Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 SATU BULAN
Hiruk-pikuk acara syukuran sederhana di rumah Pak Doyo perlahan-lahan mereda seiring dengan bergesernya jarum jam malam menuju pukul sebelas.
Para tetangga dan warga desa yang tadinya memadati pekarangan kini sudah berpamitan pulang satu persatu, meninggalkan sisa-sisa kehangatan yang tertinggal di udara malam yang mulai mendingin.
Terop bambu dan deretan kursi plastik pinjaman dari balai desa telah dikembalikan ke tempatnya semula oleh para pemuda karang taruna yang dengan sigap bergotong-royong hingga tuntas.
Di bagian belakang rumah, tepatnya di area dapur yang luas, suasana justru terasa lebih intim. Hanya tersisa keluarga inti: Pak Doyo, Simbok, Wiwi, dan Zaki.
Simbok tampak sibuk membereskan sisa piring kotor dan mencuci panci bekas memasak bersama beberapa kerabat perempuan yang tinggal membantu hingga larut.
Sementara itu, di meja makan kayu beralaskan taplak kain usang namun bersih, Pak Doyo menuangkan sisa air panas dari ceret ke dalam sebuah cangkir tanah liat, lalu menyodorkannya ke hadapan Zaki.
Pria paruh baya itu kembali menyalakan rokok klobot-nya, menikmati kepulan asap tipis yang membubung di bawah temaram lampu bohlam dapur.
Zaki duduk bersila di kursi kayu, menerima cangkir yang disodorkan calon mertuanya dengan takzim. Di seberangnya, Wiwi duduk dengan tenang sambil melipat beberapa lembar taplak meja yang baru saja dicuci oleh ibunya. Meskipun lelah setelah seharian berdiri menyambut tamu, rona kebahagiaan di wajah gadis itu sama sekali tidak pudar.
Pak Doyo mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan ke udara. Matanya menatap lurus ke arah Zaki, mengamati pemuda itu dengan saksama sebelum akhirnya sebuah senyuman kecil tersungging di bibirnya.
"Le Zaki..." panggil Pak Doyo dengan nada suara yang berubah menjadi lebih serius namun tetap hangat.
"Iya, Pak?" respon Zaki cepat, menegakkan punggungnya dan meletakkan cangkirnya di atas meja.
Pak Doyo merapikan duduknya. "Mumpung kabeh kulawarga lagi kumpul nang kene, lan mumpung para warga desa ya wis padha ngerti niat suci-mu wingi... Bapak karo Simbok pengen ngajak rembugan sithik babagan tujuane awakmu lan Wiwi sakteruse." (Mumpung semua keluarga lagi kumpul di sini, dan mumpung para warga desa ya sudah pada ngerti niat suci-mu kemarin... Bapak sama Simbok pengen ngajak rembukan sedikit mengenai kelanjutan tujuannya kamu dan Wiwi selanjutnya.)
Zaki menelan ludah seketika. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia tahu betul ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.
"Nggih, Pak... Zaki siap mendengarkan," jawab Zaki tulus.
Simbok yang selesai dengan urusan cucian piringnya turut mendekat, membawa sepiring kecil ubi rebus hangat dan menyajikannya di tengah-tengah meja, lalu ikut duduk di samping suaminya. Wanita paruh baya itu menatap Zaki dengan sorot mata penuh kasih sayang layaknya seorang ibu kandung sendiri.
"Begini, Le..." Simbok yang membuka suara dengan lembut.
"Lamarannya kan wis buntas, acarane ya wis bar. Miturut rembugan cilikane Bapak karo Simbok, rasah diadhe-adhe suwe. Ndak ora apik ning panyawange tangga teparo." (Begini, Nak... Lamarannya kan sudah beres, acaranya ya sudah selesai. Menurut rembugan kecilnya Bapak sama Simbok, tidak usah ditunda-tunda terlalu lama. Nanti tidak baik dipandang tetangga.)
Zaki mengernyitkan dahi pelan, rasa penasaran bercampur gugup bergelayut di benaknya. "Maksudnya, Simbok?"
