"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Aroma oli terbakar, derum mesin V8 yang digas tipis, dan ketukan kunci pas yang menghantam besi secara ritmis menyambut Pearl Glow Hurt saat langkah kencangnya terhenti di ambang pintu bengkel. Tempat itu jauh dari kata mewah.
Tidak ada ruang tunggu ber-AC dengan sofa kulit sintetis atau mesin pembuat kopi otomatis seperti bengkel resmi tempat ia biasa menyervis mobilnya. Dinding batunya tidak diplester halus, lantai semennya ternoda oleh ceceran pelumas hitam, dan langit-langitnya menyingkapkan pipa-pipa instalasi yang menyilang rumit.
Namun, entah bagaimana, tempat itu sangat ramai. Beberapa mobil sport eksotis—mulai dari Porsche klasik hingga Nissan GT-R rakitan khusus—terparkir rapi di balik deretan hoist hidrolik. Para mekanik berpakaian jumpsuit abu-abu kusam tampak sibuk bergelut di bawah kap mesin terbuka, bekerja cepat dan efisien.
Setelah drama empat ban mobil ditusuk oleh sekelompok mahasiswa yang terprovokasi video viral di kampus, Glow dan Angelina tidak punya pilihan lain selain memanggil truk derek.
Sang pengemudi derek menyarankan tempat ini—sebuah bengkel independen yang tersembunyi di perbatasan area industri Queens dan Brooklyn, yang konon merupakan tempat "persembunyian" terbaik untuk pengagum mesin di New York.
"Oh, shit! Ini benar-benar melelahkan," umpat Glow sambil mengibaskan tangannya ke udara, mencoba mengusir asap tipis yang melayang. Ia membetulkan letak kacamata hitamnya dengan gaya anggun yang kontras dengan latar belakang kotor di sekitarnya.
"Para mahasiswa sialan itu benar-benar membuat kerutan di wajahku! Kalau saja aku tahu siapa yang membawa pisau ke parkiran tadi, akan kupastikan mereka membayar empat ban itu beserta seluruh biaya perawatan wajahku besok!"
Angelina, yang sedang memegang lembar pendaftaran derek, menoleh dan mendesah panjang. Wajah sahabatnya itu masih memperlihatkan sisa-sisa jejak riasan yang luntur, namun rasa percaya dirinya yang membumbung tinggi sudah kembali sepenuhnya.
"Tunggu di sini, Glow," kata Angelina sambil membetulkan letak tas tangannya. "Aku akan pergi ke bagian penerimaan service di dalam untuk memastikan pengerjaan mobil kita. Jangan ke mana-mana dan tolong... jangan cari masalah lagi dengan mekanik di sini."
Glow mengibaskan tangannya, mengusir Angelina dengan santai. "Ya, ya, cepatlah. Tempat ini bau bensin."
Glow mengedarkan pandangan, mencari area yang cukup layak untuk ditempati tanpa harus mengotorinya. Di sudut ruang utama, dekat jendela berdebu, terdapat sebuah kursi kayu panjang yang kelihatan lumayan bersih. Ia menghela napas berat, merapikan rok gaun terusannya, lalu duduk dengan gerakan seanggun mungkin.
Tempat ini berisik. Suara mesin kompresor udara berdesis keras secara bertahap, diselingi oleh teriakan antar-mekanik yang saling melempar alat kerja. Lantai beton di bawah kakinya penuh dengan oli kotor dan noda minyak hitam yang melingkar-lingkar.
Glow sangat membencinya. Bagi seorang Pearl Glow Hurt yang terbiasa dengan keharuman vanila, lantai marmer kilap, dan pencahayaan hangat restoran elit Manhattan, bengkel ini adalah definisi dari area terlarang.
Sama sekali tidak ada yang menarik di tempat seperti ini, batin Glow sinis. Kalau ada pasangan yang memutuskan untuk berkencan di sini, wanita itu pasti sudah hilang akal atau pria itu terlalu Miskin untuk membayar harga restoran.
Namun, saat matanya mulai terbiasa dengan remang-remang lampu tabung fluoresens, Glow menyadari sesuatu yang aneh. Ia menyipitkan mata, memperhatikan struktur bangunan bengkel ini dari ujung ke ujung.
