Pout for Me, Little Mouse.
Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah Apartemen
Sementara itu, Julian telah keluar dari hotel ke mobilnya. Mark menyetir di depan Sementara Julian yang duduk di kursi belakang sedang fokus menatap laptop di pangkuannya.
Julian sedang melihat rekaman langsung Vila yang tengah menampilkan Lana yang tertidur pulas di bawah selimut sejak pukul sembilan.
Dia terus memperhatikan, Gerak-gerik nya dalam tidur, hembusan nafasnya. Sesekali memperbesar layar untuk melihat wajah gadis itu dengan lebih detail.
Dari kaca spion, Mark bisa melihat fokus itu tapi tak berkomentar.
mobil terus melaju di jalanan tengah malam hingga akhirnya di berhenti ruang parkir bawah tanah penthouse yang akan mereka tinggalkan.
"Barang-barang sudah dikemas, Sir. Milik Fraülein ternyata tidak banyak."
Julian turun dari mobil setelah Mark membuka pintu untuknya.
"Tentu saja sedikit, dia lebih suka tinggal di kandang nyamuk daripada penthouse."
Gumamnya pada dirinya sendiri saat mereka berjalan masuk, melangkah menuju lift yang membawa mereka naik ke Penthouse.
Mereka berdua telah beberapa kali berganti tempat tinggal dalam dua tahun. Yang pertama adalah penthouse solid dua lantai yang dipilih Christoper untuk kenyamanan Lana, memiliki sayap terpisah yang memudahkan mereka berdua walau kurang disukai oleh Julian.
Yang kedua adalah Apartemen biasa satu lantai minimalis yang memiliki suasana lebih teduh dan gelap, dipilih saat bulan-bulan sibuk Julian dan juga saksi banyaknya pertengkaran mereka hingga Lana memutuskan memilih tinggal di asrama.
Yang satu ini tidak terlalu berkesan, mungkin karena terlalu sering sepi.
Sabtu malamnya, Julian yang tengah bekerja di ruang kerja baru penthouse mereka mendapati dirinya menunggu tanda-tanda Lana.
Lana sementara itu sedang mengemas beberapa barang di ranselnya untuk diletakkan di penthouse atau ditukar dengan barang lainnya untuk diletakkan kembali di asrama.
Gadis itu memasukkan pakaian yang jarang digunakannya agar tidak memenuhi lemari sendangnya. Barang lainnya seperti lampu hias dan beberapa buku yang telah selesai dibaca juga dimasukkannya sampai ransel itu kaku karena overload.
Dia menutup resleting dengan puas lalu juga membawa elektroniknya karena akan menginap di penthouse sampai senin.
Perjalanan ke penthouse dengan petunjuk alamat yang diberikan oleh Julian rupanya bukan tempat yang jauh. itu hanya sekitar lima belas menit ke kampus.
Cuacanya gerimis saat Lana menyetir di jalanan basah menggunakan BMW nya, Atau sebenarnya adalah milik Julian.
Julian masih fokus pada Komputer yang menyala, wajahnya terkena cahaya sementara kacamata yang sedang ia pakai memantulkan.
Suara langkah kaki Lana yang khas membuat Julian mendongak seketika.
Dalam beberapa detik, Lana menengokkan kepala dari ambang pintu. Ranselnya dah dilempar ke sofa di bawah mungkin.
"Kau masih bekerja?"
Tangan Lana masih di kenop pintu. Julian memutar kursi menghadap ke arahnya sambil melepaskan kacamatanya dan menyisihkannya.
"Benar, Kemarilah."
Julian hanya mengenakan Jubah sutra Navy yang membuat dada berotot itu terbuka. Lana mendekatinya, Pakaiannya masih celana olahraga dan jaket
Saat Lana mendekat, ia melihat komputer Julian menampilkan grafik rumit yang naik turun tidak stabil tapi terus naik.
Tanpa peringatan, Julian menarik Lana hingga duduk di pangkuan membuat gadis itu terkesiap.
"Merindukanku?"
"Aku? tentu saja tidak."
Lana mengalihkan pandangan dengan wajah tidak senang itu.
"Masih marah karena tanggal? Aku melakukan hal yang benar. Jika tidak kau tidak akan pernah setuju kan?" Tuduhnya lembut.
Bibirnya mulai menyentuh lehernya di atas kerah jaket yan dikenakan. Lana mendorong wajahnya menjauh membuat Julian mendongak.
"Tunjukkan kamar milikku. Aku mau menata barang."
Lana menjauhkan mereka dengan acuh menolak sentuhan yang dia tau bisa menghanyutkan suasana diantara mereka.
"Sekarang? Pertama-tama cium aku dulu."
Julian menarik Lana lebih dekat menunggu dia melakukannya.
"Tidak mau!"
"Tidak mau? aku tidak akan melepaskanmu sampai kau menciumku."
Julian tetap menarik Lana ke arahnya sehingga gadis itu tidak bisa melepaskan diri dari pelukannya yang rapat, Dia tersenyum paus melihat Lana yang memerah dan ragu untuk melakukan inisiatif atas perintah itu.
"Jika tidak mau tak apa, Aku bisa memelukmu sepanjang malam."
Julian memeluknya, menghirup aroma di pundak dan leher.