"Piye nek acara ijab kabul lan resepsi prasajane kowe karo Wiwi... ditetepake sasi ngarep? Kira-kira sebulan maneh, Le?" (Gimana kalau acara ijab kabul dan resepsi sederhananya kamu sama Wiwi... ditetepake bulan depan? Kira-kira sebulan lagi, Nak?) timpal Pak Doyo langsung menembak intinya.
Seketika itu juga, mata Zaki membelalak lebar.
Satu bulan lagi???
Pikiran Zaki langsung berputar kencang, mendadak dilanda kepanikan kecil yang wajar dirasakan oleh setiap calon pengantin pria.
Bagi Zaki, rentang waktu satu bulan terasa begitu singkat, terlampau cepat untuk ukuran persiapan sebuah pernikahan—bahkan untuk ukuran pernikahan sederhana di desa sekalipun.
Zaki menelan ludah lagi, kali ini terasa lebih berat di tenggorokannya.
"S-sebulan lagi, Pak? Wah... niku ra sah kesusu ta, Pak?" tanyanya dengan nada ragu-ragu yang kentara, menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Melihat ekspresi panik Zaki, Pak Doyo justru tertawa terbahak-bahak.
Begitu pula Simbok, yang ikut tersenyum geli melihat kepolosan calon menantunya itu.
"Lho? Kenapa kaget ngono, Le? Wedi kokean gawean?" (Lho? Kenapa kaget begitu, Nak? Takut kebanyakan kerjaan?) goda Pak Doyo di sela tawanya.
Zaki tersenyum masam, merendah. "Bukannya takut kerjaan, Pak... Tapi kan... Zaki ngerasa waktunya kecepetan banget." ucapannya tertahan sejenak.
"Zaki ki ya durung nyiapake apa-apa. Tabungan Zaki jujur wae ya pas-pasan, cukup gawe urip sedina-dina lan ngramut kebun. Dokumen administrasi KUA, undangan, seragam, terus persiapan mental... Rasane kok ndadak banget yen sasi ngarep, Pak." (Zaki kan belum menyiapkan apa-apa. Tabungan Zaki juga masih pas-pasan, baru cukup untuk hidup dan ngurus kebun. Dokumen administrasi KUA, undangan, seragam, terus persiapan mental... Rasanya kok mendadak banget kalau bulan depan, Pak) lanjut Zaki.
Kekhawatiran Zaki sangatlah beralasan. Sebagai pemuda yang baru saja melepaskan diri dari hingar-bingar Jakarta dan baru merintis ulang kehidupannya sebagai petani kopi di desa, kondisi finansialnya tentu belum mapan sepenuhnya.
Di kepalanya terbayang standar pernikahan kota yang membutuhkan biaya jutaan rupiah, persiapan berbulan-bulan, dan printilan-printilan rumit yang menguras energi.
Mendengar keraguan Zaki, Wiwi yang sedari tadi hanya menunduk diam sambil meremas ujung taplak meja akhirnya mengangkat wajahnya. Gadis itu menatap Zaki dengan pandangan yang menenangkan, seolah ingin meredakan badai kekhawatiran di kepala calon suaminya itu.
Simbok lantas meraih tangan Zaki yang tergeletak di atas meja, menepuknya dengan lembut penuh pengertian.
"Le Zaki... Sing mbok bayangake kuwi mesthi tata cara rabi cara wong kitha, sing kabeh-kabeh kudu mewah, kudu kasedhian ragat akeh, lan persiapan sing ribet sasi-sasi lamane, bener ta?" (Nak Zaki... Yang kamu bayangkan itu pasti tata cara nikah cara orang kota, yang semua-semuanya harus mewah, harus sediakan biaya banyak, dan persiapan yang ribet bulanan lamanya, benar kan?) ucap Simbok bijak.
Zaki mengangguk pelan, mengakui kebenaran ucapan calon ibu mertuanya.
Pak Doyo tersenyum tipis. Ia kembali menyesap rokok klobot-nya sebelum melanjutkan.
