Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Anak Juragan

Dinikahi Anak Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: ntaamelia

Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.

Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.

Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Lamaran Sang Juragan

Sudah satu bulan sejak kepulangan Cakra. Selama satu bulan itu pula Diyah banyak mengurung diri di dalam kamar. Hanya buku diary yang menjadi teman setia untuk mencurahkan segala keluh kesahnya.

Tirai jendela tetap tertutup. Makanan yang diantar ibu tirinya sering kali hanya disentuh beberapa suap. Wajah ceria Diyah menghilang, berganti mata sembap yang tak pernah benar-benar kering.

Dia berkali-kali membaca ulang pesan-pesan lama dari Cakra.

["Kalau aku sukses, kamu yang pertama aku bahagiakan."]

["Tunggu aku ya, Sayang."]

["Aku nggak akan ninggalin kamu."]

Setiap kalimat kini terasa seperti ejekan. Hingga Diyah mematikan layar ponselnya, karena air matanya kembali jatuh tanpa diminta.

"Kenapa aku masih berharap sama orang yang sudah memilih wanita lain?" gumamnya lirih.

Bersamaan dengan itu, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu.

"Diyah, Nak," panggil Jaya—ayahnya dengan lembut. "Keluar sebentar ya."

"Aku belum lapar, Pak," jawab Diyah dengan suara sumbang. Dan Jaya tahu persis apa yang membuat putrinya seperti itu.

"Bukan soal makan."

"Aku capek."

Jaya mengembuskan napas pelan dari balik pintu, tidak memaksa Diyah.

"Kalau begitu istirahatlah."

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki itu menjauh. Diyah memeluk guling erat-erat, dia sadar terus menangisi Cakra tak akan mengubah apa pun, hingga menjelang siang akhirnya dia membuka pintu kamar.

"Aku mau pergi ke kebun saja, Bu," katanya pelan.

Nuni yang merupakan ibu tiri Diyah langsung mengangguk.

"Baguslah, nangis terus juga nggak ada guna. Atau nggak ikut adikmu itu lho, katanya dia ada panggilan nyanyi di desa sebelah," papar Nuni sambil menggerakkan dagunya menunjuk Sarmila yang sedang make up—putri kandungnya yang dia bawa saat menikah dengan Jaya.

Diyah menggeleng pelan. "Nggak, Bu, aku males sama keramaian."

Baru saja ia mengenakan caping dan hendak melangkah keluar rumah, sebuah mobil hitam berhenti di halaman. Mobil itu begitu mencolok di kampung mereka.

Tak lama seorang pria turun dengan pakaian rapi. Dia tersenyum sopan.

"Permisi," katanya.

Ayah Diyah segera menyambut. Dia terkejut karena yang datang adalah Surya, asisten Juragan Marta—orang yang paling dihormati di desa ini dan tak asing lagi di telinganya.

"Silahkan masuk, Pak Surya," ujar Jaya dengan matanya yang saling tatap dengan sang istri. Dia menerka-nerka ada apa kiranya asisten Juragan Marta sampai datang ke rumah ini.

Surya mengangguk lalu duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian, seorang gadis berpakaian mencolok keluar dari dalam rumah sambil menenteng tasnya.

Dialah Sarmila, adik tiri Diyah yang menjadi biduan desa.

"Ada tamu siapa, Pak?" tanya Sarmila sambil mengangguk menyapa Surya.

"Asisten Juragan Marta," jawab Jaya.

Mata Sarmila langsung berbinar, melupakan niatnya untuk segera pergi ke desa sebelah.

"Wah... ada perlu apa?"

Surya tersenyum sopan.

"Saya datang menyampaikan maksud baik dari Juragan Marta."

"Apa itu?" Jaya langsung menyambar, karena merasa sangat penasaran.

"Beliau berniat melamar salah satu putri Bapak," jawab Surya, sesuai dengan mandat yang diberikan oleh atasannya.

