Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarang
“Aiden, tetap di situ.”
Marcus tidak menoleh ketika mengucapkannya. Pistol berada di tangan kanannya, sedangkan senter di tangan kiri disodorkan perlahan ke koridor sempit di antara dua baris generator.
Cahaya putih bergerak pada pipa dan sisi mesin yang dipenuhi debu. Lingkarannya berguncang kecil mengikuti napas Marcus, lalu berhenti pada sebuah belokan yang tertutup kegelapan.
Aiden seharusnya menunggu dekat kotak perkakas. Namun, begitu jarak di antara mereka bertambah, kakinya bergerak sendiri dan membawanya mengikuti Marcus dengan ketapel masih terangkat di depan dada.
Ia berusaha meletakkan sepatu tanpa menimbulkan suara. Solnya tetap menggesek butiran pasir dan pecahan kecil pembungkus kabel yang berserakan di lantai.
Marcus mendengar gesekan tersebut dan menoleh melalui bahunya. Tatapannya turun kepada ketapel di tangan Aiden, kemudian kembali ke wajah putranya.
“Sudah kubilang tunggu di sana.”
Aiden berhenti, tetapi tidak mundur. Tempat mereka meninggalkan perkakas kini berada di balik beberapa generator dan tidak lagi terlihat dari posisinya.
“Aku tidak mau sendirian.”
Marcus mengatupkan rahang. Ia tampak hendak menyuruh Aiden kembali, tetapi suara garukan dari bagian gelap membuatnya segera menghadap ke depan lagi.
“Tetap di belakangku. Jangan bergerak kecuali aku menyuruhmu.”
Aiden mengangguk meskipun ayahnya tidak melihat. Jemarinya merapat pada gagang ketapel sampai tepi kayunya menekan telapak tangan.
Mereka melanjutkan langkah dengan jarak kurang dari satu lengan. Bau bahan kimia dari mesin semakin tajam, bercampur dengan aroma minyak panas dan sesuatu yang busuk dari ujung koridor.
Bau terakhir itu mengingatkan Aiden pada daging yang terlalu lama ditinggalkan di bawah matahari. Ia bernapas melalui mulut, tetapi rasa pahitnya tetap menempel di bagian belakang lidah.
Cahaya senter menemukan potongan kabel di dekat dinding. Lapisan hitamnya telah koyak, sedangkan serabut tembaga di dalamnya terpisah dan bengkok oleh bekas gigitan.
Semakin jauh mereka masuk, semakin banyak benda rusak yang ditemukan. Potongan kayu, kain, kertas, pecahan tulang, dan tutup kaleng menumpuk di sepanjang dinding seperti sengaja dikumpulkan.
Beberapa potong kayu dipenuhi alur gigi yang dalam. Serpihannya masih terlihat pucat di antara debu, menandakan bekas keratan tersebut belum lama terbentuk.
Marcus merendahkan senternya untuk memeriksa lantai. Jejak kaki kecil dengan empat jari muncul pada lapisan debu dan bergerak menuju ruangan di ujung koridor.
Pintu ruangan itu telah terlepas dari satu engsel. Celah gelap terbuka di bawahnya, cukup lebar untuk dilewati hewan yang ukurannya jauh lebih besar daripada tikus biasa.
Suara mencicit kembali terdengar dari dalam. Kali ini bunyinya disambut dua suara lain, diikuti geraman pendek yang membuat kulit pada tengkuk Aiden mengencang.
Marcus mengangkat pistolnya lebih tinggi. Ia mendekati pintu dengan tubuh sedikit merendah, lalu mendorong daun besi tersebut menggunakan ujung sepatunya.
Engsel yang tersisa mengerang. Bagian bawah pintu menggesek lantai dan menghasilkan bunyi panjang yang membuat suara di dalam ruangan mendadak berhenti.
Aiden menahan napas. Detak jantungnya terasa pada tenggorokan ketika ia melihat cahaya senter menyapu bagian dalam ruangan.
Beberapa peti kayu lapuk bertumpuk di sisi kanan. Di sebelah kiri terdapat pipa-pipa bekas, gulungan kabel, dan bahan peredam yang telah dicabik sampai menyerupai sarang.
Sepasang mata merah muncul di belakang salah satu peti. Kemudian dua pasang lainnya terbuka tidak jauh dari sana.
Tiga Dire Mole merangkak keluar ke dalam cahaya. Tubuh mereka rendah dan gemuk, tetapi panjangnya hampir menyamai tubuh kucing dewasa.
