Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Pintu kamar terbuka. Rara berdiri di sana, wajahnya semringah, senyum manis masih terukir di bibir Nya— namun seketika berubah pucat saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu. Matanya membelalak, mulutnya terbuka sedikit, kaget luar biasa.
"Mi... Miska?" seru Rara pelan, tak percaya. Langkah kakinya mundur selangkah, tubuhnya menegang.
Dari belakang terdengar suara Askar, lembut dan penuh kasih sayang. "Siapa itu, Sayang? Siapa yang datang jam segini?"
Askar berjalan mendekat, rambutnya sedikit berantakan, kancing kemejanya terbuka beberapa bagian. Namun saat ia sampai di ambang pintu dan melihat siapa yang berdiri di depan sana, langkahnya terhenti mendadak. Matanya membelalak lebar, seakan tak percaya pada apa yang dilihatnya. Wajahnya berubah pucat lalu merah padam karena kaget dan malu.
Miska tidak berkata sepatah kata pun. Tak ada tangis, tak ada permintaan penjelasan. Dengan tenang namun tegas, tangan kanannya terangkat — lalu PLAK!
Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Askar, begitu kuat hingga kepala pria itu terayun ke samping.
Askar memegang pipinya, menatap Miska tak percaya. "Kamu... kamu berani menamparku? Sekali lagi kamu menyentuhku, aku—"
Belum sempat kalimat itu selesai terucap, PLAK! Tamparan kedua mendarat di pipi yang sama, bahkan lebih keras dari yang pertama.
"Apa?? kamu mau melakukan apa Haaa?" tanya Miska dingin, suaranya rendah namun penuh ketegasan. Matanya tidak lagi berkaca-kaca — matanya kini tajam, tenang, dan tak lagi bisa ditakuti.
Tanpa menunggu reaksi mereka, Miska berbalik dan berlari menyusuri lorong menuju lift. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena rasa lega yang baru saja ia rasakan. Ia tak lagi merasa lemah.
"Miska! Berhenti kamu!" teriak Askar dari belakang. Ia langsung berlari mengejar, melupakan Rara yang masih terpaku di ambang pintu kamar.
Miska tidak berhenti. Ia terus berlari, masuk ke lift, dan menekan tombol lobi. Namun saat pintu lift baru saja akan tertutup, tangan Askar menyelip masuk dan menahannya. Pintu terbuka kembali.
"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah mempermalukanku di sana?" bentak Askar kasar. Ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Miska dengan kuat, menariknya keluar dari lift hingga mereka berada di lobi hotel. "Kamu ini istri tidak tahu diuntung! Datang tanpa diundang, menamparku, lalu pergi? Kamu mau ke mana? Kamu sudah membuatku malu di depan Rara! Kamu memang wanita yang tidak pernah bisa membuatku bangga!"
Askar terus menarik tangan Miska, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa malu. Beberapa tamu dan petugas hotel mulai berhenti dan memperhatikan mereka.
"Lepaskan tanganku, Askar!" ucap Miska tegas, berusaha melepaskan cengkeraman itu. "Kamu yang mempermalukan dirimu sendiri, bukan aku!"
"Berani kamu melawan aku lagi? Kamu itu istriku! Aku boleh melakukan apa saja padamu!" bentak Askar, menariknya semakin kuat hingga Miska hampir terjatuh.
Namun kali ini, Miska bukan lagi wanita lemah yang selalu menunduk dan menerima apa saja. Kesabarannya sudah habis, habis sejak hari pertama ia dihina, habis saat ia melihat suaminya masuk ke hotel bersama wanita lain. Dengan satu gerakan cepat, Miska memutar pergelangan tangannya hingga cengkeraman Askar sedikit kendur, lalu berbalik badan dengan cepat.
Dan seketika itu juga — BUgH!
Dengan kuat dan tepat, lutut Miska menghantam bagian paling sensitif tubuh Askar.
