Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Waktu adalah pencuri yang paling tenang. Tanpa suara, lima bulan berlalu menyapu sudut-sudut Istana Blackwood dengan kesunyian yang kian menggigit. Ruangan-ruangan beratap tinggi yang dulu megah kini terasa bagai sangkar emas yang dingin.
Di balik dinding pualam, tak ada gelak tawa yang tersisa—yang ada hanyalah detak jam dinding kuno yang terus berdetak, memperhitungkan jarak antara harapan dan rasa sakit.
Perubahan paling nyata terpancar dari sosok Baxeena. Perutnya kini membuncit anggun, menandakan kehidupan baru yang kian dekat mendekati bulan-bulan akhirnya.
Setiap kali jemari lentiknya mengusap perut itu, ada kehangatan naluri seorang ibu yang merekah, namun sekaligus ada kesedihan mendalam yang tertahan di balik matanya. Lima bulan tanpa dekapan, tanpa kepastian, dan hanya ditemani bayang-bayang seorang pria yang diutus mengadu nyawa di medan perang.
Pagi itu, sinar matahari menembus kaca patri ruang makan utama, membiaskan cahaya temaram yang tidak mampu menghangatkan ruangan. Di atas meja panjang bertutup taplak renda putih, sajian sarapan megah terhampar. Namun, udara di sana terlampau pekat oleh ketegangan.
Di ujung meja, Ratu Lizzeebeeth Blackwood duduk tegak bagai patung batu. Wajahnya yang biasanya menyembunyikan amarah di balik keanggunan palsu, kali ini benar-benar dipenuhi cemberut dingin. Bibirnya terkatup tipis, membentuk garis lurus yang memancarkan kejengkelan mentah. Tatapan matanya yang tajam dan menusuk tertuju pada satu titik di hadapannya: Baxeena.
Namun, Baxeena sama sekali tidak membiarkan kehampaan Ratu merusak dunianya. Di sisinya, duduk putrinya, Violet. Baxeena mengabaikan hawa dingin yang mengepung mereka, memilih menyalurkan seluruh sisa kehangatan cintanya pada sang anak tiri.
"Makan yang banyak, Sayang," bisik Baxeena dengan suara serak yang bergetar lembut.
Senyum manis terkembang di bibir Baxeena—sebuah senyum yang terukir indah namun menyimpan luka yang teramat dalam.
Violet terkekeh kecil, Dan mengangguk sambil tersenyuman kepada sang mommy.
Pemandangan keibuan yang manis itu justru menjadi duri di mata Ratu Lizzeebeeth. Baginya, ketenangan Baxeena adalah bentuk penghinaan. Ratu menggeletukkan sendok peraknya ke atas piring porselen—bunyi nyaring yang sengaja diciptakan untuk memecah suasana.
Sebelum kejengkelan sang Ratu memuncak menjadi kata-kata, pintu ganda ruang makan mendadak terbuka lebar. Langkah kaki berdegup kencang memecah keheningan.
Seorang utusan militer menerobos masuk tanpa memedulikan etiket istana.
"Yang Mulia Raja! Yang Mulia Ratu!" seru prajurit itu dengan napas tersengal, berlutut bertumpu pada satu kaki di ujung meja. "Kabar dari area konflik..."
Suasana di ruangan itu membeku seketika. Hawa melankolis bertambah pekat, mencekik setiap pasang paru-paru yang ada di sana.
"Katakan!" perintah Raja George yang duduk di sisi kiri meja, suaranya berat dan sarat kecemasan yang telah menumpuk.
"Pasukan sektor barat mengalami kegagalan besar dalam penyerangan," lapor bawahan itu dengan suara bergetar. "Janji enam bulan untuk menundukkan pertahanan musuh... tidak dapat dipenuhi. Pasukan ditarik mundur setelah menelan kerugian parah. Pangeran... Pangeran terdesak dan terpaksa menghentikan konfrontasi. Beliau sedang bersiap dalam perjalanan kembali ke istana."
Kata-kata itu jatuh bagai kepingan es yang menghantam dada Baxeena. Jemarinya yang memegang sendok seketika gemetar hebat.
Gagal? Janji enam bulan itu sirnah? Suaminya akan pulang... tapi dalam keadaan runtuh? Kesedihan membuncah di dadanya, membayangkan betapa hancurnya perasaan sang suami yang terbiasa menang, kini harus kembali memikul beban kekalahan dan luka.
Namun, di sudut meja yang lain, reaksi yang bertolak belakang terjadi.
