Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
****
Napas Tuan Besar Xiu berembus kasar. Matanya yang tajam menatap Xiu Ying yang berdiri begitu tenang di tengah Aula Utama. Otak politiknya yang licik bekerja secepat kilat. Jika ia menghukum Xiu Ying hari ini, gertakan putri buangannya itu bisa saja menjadi kenyataan reputasinya sebagai pejabat tinggi yang terhormat di istana akan hancur lebur jika rumor pembunuhan saudara ini bocor ke publik.
Namun, yang lebih mengejutkan Tuan Besar Xiu adalah perubahan ketahanan mental gadis itu. Xiu Ying yang dulu begitu lemah dan tidak berguna, kini berubah menjadi sosok tajam, tidak takut mati, dan pandai memanfaatkan situasi.
"Suami! Tunggu apa lagi?! Pengawal, seret jalang kecil ini dan cambuk dia!" jerit Nyonya Besar, matanya memerah menuntut pembalasan atas penderitaan putri kesayangannya.
"Cukup!" bentak Tuan Besar Xiu, suaranya menggelegar menghentikan semua gerakan di aula.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah Xiu Mei yang masih merintih memegang pergelangan tangannya. "Mei-er! Kau telah bertindak tidak sopan, mendobrak kamar saudaramu, dan memicu keributan yang mencoreng nama baik keluarga! Mulai hari ini, kau dihukum kurungan di dalam kamarmu selama satu bulan penuh dan dilarang menghadiri perjamuan apa pun!"
"A-Ayah?! Apa?!" teriak Xiu Mei histeris, matanya membelalak tidak percaya. "Kenapa aku yang dihukum?! Tanganku patah olehnya!"
"Suami! Apakah kau sudah gila?!" Nyonya Besar berdiri dengan wajah syok. "Dia yang memukul putri kita! Mengapa Mei-er yang dikurung?!"
"Aku bilang cukup!" Tuan Besar Xiu menghentakkan tongkatnya keras-keras. "Pengawal, bawa Nona Ketiga kembali ke kamarnya sekarang juga!"
Para pengawal segera memegang lengan Xiu Mei dan memapahnya keluar dari aula diiringi tangisan histeris dan sumpah serapah Nyonya Besar. Xiu Lian mengekor dengan tubuh gemetar ketakutan, tidak berani melirik Xiu Ying sedikit pun.
Xiu Ying menyunggingkan senyum tipis yang amat tipis. Langkah pertamanya berhasil: ia tidak hanya menyelamatkan dirinya dan Susu, tetapi juga berhasil memberikan tamparan keras pada musuh-musuhnya.
Tuan Besar Xiu menatap Xiu Ying dengan tatapan rumit. Gadis ini... mentalnya yang baru dan tahan banting ini sungguh luar biasa, batinnya. Dia bukan lagi anak penakut, melainkan alat yang sempurna.
Belum sempat Tuan Besar Xiu memproses pikirannya lebih jauh, tiba-tiba seorang pelayan berlari terengah-engah dari arah gerbang depan dan langsung berlutut di ambang pintu aula.
"Lapor Tuan Besar! Kasim Utama Kasim Gao dari Istana Kerajaan telah tiba di kediaman membawa Titah Kekaisaran!"
Seketika seluruh orang di aula menegang. Tuan Besar Xiu merapikan jubah mewahnya dengan terburu-buru, wajahnya mendadak cemas. "Cepat persilakan masuk! Seluruh penghuni kediaman, bersiap menyambut titah!"
Tak lama kemudian, seorang kasim paruh baya berbusana sutra ungu dengan bordiran benang emas melangkah masuk diiringi empat pengawal kerajaan berpedang panjang. Langkah Kasim Gao begitu berwibawa, membawa gulungan kain sutra kuning keemasan di kedua tangannya.
Tuan Besar Xiu segera berlutut di lantai marmer, diikuti oleh Nyonya Besar yang baru kembali dan seluruh pelayan. Xiu Ying, setelah ditarik pelan oleh pakaiannya oleh Susu, akhirnya ikut berlutut dengan santai di barisan belakang.
"Pejabat Xiu Zhen menerima Titah Kekaisaran!" seru Tuan Besar Xiu dengan kepala menunduk dalam.
Kasim Gao membuka gulungan sutra tersebut dan membacakannya dengan suara lantang bernada tinggi yang menggema di seluruh ruangan:
"Berdasarkan kehendak Langit dan Kaisar Yang Mulia, Pangeran Ke-7, Zhen Yu, telah mencapai usia pernikahan. Untuk mempererat hubungan antara Istana dan para pejabat setia, Kekaisaran memerintahkan Pejabat Xiu Zhen untuk menyerahkan putri kandungnya guna menjadi Istri Sah dari Pangeran Ke-7. Pernikahan akan dilaksanakan pada hari baik bulan depan. Hormati titah ini!"
Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong bagi Nyonya Besar. Wajahnya seketika pucat pasi bagai mayat. Pangeran Ke-7, Zhen Yu—pangeran yang terkenal idiot, lumpuh dalam pergaulan istana, dan sering menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota! Menikahkan putri dengannya sama saja dengan membuang sang putri ke dalam lubang penderitaan seumur hidup.
