"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Keheningan yang pekat dan berat langsung merayap menempati setiap sudut ruangan begitu deru mesin mobil sport merah milik Angelina menghilang di balik keramaian jalanan Queens. Aroma asap knalpot yang tersisa menguap perlahan, meninggalkan bau oli kotor, bensin dingin, dan besi teroksidasi yang mendominasi atmosfer.
Orion Leander Ashford masih berdiri membeku di posisi terakhirnya. Kunci pas tebal di tangan kanannya tergenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menunjukkan tekanan luar biasa dari amarah yang ditahannya dengan sangat rapi.
Urat-urat di lengan bawahnya menegang kaku di bawah guratan noda minyak hitam.
"Tuan..."
Sebuah suara serak memecah kesunyian. Dari balik bayang-bayang rangka mobil Aston Martin tua yang tergantung pada hoist hidrolik, tiga orang pria berbadan tegap melangkah maju. Tidak ada lagi raut mekanik biasa di wajah mereka. Postur tubuh mereka tegak, mata mereka tajam memindai sekeliling, dan tangan kanan mereka masing-masing bertengger secara refleks di balik lipatan jumpsuit abu-abu—siap menyambar senjata api yang tersembunyi.
Pria yang memimpin langkah itu, Mateo—orang kepercayaan Lean yang mengawasi operasional harian bengkel—menatap ke arah pintu keluar dengan raut wajah penuh kegusaran.
"Gadis cerewet itu sudah sangat melampaui batas," bisik Mateo dengan nada dingin, matanya berkilat penuh ancaman. "Dia mengancam keselamatan rahasia tempat ini, menghina Anda, dan bertindak seolah kota ini miliknya. Apa kita harus memberinya pelajaran? Saya bisa menyuruh tim di luar untuk menghadang mobil mereka di perbatasan Brooklyn."
Lean tidak langsung menjawab. Ia memutar tubuhnya perlahan, melempar kunci pas di tangannya ke atas meja perkakas baja. Benturan besi bertemu besi memicu dentang nyaring yang bergema menusuk telinga di dalam ruangan yang sunyi.
"Tidak," jawab Lean pendek. Suaranya tenang, datar, namun sarat dengan dominasi mutlak yang tak terbantahkan. "Buang-buang waktu jika harus menculik wanita tidak berguna seperti dia."
Lean mengepalkan tangannya di samping tubuh, menarik napas dalam-dalam untuk menekan kekesalan konyol yang sempat dipicu oleh Pearl Glow Hurt. Gadis itu hanyalah sekadar gangguan kecil—sebuah ketidaksengajaan yang lewat dalam hidupnya. Yang membuat pikiran Lean bekerja jauh lebih cepat dan berbahaya saat ini bukanlah celotehan sombong Glow tentang patah hati atau bedak tebalnya, melainkan satu hal yang jauh lebih krusial.
Bagaimana mungkin dua wanita asing yang datang membawa ban mobil robek bisa mengetahui nama lengkapnya?
Bengkel yang berdiri di kawasan Queens ini dirancang dengan tingkat kerahasiaan yang sangat presisi. Di atas kertas, tempat ini hanyalah bisnis perbaikan mobil biasa bernama 'Lean's Garage'.
Tidak ada dokumen resmi, tidak ada papan nama, dan tidak ada pendaftaran bisnis di kantor distrik yang pernah menyertakan nama "Ashford". Bagi masyarakat umum dan kepolisian New York, tempat ini hanyalah bengkel independen milik seorang mekanik bernama Lean.
Namun di balik layar, tempat ini adalah basis utama dari imperium terselubung milik Orion Leander Ashford. Di balik dinding-dinding kaca tempered tebal berlapis film gelap yang tadi sempat dicurigai oleh Glow, terdapat lorong tersembunyi menuju fasilitas bawah tanah.
Di sanalah Lean menjalankan bisnis jaringan perdagangan dan distribusi senjata api rakitan kelas atas—sebuah imperium mandiri yang ia bangun sepenuhnya di luar jangkauan, kendali, dan pengawasan sang ayah, Giovanni Ashford.
