Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
#9
Mobil Lizie baru saja parkir di garasi, namun, Zea dengan lincah melompat keluar, sebab ia melihat keberadaan Zain, kakak kembar Zion.
“Uncle!”
“Zea!”
“Uncle!”
“ Zea!”
Keduanya saling bersahutan dengan suara riang, setelah dekat, Zain berjongkok dan merentangkan kedua tangannya guna mendekap keponakan kecilnya.
“Uncle tenapa cemayam tidak datang?” tanya Zea.
“Uncle sibuk,” jawab Zea.
“Uncle cama aja taya' papa, cibuk, cibuk, cibuk,” sagut Zea lucu.
Zain mencubit pelan hidung Zea, “Kenapa, Zea kangen Uncle?”
“Tentu caja!”
“Aduh, gimana ini, Uncle juga kangen Zea terus, bungkus aja, ya. Biar Uncle bisa bawa Zea kemana-mana,” gurau Zain gemas?
Tapi kepala Zea menggeleng lucu, hingga kepang rambutnya ikut bergoyang-goyang. “No, no, no, dak boyeh, nanti oma dan opa tanen cuga. Yagian Zea butan balang belanjaan, maca dibuntus-buntus klesek,” jawab Zea bersungut-sungut manyun.
Zain berpura-pura manyun sedih, “Sedihnya Uncle,” ujarnya. “Habis, Zea lucu, bulet kayak botol susu pisang.”
“Makanya halus celing puyang.”
“Iya, iya, Uncle pasti akan pulang kalo kangen Zea. Kiss Uncle, dong. Uncle butuh vitamin cium.” Zain menyodorkan pipinya agar dicium Zea.
“Mmmmmmuacchh!”
“Telimakacih tayangna uncle.” Zain balas mencium leher Zea, hingga gadis kecil itu terkikik kegelian.
Lizie tersenyum memperhatikan mereka, “Zain,” sapa Lizie.
“Hai,” balas Zain. “Kemana Mommy dan Daddy?”
“Oh, mereka belum pulang?” Zain menggeleng.
“Mommy ingin latihan menembak, jadi mereka ke Geraldy Kingdom.”
“Oh, pantas saja lama. Pasti ngerumpi juga hahaha,” ujar Zain yang sudah sangat hafal dengan aktivitas orang tuanya bila mendatangi Geraldy Kingdom.
“Masuklah, aku buatkan makanan.” Lizie mempersilahkan Zain mampir agar ia bisa sekedar menyajikan kudapan. Namun, sayang Zain menolak.
“Tak usah repot-repot, aku harus kembali, ada kasus yang masih harus kami selidiki.”
“Zea, masuklah, Sayang, ganti baju, lalu cuci tangan. Mama mau menanyakan sesuatu pada Uncle.”
“Oke, Mama. Bye bye, Uncle!”
“Bye, Sayang,” sahut Zain sambil menepuk pipi gemoy Zea beberapa kali.
Setelah Zea menghilang di balik pintu. “Mau bertanya apa?”
Lizie mengeluarkan ponsel dari dalam handbag-nya, lalu mengutak-atik sejenak fail video yang hendak ia tanyakan pada kakak kembar sang suami.
Tadi saat menunggu Zea keluar kelas, Lizie mengeluarkan memori kamera dashboard mobilnya, lalu membersihkan jejak rekaman perjalanannya sejak dari rumah hingga tiba di sekolah Zea. Tapi Lizie menyisakan video rekaman sang suami dan seorang wanita saat mereka menyeberang jalan tadi.
Video inilah yang hendak Lizie tanyakan.
“Ini, kamu mengenal wanita ini?”
Zain mengamati video rekaman adik iparnya, ada sedikit perubahan ekspresi saat Zain melihat video tersebut.
“Kenal?”
Zain mengangguk ragu, otaknya mengatakan apa Zion sedang cari masalah? Tapi tak mungkin adik kembarnya bermain api, sementara pria itu terlihat sangat bucin pada istrinya. Dan juga sangat menyayangi putri mereka.
“Kok, sepertinya ragu? Mengangguklah yang jelas!” ujar Lizie sedikit jengkel.
“Yang aku tahu, dia mantan— ke— ka— sih Zion,” jawab Zain, namun, sedikit pelan dan ragu di akhir kalimatnya.
Lizie menahan perasaan geramnya, Zion terlihat sangat sibuk di luar, hingga hanya sempat menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Tapi ternyata, ia memiliki waktu sangat luang untuk bisa bersenda gurau dengan mantan kekasihnya.
Zain menepuk pundak adik iparnya, “Jangan buru-buru percaya pada ucapanku, setahuku Zion bukan tipe pria yang suka membagi hatinya. Mungkin mereka hanya kebetulan bertemu, tidak lebih.”
Lizie mencoba tersenyum, meski bibir dan urat wajahnya mulai bergetar menahan marah.
“Iya, aku tahu.”
“Baiklah, aku pergi lagi.”
Setelah menyalakan api, Zain pamit pergi begitu saja tanpa rasa bersalah, meninggalkan bara di hati Lizie. Siapa yang bertanggung jawab memadamkannya? Tentu saja Zion yang harus memberi penjelasan.
•••
Di ruangan Zion, pria itu baru saja menerima email dari mata-mata di Moskow.
•
Dugaan kita bahwa Adam Romanov pernah mengeksploitasi anak-anak untuk dilatih menjadi mesin pembunuh mungkin saja benar.
Karena Kami baru saja menemukan artefak lama, sepertinya sengaja disembunyikan keberadaannya oleh kelompok mafia di bawah pimpinan Adam Romanov.
