Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Raja dan Ratu I

Pagi itu, pulau pribadi keluarga Volkov tidak benar-benar tidur. Sejak matahari mulai muncul dari balik garis laut, aktivitas sudah berlangsung di berbagai sudut pulau.

Helikopter datang dan pergi. Kapal keamanan bergerak perlahan mengitari perairan. Para petugas keamanan memeriksa setiap jalur masuk, sementara orang-orang yang memiliki tugas khusus memastikan tidak ada satu pun celah yang terlewat.

Hari itu bukan sekadar hari pernikahan.

Setidaknya, begitulah cara dunia melihatnya.

Bagi banyak orang, pernikahan Leon Volkov dan Amara Pradipta merupakan peristiwa yang terlalu besar untuk disebut sebagai urusan pribadi.

Namun di salah satu kamar di kediaman utama, seorang perempuan hanya duduk diam di depan cermin. Amara menatap bayangannya sendiri.

Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa.

Perempuan yang selama puluhan tahun terbiasa menghadapi berbagai masalah dengan kepala tegak itu kini hanya menatap dirinya dalam diam. Rambutnya ditata sederhana. Gaun putih yang dikenakannya tidak berlebihan. Tidak ada sesuatu yang terlalu mencolok.

Namun ketika ia melihat dirinya sendiri, ada sesuatu yang terasa berbeda. Hari ini ia bukan Madam A. Bukan pemimpin perusahaan. Bukan juga perempuan yang selama bertahun-tahun harus memastikan anak-anaknya baik-baik saja.

Hari ini ia hanya Amara. Seorang perempuan yang akan menikah dengan pria yang dicintainya. Pintu kamar terbuka. Nayla masuk bersama Susan. Begitu melihat Amara, langkah Nayla langsung berhenti.

Matanya perlahan membesar.

"Ibu..."

Amara menoleh.

"Ada apa?"

Nayla tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya cukup lama. Kemudian kedua matanya mulai berkaca-kaca. Amara langsung menghela napas.

"Jangan menangis."

"Aku belum menangis."

"Matamu sudah, berkaca-kaca."

Nayla tertawa kecil sambil mengusap sudut matanya.

"Ibu cantik banget."

Amara tersenyum.

"Terima kasih."

Nayla berjalan mendekat dan berdiri di belakang ibunya sambil melihat pantulan mereka berdua di cermin.

"Rasanya aneh."

"Apa?"

"Nanti setelah hari ini, Ibu benar-benar punya suami lagi."

Amara terdiam. Kemudian tersenyum kecil.

"Sepertinya begitu."

Nayla tertawa.

"Kenapa Ibu santai sekali?"

"Haruskah aku panik?"

"Sedikit."

Amara menggeleng.

"Aku sudah melewati terlalu banyak hal dalam hidup untuk panik hanya karena sebuah pernikahan."

Susan yang sejak tadi diam akhirnya tertawa.

"Kalau begitu, yang panik hanya kami."

Nayla mengangguk cepat.

"Benar."

Dari luar kamar terdengar suara Gilberth.

"Nayla! Susan! Kalian di dalam?"

Nayla menoleh.

"Gilberth!"

Pintu terbuka sedikit dan kepala Gilberth muncul.

"Aku cuma mau memastikan...."

Ia berhenti. Tatapannya langsung tertuju pada Amara. Gilberth terdiam dan tersenyum.

"Wow."

Amara mengangkat alis.

"Apa?"

"Om Leon tamat."

Nayla langsung tertawa. Susan menutup mulutnya agar tidak ikut tertawa terlalu keras. Amara hanya menggeleng.

"Keluar."

Gilberth tertawa.

"Iya, Madam."

Pintu kembali tertutup. Untuk beberapa saat, Amara hanya tersenyum. Begitulah rumah mereka. Bahkan pada hari yang seharusnya penuh dengan suasana formal, anak-anaknya tetap berhasil membuatnya merasa seperti seorang ibu biasa.

Tidak jauh dari sana, Arsen berdiri bersama Raka dan Kael. Ketiganya sedang memeriksa sesuatu di tablet.

"Semua aman?" tanya Arsen.

Kael mengangguk.

"Jalur utama aman. Jalur laut juga sudah diperiksa."

Raka melihat layar.

"Undangan terakhir sudah masuk?"

"Sudah."

Arsen mengangguk. Kemudian ia menatap ke arah bangunan utama. Untuk sesaat, wajahnya berubah. Ia tahu apa arti hari ini bagi ibunya. Amara telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk anak-anak. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, perempuan itu akan melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri.

Raka memperhatikan perubahan wajah kakaknya.

"Kau kenapa?"

Arsen tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa."

Raka menepuk bahunya.

"Jangan mulai mellow."

Arsen tertawa kecil.

"Kau yang paling gampang menangis kalau Mama sakit."

Raka langsung menatapnya.

"Itu rahasia."

Kael yang mendengar percakapan mereka tersenyum.

"Sepertinya saya baru tahu sesuatu."

"Jangan ikut campur," kata Raka cepat.

Arsen tertawa. Sementara itu, di sisi lain pulau, Leon berdiri di depan cermin. Ia mengenakan setelan hitam yang sederhana tetapi sangat rapi.

Rambutnya sudah tidak lagi hitam sepenuhnya.

Beberapa helai uban terlihat jelas.

Pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai sosok yang sulit disentuh oleh siapa pun itu kini justru terlihat gelisah. Ia memeriksa jam tangannya. Kemudian melihat pintu. Kemudian melihat jam lagi.

Seorang pria di dekatnya memperhatikan tingkah lakunya.

"Pak?"

Leon menoleh.

"Apa?"

"Anda baik-baik saja?"

"Aku baik."

Pria itu mengangguk.

Namun beberapa detik kemudian Leon kembali melihat jam. Pria tersebut menahan senyum.

"Anda gugup?"

Leon menatapnya tajam.

"Tidak."

"Baik."

Hening. Kemudian Leon berkata,

"Berapa lama lagi?"

Pria itu hampir tersenyum.

"Untuk apa?"

Leon diam. Ia sadar dirinya tidak mungkin menjelaskan bahwa ia hanya ingin melihat Amara. Akhirnya ia menghela napas.

"Sudahlah."

Pria itu menundukkan kepala sambil tersenyum.

Hari itu, Leon Volkov ternyata sama gugupnya dengan pengantin pria lainnya. Hanya saja ia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.

Beberapa saat kemudian, para tamu mulai menempati tempat masing-masing. Keluarga Amara berada di bagian depan. Elena dan keluarga Elena, Raka bersama Hana dan keluarga Hana, Nayla bersama Kael. Kakaknya Martha dan Suaminya Daniel, Susan, Gilberth, dan adik laki-laki satu-satunya Ryan.

Mereka semua duduk dengan perasaan yang berbeda-beda. Namun ada satu kesamaan.

Mereka bahagia. Di area tamu yang sedikit lebih jauh, Reza duduk dalam diam.

Ia mengenakan pakaian formal sederhana. Tidak ada yang melihatnya sebagai mantan suami Amara. Hari ini ia hanya seorang karyawan.

Undangannya datang melalui perusahaan. Ia datang karena memang diperbolehkan hadir.

Di sampingnya, Clara duduk dengan tangan terlipat. Keduanya tidak banyak berbicara. Reza memandang ke depan.

Kemudian tanpa sadar menarik napas panjang.

Ia sudah melihat Amara beberapa kali. Namun entah mengapa, hari ini terasa berbeda. Mungkin karena setelah hari ini, tidak ada lagi kemungkinan untuk mengatakan bahwa hubungan Amara dan Leon hanyalah sesuatu yang sementara.

Hari ini mereka benar-benar akan menjadi suami istri. Clara menatapnya.

"Kau baik-baik saja?"

Reza mengangguk.

"Iya."

Clara tidak bertanya lagi. Karena ia sendiri merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia bukan bagian dari keluarga itu. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari betapa jauh kehidupan Amara telah berjalan.

Musik mulai terdengar. Percakapan para tamu perlahan berhenti. Semua kepala mengarah ke pintu masuk. Leon yang sejak tadi berdiri di altar mengangkat wajahnya. Kemudian ia melihatnya.

Amara.

Perempuan itu berjalan perlahan, didampingi Arsen. Ia tidak tergesa-gesa. Tidak berusaha menarik perhatian siapa pun. Namun seluruh ruangan seakan kehilangan suara ketika melihatnya.

Leon terdiam. Untuk beberapa detik, ia benar-benar lupa bagaimana caranya bernapas. Amara menatap lurus ke arahnya. Dan ketika mata mereka bertemu, senyum kecil muncul di wajah perempuan itu. Leon membalasnya.

Matanya mulai memerah. Gilberth yang berdiri di dekat Raka, langsung berbisik,

"Om Leon mau nangis."

Raka menahan senyum.

"Aku lihat."

Akhirnya ia ikut tersenyum.

"Biarkan saja."

Nayla sudah lebih dulu menundukkan wajah karena air matanya mulai jatuh. Kael berdiri di sampingnya. Tidak mengatakan apa-apa. Namun tatapannya lembut.

Amara terus berjalan dengan Arsen yang masih menggandengnya. Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi. Dan semakin dekat ia menuju altar, semakin jelas wajah Leon terlihat.

Pria itu tidak lagi terlihat seperti seorang penguasa. Tidak seperti seseorang yang membuat banyak orang takut. Ia hanya terlihat seperti seorang pria yang akhirnya melihat perempuan yang dicintainya berjalan menuju dirinya.

Ketika Amara akhirnya berdiri di hadapannya, Leon mengulurkan tangan.

Asren meletakkan tangan Amara di sana.

"Om, Aku percayakan mama padamu" kata Arsen dengan suara paraunya.

Leon menggenggamnya dengan hati-hati. Seolah tangan itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

"Terima kasih, Arsen".

Arsen mengangguk beberapa kali lalu turun dari altar dan kemudian menempati posisi di sebelah istrinya.

Amara tersenyum.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Leon menggeleng pelan.

"Aku hanya memastikan."

"Memastikan apa?"

"Bahwa ini nyata."

Amara tertawa kecil.

"Ini nyata."

Leon menarik napas panjang. Kemudian menatap perempuan itu lebih dalam.

"Bagus."

Amara tersenyum. Di depan mereka, prosesi pernikahan akhirnya dimulai.

Dan setelah perjalanan hidup yang begitu panjang, Amara tidak merasa sedang memulai kehidupan baru. Ia hanya merasa sedang melanjutkan perjalanan bersama seseorang yang akhirnya menemukan jalan menuju dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!