Indonesia
NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga

Gulungan Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.

Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Langit di atas Kota Awan Merah telah berubah menjadi lautan api yang mengerikan. Mayat-mayat bergelimpangan di setiap sudut jalan, menyatu dengan puing-puing bangunan yang hancur lebur.

Wuuush!

Angin malam yang biasanya sejuk kini membawa bau anyir darah yang sangat menyengat. Di tengah alun-alun kota yang hancur, seorang pemuda berlutut dengan napas tersengal-sengal.

Pemuda itu adalah Yang Zhen. Pakaiannya sudah compang-camping, dan pedang di tangan kanannya telah patah menjadi dua bagian.

"Wang Hao... Su Lin..." gumam Yang Zhen dengan suara serak.

Air mata bercampur darah mengalir dari pelipisnya saat ia menatap dua sosok kaku tak jauh darinya. Sahabat terbaiknya, Wang Hao, tewas dengan dada berlubang akibat tusukan tombak hitam.

Sementara Su Lin, gadis yang selalu diam-diam melindunginya, terbaring tak bernyawa dengan wajah pucat pasi.

Bum!

Tanah bergetar hebat saat sesosok pria berjubah hitam turun dari langit. Dia adalah Patriark Sekte Bayangan Darah, iblis yang telah membantai seluruh penduduk kota malam ini.

"Hahaha! Lihatlah pahlawan kita yang menyedihkan ini!" tawa Patriark itu menggelegar penuh ejekan. "Apakah kau masih ingin melawan, Yang Zhen?"

Yang Zhen menggertakkan giginya hingga terdengar suara gemeretak.

"Aku akan membunuhmu, bajingan... Aku pasti akan membunuhmu!" ancam Yang Zhen.

"Membunuhku? Dengan kultivasimu yang bahkan tidak mencapai Tahap Inti Emas?" Patriark itu mencibir sinis. "Jangan bermimpi di siang bolong, Nak."

"Serahkan Gulungan Dewa Naga itu sekarang juga!" bentak Patriark itu sambil melangkah maju. "Barang suci seperti itu tidak pantas dipegang oleh sampah sepertimu!"

"Sialan... apakah semuanya benar-benar berakhir di sini?" batin Yang Zhen penuh keputusasaan. "Aku terlalu lemah, aku bahkan tidak bisa melindungi orang-orang yang berharga bagiku."

Yang Zhen menatap dadanya, tempat sebuah gulungan kuno tersembunyi di balik bajunya.

Gulungan Dewa Naga, pusaka misterius yang baru saja ia temukan beberapa hari lalu, belum sempat ia pelajari.

"Aku lebih baik menghancurkannya daripada memberikannya padamu!" teriak Yang Zhen dengan sisa tenaga terakhirnya.

Ia menusukkan pedangnya yang patah tepat ke dadanya sendiri.

Craaassh!

"Tidaaak! Apa yang kau lakukan, bocah gila!" teriak Patriark itu panik.

Darah segar Yang Zhen menyembur deras, membasahi Gulungan Dewa Naga yang tersembunyi di balik bajunya.

Tiba-tiba, cahaya keemasan yang sangat menyilaukan meledak dari tubuh Yang Zhen.

Cahaya itu menelan seluruh alun-alun kota, membutakan mata sang Patriark dan menghanguskan segalanya.

"Jika ada kehidupan selanjutnya... aku bersumpah tidak akan menjadi orang lemah lagi." batin Yang Zhen saat kesadarannya perlahan memudar. "Aku akan membantai kalian semua... tanpa sisa."

Semuanya menjadi gelap. Keheningan yang panjang menyelimuti kesadaran Yang Zhen, seolah ia mengambang di ruang hampa.

Brak!

Suara hantaman keras di atas meja membuat Yang Zhen tersentak hebat. Ia membuka matanya dengan napas memburu, tubuhnya berkeringat dingin seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.

"Yang Zhen! Beraninya kau tidur di kelasku!" bentak sebuah suara melengking.

Yang Zhen mengerjap, pandangannya yang kabur perlahan menjadi jelas. Ia tidak berada di reruntuhan Kota Awan Merah yang terbakar.

Ia berada di dalam sebuah ruangan yang sangat familiar, duduk di bangku kayu yang usang.

