Indonesia
NovelToon NovelToon
Samson Otot Kawat Tulang Lunak

Samson Otot Kawat Tulang Lunak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Sci-Fi
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: PenaGabut_

Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Samson Perkasa Putra

Kata orang tua zaman dulu, nama adalah doa, namun, jika melihat takdir hidup yang dijalani Samson Perkasa Putra sekarang, tampaknya ada kesalahan pengiriman doa saat orang tuanya menggelar syukuran dua puluh dua tahun yang lalu.

Laki-laki itu bernama Samson. Nama lengkapnya sangat gagah dan menggelegar.

Samson Perkasa Putra

Terdengar seperti sosok pria pahlawan dari legenda kuno yang sanggup merubuhkan pilar batu hanya dengan mengibaskan otot dadanya.

Namun, takdir tampaknya sedang hobi bermain komedi. Alih-alih tumbuh menjadi pria berotot kawat dan bertulang besi, Samson justru berkembang menjadi spesies yang sangat langka, berotot kawat, bertulang lunak. Secara fisik, penampilan luar Samson sebenarnya sangat mendukung. Tingginya mencapai 178 sentimeter, dadanya lumayan bidang hasil dari kebiasaannya diutus mengangkat galon air, dan garis rahangnya cukup tegas. Namun jika soal tabiat, disenggol sedikit saja, gestur tubuh Samson bisa mendadak lebih gemulai daripada penari istana yang lengkap dengan jeritan histeris berfrekuensi tinggi ala diva pop era 90-an.

"Samson! Ambilin kunci pas ukuran 14 di kolong meja!" teriak Papi dari balik kap mesin mobil tua milik pelanggan. Suara pria tua itu menggelegar, memantul keras di antara dinding bengkel Perkasa Putra milik keluarga mereka.

"Sebentar ya, Papi Sayang! Agak kotor meja-nya, aku pakai sarung tangan dulu biar kuku enggak rusak!" sahut Samson dari sudut bengkel. Tangan kanannya tergesa-gesa merapikan sebuah tas pouch berisi produk skincare yang mengintip dari dalam kantong celananya.

Mendengar jawaban sang anak, Papi seketika menghentikan aktivitasnya. Pria bertubuh gempal itu keluar dari balik kap mesin, menyapu keringat di dahinya menggunakan kain majun kusam, lalu mengelus dadanya yang berbulu tebal. Terpancar raut depresi yang amat sangat dalam dari wajah bergaris tegas tersebut. Sudah dua puluh dua tahun Papi berusaha menerima kenyataan pahit bahwa putra tunggalnya lebih hafal urusan tahapan moisturizer dan sunscreen ketimbang urusan karburator mobil dan rantai sepeda motor.

Samson mulai melangkah menuju meja kerja Papi. Langkah kakinya diusahakan seluwes mungkin, berjingkat-jingkat menghindari tumpahan oli di lantai semen agar tidak mengotori sepatu sneakers putih kesayangannya. Samson kemudian berjongkok dengan gerakan yang dinilai sangat anggun, menyingkap kain penutup bagian bawah meja yang gelap dan penuh debu. Baru saja jari-jari tangan Samson yang terawat rapi hendak meraih kunci pas berukuran 14, tiba-tiba ...

SREET...

Dari balik tumpukan kardus bekas, muncul sesosok makhluk kecil. Warnanya cokelat mengkilap, badannya berkilau diterpa cahaya lampu tube bengkel, dan sepasang antenanya meliuk-liuk centil seolah sedang menyapa Samson.

KECOA.

Waktu seolah melambat bagi Samson. Pupil matanya membesar seketika. Udara di tenggorokannya mendadak tersumbat sebelum akhirnya meledak menjadi sebuah suara yang melengking.

"AAAARGGHHH! PAPI! ADA MONSTER COKLAT, KAYAK COKLAT LELEH TAPI PUNYA ANTENA! TOLOOONG! DIA MAU MENYENTUH KE KAKI AKU! PAPI!"

Samson melompat mundur secara refleks. Bukan lompatan biasa, melainkan sebuah lompatan indah ala penari ballerina yang sangat sempurna, lengkap dengan kibasan kedua tangan ke udara. Refleks ketakutan itu membawa tubuh bongsor Samson menaiki meja kerja Papi hanya dalam hitungan detik.

"Mana?! Mana musuh?! Ada perampok?!" Papi langsung pasang posisi kuda-kuda sambil menggenggam obeng minus berukuran besar. Pria tua itu mengira ada segerombolan geng motor bersenjata tajam yang sedang menyerbu bengkelnya.

"Itu, Pi! Di bawah meja! Dia natap aku dengan pandangan genit! Aku enggak sudi, Pi! Aku masih suci!" jerit Samson sambil menunjuk ke arah lantai menggunakan jari kelingking yang mencuat sempurna.

Papi menunduk. Matanya berkedip beberapa kali, memperhatikan objek yang membuat anak laki-lakinya menjerit bagaikan orang kesurupan. Di atas lantai semen, terletak seekor kecoa berukuran dua sentimeter yang bahkan sedang berjalan sempoyongan karena kepalanya baru saja terbentur kaleng cat bekas. Suara Papi mendadak berubah menjadi sangat dalam, berat, dan dipenuhi getaran kepasrahan seorang ayah. "Samson..."

"I..iya, Papi?" jawab Samson dari atas meja.

"Kamu itu namanya Samson Perkasa Putra. Tinggi kamu seratus tujuh puluh delapan sentimeter. Dada kamu sedikit kotak-kotak. Masa sama serangga yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari ibu jari kamu sendiri, kamu jeritannya ngalahin suara sirine ambulans korps brimob?!"

