan," perintah Rimba dingin, menatap Dio yang masih terperangah.

"Aku akan masuk ke kehidupannya tanpa dia sadari siapa aku sebenarnya. Aku akan buat dia percaya padaku, lalu menyerahkan pasokan ikan itu sendiri."

Dio melotot tak percaya. "Bapak serius? CEO Suryo Group mau menyamar jadi orang miskin di pasar becek?"

Rimba tidak menjawab. Ia meraih jas mewahnya, melemparkannya ke atas kursi, lalu melangkah mantap menuju pintu keluar.

"Sekarang kita ke pabrik dulu," tegas Rimba.

"Aku harus memantau batas ketahanan sisa pasokan ikan di gudang pendingin sebelum eksekusi rencana ini dimulai besok pagi."

Malam menyelimuti rumah kayu bersahaja itu. Suara jangkrik bersahut-sahatan di pelataran yang asri.

Dayang baru saja selesai makan malam bersama Bintang.

Di atas meja, piring-piring sudah bersih, tersisa dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Bintang menatap wajah kakaknya yang tampak agak letih namun tetap tegar. Remaja SMA itu menggeser cangkirnya pelan.

"Kak, ada masalah di pasar?" tanya Bintang penuh rasa ingin tahu.

Sejak pulang sekolah, ia mendengar kabar burung dari tetangga tentang keributan di lapak Dayang tadi subuh.

Dayang tersenyum tipis, mengusap kepala adiknya.

"Ada, tapi masalah kecil, Bin."

"Masalah kecil bagaimana ? Kata orang-orang tadi ada preman yang datang, terus ada orang kaya yang bawa uang sekoper," desak Bintang tak percaya.

"Ada apa sebenarnya, Kak?"

Dayang menghela napas panjang, lalu menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi—mulai dari kedatangan empat preman suruhan Suryo Group yang memukul Pak Mat, tindakannya merobek dokumen kontrak, hingga insiden menyiram koper berisi uang tunai yang dilemparkan ke lumpur.

Bintang melotot mendengar cerita itu. Remaja itu terdiam sejenak, memproses informasi yang cukup mengejutkan baginya.

"Kenapa Kakak nggak mau? Bukankah mereka menawarkan uang banyak?" tanya Bintang jujur. Baginya yang masih muda, tawaran uang sekoper dari perusahaan raksasa terdengar sangat menggiurkan untuk mengubah nasib mereka.

Dayang memegang jemari Bintang di atas meja, menatap mata adiknya dengan dalam dan penuh kehangatan.

"Uang banyak itu nggak ada artinya kalau didapat dengan cara yang kotor, Bin," ucap Dayang lembut namun sarat penekanan.

"Ingat nasehat mendiang Ayah dulu? Ayah selalu bilang, 'Lebih baik makan nasi sama garam tapi tidur kita tenang, daripada makan daging enak tapi dapat dari hasil menindas orang lain.'"

Dayang melanjutkan, "Suryo Group itu mau memonopoli pasokan ikan. Kalau Kakak terima uang mereka dan tanda tangan kontrak eksklusif, nelayan-nelayan kecil kayak Bang Jaka nggak akan punya daya tawar lagi. Pedagang-pedagang kecil di sekitar kita bakal gulung tikar karena nggak kebagian ikan segar. Lagipula, mereka sudah main fisik dan mencelakai Pak Mat. Uang mereka itu uang kesombongan, Bin. Kakak nggak akan pernah menjual harga diri dan ketenangan hidup kita cuma buat uang haram seperti itu."

Bintang menunduk sebentar, meresapi setiap kata yang diucapkan kakaknya.

Sosok Dayang di matanya malam itu terasa makin tangguh dan bijaksana. Rasa kagum menyelimuti dada remaja itu.

Bintang mengangguk mantap lalu tersenyum bangga.

"Aku paham, Kak. Maaf ya tadi Bintang sempat nanya gitu. Bintang bangga punya kakak kayak Kak Dayang."

Dayang tertawa kecil, mengacak rambut Bintang gemas.

"Nah, gitu dong! Yang penting sekarang kamu fokus belajar, biar esok lusa bisa jadi orang sukses yang tetap punya moral."

Dayang beranjak dari kursi meja makan, membereskan piring-piring kotor, lalu melangkah menuju kamarnya.

Ia menutup pintu kayu yang berderit pelan, menguncinya dari dalam, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur tipis.

Kamar kecil itu begitu hening, hanya dihiasi derak angin malam yang masuk dari celah jendela. Dayang menatap langit-langit kamar sejenak, menghela napas panjang untuk melepaskan seluruh beban berat yang menumpuk sepanjang hari—mulai dari pertarungan di pasar, urusan rumah sakit Pak Mat, hingga siraman air amis ke koper uang jutaan rupiah.

"Semoga besok Rambi, Rimba, atau siapapun itu nggak datang lagi," bisik Dayang pelan pada kegelapan malam.

Ia menarik selimut hingga sebatas dada. Dengan kepasrahan dan keteguhan hati yang sudah menjadi benteng dirinya.

Dayang perlahan memejamkan matanya, menyambut tidur lelap tanpa menyadari bahwa esok subuh, taktik yang jauh lebih berbahaya sedang menantinya di Pasar Matahari.

Di sisi lain, di sebuah mansion megah milik keluarga Suryo, uap hangat membumbung di ruang gym pribadi yang sarat fasilitas mewah.

Rimba baru saja menyelesaikan sesi latihan bebannya yang berat. Keringat membasahi kaos hitam tanpa lengan yang melekat erat di tubuh kekarnya, mengalir membasahi otot-otot dadanya yang naik turun menata napas.

Ia menyambar handuk putih, mengusap wajah serta lehernya kasar, lalu melangkah menuju meja marmer di sudut ruangan.

Di sana, tertata sebuah tablet canggih yang layarnya menyala terang.

Rimba menyentuh layar tersebut, menampilkan rekaman kamera pengawas (CCTV) dan foto-foto rahasia dari Pasar Matahari tadi subuh.

Pandangannya terkunci pada satu gambar yang diambil dari sudut tersembunyi—foto Dayang yang sedang mengayunkan tendangan telak, menumbangkan Kobra hingga tersungkur babak belur di bawah meja seng.

Rimba menatap foto Dayang dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.

Tidak ada lagi sisa murka seperti tadi siang, melainkan kilat ketertarikan licik yang membara di matanya.

"Menarik," bisik Rimba rendah, menyunggingkan senyum miring yang penuh intrik.

"Perempuan pasar sederhana, tapi punya nyali serigala. Jarang sekali ada yang berani membuang uang miliaran demi sebuah prinsip."

Rimba menyesap air mineral dari botol kaca, lalu meletakkannya kembali dengan hentakan pelan. Matanya tak lepas menatap wajah tegar Dayang di layar tablet.

"Kita lihat seberapa tangguh bentengmu, Dayang, saat kamu sendiri yang membukakan pintu buat musuhmu," gumam Rimba dingin.

Ia berbalik melangkah menuju kamar mandi, siap menanggalkan seluruh atribut kemewahannya demi melakoni peran pria miskin yang malang esok subuh.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!