Mata Sarmila berubah terbelalak.

"Melamar?" ulangnya dengan nada yang naik satu oktaf.

Surya mengangguk cepat.

Wajah yang semula antusias langsung berubah masam. Dalam benak Sarmila, Juragan Marta adalah pria berusia lebih dari enam puluh tahun yang tak tahu diri, mentang-mentang punya uang, nyari istri sudah seperti beli kuaci— mana maunya yang muda lagi.

"Hah? Maksudnya Juragan Marta sendiri yang mau menikah?" tanya Sarmila menggebu.

Surya belum sempat menjelaskan. Namun, Sarmila sudah lebih dulu menggeleng keras. Sedari tadi dia memang paling banyak mengoceh.

"Nggak! Aku nggak mau!"

Ayahnya mengernyit.

"Mila ...."

"Aku masih muda. Masa disuruh nikah sama orang tua. Walaupun uang Juragan Marta banyak, dia nggak bisa seenaknya," cerocosnya tak habis-habis.

Ibunya ikut menenangkan, dengan memeluk lengan Sarmila. "Dengar penjelasan dulu, Nak."

"Nggak usah! Pokoknya aku nggak mau!"

Suasana menjadi canggung. Bahkan wajah Jaya sedikit pucat karena tingkah dan ucapan putrinya.

"Maaf ya, Pak Surya," ujarnya.

Surya hanya tersenyum kecil, memaklumi semua kesalahpahaman itu. Namun, sebelum dia sempat menjelaskan bahwa yang akan menikah adalah putra Juragan Marta, Sarmila kembali berbicara.

"Kalau memang harus ada yang nikah, mending Kak Diyah saja."

Semua mata langsung tertuju pada Diyah yang berdiri di dekat pintu sambil membawa keranjang dan cangkul kecil.

Diyah tertegun. Padahal sedari tadi dia hanya diam, kini dia malah jadi sasaran.

"Ke—kenapa aku?" tanyanya terbata.

"Iya." Sarmila menunjuk kakaknya tanpa ragu. "Kak Diyah saja. Kakak kan baru diputusin sama pacarnya. Siapa tahu masih mau nikah sama juragan tua." lanjutnya sambil terkekeh.

Mendengar itu, wajah Diyah memucat. Bahkan dia kesulitan untuk menelan ludahnya.

Jaya langsung menegur.

"Mila! Jaga bicaramu."

"Apa? Memangnya salah?"

Sarmila menatap kakak tirinya dengan senyum mengejek.

Diyah menarik napas panjang. Dadanya kembali terasa sesak saat luka yang belum sembuh itu disebut di depan orang lain.

Surya memperhatikan gadis berwajah teduh yang sejak tadi tidak banyak bicara itu.

Pakaiannya sederhana. Tangannya masih membawa perlengkapan berkebun. Tak ada riasan di wajahnya, tetapi sorot matanya menunjukkan ketegaran yang berbeda.

"Maaf, Pak," kata Surya akhirnya, ingin meluruskan perdebatan. "Sepertinya telah terjadi salah paham."

Semua menoleh kepadanya.

"Juragan Marta tidak berniat melamar untuk dirinya."

Sarmila berkedip bingung.

"Lalu?"

"Beliau ingin mencarikan istri untuk putra sulungnya."

"Putranya?" ulang Jaya.

Surya mengangguk sambil tersenyum.

"Namanya Biyakta Kusuma. Dia ingin melamar putri Bapak yang bernama Diyah."

Deg!

Jantung Diyah seperti berhenti berdetak. Nama itu terdengar cukup asing. Karena yang orang-orang tahu bahwa Juragan Marta memiliki dua putra yang jarang terlihat karena lebih banyak bekerja dan mengurus usaha keluarga.

Surya melanjutkan dengan sopan.

"Saya belum datang membawa lamaran resmi. Hari ini saya hanya ingin menyampaikan niat baik keluarga Juragan Marta. Jika keluarga Bapak berkenan, beberapa hari lagi Juragan Marta akan datang sendiri untuk bersilaturahmi."

