"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 15
Perlahan ...
Kelopak mata Kirana bergerak. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Awalnya hanya kegelapan. Pekat. Tidak ada suara selain detak jantungnya sendiri.
Namun ...
Samar-samar, sebuah cahaya muncul di hadapannya. Kirana terdiam. Matanya kembali berkedip. Cahaya itu semakin jelas.
"Apa ...?" gumamnya pelan.
Tangannya langsung menyentuh kedua matanya. Untuk pertama kalinya setelah dua bulan hidup dalam kegelapan ... ia melihat. Samar. Buram. Namun nyata.
Lampu ruang tamu, sofa, meja, dinding, semuanya mulai terlihat.
Air mata langsung mengalir dari kedua matanya. "Aku ... bisa melihat?" suaranya bergetar.
Kirana menutup mulutnya sendiri. Wanita itu kembali melihat sekeliling. Benar. Penglihatannya telah kembali.
Namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam pikirannya.
Kalau aku sudah bisa melihat ... kenapa selama ini suamiku mengatakan bahwa kondisiku semakin buruk ...?
Kirana terdiam. Ia mengingat semua perkataan suaminya. Dokter, obat-obatan, dan pemeriksaan, semuanya terasa janggal.
"Jangan-jangan ..." Kirana menggigit bibirnya.
Kirana mengambil tongkatnya. Kemudian berdiri. Ia sengaja berjalan seperti orang yang masih tidak bisa melihat.
Tok ... Tok ... Tok ...
Langkahnya perlahan menuju lorong belakang rumah. Menuju gudang. Tempat yang selama ini membuatnya merasa tidak tenang.
Ceklek!
Pintu gudang terbuka perlahan. Udara dingin dan bau pengap langsung menyambutnya. Kirana menahan napas. Matanya perlahan menyesuaikan dengan kegelapan. Ia melihat sekeliling. Kosong. Tidak ada apa-apa.
Namun ketika matanya mulai terbiasa sebuah bayangan terlihat di sudut ruangan. Kirana membeku. Seorang wanita tergeletak di lantai. Tangannya terikat. Tubuhnya penuh luka. Wajahnya pucat. Dan tubuh itu hampir tidak bergerak.
Kirana mendekat dengan langkah gemetar. "Bi ...?" panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban.
"Bi Titin ...?"
Kirana berlutut. Tangannya menyentuh wajah wanita itu, tubuhnya dingin. Terlalu dingin.
"BI!" seru Kirana tertahan.
Kirana mengguncang tubuh Bi Titin perlahan. Mata Bi Titin bergerak sedikit. Kelopak matanya terbuka. Ketika pandangannya bertemu dengan wajah Kirana, air mata langsung mengalir dari sudut matanya.
"Bi ..." Kirana menutup mulutnya menahan isak. "Ya Tuhan ... apa yang terjadi sama Bibi ...?"
Bi Titin mencoba membuka mulut. Namun tidak ada suara yang keluar. Hanya napas berat yang terdengar tersengal.
"Hhh ... hhh ..."
"Bi? Jangan bicara." Kirana buru-buru melepaskan lakban yang menutup mulut Bi Titin. "Bi, siapa yang melakukan ini?"
Bi Titin berusaha mengangkat tangannya. Tangannya gemetar hebat. Ia menunjuk ke arah pintu. Kirana mengikuti arah jarinya.
"Siapa ...?" tanya Kirana hampir berbisik.
Mata Bi Titin langsung membesar. Air matanya mengalir semakin deras. Ia mengangguk sangat pelan.
Kirana membeku. "Siapa Bi...?"
Bi Titin kembali lemah.
Kirana menatap wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca. "Bi ... sebenarnya apa yang terjadi ...?"
Bi Titin berusaha berbicara. Namun tenggorokannya hanya mengeluarkan suara parau yang tidak jelas.
"Jangan dipaksakan." Kirana menggenggam tangan Bi Titin erat. "Bi istirahat saja ya."
Namun Bi Titin justru menggenggam tangannya kuat-kuat. Seolah ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Matanya menatap Kirana dalam-dalam. Kemudian ia menggeleng lemah.
Ia menunjuk ke arah Kirana. Lalu menunjuk ke arah pintu. Kemudian tangannya membuat gerakan seolah sedang menutup kedua matanya.
Kirana terdiam memahami isyarat itu. "Bi ingin mengatakan ... aku harus berhati-hati?"
Bi Titin mengangguk pelan.
"Kepada siapa Bi?"
Anggukan kecil sekali lagi.
Kirana mulai menangis. "Kenapa, Bi?"
Bi Titin membuka mulutnya. Namun tidak ada suara yang sempat keluar. Tubuhnya tiba-tiba menegang.
"Hhh ..." napasnya tersendat tajam.
"Bi!" Kirana panik mengguncang bahunya. "Bi! Bertahan!"
Ia menggenggam tangan wanita tua itu sekuat tenaga. "Bi, jangan tinggalkan aku!"