"Di mana aku? Bukankah aku sudah mati?" batin Yang Zhen kebingungan.

Ia menatap kedua tangannya yang bersih tanpa luka, lalu meraba dadanya yang utuh tanpa bekas tusukan pedang.

"Hei, kau sudah gila ya? Cepat minta maaf pada Guru Lin!" bisik seorang pemuda gemuk di sebelahnya.

Yang Zhen menoleh dan matanya seketika membelalak lebar.

"Wang Hao? Kau... kau masih hidup?" suara Yang Zhen bergetar hebat.

Tanpa sadar, ia langsung memeluk pemuda gemuk itu dengan sangat erat.

"Woi! Lepaskan aku, kau ini kenapa?!" Wang Hao meronta-ronta dengan wajah memerah.

Seluruh murid di kelas sontak tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan aneh Yang Zhen.

"Hahaha! Lihat si sampah Yang Zhen, sepertinya dia sudah gila karena terlalu sering gagal dalam ujian!" ejek seorang murid berambut cepak dari barisan depan.

"Mungkin dia bermimpi menjadi pahlawan agung, padahal mengumpulkan Qi saja dia tidak becus!" sahut murid lainnya.

Trak! Trak! Trak!

Guru Lin mengetukkan tongkat kayunya ke papan tulis dengan wajah memerah menahan marah.

"Diam semuanya! Dan kau, Yang Zhen, berdirilah sekarang juga!" bentak Guru Lin.

Yang Zhen melepaskan pelukannya dari Wang Hao dan perlahan berdiri. Tatapan matanya menyapu seisi kelas, melewati wajah-wajah remaja yang sangat ia kenal.

Pandangannya akhirnya berhenti pada sosok gadis berambut hitam panjang di sudut ruangan. Gadis itu adalah Su Lin.

Ia menatap Yang Zhen dengan ekspresi dingin dan datar, seolah kejadian memalukan barusan sama sekali tidak menarik minatnya.

"Ini bukan mimpi... aku benar-benar kembali ke masa lalu." batin Yang Zhen dengan jantung berdebar kencang. "Ini adalah kelas Akademi Bela Diri Awan Merah, tiga tahun sebelum invasi mengerikan itu terjadi!"

"Yang Zhen! Apakah kau dengar panggilanku?!" bentakan Guru Lin kembali memecah lamunannya. "Dasar murid sampah tak berguna, kultivasimu baru Tahap Pengumpulan Qi tingkat satu, tapi kau malah bermalas-malasan di kelasku!"

"Guru Lin benar! Dia hanya membuang-buang udara di akademi ini!" teriak murid berambut cepak tadi, ikut memanaskan suasana. "Keluarkan saja dia dari kelas elit ini, Guru!"

Yang Zhen menatap Guru Lin dengan tenang, sama sekali tidak terpancing emosi seperti masa lalunya. Dulu, ia selalu menundukkan kepala dan menangis diam-diam saat dihina seperti ini, namun sekarang ia adalah pria yang telah melewati kematian.

"Maafkan saya, Guru Lin." ucap Yang Zhen dengan nada suara yang sangat datar. "Saya hanya merasa materi yang Anda ajarkan terlalu membosankan dan... salah."

Seketika, suasana kelas menjadi hening mencekam. Semua murid menahan napas, tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut pemuda yang biasanya pengecut itu.

"Apa kau bilang?!" wajah Guru Lin memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol keluar. "Beraninya seorang sampah sepertimu mengkritik ajaran Master Bela Diri Bintang Tiga sepertiku!"

"Kau benar-benar cari mati, Yang Zhen!" bisik Wang Hao panik sambil menarik-narik ujung baju Yang Zhen. "Cepat berlutut dan minta maaf sebelum dia mematahkan kakimu!"

1
Sansalina
Mulai 👍👍👍
Sansalina
Gas Thorrr👍👍👍
Sansalina
Takutnya muridku mati konyol sebelum menguasai es dengan sempurna💪💪💪
alexander
bagus ceritanya
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Buktikan 👍👍👍
Sansalina
Bantai nih keluarganya👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Belum tahu dia👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt 👍👍👍
Sansalina
Gas Thprrr💪💪💪
Dianrp
💪💪💪💪💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!