Bulu kasar menutupi sebagian punggung mereka. Pada bagian lain, kulit merah muda yang dipenuhi luka dan koreng terlihat jelas karena bulunya telah terkelupas.
Dua gigi depan tumbuh panjang melewati bibir bawah. Air liur kental menggantung pada ujungnya dan jatuh ke lantai setiap kali ketiga hewan itu menggeram.
Aiden lupa menarik ketapelnya. Ia hanya berdiri dengan kedua lengan kaku, memandangi hidung yang terus bergerak dan mata merah yang tidak berkedip.
Dire Mole paling depan menurunkan kepala. Kuku pada kaki depannya menggores beton ketika tubuhnya bergeser untuk melompat.
Letusan pistol memenuhi ruangan sebelum hewan itu sempat bergerak. Kilatan api menyembur dari ujung laras dan peluru menghantam tepat di antara kedua matanya.
Bagian belakang kepalanya pecah dan memercikkan darah gelap pada peti. Tubuhnya terjungkal ke samping, menendang lantai dua kali sebelum berhenti bergerak.
Dua Dire Mole lainnya langsung menyerang. Yang pertama melesat rendah menuju kaki Marcus, sedangkan yang kedua memutar melalui sisi peti dan mencoba mendekatinya dari samping.
Marcus mundur setengah langkah dan mengangkat lutut. Tumit sepatunya menghantam sisi kepala hewan pertama dengan bunyi padat, membuat tubuh Dire Mole itu terlempar dan membentur kaki meja logam.
Hewan tersebut belum sempat bangkit ketika Marcus menodongkan pistol ke arahnya. Letusan kedua menghantam bagian atas tengkoraknya dan menjatuhkan kepala hewan itu kembali ke lantai.
Dire Mole ketiga menghilang dari lingkaran cahaya. Kuku-kukunya berlari cepat pada sisi ruangan, lalu suara itu berpindah ke belakang Marcus.
“Dad, belakangmu!”
Marcus baru mulai berbalik ketika Dire Mole tersebut meloncat. Tubuhnya menghantam punggung Marcus dan kedua gigi panjangnya menancap pada bagian atas bahu, hanya beberapa jari dari pangkal leher.
Geraman berat pecah dari tenggorokan Marcus. Pistolnya hampir terlepas ketika beban hewan itu menarik bagian belakang kemejanya dan membuat kain tersebut koyak.
Aiden menarik karet ketapel, tetapi tubuh Dire Mole tertutup oleh kepala serta bahu ayahnya. Tangannya gemetar terlalu keras untuk menemukan bagian yang aman sebagai sasaran.
Marcus menundukkan kepala dan menerjang mundur. Punggungnya menghantam dinding beton, menjepit Dire Mole di antara tubuhnya dan permukaan keras.
Benturan pertama tidak membuat gigitan tersebut terlepas. Marcus menghantamkannya lagi dengan kekuatan lebih besar, membuat debu berjatuhan dari dinding dan hewan itu mengeluarkan jeritan tipis.
Pada benturan ketiga, tubuh Dire Mole mulai lemas. Giginya tercabut dari bahu Marcus dengan suara basah, lalu tubuhnya jatuh dan terguling di lantai.
Marcus berbalik sambil terhuyung. Ia menempelkan ujung pistol ke kepala hewan tersebut dan menarik pelatuk sebelum Dire Mole sempat menegakkan kakinya.
Letusan ketiga membuat telinga Aiden berdenging. Kepala Dire Mole menghantam lantai, dan darahnya mengalir di antara retakan beton menuju sepatu Marcus.
“Dad, kau tidak apa-apa?”
Aiden menurunkan ketapelnya dan berlari mendekat. Napas Marcus memburu, sedangkan dadanya naik turun di balik kemeja yang mulai basah oleh keringat.
Marcus mengangkat satu tangan ke belakang lehernya. Ketika tangannya ditarik kembali, telapak dan ujung jarinya telah dilapisi darah segar.
“Aku baik-baik saja.”
Suaranya terdengar berat dan tertahan. Darah mulai merembes dari dua lubang gigitan, membasahi kain kemeja pada bahu kiri dan mengalir tipis mengikuti punggungnya.
Aiden ingin memeriksanya lebih dekat. Ia baru mengangkat tangan ketika bunyi benda jatuh terdengar dari koridor yang baru mereka lewati.
Marcus menoleh ke arah pintu. Cahaya senternya ikut berputar, meninggalkan sebagian besar ruangan dalam kegelapan.
Sesuatu menabrak Aiden dari belakang. Ia bahkan tidak sempat menoleh ke arah datangnya serangan.