Lana mengerutkan alis dan bibirnya sambil menciumnya dengan setengah hati. Julian menyambutnya dengan penuh semangat, membuka bibir lana lebar-lebar. Melamar lidah nya dengan lidahnya hingga wajahnya memerah.
Setelah melepaskannya, Julian menyeka saliva yang tertinggal dengan jarinya.
"Satu lagi."
Tuntutnya, kali ini tidak menunggu Lana menjawab, kembali menciumnya.
"Kapan kau belajar sedikit lebih agresif?" Gumamnya di sela ciuman.
Dari sudut pandangnya, Julian melihat bibir itu menempel sementara gadis itu memejamkan mata dengan pipi halusnya yang memerah. Pemandangan itu membuatnya semakin gila.
Lidahnya membelah bibir Lana dalam ciuman yang berlangsung lama sampai akhirnya melepaskannya, membuat gadis itu bernafas pendek.
"Lihat? tidak sulit." Jarinya menyentuh bibir bawah Lana.
Julian mengangkat Lana tiba-tiba, membuatnya harus berpegangan untuk menjaga keseimbangan.
"Ada apa?"
Lana dengan bingung, Dibawa berjalan keluar ruang kerja. Julian menjawab dengan senyum misterius.
"Katanya kau ingin melihat kamar."
Dia kembali melancarkan ciuman bertubi-tubi sambil membawa Lana ke kamar utama. Di depan pintu itu mengangkat wajah sedikit.
"Apakah penthouse ini cukup untuk selera orang cerewet sepertimu?"
Julian menunjuk ke sekitar dengan dagunya lalu masuk ke dalam kamar utama dengan dagunya, dari ambang pintu terlihat melihat Barang-barang ditata rapi di dalam.
Lana tercengang melihat Bukunya ditata di rak bersebelahan dengan buku Julian. Deretan produk perawatan kulit Juga bersebelahan.
Julian menurunkannya perlahan di tengah ruangan.
Lana segera membuka ruang lemari dan menemukan itu juga diatur dengan pakaian mereka berdua.
"Apa ini?! mengapa tempat ini berubah menjadi ruangan suami - istri."
Lana meletakkan satu tangan di pinggul dengan satu tangan lainnya menunjuk contoh lemari dengan pakaian dua orang berdampingan.
"Bukan berubah, Sayang. Memang sengaja demikian."
Julian duduk bersandar di kepala tempat tidur melihat respon Lana dengan senyum puas yang menunjukkan bahwa dia adalah dalangnya.
"Oh tidak, tidak, tidak. Aku tidak mau satu kamar denganmu."
Lana menggeleng kesal seperti anak kecil bagi Julian sebelum meluncur keluar dari kamar tiba-tiba.
"Menolak calon suami? kejam sekali." Julian berdiri perlahan dan mengikutinya.
Dia melihat Lana berjalan ke arah pintu berwarna putih gading di dekat kamar yang kemungkinan adalah kamar kedua.
Lana mendekat dan mencoba Kenopnya. Terkunci.
"A-Apa? dikunci."
Julian berjalan di belakangnya dan meletakkan lengannya ke pintu di samping Lana dengan santai.
"Memang, Kau akan tidur sekamar denganku, di tempat tidurku, bersamaku. dilarang membantah."
"Gila ya, aku tidak akan tahan dengan dengkuran mu."
"Apa kau bilang? aku tidak mendengkur."
Julian memegang dagu Lana dan membawa tubuhnya melangkah ke dekatnya perlahan.
"Kau dilarang tidur di kamar lain. akhir kalimat."
"Kau menghabiskan tempat!"
"Tempat tidur itu King size."
Lana menatap mata Julian yang gelap, wajahnya teguh dan menolah dibantah dan lana yang enggan dan keras kepala.
"Kamar itu sudah ku gunakan untuk menyimpan barang-barang milikmu." Julian menunjuk dengan ibu jarinya.
"Mengapa Tidak kau letakkan saja di gudang?!"
Lana mengetuk-ngetuk pintu kayu dengan jengkel, Julian berkilat kesal.
"Kau pikir Barang-barang ku adalah rongsokan?"
"Lalu aku akan menggunakan kamar ketiga di bawah."
Lana segera berbalik dengan santai untuk mencari pintu kamar lainnya.
Julian mendengkus geli. bersandar ke dinding menyilangkan tangan melihat Lana yang sedang berjalan menjauh.
"Sayangnya, tidak ada kamar ketiga dan keempat."
Katanya dengan bangga, Lana berhenti di tengah langkah laku menoleh sambil mengangkat alis mencoba mencari tahu kebohongan di wajahnya.
"Disana, Adalah pintu untuk perpustakaan." Julian menunjuk pintu Navy dengan dagunya.
Dia berjalan mendekat menyusul Lana sambil memegang pundaknya dari belakang sambil menunjuk pintu lainnya.
"Disana untuk kita nonton televisi, Yang itu pintu ke balkon, sebelah sana adalah pintu ke atap."
"Ini konyol! Kau membeli penthouse sebesar ini dengan jumlah kamar hanya dua?!"
"Memang, Sekarang berhenti protes dan mandi. kau bau debu jalan raya dan asrama jelek."
Julian menghirup aroma di pundak Lana melalui jaketnya.
"Ataukah aku harus membantumu mandi?"