"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarum emas
Malam itu acara pernikahan adat Panca dan Mirza sudah di lakukan, keduanya sudah saling memakaikan gelang di tangan masing masing, bahkan cahaya putih juga muncul ketika mereka sudah memakai gelang itu, tanda kalau mereka jodoh yang di restui oleh leluhur mereka.
"Ini acara istimewa, karena pak Sagara bisa hadir di sini" ungkap Teguh
"Saya ikut bahagia untuk mereka Mbah, apalagi Mahira juga usianya sudah cukup dan sudah dewasa menurut adat kampung juga" jawab Sagara
"Lalu bagaimana pendapat anda karena Liam menikah dengan anak angkat dari Mbah Karman?" tanya Teguh lagi
"Saya juga ikut bahagia Mbah, mereka pasangan yang serasi, lagipula Mbah Karman juga sekarang sudah banyak berubah" jawab Sagara
"Pak Sagara benar, Mbah Karman sekarang berubah banyak, lebih memperhatikan warga dan juga tidak menerima para gadis yang di berikan warga padanya untuk di jadikan selir, istrinya sekarang hanya Warti, Ikah dan Midah" ungkap Teguh
"Akan lebih baik kalau menggenggam apa yang mampu di genggam tangan kita Mbah, jangan terlalu serakah" jawab Sagara dan Teguh setuju.
"Anda tidak mau melihat anak dari Maharani pak Sagara?" tanya Rumi
"Tidak perlu Mbah, kalian juga tahu anak siapa dia dari wajahnya kan" jawab Sagara dan kedua tetua itu mengangguk.
"Dia masih belum kembali setelah pergi ke desa lain, kadang dia pulang untuk menemui Mbah Karman, saya salut dengan Mbah Karman pak Sagara, dia tidak berbuat baik pada siapapun dulu, tapi memiliki anak anak yang begitu menghormatinya" ungkap Teguh
"Itu karena dia menyayangi anak anaknya itu dengan tulus Mbah, dan ketulusan itu sampai padanya" jawab Sagara.
Di tempat para anak anak muda.
"Ayo kak Panca, jangan malu malu lagi, kan sekarang sudah sah, mau bertanya apa pada Mahira?" tanya Liam yang ikut bahagia karena Panca akhirnya mau jujur dengan perasaannya.
"Tidak perlu nanti saja" jawab Panca yang sudah menyimpan banyak pertanyaan untuk istrinya itu, tapi nanti setelah mereka punya waktu berdua.
"Kak Panca akan banyak bertanya tapi bukan di sini, pasti di tempat lain" ucap Prama membuat kedua pengantin baru itu tersipu malu.
"Ila.. Au ini" ucap Kenanga menunjuk bibir merah Mahira yang di pakaikan lipstik agar dia terlihat lebih cantik.
"Ini pakai lipstik, Kenanga mau?" tanya Mahira dan Kenanga mengangguk.
"Sini aku pakaikan, aku bawa di saku bajuku, ada banyak juga di dalam rumah" jawab Mahira
"Biar aku ambilkan yang lain" ucap Prama karena Mahira memang menyiapkan hadiah juga untuk para perempuan di kampung itu, terutama istri dari keluarganya.
Mahira meminta Kenanga untuk duduk di depannya dan dia mulai memakaikan lipstik itu, bahkan dia sengaja memberikan lipstick lipstick yang di ambil Prama pada Kenanga, Laily, Hindun dan Widia agar bisa mereka pakai karena dia membawa cukup banyak untuk stok di sana.
"Lian, cantik?" tanya Kenanga mengedipkan matanya sambil memanyunkan bibirnya
"Cantik, kamu selalu cantik meski tidak pakai make up sekalipun" jawab Liam gemas
"Nanti aku ajari pakai make up tipis ya supaya kalian tidak terlihat pucat, supaya suami kalian juga senang melihatnya, tapi dandannya di rumah saja ya" ucap Mahira mulai banyak bicara karena di sana banyak perempuan seusianya.
