kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Faris menggenggam ponsel tua itu dengan jemari yang gemetar hebat. Di dalam kamar kontrakan sempit yang pengap, jeritan histeris Anggun dan isak tangis Hazel bercampur menjadi satu, menghantam pertahanan terakhirnya. Tidak ada pilihan lain. Harga diri yang dulu setinggi langit kini harus ia injak-injak sendiri sampai lumat.
Dengan napas memburu, Faris menekan tombol panggil ke nomor Nina.
Di penthouse, Nina yang sedang merapikan beberapa berkas kuliahnya melihat layar ponselnya menyala. Nama sang ayah tertera di sana. Nina tidak langsung mengangkatnya. Ia membiarkan ponsel itu berdering lima kali, memberi ruang agar rasa putus asa Faris membakar pria itu makin dalam, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
"H-halo... Assalamualaikum...Nina?" suara Faris dari seberang sana terdengar begitu parau, kecil, dan memilukan. "Ini Ayah, Nak... Ayah mohon, tolong Ayah..."
"Waalaikumsalam...!"Nina mendengarkan kalimat demi kalimat aduan Faris tentangnya dan keluarganya yang di usir dari rumah karena kebodohan hazel serta kondisi Hadin yang kritis di panti rehabilitasi akibat sakau berat. Setelah menutup telepon, Nina melangkah menuju ruang kerja Jafar.
Di dalam ruang kerja yang dingin itu, Jafar sedang duduk di balik meja marmernya. Nina menyampaikan maksudnya dengan lembut, meminta izin untuk menjenguk Hadin di panti rehabilitasi. Jafar, yang dari awal sudah memantau pergerakan Nina, menatap gadis itu lekat-lekat dari balik maskernya. Tanpa banyak bicara, pria itu mengangguk tipis dan mengizinkannya pergi, tentu saja dengan mengutus Dako untuk mengawasi dari jauh.
Perjalanan menuju panti rehabilitasi dimanfaatkan Nina sebaik mungkin.
Sebelum naik ke mobil online, Nina menyempatkan diri mampir ke sebuah ATM di pinggir jalan utama. Ia menarik uang tunai secukupnya. Baginya, terlalu resiko jika memberi Faris uang dalam jumlah fantastis atau via transfer; pria licik itu bisa langsung mencium aroma kepemilikan Black Card dan membongkar penyamarannya.
Begitu duduk di kursi belakang mobil online, aksi sandiwara Nina dimulai.
Nina merogoh dasar tas kainnya, mengubrak-abrik isi tas hingga menemukan sebuah kotak eyeshadow kecil yang bentuknya sudah cukup tragis. Wadahnya retak, warnanya agak memudar, peninggalannya yang ia beli murah saat ikut acara karnaval desa setahun yang lalu. Bahkan, mungkin masa kadaluarsanya tinggal menghitung hari.
Dengan teliti dan penuh kehati-hatian, Nina mengambil sedikit warna keunguan dan kecokelatan menggunakan ujung jarinya. Ditatapnya cermin kecil. Sambil menahan tawa gatal di hatinya, Nina memoleskan riasan itu tepat di sudut bibirnya, menciptakan ilusi bekas lebam atau pukulan kasar yang amat meyakinkan.
Sopir mobil online yang sesekali melirik dari kaca spion tengah mendadak mengernyit heran. Ia melihat penumpang perempuannya sibuk menepuk-nepuk sudut bibir sambil tersenyum-tersenyum sendiri.
"Neng... maaf, itu bibirnya kenapa? Habis kena pukul ya?" tanyakan sang sopir dengan nada prihatin bercampur takut.
Nina buru-buru memasang raut wajah sedih dan menunduk dalam-dalam. "Ti-tidak, Pak... lagi pengen bikin kejutan saja untuk keluarga," sahut Nina dengan nada cicitan yang begitu dramatis dan polos.
Sopir itu langsung menggeleng-gelengkan kepala, geli dengan kelakuan gadis sekarang ini yang duduk di kursi belakangnya, tanpa tahu bahwa yang sedang berada di mobilnya adalah master perencana kejatuhan sebuah keluarga.
Sesampainya di panti rehabilitasi, suasana koridor rumah sakit terasa begitu mencekam. Bau karbol menyengat hidung.
