Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Terik matahari siang perlahan surut, berganti dengan pekatnya malam yang merayap dingin di kompleks perumahan elit itu. Di luar pagar besi tinggi yang terkunci rapat, mobil sedan tua milik Bian masih terparkir di tepi jalan. Di dalamnya, Bian dan Salma duduk merana dalam kungkungan hawa pengap dan perut yang melilit lapar. Usai Devan masuk ke rumah dan meninggalkannya begitu saja, Bian sebenarnya enggan pergi. Ia menolak menyerah. Dengan sisa-sisa kesombongan yang menggebu, ia memilih bertahan di dalam mobil bersama koper-koper yang berserakan, bergeming menunggu kepulangan Husna. Bian yakin, begitu Husna pulang dan melihat dirinya terusir, hati wanita yang mendampinginya belasan tahun itu akan luluh dan memarahinya Devan.
Di kursi samping, Salma sudah kelelahan menangis. Matanya sembap, wajah cantiknya kusam tertutup coretan riasan yang luntur. "Mas... kita mau sampai kapan mendekam di mobil kayak begini?" bisiknya parau, suaranya gemetar menahan dinginnya AC mobil yang makin melemah. "Uang tabungan aku melayang di swalayan, sekarang kita malah tidur di pinggir jalan kayak gembel! Aku lapar, Mas!"
"Diamlah, Salma!" bentak Bian kasar dengan napas terengah. "Kamu pikir saya tidak lapar?! Kita tunggu Husna pulang! Husna itu tidak mungkin setega Devan. Dia pasti tidak tahu apa-apa soal ulah anak-anaknya. Begitu Husna sampai, saya akan minta dia usir Devan dan bukain pintu paviliun buat kita."
Salma bersedekap dada sambil mengerucutkan bibirnya, merutuki nasibnya yang mendadak berubah drastis dari impian menjadi nyonya kaya raya menjadi wanita tersingkir di dalam sedan rongsokan. Karena kantuk dan lelah yang luar biasa usai dihantam kenyataan pahit sepanjang hari, kedua insan yang diselimuti keserakahan itu akhirnya tertidur pulas di dalam mobil dengan posisi saling membelakangi.
TINNN! TINNN!
Suara klakson nyaring yang memekakkan telinga mendadak bergema keras, membelah keheningan malam yang sunyi. Suara raungan mesin mobil mewah bernada berat bergetar tepat di belakang sedan Bian, membuat lantai jalanan seolah ikut bergetar.
"Aplikasi! Mas! Gempa, Mas!" jerit Salma histeris, langsung tersentak bangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah dan rambut acak-acakan.
Bian yang ikut terkejut setengah mati hampir saja membenturkan kepalanya ke roda kemudi. Dengan mata merah dan pandangan yang masih kabur, Bian mengusap wajahnya kasar lalu menengok ke kaca spion tengah. Cahaya lampu tembak yang sangat menyilaukan sorot langsung dari arah belakang, menyiram kabin mobil mereka hingga terang benderang. Sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam legam mobil yang dibawa Deka seharian ini telah terparkir tepat di belakang sedan mereka.
Di dalam kabin SUV mewah yang hangat, Husna terperanjat kaget mendengarkan lengkingan klakson yang sengaja dibunyikan oleh putra bungsunya. Husna menoleh kaget ke arah Deka yang duduk santai di kursi pengemudi dengan setir di genggamannya.
"Deka! Kamu ini kenapa kok malah klakson keras-keras malam begini, Nak?"
tegur Husna penuh kebingungan, mengelus dadanya yang berdebar kencan.
"Tetangga nanti terganggu, sayang."
Deka tidak langsung menjawab. Remaja tampan itu justru menyunggingkan senyuman miring yang begitu manis namun sarat akan kejahilan dan kepuasan tersembunyi. Sebenarnya, jujur dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Deka sangat ingin murka dan meluapkan amarahnya begitu melihat mobil ayahnya masih lancang nongkrong di depan rumah ibunya. Namun, Deka sadar ia harus bermain cantik. Melihat ayahnya dan wanita selingkuhannya meringkuk kelaparan di dalam mobil dari siang sampai malam saja sudah cukup membuat dada Deka merasa sangat puas. Rencana kejutan yang ia susun bersama Devan berjalan tanpa cela.
"Nggak apa-apa, Bun. Cuma mau bangunin tamu tak diundang yang ketiduran di depan pagar rumah kita," sahut Deka santai sambil mengerlingkan matanya.
Husna mengerutkan keningnya, menatap ke luar kaca depan. Begitu melihat barisan koper, kardus, dan sosok Bian beserta Salma yang keluar dari sedan dengan tubuh sempoyongan, mata Husna seketika melebar.
"Dek... apa yang kamu lakukan sama Devan sebenarnya?" tanya Husna dengan nada menuntut, menatap mata anak bungsunya lekat-lekat. Husna mengenali betul tabiat dua putra kembarnya tidak mungkin barang-barang sebanyak itu berserakan di jalanan kalau bukan hasil perbuatan si kembar.
Deka memutar tubuhnya menghadap Husna, menatap ibunya dengan binar mata polos penuh rasa kasih sayang.
"Deka cuma ngerjain apa yang pernah Bunda bilang dulu," bisik Deka lembut namun tegas. "Kan kata Bunda... kita boleh melampiaskan kekesalan dan kemarahan kita atas perlakuan Ayah, asal tidak lewat kekerasan atau main fisik. Jadi, Deka sama Devan melampiaskannya lewat tindakan hukum dan ketegasan, Bun. Kita cuma bersihin rumah Bunda dari orang-orang yang gak tahu diri."
Husna menghela napas panjang. Ada rasa haru yang menyelusup di dadanya melihat betapa protektifnya si kembar menjaga dirinya, meski di sisi lain ia geleng-geleng kepala melihat aksi nekat kedua putranya.