"Aduh Papi, ukuran itu bukan jaminan!" pembelaan Samson sambil mencoba turun dari atas meja dengan gerakan ekstra pelan dan hati-hati, memastikan area di sekitarnya benar-benar steril dari keberadaan si serangga cokelat, "kecoa itu punya kemampuan terbang tak terduga, Pi! Efek kejutnya itu lho... bikin foundation di muka aku bisa meretak karena stres mendadak!"

Papi hanya bisa memejamkan mata erat-erat. Tangan kirinya memegang dahi, seolah sedang menyesali keputusan masa lalunya yang lupa menamai anaknya "Bambang" atau "Udin" saja saat acara syukuran dua puluh dua tahun yang lalu.

Belum usai trauma psikologis yang dihadapi Samson akibat monster bercangkang cokelat tersebut, dari arah pintu samping yang menghubungkan bengkel dengan rumah tinggal mereka, muncul Mami. Wanita setengah baya yang selalu tampil dengan daster batik berwarna cerah dan gulungan rambut tinggi, ia melangkah anggun sambil membawa dompet genggam dan selembar catatan belanja.

"Ada apa sih pagi-pagi sudah heboh jerit-jerit? Tetangga sebelah sampai ngira Mami baru melahirkan anak kembar!" tegur Mami sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Ini nih, anak kesayangan kamu! Ketemu kecoa aja paniknya kayak ketemu Dajjal!" ucap Papi sambil kembali menekuni mesin mobil, mencoba melampiaskan kekesalannya pada baut roda yang keras. Mami hanya terkekeh pelan. Beliau menatap Samson dengan pandangan penuh arti—pandangan yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Samson berdiri karena pemuda itu tahu persis apa artinya ada tugas negara.

"Samson... sayang," panggil Mami dengan nada suara manis yang dibuat-buat. "Mami mau ada acara arisan sama ibu-ibu PKK jam sembilan nanti. Kamu tolong beliin cabe keriting setengah kilo, bawang merah seperempat, sama cumi asin di Pasar Subuh ya?"

Samson seketika membelalakkan mata. Jari-jari tangannya meremas ujung kaos oblong yang ia kenakan. "Aduuuh, Mami Cantik... Pasar Subuh jam segini kan beceknya minta ampun! Nanti kalau sepatu sneakers putih kesayangan Samson kena percikan takdir air becek pasar gimana? Belum lagi bau amis pasarnya pasti nempel di rambut! Samson kan baru kemarin sore creambath rasa avocado!"

Mami tersenyum sangat tipis. Senyuman dingin khas seorang ibu yang memegang kendali penuh atas finansial anak kandungnya. "Beliin sekarang, atau uang jajan buat ke salon bulan ini Mami potong lima puluh persen. Dan slot perawatan facial kamu minggu depan Mami batalkan."

Samson menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering seketika. Bagi Samson, itu bukan sekadar ancaman biasa, melainkan sebuah eksekusi hukuman mati bagi kesehatan kulit wajahnya.

"Siap, Mami Ratu! Samson berangkat sekarang juga!" seru Samson tegas, mengabaikan segala gengsi yang tersisa.

Tanpa membuang waktu, Samson menyambar kunci motor matic berwarna pink pastel. Satu-satunya kendaraan bermotor di rumah itu yang mulus tanpa noda oli.

"Dunia luar mungkin keras," gumam Samson pada diri sendiri sambil menatap bayangannya di kaca spion, "tapi Samson Perkasa Putra tidak boleh kalah hanya karena urusan air becek!"

Ia menancap gas, membelah jalanan pagi menuju Pasar Subuh yang terkenal ganas. Tempat di mana para pedagang berteriak tanpa henti, air rendaman ikan berhamburan di mana-mana, dan para ibu-ibu saling sikut demi mendapatkan kangkung harga seribu rupiah per ikat.

Namun, tepat saat Samson baru saja memarkirkan motornya di depan gerbang pasar dan menginjakkan kaki pertamanya di atas tanah basah, sebuah suara berat dari arah belakang mendadak memanggil nama lengkapnya dengan sangat lantang.

"HOI! SAMSON PERKASA PUTRA! TERNYATA BISA KETEMU DI SINI JUGA YA?!"

Samson menoleh perlahan. Jantungnya seketika berhenti berdetak.

Di hadapannya, tiga pria berbadan kekar berjaket kulit hitam melangkah mendekat. Tato naga terlihat mengintip dari balik kerah mereka, sementara tatapan mata mereka sama sekali tidak bersahabat.

Di barisan terdepan, si ketua geng berwajah bopeng menggenggam erat sebatang besi ulir di tangan kanannya.

"Aduh, jeng... aku ada salah apa lagi sama pemuda pancasila setempat?!" batin Samson panik setengah mati.

1
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk kedip^ berharap ada yang terpesona ye Son 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Coba Samson majunya pake daster dan bando pink andalan pasti lucu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Mirip menaranya papi gak tuh Mi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Daster emng is the best ya Mam 😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk kehangatan 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
hati^ bang Jarot, jangan sampe menaranya terguncang yeee 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
bener-bener bando unggulan ini 🤣🤣🤣
Siti Choiriyah
cus tak kepoin... gk seru gk tak kasih gif🤗
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwk Kenjiro bakal tersamson-samson ni 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
jangan panggil sayang son, jadi gagal paham kita 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
hati^ ye Kenjiro,,, jangan smpe terpesona sma Samson loh 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
yang ada Kenjiro kaboor karna geli samamu Son 🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw bando andalan 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkw 🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw bang Jarot 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Ayo buktikan sama si Kenjiro, Son 💪
🍓ADIRA🍓
etdah bang Jarot 🤣🤣 ambil kesempatan dalam kesempitan 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
dengerin noh Son 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
etdah ni bocahh. 🤣🤣
🍓ADIRA🍓
🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!