Benturannya menghantam di antara kedua tulang belikat dan melemparkannya ke lantai. Dagu Aiden membentur beton, sedangkan ketapelnya terlepas dan meluncur ke bawah peti.
Ia menjerit ketika beban berat menekan punggungnya. Bau busuk yang tadi tercium dari koridor kini memenuhi hidungnya, begitu pekat hingga membuat perutnya berkontraksi.
“Aiden!”
Aiden mencoba merangkak, tetapi kuku panjang mencengkeram kemejanya dan menahan tubuhnya di lantai. Ujung kuku tersebut menembus kain di kanan serta kiri punggung tanpa mencapai kulit.
Kepala besar bergerak di dekat telinganya. Ia mendengar gigi saling beradu dan embusan napas panas yang berbau bangkai menerpa sisi wajahnya.
Marcus mengangkat pistol, lalu segera menahan tembakannya. Tubuh hewan itu menutupi hampir seluruh punggung Aiden, sedangkan kepalanya bergerak terlalu dekat dengan tengkuk bocah tersebut.
Cahaya senter memperlihatkan ukuran Dire Mole yang baru datang. Tubuhnya hampir dua kali lebih besar daripada tiga hewan yang telah mati, dengan leher tebal dan kaki depan yang dipenuhi otot.
Sebagian kulitnya tidak memiliki bulu. Cahaya hijau redup berdenyut dari bawah daging yang tipis pada perut, leher, dan sela-sela tulang rusuknya.
Urat pada tubuh hewan itu terlihat seperti garis-garis bercahaya. Air liur yang jatuh dari giginya juga membawa kilau hijau yang tertinggal sesaat di lantai.
“Jangan bergerak. Darahnya mengandung radiasi.”
Marcus tidak mengambil risiko menembak. Peluru dapat menembus tubuh Dire Mole dan mengenai Aiden, sedangkan darah makhluk itu akan menyembur langsung ke punggung putranya.
Ia menyelipkan pistol ke sarungnya dan bergerak mendekat dari samping. Dire Mole tersebut menggeram lebih keras, tetapi belum meninggalkan tubuh Aiden.
Sepatu Marcus menghantam rusuknya. Tendangan pertama hanya membuat tubuh hewan itu bergeser dan kukunya merobek kemeja Aiden lebih panjang.
Aiden menutup kepala menggunakan kedua tangan. Air matanya mengalir tanpa dapat ditahan ketika geraman tepat di atas tubuhnya berubah menjadi jeritan marah.
Marcus menendang lagi, kali ini pada rahang. Kepala Dire Mole terpelanting dan salah satu giginya menggores lantai sampai menghasilkan bunyi nyaring.
Hewan itu akhirnya melepaskan Aiden. Ia berputar ke arah Marcus dengan punggung melengkung dan mulut terbuka lebar.
“Kemari, bangsat.”
Marcus mundur untuk menjauhkan hewan itu dari putranya. Ia menghantamkan tumit sekali lagi pada moncongnya, lalu mengangkat kedua lengan ketika Dire Mole menyerang.
Aiden merangkak menuju sudut ruangan. Lutut dan telapak tangannya menggesek beton, tetapi rasa perihnya hampir tidak terasa di bawah kepanikan yang memenuhi seluruh tubuh.
Ia meraba punggung setelah mencapai dinding. Kemejanya telah koyak pada beberapa bagian, tetapi jari-jarinya tidak menemukan darah atau luka terbuka di kulit.
Dire Mole tersebut menerjang Marcus dengan seluruh berat tubuhnya. Marcus menangkap bagian bawah lehernya menggunakan satu lengan dan menahan rahangnya menggunakan tangan yang lain.
Tubuh mereka menghantam sisi peti sampai kayunya pecah. Bau busuk dari bulu hewan bercampur dengan keringat Marcus dan debu yang terangkat dari lantai.
Kuku Dire Mole menggaruk dada serta perut Marcus. Kain kemejanya robek menjadi beberapa garis, memperlihatkan goresan merah yang segera mengeluarkan darah.
Marcus menggeram sambil mendorong kepala hewan itu menjauh. Otot pada kedua lengannya menegang, tetapi Dire Mole terus meronta dan memutar tubuh dengan tenaga yang tidak dimiliki hewan-hewan sebelumnya.
Aiden duduk di sudut dengan kedua lutut ditarik ke dada. Tangisnya keluar dalam napas pendek yang tersendat, sedangkan tangannya terus meraba lantai untuk mencari ketapel yang terlempar.