Dari kejauhan, Nina melihat sosok Faris yang sedang duduk tersungkur di kursi besi luar ruang perawatan. Pria itu tampak sangat memprihatinkan, kemejanya lusuh, matanya berurat merah, dan mukanya kusam penuh duka.
Langkah kaki Nina mendekat. "Ayah...?"
Faris mendongak patah-patah. Saat matanya bertubrukan dengan wajah Nina, pandangannya langsung tertuju pada bekas lebam ungu di sudut bibir putrinya.
"N-Nina... wajahmu kenapa?" tanya Faris dengan suara parau, menunjuk bibir Nina.
Nina refleks memegang sudut bibirnya, berpura-pura meringis kesakitan dan menunduk takut-takut. "A-anu, Ayah... Tidak apa-apa..., ini salah Nina yang sudah lancang. Nina ketahuan minta izin keluar... Tapi tidak masalah, Ayah. Yang penting Nina bisa datang membawa ini."
Dengan tangan gemetar buatan, Nina merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop cokelat berisi uang tunai sebesar lima juta rupiah, uang yang ia tarik dari ATM tadi.
"Ini ada uang lima juta dari simpanan Nina..." bisik Nina pilu. "Cuma ini yang Nina punya, Ayah. Tolong pakai untuk biaya darurat kak Hadin dulu."
Faris menyambar amplop itu dengan mata berbinar lapar. Namun, bukannya terharu atau mengucapkan terima kasih yang tulus, Faris malah meremas amplop itu dan menatap Nina dengan pandangan penuh tuntutan yang teramat dangkal.
"Cuma lima juta?!" desis Faris parau, suara kekesalannya mulai muncul kembali. "Nina! Hadin itu butuh belasan juta untuk operasi luka sayatan di pergelangan tangannya dan biaya penanganan sakau! Kamu kan tinggal di penthouse mewah, masa cuma bisa bawa lima juta rupiah?! Minta lagi sama Jafar!"
Nina mematung. Di dalam dadanya, rasa haru yang sempat ia harapkan dari sosok seorang ayah mendadak nguap menjadi rasa miris yang amat dalam.
Allah sudah menurunkan teguran yang begitu nyata, mengusir keluarga ini dari rumah mewah, mencabut seluruh kekayaannya, hingga membuat anak laki-lakinya kritis di ruang UGD. Namun, Faris masih belum juga sadar. Hatinya telah tertutup oleh kesombongan, ketamakan, dan kebiasaan memanfaatkan orang lain. Pria itu masih terus menganggap Nina sebagai mesin pencetak uang yang wajib membiayai keserakahan keluarganya.
Nina menatap Faris lekat-lekat. Sorot mata lugunya perlahan berubah menjadi redup dan dingin.
"Ayah..." suara Nina terdengar sangat pelan, namun bergetar menahan luapan emosi. "Uang lima juta ini Nina dapat dari menahan rasa sakit di bibir Nina... Tapi Ayah bahkan tidak bertanya apakah Nina sudah makan atau belum, atau ayah bertanya, pernikahan Nina baik-baik saja atau tidak. Ayah cuma peduli sama jumlah uangnya..."
Faris tersentak, sedikit terkejut oleh perkataan Nina, namun rasa paniknya melunasi nuraninya. "Bukan begitu, Nina! Kamu tidak paham posisi Ayah! Hadin itu nyawanya terancam!"
"Dan nyawa Nina juga terancam di rumah itu kalau terus-terusan diperlakukan seperti ini demi Ayah!" potong Nina dengan nada gemetar, air matanya menetes membasahi pipi.
Di sudut koridor yang agak gelap, Dako yang berdiri mengawasi dari jauh hanya bisa menggelengkan kepala melihat tabiat Faris. Asisten kepercayaan Jafar itu mendesah pelan, menatap iba sekaligus kagum pada akting luar biasa dan ketabahan hati Nina dalam menghadapi ayahnya yang memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi hatinya.
"bu-bukan begitu... kamu kan istrinya Jafar... Ayah juga yang telah menikahkanmu dengannya, masa kamu tega dengan ayah yang sekarang menjadi gelandangan, sedangkan kamu hidup enak di pethous Jafar"
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