"Hamba Xiu Zhen, menerima titah Yang Mulia Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur!" jawab Tuan Besar Xiu dengan suara gemetar, menerima gulungan sutra yang diserahkan oleh Kasim Gao.
Kasim Gao tersenyum formal, menganggukkan kepala sedikit. "Pejabat Xiu, harap segera mempersiapkan pernikahan putri Anda. Saya akan kembali ke istana untuk menyampaikan kabar baik ini."
"Terima kasih atas kerja keras Kasim Gao," ujar Tuan Besar Xiu sambil menyodorkan seikat kantong perak secara halus, yang langsung diterima kasim tersebut sebelum berbalik pergi meninggalkan kediaman.
Setelah bayangan rombongan istana menghilang di balik gerbang, Tuan Besar Xiu berdiri perlahan. Raut wajahnya sangat berat.
Xiu Ying yang merasa urusannya di aula sudah selesai, menepuk-nepuk kain gaunnya yang berdebu dan membungkuk singkat. "Jika Ayah tidak memiliki urusan lain, Xiu Ying memohon izin untuk kembali ke Halaman Barat."
Xiu Ying berbalik hendak melangkah pergi, namun suara jeritan panik Nyonya Besar mendadak memotong langkahnya.
"Suami! Bagaimana ini?!" Nyonya Besar berlari mendekati Tuan Besar Xiu dan mencengkeram lengan jubah suaminya dengan histeris. "Kaisar meminta putri kita! Mei-er baru saja dihukum kurungan, dan Lian-er masih terlalu muda! Jangan bilang... jangan bilang kau akan menikahkan Mei-er atau Lian-er dengan pangeran idiot itu?!"
Tuan Besar Xiu mengepalkan tangannya, bingung dan terdesak. "Titah Kekaisaran tidak bisa ditolak! Jika kita menolak, seluruh keluarga kita akan dieksekusi atas tuduhan membangkang!"
"Tapi Mei-er adalah putri kesayanganmu! Dia berbakat dan cantik, masa depannya harus menjadi permaisuri atau istri pejabat tinggi, bukan menjadi pengasuh seorang pangeran idiot!" tangis Nyonya Besar pecah. Matanya secara liar mengedarkan pandangan ke sekeliling aula, hingga akhirnya tatapannya terkunci pada sosok Xiu Ying yang berdiri tenang di dekat pintu.
Sebuah ide licik dan kejam langsung terbesit di kepala Nyonya Besar.
"Suami! Lihat dia!" Nyonya Besar menunjuk Xiu Ying dengan jari gemetar. "Di dalam titah tadi hanya disebutkan 'putri kandung dari Pejabat Xiu', bukan? Tidak disebutkan harus putri dari istri sah!"
Xiu Ying menghentikan langkahnya, menoleh perlahan dengan pandangan dingin.
Nyonya Besar berlari mendekati suaminya, berbisik setengah berteriak demi meyakinkan Tuan Besar Xiu. "Nikahkan dia! Nikahkan Xiu Ying dengan Pangeran Ke-7! Dia juga putri kandungmu! Dia hanya anak selir rendahan yang tidak berguna! Lagipula, bukankah dia baru saja berani mengancammu dan merusak pergelangan tangan Mei-er? Ini adalah hukuman yang paling pantas untuknya!"
Tuan Besar Xiu menatap Xiu Ying. Otak politiknya yang tadi mencari jalan keluar seketika terang benderang.
Memang benar. Mengorbankan Xiu Mei atau Xiu Lian akan merugi secara politik. Tapi Xiu Ying? Gadis ini baru saja menunjukkan bahwa ia tidak memiliki rasa takut, penuh taktik, dan pandai bersilat kata. Di dalam Istana Pangeran Ke-7 yang penuh dengan intrik dan bahaya, mental tajam milik Xiu Ying justru tidak akan mudah dihancurkan. Gadis ini adalah tumbal yang paling sempurna.
" Istriku benar," gumam Tuan Besar Xiu, matanya berkilat dingin saat menatap putri kesembilannya.
Ia melangkah mendekati Xiu Ying dan berkata dengan nada penuh penekanan yang tak bisa dibantah. "Xiu Ying, kau telah mendengar Titah Kekaisaran. Sebagai putri dari Keluarga Xiu, adalah kewajibanmu untuk berbakti kepada keluarga dan negara. Mulai hari ini, kau adalah Calon Istri dari Pangeran Ke-7."
Susu di belakang Xiu Ying hampir saja pingsan mendengar keputusan itu, wajahnya memucat ketakutan. "N-Nona..."
Namun, bukannya menangis, memohon, atau histeris seperti wanita pada umumnya yang dipaksa menikah dengan pria idiot, Xiu Ying justru menyunggingkan senyum tipis. Di mata modern Chen Zuyi, pernikahan politik ini bukanlah sebuah hukuman, melainkan tiket emas untuk keluar dari Kediaman Xiu yang sempit ini dan melangkah menuju panggung kekuasaan yang lebih besar di istana.
(Bersambung)