Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawar Menawar di Pasar
Sebuah besi ulir dingin mendadak diacungkan di depan wajah Samson, tepat saat ia baru saja selesai mengoleskan lip balm aroma stroberi di bibirnya.
"Lu Samson, kan? Anak si Pak Joko pemilik bengkel Perkasa Putra?" bentak si Bopeng dengan suara serak berat.
Samson memundurkan langkahnya refleks. Tangannya sibuk merapikan poni yang sedikit berantakan kena angin jalanan.
"I...iiya... Mas... Saya Samson, tapi maaf ya, kalau mau bikin member bengkel atau konsultasi ganti oli mesin, sekarang tempatnya lagi tutup. Papi saya lagi pusing di rumah."
Dua anak buah si Bopeng malah tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka yang bertato naga sampai ke leher melangkah maju, lalu menunjuk dada Samson.
"Kagak usah belagu lu! Papi lu itu nunggak retribusi uang keamanan bengkel dua bulan! Sekarang lu yang gantiin bayar, atau motor pink lucu lu ini kita tahan!" gertak pria bertato naga itu sambil menepuk jok motor matic Samson.
Mata Samson seketika membelalak lebar. Apa?! Motor pink pastel kesayangan mau ditahan?!
"Aduh, Mas! Jangan pegang-pegang jok motor saya dong! Itu abis dibalur shining wax tadi subuh, nanti cap jempol minyak Mas nempel!" seru Samson sambil memasang posisi kuda-kuda... tapi jemarinya malah melengkung melambai, "lagian Papi saya selalu bayar pajak! Mas-mas ini geng dari mana sih? Geng motor apa geng arisan? Kok tagihannya enggak pakai kuitansi resmi?!"
Si Bopeng melotot kaget. Baru kali ini ada cowok berbadan tegap setinggi 178 sentimeter yang merespons ancaman geng preman pasar dengan kibasan tangan centil dan omelan masalah kuitansi.
"Lu ngajak ribut ya?!" Si Bopeng mengangkat besi ulir di tangannya, bersiap gertak lebih keras.
Tapi sebelum besi itu diayunkan, dari arah belakang tiba-tiba terdengar teriakan melengking yang jauh lebih mengerikan dari suara sirine polisi.
"HOI! PREMAN BONGSER! NGAPAIN LU PADA NGGANGGUIN LANGGANAN GUE?!"
Sesosok wanita paruh baya bertubuh jempolan keluar dari lorong pasar sambil membawa pisau pemotong daging ukuran raksasa. Itu Kak Ros, pedagang cumi asin paling galak se-Pasar Subuh.
"Eh, Kak Ros..." Si Bopeng seketika menciut, menurunkan besi ulir nya. Preman pasar setinggi apa pun tetap tahu diri kalau sudah berhadapan dengan penguasa lapak cumi.
"Pergi kagak lu pada?! Ini si Samson mau belanja cumi tempat gue! Kalau lu ganggu bisnis gue, gue jadiin cumi goreng tepung lu pada!" amuk Kak Ros sambil mengacungkan pisaunya ke udara.
Tanpa pusing menjaga gengsi, tiga preman itu langsung ngacir terbirit-birit menghilang di balik kerumunan ibu-ibu pembeli sayur.
Samson mengelus dadanya yang terasa mau copot.
"Aduh Kak Ros... makasih banyak ya! Nyaris aja kesehatan kulit wajah Samson terancam karena stres menghadapi preman barbar tadi."
Kak Ros cuma menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Samson, "lu tuh badan doang bongsor, Sam. Tapi kelakuan lu ngalahin perawan yang lagi kaget. Dah, mau beli apa lu? Cumi asin?"
"Iya dong, Kak Ros sayang, cumi asin setengah kilo, tapi tolong pilihkan yang matanya masih segar, tidak terlalu kenyal, dan warnanya jangan yang kehitaman ya. Nanti Mami saya ngomel-ngomel di rumah," jawab Samson dengan gaya manja yang bikin Kak Ros menahan napas.
"Bisa aja lu, nih setengah kilo, lima puluh ribu!" kata Kak Ros sambil membungkus cumi dengan kantong plastik hitam.