Bi Titin menatap wajah Kirana untuk terakhir kalinya. Tatapan wanita tua itu terlihat begitu lembut, penuh kasih sayang dan kepedihan. Ia mencoba mengangkat tangannya yang gemetar. Jarinya menyentuh pipi Kirana perlahan.
Kemudian bibirnya bergerak pelan. Tanpa suara. Namun Kirana bisa membaca gerakan bibirnya dengan jelas: Jangan percaya ...
Kirana menangis terisak. "Bi ..."
Tangan Bi Titin perlahan jatuh. Tubuhnya menjadi lemas seketika.
"Bi?" Kirana mengguncang bahunya lagi. "Bi Titin ...?"
Tetap tidak ada jawaban.
Kirana menempelkan telinganya ke dada wanita tua itu. Tidak ada detak. Tidak ada napas. Hening. Dingin.
"Bi ...?" tangannya gemetar hebat.
"BI TITIN!"
Tangisan Kirana pecah seketika. Ia memeluk tubuh wanita tua itu erat-erat, seolah takut kehilangan kehangatan terakhirnya. Air matanya membasahi wajah Bi Titin yang sudah pucat.
"Kenapa ...?" isak Kirana tanpa suara. "Kenapa semua orang yang mencoba melindungi ku selalu pergi ...?"
Kirana menangis dalam diam beberapa saat lamanya. Namun beberapa detik kemudian tangisannya berhenti.
Perlahan ia mengangkat wajah. Tatapannya berubah. Dari kesedihan mendalam, menjadi ketakutan yang membeku. Kemudian perlahan berubah menjadi kemarahan yang membara.
Ia menatap tubuh Bi Titin yang terbaring tidak bernyawa di hadapannya.
Ia berdiri perlahan. Namun sebelum keluar dari gudang. Kirana menoleh sekali lagi kepada Bi Titin. Matanya menatap lekat wajah wanita yang telah merawatnya sejak kecil itu.
"Aku janji, Bi." Suaranya bergetar namun tegas. "Aku akan mencari tahu semuanya."
Kemudian ia berbalik dan melangkah keluar.
Ceklek!
Pintu gudang kembali tertutup rapat.
Malam harinya.
Kirana kembali ke kamar. Ia berbaring di atas tempat tidur. Matanya sengaja ditutup rapat — pura-pura buta, pura-pura tidur.
Beberapa saat kemudian ...
Ceklek!
Pintu kamar terbuka perlahan.
Kirana memejamkan matanya lebih rapat. Langkah kaki seseorang terdengar mendekat.
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Arga masuk. Ia berdiri di samping tempat tidur, menatap istrinya yang terbaring diam.
"Sayang?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Arga tersenyum tipis. Ia mengira istrinya benar-benar tertidur pulas. "Bagus," gumamnya puas. Kemudian ia berbalik dan keluar dari kamar.
Kirana perlahan membuka matanya. Ia melihat suaminya berjalan menjauh — menuju sebuah ruangan di ujung lorong.
Kirana turun dari tempat tidur pelan-pelan. Ia mengikutinya dari kejauhan. Perlahan. Hati-hati. Tanpa suara. Tanpa terlihat.
Sampai akhirnya Arga membuka sebuah pintu di ujung lorong. Dan seseorang sudah menunggunya di dalam.
Rena.
Kirana membeku di tempat. Matanya membelalak tak percaya.
"Pak Arga ..." suara Rena terdengar manja dari ambang pintu. "Kenapa lama sekali."
Arga tersenyum menggoda. "Kamu sudah siap."
Rena langsung melingkarkan tangannya ke leher Arga. Tubuhnya mendekat. Mereka semakin dekat.
Kirana berdiri beberapa meter dari mereka. Tubuhnya kaku seperti patung. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa sakit di dada.
Tidak ... tidak mungkin ... batinnya berteriak.
Namun matanya tidak bisa berbohong. Arga memeluk Rena erat. Rena tersenyum penuh kemenangan.
Kemudian mereka saling berciuman penuh gairah, saling merangkul dan melumat habis bibir mereka masing-masing.
Kirana menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Selama ini wanita itu hanya bisa membayangkan wajah suaminya dalam kegelapan. Sekarang ia melihat semuanya dengan kedua matanya sendiri.
Suaminya. Bersama Rena wanita yang selama ini ia percaya sebagai teman.
Di belakang tubuh Kirana, sebuah vas kecil hiasan di meja lorong tersenggol ujung kakinya yang gemetar.
Klek!
Bunyi benturan jelas terdengar di keheningan malam.
Arga langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh tajam ke arah lorong. Tatapannya mengarah tepat ke tempat Kirana berdiri.
"Siapa?"
Kirana membeku. Darinya seakan berhenti mengalir.
"Pak ...?" Rena ikut menoleh cemas.
Arga berjalan keluar dari kamar. Langkah kakinya cepat dan berat.
Tak ...
Tak ...
Tak ...
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,