Ratu Lizzeebeeth membeku sejenak, lalu detik berikutnya, seolah ada keajaiban kejam yang menyala di matanya. Kejengkelan di wajahnya luntur, berganti menjadi binar kepuasan yang brutal.
Bibirnya melengkung membentuk senyuman kemenangan yang mengerikan. Bagi Ratu, kegagalan putranya bukanlah sebuah duka, melainkan senjata politik sempurna untuk menundukkan Baxeena dan merebut kembali kendali yang mulai goyah.
Ratu menyandarkan tubuhnya, memiringkan kepala, lalu menatap Baxeena dengan pandangan penuh kemurkaan yang dibalut kebahagiaan sadis.
"Lihat, Baxeena..." suara Ratu terdengar halus, bagai bisikan bisa ular yang merayap di atas tanah basah. "Suamimu pulang dengan kegagalan. Kau tahu apa artinya itu?"
Baxeena memaku pandangannya pada Ratu, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit atas ketidakberdayaan suaminya di sana.
"Artinya, dia telah gagal membuktikan dirinya," lanjut Ratu dengan nada mengejek yang sangat dingin. "Kepemimpinannya ternoda, posisinya di atas takhta ini terancam hancur... dan kau, bersama Kandungan mu, tidak lebih dari sekadar beban yang menyeretnya ke jurang kehancuran. Kehadiranmu di istana ini sungguh tak ada gunanya lagi."
Bahagia atas kegagalan darah dagingnya sendiri—itulah yang terpancar jelas dari raut wajah sang Ratu. Rencana jahatnya untuk memisahkan mereka seolah mendapat angin segar dari darah dan kegagalan di garis depan.
BRAAK!
Hantaman keras telapak tangan menghantam meja jati tebal. Gelas kristal bergetar, air di dalamnya tumpah menggenangi kain renda putih.
Raja George berdiri dengan wajah memerah padam. Napasnya memburu, matanya menyala oleh kemarahan yang tak lagi sanggup ditampung.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah puluhan tahun pernikahan mereka di Istana Blackwood, sang Raja membuang segala kesopanan aristokratnya.
"CUKUP, LIZZEEBEETH!"
Suara bentakan Raja George menggelegar menembus langit-langit aula, membuat para pelayan di sudut ruangan menunduk ketakutan.
Ratu Lizzeebeeth terperanjat hebat. Matanya membelalak tak percaya. Tubuhnya kaku, terkejut luar biasa karena dibentak secara terbuka di hadapan semua orang.
"Kau... kau membentakku?" bisik Ratu dengan suara bergetar, antara terkejut dan marah.
"Ya! Karena kau sudah kehilangan akal sehat dan nuranimu!" jerit Raja George dengan nada penuh keputusasaan dan kelelahan batin. Matanya yang menatap istrinya kini hanya berisi kekecewaan yang teramat mendalam. "Kau bahkan tidak memikirkan bagaimana kondisi putramu saat ini?! Dia baru saja bertaruh nyawa di tengah hujan peluru dan Bahaya! Dia terluka, dia hancur secara mental!"
Raja George menunjuk ke arah Baxeena dengan tangan yang gemetar hebat.
"Dan wanita ini... Baxeena sedang mengandung cucumu! Dia sedang membawa darah daging keluarga ini!" bentak Raja George lagi, suaranya parau menahan rasa perih. "Bagaimana bisa seorang ibu tersenyum dan bersukacita saat mendengar kabar kegagalan dan bahaya yang menimpa anak kandungnya sendiri?! Di mana hatimu, Lizzeebeeth?!"
Ratu mencoba menyela, "Tapi George, siasat kita sejak awal—"
"LUPAKAN SIASAT KITA SEDARI AWAL!" potong Raja George dengan teriakan yang memecah kesunyian. Ia melangkah mendekati istrinya, menatap lurus ke dalam mata Ratu yang mulai dipenuhi rasa malu. "Lupakan semua ambisi politik gila dan kebencian tidak masuk akalmu itu! Yang terpenting sekarang adalah keselamatan darah dagingku!"
Raja George menarik napas panjang yang terasa sangat berat, mencoba menguasai badai emosi di dadanya. "Pastikan kabar putramu datang dengan fisiknya tanpa kurang satu apa pun! Jika dia pulang dalam keadaan bernapas, itu sudah cukup bagiku. Jangan berani-berani kau menyentuh atau menekan mereka lagi!"