"AAARRGGHH!" jerit Askar tertahan, wajahnya seketika berkerut kesakitan. Tangan yang tadinya mencengkeram Miska kini langsung beralih memegang selangkangannya dengan kedua tangan. Tubuhnya membungkuk, lalu perlahan jatuh berlutut hingga akhirnya terkapar di lantai marmer lobi hotel, ia gemetar menahan rasa sakit yang luar biasa.
Di luar hotel, di dalam mobil mewah yang belum pergi, Arfan sedang duduk di kursi belakang sambil menunggu. Dari kaca depan yang terbuka sedikit, ia melihat seluruh kejadian itu dengan jelas. Saat melihat gerakan Miska dan dampaknya pada Askar, Arfan secara refleks ikut meringis, satu tangannya tanpa sadar turun sedikit ke bawah sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ya ampun... sakit sekali itu pasti," gumamnya pelan, matanya membelalak sedikit. "Tepat sekali sasaran. Wanita yang luar biasa."
Sementara itu, di lobi hotel, semua orang yang melihat kejadian itu terdiam serentak, mulut mereka terbuka lebar tak percaya. Ada yang menahan napas, ada yang menutup mulut karena kaget. Namun tak ada satu pun yang berani mendekat.
Miska berdiri tegak di samping Askar yang sedang terkapar kesakitan. Ia menatap pria itu dengan tatapan datar, tanpa ampun, namun juga tanpa kebencian yang berlebihan — seolah pria itu hanyalah orang asing yang tak berarti lagi baginya.
"Itu baru permulaan, Askar," ucap Miska pelan namun tegas, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan lobi. "Kamu sudah menghancurkan hatiku berkali-kali, dan aku selalu sabar. Tapi hari ini... kamu menghancurkan kesempatan terakhir kita. Mulai detik ini, aku bukan lagi istri lemah yang bisa kamu injak-injak sesuka hati."
Askar masih terbaring di lantai, wajahnya pucat pasi, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia menatap Miska dengan pandangan campuran antara sakit, kaget, dan takut — takut melihat perubahan besar yang ada pada istrinya.
"Miska... kamu..." suara Askar tertahan, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Miska tidak menunggu lagi. Ia tidak peduli dengan tatapan puluhan pasang mata yang mengarah padanya. Ia tidak peduli dengan bisik-bisik orang di sekitarnya. Ia berbalik perlahan, lalu melangkah keluar dari lobi hotel itu — langkah yang tegak, mantap, dan penuh keyakinan.
Pintu kaca otomatis terbuka di depannya. Udara sore yang segar langsung menyambut wajahnya. Angin menerpa rambutnya, namun kali ini ia tak merasa dingin. Ia merasa bebas dari rantai yang selama ini mengikatnya.
Di dalam mobil, Arfan melihat Miska keluar dengan kepala tegak, matanya berair. Ia menyuruh sopirnya membuka pintu sedikit. "mbak Miska!" panggilnya pelan namun cukup terdengar.
Miska menoleh, melihat Arfan di dalam mobil itu. Ia tersenyum tipis "Terima kasih banyak, Pak. Tapi saya bisa pulang sendiri."
"Tentu saja," jawab Arfan sambil mengangguk hormat, seakan menghormati seseorang yang setara dengannya. "Hati-hati, mbak Semoga jalan ke depan membawa kebahagiaan yang pantas untuk Anda."
Miska mengangguk pelan, lalu berjalan menjauh dari hotel itu — menjauh dari masa lalu yang menyakitkan, menuju masa depan yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Di belakangnya, di dalam hotel, Askar masih terkapar di lantai, bukan hanya kesakitan secara fisik, melainkan baru menyadari bahwa wanita yang selama ini ia anggap lemah dan bisa diinjak-injak, ternyata adalah wanita terkuat yang pernah ia temui — dan baru saja ia kehilangan dia selamanya.
LEGAH NGGAK KALIAN 🤭🤭🤭
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