Giovanni adalah penguasa New York yang memegang kendali atas bisnis legal, properti, dan politik kota. Lean menghormati kekuasaan ayahnya, namun ia menolak berdiri di bawah bayang-bayang sang kepala keluarga. Ia membangun takhtanya sendiri di balik kegelapan Queens, dan rahasia itu adalah nyawanya.
Jika seorang gadis manja seperti Angelina bisa menemukan dokumen yang memuat nama Orion Leander Ashford di meja kasir depan, itu bukan sekadar kecerobohan.
Itu adalah pengkhianatan.
"Seseorang di dalam tempat ini telah menjual identitasku," kata Lean dingin. Sorot matanya yang sejernih es menyipit, memancarkan aura membunuh yang membuat Mateo dan dua anak buahnya menahan napas.
"Tuan... kami selalu memeriksa setiap dokumen—"
"Gadis itu bilang temannya melihat lisensi dan berkas pendaftaran di meja depan," pangkas Lean, melangkah pelan menuju lorong kantor depan. "Dokumen asli dengan nama asliku tersimpan di dalam brankas baja berpasang sandi ganda di ruang kerjaku. Dokumen itu tidak akan pernah bisa keluar ke meja kasir... kecuali ada orang dalam yang dengan sengaja mengeluarkannya untuk memancing pihak luar."
Langkah kaki Lean yang terbungkus sepatu boot berat terdengar bagaikan ketukan lonceng kematian saat ia melintasi lorong remang-remang. Mateo dan dua pengawalnya mengekor ketat dari belakang dengan wajah memucat. Mereka tahu betul apa arti raut wajah Lean saat ini.
Ketika mereka sampai di area penerimaan service di depan, suasana tampak sepi. Di balik meja kasir kayu yang kusam, seorang pria muda berusia belasan akhir berpakaian mekanik kotor tampak sedang sibuk menyusun berkas nota pembayaran.
Namanya Toby—seorang anak muda yang direkrut Mateo enam bulan lalu dari jalanan keras Brooklyn karena keterampilannya merakit mesin.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Toby menoleh. Wajahnya seketika berubah pucat pasi saat melihat Lean berdiri di ambang pintu, didampingi oleh tiga pria berbadan tegap dengan tatapan membunuh.
"T-Tuan Lean..." gagap Toby, tangannya yang memegang pena mendadak gemetar. "Mobil... mobil pelanggan bergaun merah tadi sudah selesai. Nota pembayaran sudah saya masukkan ke dalam kasir."
Lean tidak menjawab. Ia melangkah mendekati meja kasir dengan gerakan lambat yang penuh intimidasi. Ia berdiri tepat di seberang Toby, memandangi pemuda itu dari balik tatapannya yang tak bergemuruh.
"Toby," panggil Lean pelan. Suaranya selembut bisikan malam, namun sanggup memicu hawa dingin yang menusuk tulang. "Berapa banyak uang yang ditawarkan oleh kelompok Italia di Brooklyn untuk satu lembar kertas berisikan nama lengkapku?"
Deg.
Pena di tangan Toby jatuh terlepas, berdenting pelan di atas meja kayu sebelum bergulir ke lantai. Tubuh pemuda itu gemetar hebat, matanya bergerak liar mencari celah untuk melarikan diri, namun Mateo sudah lebih dulu bergeser mengunci pintu keluar satu-satunya di belakangnya.
"S-saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan..." cicit Toby dengan suara yang nyaris tenggelam oleh ketakutan. "Saya cuma mekanik... saya cuma menyusun nota..."
"Gadis yang datang tadi membaca nama 'Orion Leander Ashford' di meja ini," potong Lean datar. Ia mengulurkan tangan raksasanya, mencengkeram tengkuk jaket Toby, lalu menarik tubuh pemuda itu melompati meja kasir dengan satu hentakan tanpa tenaga.
BRUK!
Toby tersungkur di lantai semen di hadapan Lean, merintih ketakutan sambil merangkak mundur hingga punggungnya menabrak dinding batu.