Ketapel itu berada terlalu jauh, terselip di bawah peti lain. Batu yang sebelumnya dipasang telah menghilang entah ke mana.
Marcus mencoba membanting Dire Mole ke lantai. Hewan itu memutar kepala pada saat terakhir dan kedua giginya menutup pada lengan kiri Marcus.
Jeritan Marcus memenuhi ruangan. Suaranya memantul di antara dinding beton dan deretan mesin.
Suara itu jauh lebih keras daripada letusan pistol. Tubuh Aiden merinding dari tengkuk sampai kaki ketika melihat gigi panjang tersebut menembus lengan ayahnya dan bertemu di balik daging.
Darah mengalir deras menuju siku Marcus. Dire Mole mengguncang kepala, menarik lengan tersebut ke kanan dan kiri sampai Marcus membentur peti yang telah pecah.
Marcus menghantam kepala hewan itu dengan kepalan tangan kanannya. Satu pukulan, kemudian pukulan kedua, tetapi rahangnya tetap terkunci pada lengannya.
Jarinya akhirnya menemukan gagang pistol pada pinggang. Marcus menarik senjata tersebut, menekankan laras ke sisi kepala Dire Mole, lalu memalingkan wajahnya.
Letusan keempat meledak dari jarak yang sangat dekat. Tengkorak hewan itu pecah pada sisi berlawanan dan darah kental menyembur bersama serpihan tulang.
Gigitan Dire Mole langsung terlepas. Tubuhnya ambruk di atas kaki Marcus, lalu berguling dengan keempat kaki yang masih bergerak cepat sebelum akhirnya diam.
Darah makhluk itu berwarna gelap, tetapi kilau hijau terlihat ketika cairannya melewati cahaya senter. Sebagian besar memercik pada lantai dan peti, sedangkan sisanya mengenai lengan Marcus tepat di sekitar luka gigitan.
Marcus menjatuhkan pistol dan mencoba menyeka cairan itu menggunakan kain kemejanya. Gerakannya terburu-buru, tetapi darah hewan tersebut telah bercampur dengan darah yang keluar dari lubang pada lengannya.
Ia mundur satu langkah dan lututnya kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan bahu menghantam sisi generator yang mati.
“Dad!”
Aiden bangkit dan berlari kepadanya. Kakinya hampir menginjak genangan darah Dire Mole sebelum Marcus mengangkat telapak tangannya untuk menghentikannya.
“Jangan injak darahnya.”
Aiden berputar melewati sisi lain. Ia berlutut di dekat kaki Marcus, cukup jauh dari darah hijau yang perlahan merembes ke dalam retakan lantai.
Napas Marcus tersengal dan tidak beraturan. Keringat mengalir dari rambut cokelat pendeknya, turun melewati pelipis, dan membasahi seluruh wajah meskipun udara ruangan dingin.
Tangannya menekan lengan yang digigit. Darah terus keluar melalui sela-sela jari, sedangkan luka pada bahu membasahi bagian belakang kemejanya.
“Dad, lihat aku.”
Marcus mengangkat kepala, tetapi matanya sulit terfokus. Rahangnya mengeras setiap kali denyut sakit menjalar dari lengannya.
“Aiden... panggil seseorang.”
Aiden menggeleng sambil menangis. Ia mencengkeram celana ayahnya karena takut Marcus akan berhenti bergerak begitu ditinggalkan.
“Dad, aku tidak bisa meninggalkanmu. Aku tidak tahu jalan kembali.”
Marcus meraih bagian depan kemeja Aiden dengan tangan yang masih bersih. Tarikannya tidak kuat, tetapi cukup untuk mendekatkan wajah bocah itu.
“Ikuti tanda di dinding. Terus ke kanan sampai kau menemukan tangga.”
Aiden tetap tidak bergerak. Air matanya jatuh pada punggung tangan Marcus yang penuh noda minyak dan darah.
“Sekarang.”
Perintah itu keluar bersama rintihan yang dipaksa tertahan. Marcus melepaskan kemejanya dan kembali menekan lengan yang terus mengucurkan darah.
Aiden akhirnya berdiri. Kedua kakinya gemetar begitu keras hingga ia harus menyentuh peti agar tidak jatuh.
Ia memandang ayahnya sekali lagi, lalu berbalik menuju pintu. Tiga bangkai Dire Mole kecil tergeletak di jalannya, membuatnya harus melompati ekor dan genangan darah mereka.
Ketika mencapai koridor, Aiden mulai berlari. Napasnya patah oleh tangis, sedangkan teriakannya meminta pertolongan memantul dari satu cabang gelap menuju cabang lainnya.