Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM DI TEPI SUNGAI
Aku mulai merasa bosan setelah berjam-jam berada di dalam kereta kuda.
Perjalanan yang terasa tidak ada habisnya membuatku akhirnya memutuskan untuk keluar. Aku naik dan duduk tepat di atas atap kereta kuda, menikmati udara bebas sambil melihat pemandangan hutan di sekitar kami.
Elisa langsung memanggilku dari bawah.
"Tuan! Hati-hati!"
Aku menoleh dan menjawab santai,
"Aman saja, Elisa."
Selena yang berada di dalam kereta kemudian berbicara kepada Elisa.
"Biarkan saja Tuan Iyan melakukan apa yang dia sukai. Selama dia senang, tidak masalah."
Elisa mengangguk, lalu tiba-tiba terlihat penasaran.
"Nona Selena, sebenarnya sudah berapa lama Anda mengenal Tuan Iyan? Sepertinya Anda sangat dekat dengan Tuan Iyan."
Selena tersenyum jahil.
"Sebenarnya... aku ini simpanan Tuan Iyan."
"Pffft!"
Wajah Elisa langsung memerah.
"Ha?! Si-simpanan Tuan Iyan?! Benarkah?! Sejak kapan?!"
Selena hanya tertawa melihat reaksinya.
Aku yang mendengar percakapan mereka dari atas atap langsung menghela napas.
"Sudah, Selena. Jangan menggoda Elisa."
Aku kemudian menoleh ke bawah.
"Elisa, dia hanya bercanda. Jangan percaya perkataannya."
Elisa terlihat lega.
"Syukurlah..."
Aku melanjutkan,
"Selena dan aku hanya rekan yang sudah lama saling mengenal."
Aku sengaja tidak menjelaskan lebih jauh.
Aku tidak boleh membocorkan kekuatan pemanggil pahlawan. Akan merepotkan jika orang lain mengetahui rahasia itu.
Elisa kemudian kembali berbicara kepada Selena.
"Nona Selena, Anda cantik sekali. Apakah Anda seorang bangsawan?"
Selena mengangguk.
"Ya. Dahulu aku memang seorang bangsawan. Namun, status dan kerajaanku sudah lama hilang."
Aku hanya mendengarkan percakapan mereka dari atas.
Hmm... bosan sekali.
Aku kemudian melihat ke arah Maximus.
"Hei, Maximus! Kemari!"
Maximus yang berada tidak jauh dari rombongan langsung menoleh.
"Ada apa, Rajaku?"
"Ayo kita berjalan-jalan sebentar di sekitar hutan. Tapi jangan ngebut!"
Mata Maximus langsung berbinar.
"Baik, Rajaku!"
Ia berlari menghampiriku dengan penuh semangat.
Aku melompat ke punggungnya.
Kemudian aku memanggil Jaron, Selena, dan Elisa.
"Hei, kalian. Aku pergi mencari angin sebentar."
Mereka hanya mengangguk santai.
Mereka tahu bahwa meskipun aku pergi sendirian, aku kemungkinan besar akan tetap aman.
Bagaimanapun juga...
Mereka sudah mengetahui bahwa kekuatanku bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Aku pun pergi meninggalkan rombongan.
"Maximus, kita berjalan melewati pinggiran sungai saja. Aku ingin melihat-lihat sekitar."
"Siap, Rajaku!"
Maximus mulai berjalan menyusuri tepian sungai.
Aku melihat ke kiri dan ke kanan.
Sejauh ini tidak ada masalah.
Karena perjalanan menuju ibu kota masih membutuhkan waktu hingga keesokan pagi, aku akhirnya berkata,
"Maximus, sedikit lebih cepat."
"Baik!"
Maximus mempercepat langkahnya, tetapi kali ini tidak sampai seperti orang kesurupan.
Bagus. Dia mulai belajar.
Aku kemudian membuka hologram sistem.
Aku ingin melihat perkembangan wilayah yang kutinggalkan.
Beberapa panel muncul di hadapanku.
Aku melihat Benteng Kedua.
Pembangunan sedang berlangsung besar-besaran.
Dinding benteng diperkuat, beberapa bangunan baru mulai berdiri, dan para pekerja sibuk melakukan berbagai pekerjaan.
Kemudian aku melihat Benteng Ketiga.
Perkembangannya bahkan lebih cepat.