Strukturnya tidak biasa untuk ukuran bengkel independen di kawasan industri kusam. Dinding bagian timur bukan terbuat dari bata atau seng gelombang, melainkan jajaran kaca tempered tebal setinggi dua lantai yang dilapisi film gelap pekat.
Kaca-kaca itu membentuk sekat-sekat besar yang memisahkan area kerja berdebu dengan sebuah lorong panjang yang gelap di belakangnya. Arsitekturnya terlalu presisi, terlalu mahal, dan memiliki garis desain minimalis yang lebih cocok untuk museum seni modern ketimbang bengkel otomotif.
Kenapa bangunan ini harus penuh kaca seperti ini? batinnya heran. Aneh sekali. Benar-benar mencurigakan.
Mata Glow terus berkeliling, menyusuri garis-garis dinding kaca gelap tersebut, hingga gerakannya terhenti mendadak.
Pandangannya terkunci pada satu sosok pria yang berdiri tidak jauh dari sana, di balik bayang-bayang salah satu hoist hidrolik yang sedang mengangkat sebuah Aston Martin tua.
Pria itu berdiri tegap, mengenakan jumpsuit mekanik berwarna abu-abu gelap yang bagian lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan lengan bawah yang berotot dengan urat-urat menonjol halus dan sisa noda oli tipis di kulitnya. Rambut cokelat gelapnya yang agak berantakan jatuh mengitari dahi, namun yang membuat dada Glow berdesir aneh adalah matanya.
Pria itu sedang menatapnya. Tatapan yang tajam, dingin, dan sangat intens. Tidak ada binar kagum, tidak ada senyum menggoda, atau kebingungan seperti pria-pria lain yang biasanya memandangi Glow di jalanan New York. Pria itu hanya menatapnya seolah Glow adalah sebuah objek asing yang mengganggu ketenangannya.
Glow mengangkat dagunya, menegakkan punggungnya, dan membalas tatapan itu dengan pandangan menantang yang tak kalah tajam. Rasa gengsinya langsung membumbung tinggi.
"Oh my God... apa kau baru melihat wanita cantik?" cemooh Glow dengan suara cukup lantang, memecah ketegangan hening di antara mereka. Ia melipat tangannya di dada. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Pria itu tidak berkedip. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat sinis dan berbahaya. Ia melangkah maju satu pukulan, keluar dari kegelapan bayang-bayang mesin.
"Aku seorang kanibal," jawab pria itu. Suaranya berat, dalam, dan bergema rendah di antara kebisingan kunci pas. "Aku sama sekali tidak melihat kecantikan pada dirimu. Justru kau terlihat seperti daging yang segar."
Deg.
Jantung Glow mencelos satu detik. Tubuhnya mendadak kaku. Udara di sekitarnya seolah mendingin secara mendadak. Tatapan dingin pria itu terasa begitu nyata, membuat bulu kuduk di leher Glow berdiri tegak.
Glow membelalakkan matanya di balik kacamata hitam, berusaha keras menyembunyikan rasa terkejut yang menghantam dadanya.
"Kau membutuhkan obat, Brengsek!" tembak Glow keras, suaranya agak melengking menutupi getaran panik di tenggorokannya.
Tanpa menunggu balasan dari mekanik "gila" itu, Glow segera berbalik dengan gerakan cepat. Ia berjalan setengah berlari menjauhi area dekat hoist, menuju sudut ruangan lain yang paling jauh dari tempat pria itu berdiri.
Ia menghempaskan tubuhnya ke bangku plastik di dekat pintu keluar, menyilangkan kakinya rapat-rapat, lalu dengan terburu-buru merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Tangannya agak gemetar saat membuka layar aplikasi pencarian.
"Gila. Orang-orang di daerah Queens benar-benar gila," gumam Glow pada dirinya sendiri, mengetik kata kunci 'Pria bernama Lean New York' di kolom pencarian Google dengan gerakan jemari yang kasar dan cepat. "Kanibal? Pria bengkel sinting. Aku harus menemukan Lean secepatnya dan keluar dari tempat kotor ini!"