"Aku memberimu tempat tinggal, pekerjaan, dan perlindungan dari geng jalanan yang mengejarmu enam bulan lalu," kata Lean sambil menunduk, menatap Toby seolah melihat seekor serangga yang menjijikkan. "Dan kau membayar kebaikanku dengan meletakkan dokumen identitasku di meja depan, berharap ada orang yang melihatnya dan menyebarkannya ke seluruh kota agar musuh-musuhku menemukan tempat ini?"
"A-ampun, Tuan Ashford! Ampun!" tangis Toby pecah seketika. Pemuda itu bersujud di atas lantai semen yang dingin, menepuk-nepuk sepatu boot Lean dengan tangannya yang gemetar. "M-mereka mengancam akan membunuh ibuku! Pria-pria dari keluarga Moretti... mereka tahu saya bekerja di sini! Mereka menyuruh saya mencari bukti kalau Anda adalah anak dari Giovanni Ashford!"
Lean menatap pemuda yang bersujud di kakinya tanpa sedikit pun rasa iba. Di dunia tempatnya berpijak, alasan atau ancaman tidak pernah bisa menghapus konsekuensi dari sebuah pengkhianatan. Sekali sebuah celah kebocoran terbuka di dalam bentengnya, celah itu harus ditutup dengan semen dan darah agar tidak meruntuhkan seluruh imperiumnya.
"Eksekusi penghianat ini," perintah Lean dingin kepada Mateo, tanpa merubah nada suaranya sedikit pun. "Buang mayatnya ke Sungai East River. Pastikan orang-orang Moretti tahu bahwa pesan mereka sudah diterima... dan balasan dari Ashford akan segera menyusul."
"Tidak! Tuan Lean, tolong! Jangan! Aaaaghh!"
Teriakan histeris Toby seketika terbungkus rapat saat dua anak buah Mateo menyambar tubuhnya, membekap mulutnya dengan kain tebal, dan menyeretnya paksa menuju lorong belakang yang terhubung ke area ruang bawah tanah.
Suara seretan sepatu dan rintihan samar pemuda itu perlahan menghilang di balik pintu besi kedap suara yang tertutup rapat.
Mateo berdiri di samping Lean, membungkukkan dadanya sedikit. "Maafkan kecerobohan saya dalam memilih orang, Tuan. Saya yang bertanggung jawab atas kebocoran ini."
"Pindahkan seluruh stok senjata dari bunker sektor tiga malam ini juga," pangkas Lean tanpa memedulikan permohonan maaf Mateo. "Moretti sudah tahu lokasi ini memiliki keterkaitan denganku. Tempat ini tidak lagi sepenuhnya aman dari pengawasan."
"Baik, Tuan. Akan saya selesaikan sebelum fajar," jawab Mateo mantap. "Lalu... bagaimana dengan dua wanita tadi? Mereka sudah mengetahui nama Anda."
Lean menghentikan langkahnya yang hendak kembali ke ruang kerja. Gambar wajah Pearl Glow Hurt mendadak terlintas kembali di benaknya—seorang wanita bergaun mahal dengan tumpukan makeup tebal yang berusaha keras menyembunyikan tangisnya, wanita yang celotehan sombongnya justru menunjukkan betapa hancurnya perasaan dalam dadanya setelah dibohongi oleh pria lain.
Satu sudut bibir Lean terangkat tipis. Sebuah senyuman rahasia yang teramat dingin bercampur sedikit ketertarikan yang langka.
"Gadis itu terlalu bodoh dan terlalu sombong untuk menyadari apa yang baru saja ia lihat," kata Lean datar. "Dia mengira nama Ashford hanyalah bualan rakyat jelata yang dipakai untuk mencari sensasi. Biarkan dia."
Lean berbalik, melangkah masuk ke dalam kegelapan lorong pribadinya.
"Tapi jika dia cukup bodoh untuk kembali ke tempat ini..." sambung Lean dengan suara berat yang menghilang di balik pintu besi, "...aku sendiri yang akan memastikan dia tidak akan pernah bisa keluar lagi."
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