Dinding-dinding yang sebelumnya rusak telah diperbaiki. Bangunan-bangunan baru mulai memenuhi area benteng.
Aku kemudian melihat sesuatu yang membuatku sedikit tertarik.
Cikipi sedang membangun sebuah markas bawah tanah di bekas wilayah persembunyian Goblin.
Dia benar-benar memanfaatkan tempat itu.
Aku mengganti tampilan sistem.
Kali ini aku melihat para mantan budak yang telah mulai berbaur dengan kehidupan baru mereka.
Sebagian bekerja di tambang besi di wilayah Benteng Ketiga.
Sebagian bertani.
Sebagian mengikuti latihan militer.
Yang lainnya mulai mengerjakan berbagai pekerjaan yang dibutuhkan oleh wilayah tersebut.
Aku tersenyum kecil.
Perlahan-lahan semuanya mulai berkembang.
Namun, aku masih merasa jumlah rakyat dan pasukanku terlalu sedikit.
Aku harus memperbanyak penduduk dan pasukan.
Wilayah ini masih membutuhkan banyak orang.
Beberapa waktu kemudian, langit mulai berubah warna.
Matahari perlahan tenggelam.
Aku menunjuk ke sebuah batu besar di tepi sungai.
"Maximus, turunkan aku di sana."
Maximus berhenti.
Aku turun dan duduk di atas batu besar tersebut.
Langit sore perlahan berubah menjadi gelap.
Aku menatap ke arah rombongan yang masih berada cukup jauh.
"Maximus, pergi jemput yang lain. Suruh mereka bermalam di sekitar sungai ini."
"Baik, Rajaku!"
Maximus langsung berlari kembali untuk menjemput rombongan.
Aku tetap duduk di atas batu sambil membuka hologram sistem.
Aku mulai melihat-lihat berbagai item yang tersedia.
Sampai akhirnya...
Mataku tertuju pada sebuah kalung sederhana.
"Hmm?"
Aku membuka keterangannya.
[Kalung Mirtil]
Rank: SSR
Efek: Menekan kekuatan dan menyembunyikan aura.
Efek Tambahan: Perlindungan otomatis terhadap serangan fatal.
Aku semakin tertarik.
Sistem kemudian memberikan penjelasan tambahan.
[Kalung Mirtil ditempa oleh para kurcaci ribuan tahun yang lalu.]
[Hanya terdapat satu Kalung Mirtil di seluruh dunia.]
Aku melihat harganya.
"30.000 koin..."
Aku terdiam.
Hmm... mahal juga.
Aku melihat jumlah koin yang kumiliki.
Kemudian aku mengangkat bahu.
"Bodo amat."
Aku menekan tombol pembelian.
"Aku beli."
[Pembelian berhasil.]
Kalung tersebut langsung masuk ke dalam penyimpanan.
Aku segera mengeluarkannya dan memasangnya di leher.
Aku menunggu.
Tidak terjadi apa-apa.
Aku menyentuh kalung tersebut.
"Hmm... kalung macam apa ini?"
"Aku bahkan tidak merasakan apa pun."
Tiba-tiba hologram sistem muncul kembali.
[Kalung Mirtil telah terpasang.]
[Status pengguna berhasil disembunyikan.]
[Efek tambahan aktif.]
[Jika pengguna menerima serangan fatal, perlindungan otomatis akan terbentuk.]
[Durasi perlindungan: 24 jam.]
Aku langsung membelalakkan mata.
"Waooo..."
Aku tersenyum.
Lumayan juga.
Kalau ada serangan mendadak, kalung Mirtil ini sepertinya akan sangat berguna.
Beberapa menit kemudian, rombongan akhirnya tiba.
Para prajurit mulai mendirikan tenda.
Sebagian mengambil air dari sungai.
Sebagian mencari kayu bakar.
Bahkan beberapa prajurit langsung turun ke sungai untuk mencari ikan.
Beberapa jam berlalu.
Api unggun akhirnya menyala.
Krek... krek...
Kayu terbakar perlahan.
Para prajurit duduk di sekitar api sambil beristirahat. Sebagian mulai tidur, sementara beberapa lainnya memanggang ikan hasil tangkapan mereka.
Maximus bahkan membawa seekor kelinci besar.
Aku melihat kelinci itu dan kemudian menoleh kepada Maximus.
"Maximus."
"Ya, Rajaku?"