Rumah itu kembali diliputi keheningan.

Sementara itu, Diyah sama sekali tidak tertarik mendengar pembicaraan tersebut, karena luka yang ditinggalkan Cakra masih terlalu baru.

Tanpa berkata apa-apa, dia mengangkat keranjang di tangannya.

"Pak, Bu, aku ke kebun dulu."

Diyah melangkah pergi sebelum siapa pun sempat menghentikannya.

Di sepanjang pematang sawah, Diyah terus berjalan sambil menahan gejolak di dadanya.

"Aku baru saja kehilangan seseorang yang kucintai," bisiknya lirih. "Kenapa sekarang malah datang lamaran dari orang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya? Biyakta, orang seperti apa dia?"

Diyah tidak menyadari bahwa nama Biyakta Kusuma perlahan akan mengubah arah hidupnya, dan pertemuan mereka kelak akan menjadi jawaban atas patah hati yang selama ini ia anggap sebagai akhir dari segalanya.

1
Septi
good . bawa aja Diva
Margaretha Indrayani
bawa saja diva ya diyah, kasihan jadi korban ibu dan ayahnya😡😡😡😡😡😡
Radya Arynda
up lagi thoooor
si pecudang arumi semogah cepat dapat karma,,,,
Dien Elvina
sdh bawa aja adik mu Dyah kasian dia dgn s Rumi berasa hidup d neraka .. apalagi suaminya yg kasar n suka mabok ..ibu mu biarkan saja bahaya klo dia d bawa bisa jadi bumerang buat rmh tangga mu Dyah
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
sudah bawa saja adik mu ikut pulang ke rumah kamu Diyah. tapi ..jangan smapai ajak ibumu. daripada nanti malah jadi bumerang dalam kehidupan rumah tangga kamu. mengingat ibu kamu yang serakahh dan jahatt. Dan jangan mau menjadi ATM ibu kamu. ibu kamu masih muda dan dia juga punya suami. biarkan ibu kamu kerja, jangan terlalu di kasih hati malah kamu sendiri yang menderita.
aurel chantika
Cakra harus dilaporkan ke polisi
aurel chantika
astaga diva,jangan sampai ketahuan deh
Margaretha Indrayani
semoga diyah dan biyakta bisa . menolong sarmila dan diva. cakra dan rani nyolong dirumah ortu sendiri, parah kamu cakra dan rani sudah buta hatinya
Septi
waduhh
Septi
ahh masih ada yang baik.. bersyukurlah mila
Radya Arynda
semogah diyah dan biyatta selalu bahagia dan semogah hamidun...dan sengkuli terlihat wajah aslina....
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi
Diah_Kustantie ✨💛
Nextt
Dien Elvina
udah Diva ikut aja dgn kak Dyah daripada hidup sama ibu mu yg udah kyk d neraka
Dien Elvina
s Rumi gak bisa d katakan seorang ibu ..apa yg dia lakukan lebih dari seorang wanita yg kejam dgn anak² nya 🥺
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hajarrrr bu...mantu tak tahu diri, di kasih hati minta organ tubuh.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
ikut saja sama kak Diyah..Div. daripada kamu hidup dengan moster, lama2 kamu bisa Gilaaa, ngadepin ayah mu yang pemabokk dan ibumu yang pemarah.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Bener2 ibu lukcnutt! jangan harap kali ini anda bakal selamat dari amukan Diyah. apalagi kalau Diyah melihat keadaan mila yang babak belur, anda bisa saja di laporkan dan jangan harap Diyah bakal membantu anda.
Margaretha Indrayani
tapi untunglah diyah sudah tahu kalau sarmila selamat
Diah_Kustantie ✨💛
Nexttt
Dien Elvina
semoga Dyah cepet dtng menjemput Mila n Diva
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!