Dante Marcondes adalah Don mafia Italia yang ditakuti semua orang. Hidupnya dipenuhi kekuasaan, darah, dan aturan keluarga yang tidak bisa ia abaikan, sampai sebuah pengkhianatan membuatnya berada di ambang kematian.
Camile Fontana hanyalah perawat yang ingin menjalani hidup tenang setelah meninggalkan masa lalu kelam di negeri asalnya. Namun ketika ia menyelamatkan Dante dan mendengar rahasia yang seharusnya terkubur, hidupnya ikut terseret ke dunia pria itu: dunia penuh bahaya, kekuasaan, perlindungan, dan cinta yang tak mengenal setengah hati.
Di antara ancaman keluarga, pernikahan yang dipaksakan, dendam lama, dan rahasia yang menghancurkan, Dante dan Camile harus memilih: lari dari takdir, atau bertahan bersama di sisi paling gelap cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Namaku Camile Fontana. Usiaku 26 tahun dan aku perempuan asing yang datang dari jauh, tetapi hidupku yang sesungguhnya baru dimulai di sini, di Italia, tepat enam tahun lalu.
Aku datang ke negeri ini dengan satu koper kecil, uang yang tidak seberapa, dan keinginan besar untuk menghilang. Di negeri asalku, kisah hidupku tersusun dari teriakan, ketakutan, dan kebisuan. Aku tumbuh dalam keluarga yang penuh kekerasan, tempat cinta disamakan dengan kepemilikan, sementara rasa hormat hanya ada di aturan-aturan yang mereka paksakan. Aku lelah menjadi sasaran. Lelah merasa kecil. Lelah hidup demi menyenangkan orang-orang yang tak pernah benar-benar melihatku. Maka pada hari ulang tahunku yang kedua puluh, aku mengumpulkan semua uang yang berhasil kutabung, membeli tiket sekali jalan, menyiapkan visa pelajar, lalu pergi tanpa menoleh. Kutinggalkan apa pun yang melukaiku, dan hanya membawa keberanian untuk memulai lagi.
Aku belajar keras. Malam-malam kurang tidur, buku-buku menumpuk, bahasa baru untuk dikuasai, budaya baru untuk dipahami. Aku lulus keperawatan di sini, di Universitas Milan, dengan nilai terbaik di angkatan. Bagiku, merawat orang tidak pernah sekadar profesi. Itu caraku memberi dunia kebalikan dari apa yang pernah kuterima. Jika aku tidak mendapatkan kasih sayang dan perlindungan, aku akan memberikannya kepada siapa pun yang membutuhkan. Aku bekerja dengan kehormatan dan pengabdian. Bagiku, pasien selalu manusia, tak peduli siapa dia, apa yang ia miliki, atau apa yang pernah ia lakukan.
Sekarang aku tinggal di apartemen kecil, tetapi berada di lingkungan kota yang tenang. Tempat itu kubagi dengan Luana, sahabat dari negeri yang sama yang kukenal di kampus dan kemudian menjadi saudari yang tak pernah diberikan hidup kepadaku. Kami berdua tahu rasanya menjadi orang asing, tahu rasanya memulai lagi, tahu rasanya membangun segalanya dari nol. Dialah yang membuatku tertawa pada hari-hari sulit, yang berbagi kopi denganku setiap pagi, dan yang selalu mengingatkanku bahwa aku kuat.
Aku menyukai hal-hal sederhana: aroma kopi segar saat fajar, berjalan di jalan-jalan tua Milan ketika masih lengang, mendengarkan musik dari tanah kelahiranku pelan-pelan agar rindu tidak terlalu menyesakkan, membaca buku yang membawaku ke dunia lain. Aku menyukai perasaan setelah menunaikan kewajiban, mengetahui bahwa aku telah membuat perbedaan dalam hidup seseorang, sekecil apa pun itu. Aku tenang, pengamat yang baik, dan punya hati yang besar, tetapi aku belajar memasang batas. Aku tidak membiarkan siapa pun menerobos ruang pribadiku, tidak menerima penghinaan, dan tidak akan goyah hanya karena emas atau kekuasaan. Sejak dini aku belajar bahwa nilai seseorang terletak pada apa yang ia bawa di dalam dirinya.
Aku bekerja di Klinik San Giorgio, sebuah institusi swasta yang tertutup, terletak di kawasan elite dan terpencil. Orang-orang berkata itu tempat perawatan terbaik di Italia, dan bukan hanya karena fasilitasnya. Pasien yang datang kepada kami biasanya orang-orang sangat penting, dengan nama keluarga terkenal, kekayaan luar biasa... atau orang-orang yang tiba di ambang kematian dan membutuhkan kerahasiaan total.
Banyak rumor beredar di koridor, juga di luar sana. Katanya, San Giorgio sebenarnya rumah sakit pribadi mafia Italia. Katanya, para pemiliknya punya hubungan berbahaya, dan pasien-pasien yang datang dengan luka aneh, tembakan, kecelakaan yang mustahil, semuanya pria-pria yang terhubung dengan kejahatan terorganisasi. Aku tidak tahu sejauh mana itu benar. Yang kutahu, mereka membayar dua kali lipat, kadang tiga kali lipat, dari rumah sakit mana pun. Dan bagiku, yang sudah berjuang begitu keras merebut tempatku, yang membayar tagihanku sendiri dan ingin suatu hari punya rumah sendiri, itu membuat perbedaan besar. Selama aku berada di sini untuk merawat, menyelamatkan nyawa, dan melakukan pekerjaanku dengan etika, selebihnya... bukan hakku untuk menghakimi.
Malam itu, ketika mengenakan seragam bersih, merapikan rambut, lalu memasukkan stetoskop dan perlengkapan ke dalam tas, aku merasakan dingin merayap di sepanjang tulang punggungku. Itu seharusnya sif malam seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berbeda di udara.
Aku menatap cermin sebelum keluar rumah, membetulkan kerah, lalu menarik napas dalam-dalam. Ada sensasi aneh yang tak bisa kujelaskan, tetapi ia berkata kepadaku dengan kepastian penuh: sif malam ini tidak akan sama seperti yang lain.
Sesuatu yang besar sedang mendekat. Sesuatu yang akan mengubah hidupku dengan cara yang tak pernah bisa kubayangkan.
"Malam ini akan panjang," bisikku kepada diri sendiri, menutup pintu dan berjalan menuju klinik, tanpa tahu bahwa takdir sudah menuntun jalanku untuk berdampingan dengannya.