"Kowe iki lali apa piye, Le? Kowe saiki wis dadi warga dhusun kene. Ning desa kene, rabi kuwi ora diukur saka pira gedhene biaya, nanging diukur saka pira gedhene rasa gotong royong lan kebersamaan warga." (Kamu ini sudah lupa apa gimana, Nak? Kamu kan sekarang sudah jadi warga di desa ini. Di desa ini, menikah itu tidak diukur dari seberapa besarnya biaya, tapi diukur dari seberapa besarnya rasa gotong royong dan kebersamaan warga) kata Pak Doyo dengan nada yang menenangkan.
Pria paruh baya itu meletakkan cangkirnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Zaki dengan sorot mata yang penuh wibawa.
"Masalah ragat, masalah papan, masalah tenda lan konsumsi, kowe ora usah mikir abot-abot, Le! Wingi bar acara syukuran, Mas Somad, Pak RT, lan para tangga teparo wis padha teka marani aku. Dheweke kabeh omong: 'Wis Pak Doyo, ora usah kuwatir, masalah rewang, masalah masak, masalah tenda karo kursi, ben dadi tanggung jawabe warga kene kabeh. Nak Zaki kuwi wis kaya anak kowe dhewe, mula dadi kewajibane awake dhewe milu rewang-rewang nganti adoh rampung!'"
(Masalah upacara, masalah kebutuhan, masalah tenda dan makanan, kamu tidak usah mikir berat-berat, Nak! Tadi selesai acara syukuran, Mas Somad, Pak RT, dan semua tetangga sudah bicara langsung sama saya. Mereka semua bilang: 'Sudah, Pak Doyo, tidak usah khawatir, masalah bantu-bantu, masalah masak-memasak, masalah tenda dan kursi, biarkan jadi tanggung jawab semua warga di sini. Nak Zaki itu sudah seperti anakmu sendiri, jadi sebuah tanggung jawab kita semua untuk membantu sampai semuanya selesai!') ucap Pak Doyo menirukan ucapan para tetangganya dengan logat Jawa pedesaan yang kental.
Zaki tertegun. Kalimat itu menohok langsung ke dalam relung hatinya yang paling dalam.
"Artine, Le..." (Artinya, Nak...) sambung Simbok memperjelas.
"Kowe ora kudu ngrepotake awakmu dhewe. Kabeh kabutuhan hajatanmu sesuk bakal dicepakake bareng-bareng karo warga desa. Kang Somad bakal nyumbang kelapa, Pak Lurah wis janji mbantu wedhus siji kanggo sate lan gulai, ibu-ibu tanggane kene wis patungan beras lan bumbu dapur. Sing kudu kok siapkan saiki dudu dhuwit sing akeh... nanging ati sing ikhlas lan niat sing mantep."
(Kamu tidak usah membuat repot dirimu sendiri. Semua kebutuhan pernikahanmu nanti sudah dibantu seluruhnya bersama-sama oleh warga desa ini. Kang Somad akan menyumbang buah kelapa, Pak Lurah sudah berjanji akan memberikan satu ekor kambing untuk dibuat masakan gulai, semua ibu-ibu di sini sudah patungan buat beli beras dan semua bumbu dapur. Yang harus kamu siapkan sekarang bukanlah uang yang banyak, akan tetapi hatimu yang ikhlash dan niat yang mantap.) jelas panjang lebar Simbok.
Air mata Zaki nyaris menetes mendengar betapa besarnya solidaritas dan kasih sayang yang diberikan oleh para penduduk desa terhadap dirinya—seorang pemuda pendatang yang dulu sempat merasa hidup sebatang kara dan terasing.
Tidak ada batasan sosial, tidak ada rasa sungkan yang dibuat-buat.
Semuanya bergerak atas dasar ketulusan kekeluargaan yang murni.
Zaki menoleh ke arah Wiwi. Gadis itu tersenyum manis, menganggukkan kepalanya pelan, memberikan dukungan penuh tanpa perlu berkata-kata banyak.