Belum sempat Husna menjawab, pintu utama rumah mewah itu terbuka. Devan melangkah keluar dengan setelan kaus santai, berdiri di samping pagar seraya menyambut kepulangan mobil adiknya.
Melihat pintu SUV terbuka dan Husna melangkah turun anggun dengan balutan busana kasual yang elegan, Bian langsung berlari menghampiri dengan wajah memerah, disusul Salma yang pincang memegangi kakinya yang pegal.
"Husna!" teriak Bian meluapkan amarahnya yang tertahan seharian. "Kamu lihat ini Husna! Lihat apa yang dilakukan anak-anak kamu. Si Devan ini kurang ajar sekali! Dia berani buang semua barang-barang Mas dan Salma ke luar pagar. Dia ngusir suami kamu sendiri dari rumah, Husna! Kamu didik apa anak-anak kita sampai berani durhaka begini?."
Salma yang merasa mendapat angin segar ikut menyambar dengan suara melengking. "Iya, Mbak Husna! Devan itu keterlaluan banget! Kita dibiarkan kehalangan dan terlantar di depan pagar dari siang! Mana sopan santunnya sebagai anak muda?"
Husna berdiri tegak di samping Deka dan Devan yang kini mengapitnya dari kiri dan kanan. Wanita anggun itu menatap Bian dan Salma bergantian dengan pandangan mata yang sangat tenang, dingin, dan tanpa sedikit pun riak kasihan.
"Ya kan anak-anak cuma bertindak, Mas," jawab Husna santai, memotong omelan Bian dengan suara teratur yang menohok hati. "Lagian enggak ada yang salah dari tindakan Devan. Harusnya kan kamu dan istri muda kamu ini bisa mandiri, Mas. Masak sudah tua begini masih numpang hidup di rumah istri pertama?"
Mendengar kata numpang, Salma seketika tersentak tidak terima. "Mbak Husna! Jaga ya bicara Mbak! Mas Bian itu punya hak atas rumah ini! Kita tinggal di paviliun, bukan di rumah utama."
Husna menyunggingkan senyum tipis yang amat sinis sebuah senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan.
"Mbak, kamu enggak numpang di rumah suami kamu ya?" balik Husna menatap Salma telak. "Perlu saya tegaskan lagi? Paviliun belakang itu juga masuk ke dalam satu sertifikat surat tanah milik saya. Jadi mau rumah utama, mau paviliun, itu semuanya properti bawaan saya. Kamu sama Mas Bian memang murni numpang di sini."
Wajah Salma seketika memerah padam. Ia tak menyangka sang nyonya besar yang selama ini terlihat diam dan lembut ternyata bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu menusuk.
Bian yang merasa harga dirinya hancur berkeping-keping di depan kedua anaknya makin tersudut. "Husna! Kamu jangan sejahat ini sama suami sendiri! Kamu tahu kan bisnis swalayan Mas lagi kena masalah berat?, Kamu mau bikin Mas mati kelaparan di jalanan bersama Salma?"
Husna menatap mantan belahan jiwanya itu dengan raut wajah iba iba melihat betapa menyedihkannya seorang pria yang hancur akibat keserakahannya sendiri.
"Sebaiknya kalian tinggal di bangunan swalayan saja, Mas," ujar Husna memberikan saran dingin. "Kan di sana lumayan, banyak bahan makanan juga kan, Mas? Jadi kalian tidak akan mati kelaparan."
Bian terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Husna... kamu... kamu tahu soal masalah di swalayan?" tanya Bian dengan nada suara yang bergetar, memendam malu yang amat luar biasa.
"Tahu dong, Yah! Orang berita swalayan Ayah bangkrut dan ditinggal resign massal sama karyawan lagi trending kok di grup-grup kuliner dan media sosial lokal." sela Deka dengan suara lantang seraya mengacungkan layar ponselnya tepat di depan muka Bian. Layar itu menampilkan foto bangunan swalayan Bian yang terpasang spanduk segel beserta narasi kehancuran bisnisnya.
Lidah Bian seketika kaku. Ia mematung bagaikan patung batu di bawah sorot lampu jalan. Segala kebohongan, kesombongan, dan kebanggaan palsu yang selama ini ia bangun di hadapan Husna runtuh tak berbekas dalam sekejap mata.
Devan melangkah maju satu tapak, merangkul bahu ibunya dengan hangat sambil menatap ayahnya dingin. "Barang-barang Ayah sudah di luar semua. Pagar mau Devan kunci total. Silakan pergi dan mobil tua Ayah serta angkut istri muda Ayah pergi dari area perumahan ini sebelum Pak Agus panggil petugas keamanan kompleks untuk nyeret kalian berdua."
Bian menatap Husna dengan pandangan memohon, berharap ada keajaiban. Namun Husna justru berbalik badan, menggenggam tangan Deka dan Devan dengan penuh kasih sayang.
"Yuk, Nak. Kita masuk. Udara malam tidak bagus buat kesehatan," ajak Husna lembut.
"Siap, Bunda," sahut si kembar kompak.
Pintu pagar besi yang kokoh digeser rapat oleh Pak Agus lalu dikunci dengan gembok besar. Pintu utama rumah mewah itu pun tertutup rapat, menyisakan lampu-lampu taman yang hangat di balik pagar.
Di luar jalanan yang makin larut dan dingin, Bian dan Salma berdiri terpaku di samping barisan koper mereka. Di bawah temaram lampu jalan, tidak ada lagi senyum kemenangan atau kemewahan. Yang tersisa hanyalah keputusasaan mendalam dari dua orang yang harus menelan pahitnya kemelaratan akibat perbuatan mereka sendiri.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?