"Kau suka daging?"
Maximus langsung menjawab,
"Tentu saja!"
Jeron, Elisa, dan dua puluh prajurit lainnya tiba-tiba menoleh secara bersamaan.
Mereka menatap Maximus.
Seorang prajurit tiba-tiba berteriak,
"HEI! LIHAT! KUDA ITU BISA BICARA!"
Semua orang terdiam.
Jeron membeku.
Elisa juga membelalakkan mata.
Maximus malah terlihat bingung.
"Apa?"
Beberapa saat kemudian, suasana menjadi jauh lebih santai.
Para prajurit mulai berbicara dengan Maximus.
Bahkan salah satu dari mereka memberikan ikan bakar kepadanya.
Maximus menerimanya dengan gembira.
"Terima kasih!"
Prajurit itu langsung tertawa.
"Hahaha! Kuda yang aneh."
Di sisi lain, Selena duduk bersandar di punggungku.
Aku hanya diam.
Elisa yang melihat Selena begitu dekat denganku kembali memerah.
Aku meliriknya.
Hmm... dasar wanita.
Malam semakin larut.
Aku mulai berbicara dengan Jaron di dekat api unggun.
"Hei, Jaron."
"Ya, Tuan?"
"Apa kau hidup sendirian?"
Jaron tertawa kecil.
"Tidak, Tuan. Saya memiliki seorang istri dan tiga anak yang menunggu saya di rumah."
"Oh?"
Aku tertarik.
"Di mana mereka sekarang?"
"Mereka tinggal di dekat wilayah ibu kota. Kami menyewa sebidang tanah milik pedagang untuk berkebun."
"Benarkah?"
Aku berpikir sejenak.
"Kalau aku menawarkan tanah dan rumah di wilayah timur, apakah kau mau?"
Jaron langsung terdiam.
Matanya membesar.
"T-Tuan...?"
Aku melanjutkan dengan santai.
"Setelah kita pulang dari ibu kota, kau dan para prajuritmu akan kuberikan libur selama tujuh hari."
"Setelah itu, aku ingin kau membawa keluargamu dan tinggal di wilayah timur."
Aku menatap api unggun.
"Aku juga akan menyediakan pendidikan militer gratis, pekerjaan, serta gaji yang layak."
Jaron terlihat sangat terkejut.
"Tuan..."
Suaranya bergetar.
Ia kemudian berdiri tegak.
Tanpa diduga, Jaron langsung berlutut dan menundukkan kepalanya ke tanah.
Air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
"Terima kasih, Tuan Muda."
"Saya... benar-benar berterima kasih atas kemurahan hati Tuan."
Ia mengepalkan tangannya.
"Mulai hari ini, saya bersumpah akan setia kepada Tuan. Selama saya masih hidup, saya akan melindungi Tuan dan wilayah yang Tuan bangun."
Aku hanya menatapnya dengan wajah datar.
Namun, di dalam hati...
YES! Penduduk baru!
Beberapa jam kemudian, hampir semua orang telah tertidur lelap.
Aku perlahan meninggalkan Selena yang sedang tidur di dekatku.
Aku berjalan cukup jauh dari perkemahan.
Kemudian aku berbaring di atas sebuah batu besar.
Aku menatap langit malam.
Pemandangan di dunia ini benar-benar berbeda dengan dunia lamaku.
Langit malamnya begitu indah.
Ada tiga bulan yang menggantung di atas sana.
Aku bahkan tidak tahu apa nama ketiga bulan tersebut.
Apakah semuanya benar-benar bulan?
Atau mungkin salah satunya memiliki fungsi yang berbeda?
Aku tidak tahu.
Yang jelas, ketiganya membuat malam terasa jauh lebih terang.
Bintang-bintang juga memenuhi langit.
Jumlahnya begitu banyak hingga aku merasa seperti bisa melihat dengan jelas hanya dengan bantuan cahaya bulan.
Aku terdiam menikmati pemandangan tersebut.
Dunia ini benar-benar berbeda...
Angin malam berhembus perlahan.
Whooosh...
Rambut panjangku bergerak tertiup angin.
Mataku mulai terasa berat.
Aku akhirnya menutup mata.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Aku bisa tidur dengan tenang di bawah langit asing.
Di atas batu besar.
Dengan tiga bulan dan ribuan bintang sebagai pemandangan terakhir sebelum aku terlelap.