Senyuman Wiwi adalah validasi mutlak bahwa ketakutan Zaki hanyalah ilusi dari mentalitas individunya yang terbawa dari kota besar.
Zaki menarik napas panjang, meresapi kehangatan luar biasa yang melingkupi sekujur tubuhnya. Segala keraguan, rasa cemas, dan hambatan logis yang tadi sempat bergelayut di kepalanya seketika menguap tak berbekas, tersapu oleh ombak solidaritas warga desa yang begitu masif.
Pemuda itu menegakkan punggungnya. Garis wajahnya yang tadinya tampak tegang kini melunak, digantikan oleh senyuman tulus yang merekah lebar. Ia menatap Pak Doyo dan Simbok bergantian dengan penuh rasa takzim.
"Nek ngoten... Zaki pasrah, Pak, Mbok," (Kalau begitu... Zaki pasrah, Pak, Mbok,) jawab Zaki dengan suara yang mantap dan tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun tersisa di dalamnya.
"Yen memang warga desa sampun ikhlas mbantu, lan kabeh wis dadi dalan sing gampang saka Gusti... Zaki setuju. Pernikahan karo Dek Wiwi ditetepake sebulan lagi." (Kalau memang semua warga desa sudah ikhlash untuk membantu, dan semuanya sudah menjadi jalan kemudahan dari Allah... Zaki setuju. Pernikahan dengan Dek Wiwi ditetapkan sebulan lagi.) jawab Zaki.
Mendengar jawaban tegas itu, wajah Pak Doyo dan Simbok langsung berbinar cerah. Pria paruh baya itu tertawa lepas sambil memukul meja pelan karena kegirangan.
"Nah! Ngono dong, Le! Lanang sing genah ora usah kakehan mikir sing elek-elek! Mulai sesuk, persiapan cilik-cilikan wis bisa dicicil sethithik-sethithik!" (Nah! Begitu dong, Nak! Laki-laki yang benar tidak usah kebanyakan mikir yang jelek-jelek! Mulai besok, persiapan kecil-kecilan sudah bisa dicicil sedikit-sedikit!) kata Pak Doyo.
"Alhamdulillah..." gumam Simbok pelan, mengusap dadanya sambil tersenyum haru. Ia lantas menoleh ke arah putrinya. "Nduk, Wiwi... Sesuk kowe sing sabar ya, didandani sing apik ben dadi pengantin sing paling ayu sak kecamatan." (Nduk, Wiwi... Mulai besok kamu harus sabar ya, akan didandani jadi pengantin paling cantik sekecamatan.)
Wiwi menundukkan kepalanya, pipinya merona merah padam hingga menjalar ke lehernya. Ia hanya bisa mengangguk pelan, "Inggih, Mbok...)
Suasana dapur malam itu mendadak terasa begitu hangat, dipenuhi oleh tawa kecil dan percakapan ringan yang merencanakan masa depan.
Di tengah kesederhanaan dinding bambu dan temaramnya lampu dapur, Zaki merasa dirinya adalah orang paling beruntung di muka bumi ini.
Keputusan telah diketok.
Tanggal pernikahan telah disepakati: tepat satu bulan dari malam yang suci ini.
Zaki tidak lagi merasa takut menghadapi masa depan, karena ia tahu, ia tidak berjalan sendirian lagi. Ada Wiwi di sampingnya, dan ada ratusan tangan warga desa yang siap mendekap serta menopang langkah awal rumah tangga mereka.
Namun, di balik kebahagiaan yang meluap-luap dan persiapan kilat yang mulai berjalan keesokan harinya...
Zaki sama sekali tidak menyangka bahwa alam semesta—dengan segala misteri adat dan takdir yang tak kasat mata—telah menyiapkan sebuah ujian yang sangat berat untuk menguji keteguhan hatinya.
Sebuah ujian berbentuk peringatan mistis dari seorang sesepuh desa yang akan datang menghantam benteng logikanya dalam beberapa hari ke depan.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya