"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan jail
"Tidak ada yang mencurigakan" gumam Langit setelah dia berkeliling cukup lama di area perusahaan bahkan di area tempat pengiriman barang.
Langit mendekat ke arah sudut gedung pengemasan itu, dia melihat ke sekitar, tidak ada yang mencurigakan, tapi tetap aura gelap itu ada di sana dan mengikuti beberapa karyawan yang lalu lalang di tempat itu.
"Mana karyawan yang dari resort itu?" tanya Langit
"Itu, yang pakai sarung tangan merah" tunjuk Miqdam pada seorang lelaki yang sedang sibuk mengemas barang barang yang akan di kirim ke luar negri.
"Dia tidak bawa jin di tubuhnya, mungkin ada sosok yang ikut dia saat di resort" gumam Langit karena dia tidak melihat hal yang aneh dari salah satu warga kampung Mahoni itu.
Dia kembali melihat ke sekeliling tempat itu, sampai matanya tertuju pada sebuah kantung celana seorang karyawan perempuan yang terlihat terus mengeluarkan asap hitam.
"Hei kamu, apa yang kamu simpan di saku celana kamu itu?" tanya Langit membuat si perempuan itu terkejut.
"Maksud bapak? Saya tidak menyimpan apapun di saku celana saya" tanya perempuan itu.
"Jangan bohong, ada sesuatu di kantung celananya kamu, coba keluarkan" ucap Langit
"Tapi saya memang tidak menyembunyikan apapun pak" jawabnya
Miqdam yang geram langsung meminta beberapa karyawan perempuan lainnya untuk memeriksa saku celana perempuan itu, dan betapa terkejutnya semua orang saat sebuah ja*i tangan manusia ada di saku celana perempuan itu.
"Aakhhh!"
Teriakan langsung terdengar di seluruh gedung pengemasan itu, karena semua karyawan juga melihat dengan jelas kalau yang di keluarkan dari saku celana orang itu adalah ja*i manusia.
"Kenapa ke tempat kerja bawa bawa sesuatu yang tidak utuh?" tanya Langit menyimpan ja*i manusia itu di meja. Semua kegiatan di sana tiba tiba di hentikan dan semua karyawan di minta untuk keluar dengan tertib, di bantu Laut yang sudah di panggil ke sana oleh Miqdam.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya, Wika" ucap Langit melihat nama yang tertera di kartu identitas karyawan yang di pakai Wika.
"Saya juga tidak tahu pak, saya tidak tahu" jawabnya gugup dengan tangan terus meremas jemari tangannya.
"Saya akan laporkan polisi, mereka akan tahu ja*i siapa yang sudah kurang ajar berani masuk ke dalam saku celana kamu" ucap Langit sengaja sedikit menakut nakuti Wika agar mengaku.
"Jangan pak, saya mohon jangan lakukan itu, itu .... Itu ja*i milik suami saya, saya tidak terima dia meninggal jadi saya potong ja*inya supaya bisa saya bawa kemanapun dan saya merasa dia tetap ada bersama saya" jawab Wika yang bahkan sudah mengawetkan ja*i tangan tersebut.
"Innalilahi, kamu tahu tidak kalau perbuatan kamu itu sangat salah, kamu boleh mencinta suami kamu itu Wika, tapi bukan berarti kamu harus memotong ja*i tangannya untuk kamu bawa, segera kembalikan dan minta ustadz atau ahli ibadah untuk membantu kamu" ucap Langit
"Kenapa bukan Lo yang bantu bang?" bisik Miqdam
"Gue malas kalau harus menggali kuburan orang mati dan melakukan ritual pemakaman dari awal, biar ustadz lain saja lah" jawab Langit
"Aku ingin pulang..." suara Wika yang tiba tiba saja berbisik dan wajahnya sudah berubah pucat.
"Pulang ya pulang saja jangan buat orang susah, yang bawa tangan kamu itu istri kamu, jadi jangan ganggu karyawan di sini!" bentak Langit
Miqdam yang belum sadar kalau Wika kesurupan hanya bisa mengingatkan Langit untuk tidak emosi pada perempuan dengan mengusap punggung Langit.
"Pulang, antarkan aku pulang" ucap Wika
"Kamu jangan kurang ajar, istrinya dia itu galak, kamu bisa tinggal nama nanti" ucap Miqdam
"Hhhhkkkk"
"Eh.. Dia kenapa?" tanya Miqdam memeluk Langit
"Dia kerasukan arwah suaminya pe'a!" sinis Langit
"Astagfirullah, cepat usir dia bang, gue nggak mau dia nanti ngejar gue" ucap Miqdam
"Tadi aja Lo minta gue supaya jangan kasar sama dia" gerutu Langit
"Tadi beda bang, gue pikir dia nggak kerasukan"
"A'udzubillahiminasyaitoonirrojim bismillahirrahmanirrahim, kul huwallahu Ahad...." Langit mulai membacakan ayat ayat rukiyah pada Wika, Wika yang awalnya akan berlari keluar pintu gedung pengemasan itu, langsung di tahan oleh karyawan perempuan lainnya yang tahu kalau Langit dan Miqdam tidak mungkin menyentuh perempuan yang bukan mahromnya.
"Aakkkhh.. Aku mau pulang! Biarkan aku pulang! Aku akan bawa dia juga!" teriak Wika
"Ja*i tangan kamu akan di makamkan dengan layak, jadi keluar dari dalam tubuhnya, lagipula kamu hanya korin nya saja" jawab Langit.
"Aku tidak mau, dia mengusik tidurku dan aku tidak akan membiarkan dia lepas" balasnya
"Kalau begitu bersiap lenyap!" jawab Langit kembali membacakan ayat ayat yang lebih panjang lagi dan berhasil menyiksa jin yang merasuki Wika hingga asap putih mengepul dari kepala Wika.
"Ampun..."
"Pergilah dan jangan pernah kembali ke tempat ini, tempat ini bukan tempatmu karena tempat ini masih di pakai banyak manusia" ucap Langit
Bruk.
"Langsung bawa ke rumah sakit, dia sepertinya depresi karena suaminya meninggal sampai berani memoton* ja*i tangan suaminya" ucap Langit saat tubuh Wika tiba tiba ambruk tak sadarkan diri.
"Lo nggak apa apa? Tangan Lo berdarah" tanya Miqdam
"Nggak apa apa, tadi nggak sengaja nyenggol pisau yang ada di meja, mungkin karena panik mereka menyimpan pisau itu di meja dan lari keluar" jawab Langit
"Darah Danendra..."
Langit langsung melihat ke sekeliling, dia mencari tisu untuk membersihkan darah yang ada di tangannya dan langsung membersihkan yang ada di lantai juga. Dia tidak mau kalau sampai ada makhluk gaib yang menggunakan darahnya untuk masuk ke dalam hutan milik Sagara di desa Mahoni.
"Kenapa harus di bakar bang?" tanya Miqdam saat Langit membakar sisa sisa tisu yang ada bekas darahnya
"Liam bilang, darah kita tidak boleh tercecer sembarangan, ada mahkluk halus yang mengincarnya untuk bisa mendekati pohon keramat yang mereka jaga" jawab Langit
"Gue juga?"
"Semua keluarga Danendra" jawab Langit
Dia memilih untuk kembali ke ruangan Miqdam, sudah lama sekali dia tidak bekerja di perusahaan dan dia juga sudah memilih untuk bekerja di pasar Hendra, membantu ayah angkatnya itu untuk mengurus pasar yang sekarang semakin besar dan semakin di kenal luas di kawasan itu.