Kemarin, kami mendatangi bekas puing-puing ledakan di kediaman Adam Romanov, sungguh mengejutkan, karena kami menemukan ruangan-ruangan bersekat di bawah bangunan yang nyaris rata dengan tanah. Sepertinya ini sebuah ruangan untuk mengkarantina banyak orang, karena ada lebih dari 20 ruangan bersekat. Serta banyak ruangan lain yang entah apa kegunaannya.
Sementara dimana keberadaan anak-anak itu, saat ledakan terjadi, belum kami temukan jejaknya.
•
Setelah membaca isi pesan dalam email tersebut, Zion berpindah ke halaman berikutnya.
Foto-foto bekas ledakan, dan kebakaran yang mulai usang dimakan usia. Ada juga ruangan yang cukup membuat bulu kuduk Zion meremang, menurut perkiraan Zion itu seperti ruang latihan, dengan kata lain ruang penyiksaan, karena di ruangan tersebut, anak-anak itu diadu satu sama lain untuk mendapatkan sang warrior terkuat.
Sekarang Zion sudah memiliki anak, karena itulah, ia tak sanggup membayangkan bagaimana bisa anak-anak yang seharusnya diberi perlindungan dan kasih sayang, justru diadu seperti hewan. Untuk dimanfaatkan saat mereka dewasa kelak.
Zion buru-buru menutup email tersebut, dan mematikan ponselnya. Tiba-tiba ia rindu Zea, dan istrinya. Pria itu ingin pulang segera.
•••
Tiba di rumah, hari sudah menjelang malam, Zea sedang duduk manis di meja makan menanti Lizie menghidangkan makan malam.
“Papa!” seru Zea.
Zion tersenyum lebar, menyambut sang putri yang berlari bahagia menyambut kedatangannya. “Aauuhhh anak cantiknya Papa,” sambut Zion, sembari memeluk Zea hangat dan erat, masih teringat isi dari email yang diterimanya sore tadi.
“Zea, ayo cuci tangan lagi, makan malamnya sudah siapa,” kata Lizie, setelah memadamkan tungku kompor.
Zion menurunkan Zea dari gendongannya. “Senangna bica makan mayam cama-cama,” ungkap Zea, gadis kecil itu menyeringai lebar hingga memperlihatkan gigi depannya.
Zion tersenyum, lalu mengusap kepala Zea dengan lembut. “Maafkan Papa, ya?”
Zea mengangguk, namun, saat melirik Lizie Zion merasa heran karena Lizie masih saja bersikap dingin padanya. Padahal pagi tadi sikap Lizie sudah mencair setelah semalam mereka melepas dahaga bersama. “Sayang, kamu sakit?”
“Tidak.”
Zion memperhatikan piring istrinya yang hanya terisi sedikit makanan, “Kalau tak sakit, kenapa hanya makan sedikit? Dan sejak tadi kamu hanya memainkan isi piringmu.”
Lizie menyendok nasi di piringnya, namun, Zion masih merasa bahwa Lizie tak seperti Lizie yang biasanya.
Mendadak Zion ikut gelisah sendiri. Kenapa?
Terkadang, cerewetnya wanita, membuat para pria pusing tujuh keliling, tapi diamnya wanita, justru membuat para pria merinding ketakutan. Karena artinya bencana besar sedang menunggu waktu untuk tiba.
Setelah makan malam, Zion pamit untuk mandi, karena Zea bilang ingin tidur ditemani olehnya.
•••
Setelah Zea terlelap.
Zion melihat lampu ruang tengah sudah dipadamkan, menyisakan lampu malam yang remang-remang.
Tiba di kamar, Zion melihat Lizie sudah berbaring di tempat tidur, sebagian tubuhnya tertutup selimut. Tanpa menunggu lama, pria itu pun bergabung, ikut merebahkan diri lalu berguling lebih dekat ke tubuh istrinya.
Indera penciumannya langsung bisa mengendus bau harum dari shampo yang digunakan istrinya setiap hari. Secara otomatis, lengannya ikut melingkar erat di pinggang Lizie. “Kamu sedang marah padaku?” bisik Zion saat ia menciumi tengkuk Lizie.
“Syukurlah kalau paham, awas tangannya, jauh-jauh sana!” Dengan sedikit kasar, Lizie menyingkirkan lengan dan tubuh Zion.
“Aku salah apalagi, Sayang? Kayaknya aku salah terus, deh, dimata kamu.” Zion mempertanyakan dimana letak kesalahannya kali ini, agar pertengkaran mereka tak berlarut-larut.
Dengan cepat, Lizie bangun dan duduk bersandar di headboard tempat tidur, lalu membuka ponselnya.
Zion ikut duduk sambil terus mengawasi gerak gerik istrinya, benar-benar wanita menggemaskan, marah saja membuat Zion ingin menerkamnya, gimana kalau dia tersenyum manja sambil merayunya? Bisa dipastikan mereka akan lembur semalaman.
“Nih, siapa dia? Aku pikir kamu sangat sibuk sampai tak sempat mengedipkan mata, karena itulah kamu selalu pulang larut malam. Tapi, tak kusangka, kamu sempat menikmati waktu bernostalgia dengan MANTAN KEKASIHMU.”
Nada bicara Lizie sangat sarkas, penuh amarah dan kecemburuan dibalik suaranya yang pelan.
“Aku bisa jelaskan siapa dia,” kata Zion, makin membuat Lizie kesal karena pria itu tak memperlihatkan rasa bersalah sedikitpun.