Selama sepuluh menit berikutnya, Glow tenggelam dalam layar ponselnya. Ia menggeser lusinan profil media sosial, direktori perusahaan, hingga daftar alumni universitas di New York, berjuang mencari nama "Lean" demi memvalidasi kebohongannya di kafe tadi siang.
Hingga tiba-tiba, sebuah teriakan histeris memecah kebisingan bengkel.
"Pearl Glow Hurt!"
Glow terlonjak dari kursinya. Dari arah lorong kantor depan, Angelina berlari kencang menuju ke arahnya. Gaun mahal Angelina agak terangkat saat ia berlari, wajahnya memerah, dan matanya membelalak lebar penuh dengan gabungan rasa terkejut dan antusiasme yang tak tertahankan.
"Oh Tuhan! Kita berhasil! Takdir begitu baik padamu!" teriak Angelina tanpa peduli lagi pada tatapan heran beberapa mekanik di sekitar mereka. Ia mengguncang-guncang kedua bahu Glow keras-keras. "Aku menemukannya! Aku menemukannya!"
Glow mendecih pelan, menarik bahunya dari genggaman Angelina dan membetulkan letak tatanan gaunnya yang agak kusut. "Apa? Kau menemukan apa? Mobilnya sudah selesai?"
"L-Lean..." Angelina berseru dengan napas memburu, dadanya naik-turun. "Aku sudah menemukan pria bernama Lean!"
Mata Glow yang tadi redup seketika membelalak sempurna. Binar keterkejutan menyapu seluruh raut wajahnya. "Apa?! Kau bercanda?!"
"Aku tidak bercanda! Aku bersumpah demi koleksi tas Hermès milikku!" cerocos Angelina cepat, menunjuk-nunjuk ke arah dalam bengkel dengan jarinya yang gemetar. "Dan kau tahu di mana aku menemukannya? Di sini! Di sini, di tempat yang sama sekali tidak terduga ini!"
Glow menegakkan tubuhnya, antusiasme yang membakar langsung menyapu bersih rasa lelahnya. Ia menggenggam jemari Angelina erat. "Di mana pria itu?! Mana orangnya?! Tunjukkan padaku!"
"Ikut aku!"
Angelina menarik pergelangan tangan Glow, membimbingnya melangkah membelah area bengkel, melewati deretan mobil yang sedang diperbaiki, menuju ke arah sudut ruangan yang remang-remang di bawah hoist hidrolik.
Glow berjalan dengan dada berdebar kencang. Bayangan tentang pria bernama Lean yang sopan, tampan, berjas rapi, dan siap membantunya membalas dendam pada skandal kafe tadi siang mulai menari-nari di kepalanya.
Namun, langkah Angelina mendadak berhenti di depan area hoist tempat Aston Martin tua terparkir.
Angelina berbalik, menatap Glow dengan binar mata yang campur aduk antara panik, takjub, dan tidak percaya, lalu mengarahkan jarinya dengan sangat pelan ke depan.
"Dia Lean," tunjuk Angelina pada pria yang sedang berdiri di sana.
Glow membeku. Seluruh darah di dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir.
Pria yang ditunjuk Angelina adalah pria yang sama—pria ber-jumpsuit abu-abu kusam dengan lengan bergulung, noda oli di kulitnya, tatapan mata sejernih es yang membekukan, dan pria yang beberapa menit lalu baru saja mengaku sebagai seorang kanibal.
Pria itu sedang berdiri memegang sebuah kunci pas tebal, menatap Glow dan Angelina dengan ekspresi datar yang sangat intimidatif.
"Kau... kau bercanda, kan?" bisik Glow pada Angelina, suaranya hampir tidak keluar. "Dia? Pria bengkel yang bilang mau memakanku?!"
"Dia orangnya, Glow!" bisik Angelina setengah menjerit di samping telinganya. "Aku baru saja melihat lisensi pemilik bengkel ini dan dokumen pendaftaran resmi di kantor depan saat membayar derek. Nama Lean bukan hanya nama panggilan biasa!"
Angelina menelan ludah kasar, menatap pria di hadapan mereka dengan pandangan gentar, lalu membisikkan nama lengkap yang tertera di dokumen resmi itu tepat di samping telinga Glow.
"Dia... Orion Leander Ashford."
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