"Iya, kami akan dandan di rumah saja, kalau keluar malu" jawab Widia
"Kak Ani cini" panggil Kenanga
"Ada apa?" tanya Aini menghampiri mereka karena Kinanti di gendong Karman.
"Ini untuk kakak, ada bedak dan lipstik, warnanya natural jadi tidak akan kelihatan menor" ucap Mahira
"Terima kasih" ucap Aini senang.
"Kamu ajari mereka berdandan saat siang saja, lihat para suami mereka sampai terpesona melihat para istrinya jadi bidadari" ucap Panca menunjuk para suami yang sedang menatap istrinya dengan tatapan kagum karena di dandani Mahira.
"Mereka lucu, apa di sini tidak ada yang menjual make up?" tanya Mahira
"Ada, tapi tidak sekomplit di kota, kalau alat make up kamu habis, nanti kita beli ke kota saja, sekalian berkunjung ke rumah keluarga di sana" jawab Panca
"Iya, Hira juga mau ketemu Opa Adrian nanti, Opa hanya melihat pernikahan di handphone saja waktu di resort kemarin" jawab Mahira menggandeng tangan Panca dan bersandar di bahu Panca karena sudah mulai mengantuk tapi acara itu masih lama.
"Kalau ngantuk tidur saja, nanti aku bangunkan saat acaranya sudah selesai"
"Iya, Hira ngantuk karena belum tidur sejak lama" jawab Mahira membuat Panca terkekeh
"Orang kota beda ya, perempuannya yang maju duluan" bisik Rumi
"Namanya juga di kota Mbah, kalau di kota sudah biasa pemandangan seperti itu, tapi kalau Mahira saya bisa jamin dia hanya begitu pada Panca saja" jawab Miqdad
"Saya percaya pada didikan keluarga Danendra, meski kadang anak anak di rumah pak Sagara itu membuat saya kesal" balas Rumi
"Mbah bisa saja, mereka memang nakal Mbah, tapi hati mereka baik" ucap Miqdad
Acara di tutup dengan pemberian hadiah dan juga do'a dari para warga yang hadir, banyak yang mereka dapatkan mulai dari beras, emas bahkan ada yang memberikan ternak sapi juga kambing untuk kedua mempelai. Liam dan Lintang bahkan sampai terkejut karena mereka tidak mendapatkan semua itu saat menikah, ternyata itu hanya berlaku Jika yang menikah adalah tetua mereka saja.
"Kaget ya? Di sini memang begitu, yang menikah apalagi orang penting, pasti hadiahnya juga yang berharga menurut para warganya" bisik Sagara
"Iya bang, Miqdad sudah rekam semuanya karena semua keluarga kita ingin melihat acara adat pernikahan Mahira katanya sebelum kita ke sini tadi pagi" jawab Miqdad terharu karena warga di sini ternyata menerima Mahira juga.
Selesai acara, Miqdad yang tidak bisa masuk ke rumah Sagara, terpaksa harus menginap di rumah Dirman, bahkan Sagara juga ikut menginap di sana agar Miqdad tidak merasa canggung tidur di rumah orang asing.
Di rumah Sagara.
"Sedikit lagi, belum nempel ke dulinya" ucap Harsya yang sedang membantu Liam menarik jarum emas yang tertancap di pita suara Kenanga.
"Jangan tellau cepat, pelan pelan tulunnya, enelgi kak Liam hampil sampai" ucap Harsya lagi
Liam sengaja menggunakan energi miliknya untuk menarik jarum itu agar suara Kenanga bisa kembali normal, apalagi Harsya bilang jarum itu sudah hampir tertanam ke dalam pita suara Kenanga sepenuhnya.
"Yah... Ikat kak, ke kili lalu bulatkan" ucap Harsya serius dan Liam mengikuti arahan Harsya
"Hiks.. Aakhhh" Kenanga kesakitan tapi dia tetap membuka mulutnya karena ingin bisa bicara normal.