"Hah?! Lima puluh ribu?! Aduh Kak Ros, ini cumi asin apa cumi impor dari Laut Mati?! Kemarin Mami beli cuma tiga puluh lima ribu!" protes Samson sambil menepuk jidatnya heboh.
"Dua hari lalu ada badai, Sam! Nelayan susah melaut! Harga pasar lagi naik!" balas Kak Ros tak mau kalah.
"Nggak bisa gitu dong, Jeng Ros! Ini cuminya aja agak menciut gini, kayaknya kurang kebahagiaan deh selama di pengasinan, tiga puluh delapan ribu ya? Pas deh, nanti Samson doain olshop Kak Ros makin laris manis!" Samson menawar dengan kedipan mata centil yang membuat Kak Ros mendadak mual.
"Empat puluh lima ribu! Kagak bisa kurang lagi! Lu kira ini pasar kaget bisa ditawar seenaknya?!" ucap Kak Ros tetap dengan pendiriannya.
"Empat puluh ribu! Kalau enggak dapat, Samson balik kanan nih! Nanti Samson bilangin ke ibu-ibu PKK kalau cuminya Kak Ros bikin darah tinggi!" ancam Samson sambil berpura-pura hendak berbalik arah.
Kak Ros mengelus dadanya, dan kalah telak, "Yaudah! Empat puluh ribu! Ambil nih! Pusing gue lama-lama ngomong sama lu!"
Samson tersenyum puas. Ia menyerahkan uang pas empat puluh ribu rupiah dengan senyuman kemenangan. Misi pertama berbelanja cumi berhasil diselesaikan dengan keanggunan dan kemampuan negosiasi tingkat tinggi.
Dengan mengantongi kantong plastik cumi asin, cabe keriting, dan bawang merah, Samson melangkah kembali menuju motor pink pastel-nya. Wajahnya berbinar-binar. Ia merasa siap pulang dan mengklaim jatah facial gratis dari Mami atas keberhasilannya menghemat anggaran belanja sepuluh ribu rupiah.
Namun, baru saja Samson hendak menaiki motornya, sesosok wanita bertopi caping dengan celana jins robek-robek dan kaus lusuh berlari kencang dari dalam pasar. Wanita itu menabrak bahu kekar Samson hingga plastik belanjaan Samson hampir saja jatuh.
"Aduh! Mbak, kalau jalan pakai mata dong! Ini belanjaan aku hampir—"
"Awas! Sembunyiin gue cepat!" potong wanita tomboi itu kasar.
Sebelum Samson sempat memprotes, wanita misterius itu tiba-tiba menarik kerah baju Samson dan menyelinap bersembunyi tepat di balik tubuh bongsor Samson. Dan dari arah lorong pasar, muncul lima orang pria berwajah sangar mengenakan pakaian serba hitam sambil membawa kayu balok, "mana cewek yang nyuri dompet bos tadi?! Cari sampai dapat!" teriak salah satu pria berbadan tegap itu.
Salah satu pria berkayu balok itu mendadak menghentikan langkahnya dan menatap lurus ke arah Samson, "hei, lu cowok bongsor! Cewek rambut pendek yang lari ke sini tadi sembunyi di mana?!" bentak pria itu sambil mengacungkan kayu baloknya tepat dua sentimeter di depan hidung Samson.
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes pelan dari pelipis mulus Samson, membasahi lapisan sunscreen mahal yang ia aplikasikan tadi pagi. Ujung balok kayu itu tinggal selangkah lagi menyenggol kulit wajahnya.
Samson membeku. Napasnya tertahan. Wanita tomboi di belakangnya meremas pinggang Samson erat-erat sambil berbisik tajam, "Kalau lu kasih tahu gue, gue patahin tangan lu sekarang juga!"
Kini nasib Samson berada di ujung tanduk. Di depannya lima balok kayu siap menghantam, sementara di belakangnya ancaman patah tulang menanti. Mata Samson membelalak panik, jemarinya bergetar hebat saat memegang kantong plastik cumi.
"Gusti Allah... ini depan dipatok kayu balok, belakang diancam patah tulang. Nasib skincare aku gimana?!" batin Samson pasrah setengah mati.