Tanpa menunggu balasan dari istrinya, Raja George memutar tubuhnya. Langkah kakinya terdengar berat dan terburu-buru saat ia meninggalkan ruang makan, hendak mengurus bala bantuan dan tim medis terbaik untuk menyambut kepulangan putranya.
Keheningan kembali menyergap, namun kali ini jauh lebih berbahaya.
Ratu Lizzeebeeth berdiri mematung. Rasa malu, hina, dan amarah murni membakar dadanya hingga sesak.
Dibentak, dipermalukan, dan disalahkan di depan para pelayan—dan yang paling menyakitkan, di hadapan Baxeena—membuat harga diri sang Ratu yang setinggi langit itu runtuh berkeping-keping.
Dendam dan amarahnya tak bisa dilampiaskan pada sang Raja. Maka, seluruh racun itu dialihkan pada satu-satunya target yang tersisa.
Melihat badai yang akan meletus, seorang pelayan senior yang setia dengan sigap mendekati Violet. Hanya Dengan satu bisikan, pelayan itu membimbing Violet keluar dari ruangan, menjauhkan anak itu dari kehancuran emosional yang akan terjadi.
Kini, di ruang makan yang megah namun terasa bagai arena pembantaian batin, hanya tersisa Ratu Lizzeebeeth dan Baxeena.
Ratu melangkah maju, sudut matanya memerah oleh kebencian yang meluap. Telunjuknya mengacung tepat beberapa sentimeter dari wajah Baxeena.
"Kau..." suara Ratu melengking, bergetar oleh amarah yang tak tertahan. "Kau adalah nasib buruk di istana ini! Sejak kau datang, kau meracuni pikiran putraku! Kau membuat Raja berbalik memusuhiku! Kau merusak segalanya! Kau benar-benar menghancurkan dinasti ini!"
Cacian itu menggema di dinding-dinding dingin. Namun, Baxeena tidak menangis. Rasa sakit yang mengendap di dadanya selama lima bulan terakhir telah menempa hatinya menjadi baja yang tak mudah patah.
Baxeena berdiri perlahan. Dengan keanggunan yang tidak mampu dibeli dengan gelar bangsawan mana pun, ia mengelus perut besarnya secara protektif. Ia menatap Ratu Lizzeebeeth—bukan dengan rasa takut, melainkan dengan tatapan dingin, penuh ketegasan dan keputusasaan seorang wanita yang tak memiliki apa pun untuk ditakutkan.
Baxeena mengambil satu langkah mendekati Ratu. Tatapannya menusuk tajam.
"Jika istana yang dingin dan penuh kebusukan ini memang tidak membutuhkanku..." suara Baxeena terdengar sangat tenang, namun getaran di dalam nadanya mampu membekukan keberanian Ratu. "...dan jika Anda benar-benar sangat ingin mengusirku dari sini..."
Baxeena menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh luka untuk pertama kalinya, namun dipenuhi keteguhan tanpa batas.
"Aku tidak pernah takut untuk kembali ke Los Angeles detik ini juga."
Ratu Lizzeebeeth mengerutkan keningnya, terkejut oleh keberanian Baxeena yang tak goyah sedikit pun.
Baxeena memiringkan kepalanya sedikit, menatap Ratu lurus pada manik matanya, lalu menekan setiap patah kata yang keluar dari bibirnya dengan ejaan yang sengaja diperlambat:
"Tapi ingat satu hal, Yang Mulia... Aku akan pergi dengan syarat. Putriku... S-u-a-m-i-k-u... harus ikut bersamaku."
Kata suamiku dieja oleh Baxeena satu demi satu hurufnya, terngiang nyaring di telinga Ratu bagai vonis mati bagi ambisinya.
"Pangeran tidak akan pernah memilih takhta berdarah ini jika di sisinya tidak ada aku," tegas Baxeena dengan suara parau menahan serbuan emosi. "Usir aku, maka Anda akan kehilangan putra Anda selamanya. Biarkan dia pulang dengan kegagalannya, tapi saya pastikan, dia tidak akan pernah gagal menjadi seorang suami dan ayah bagi keluarga yang kami bangun."
Ratu Lizzeebeeth membeku, bibirnya terkatup rapat tanpa mampu membalas. Untuk pertama kalinya, sang Ratu menyadari bahwa dalam perang dingin di dalam istana ini, dialah yang sebenarnya telah kalah.
Baxeena berbalik perlahan, melangkah meninggalkan ruang makan yang kelam itu. Di balik langkah anggunnya, air mata Baxeena akhirnya jatuh menetes di atas pipinya. Ia berjalan menuju jendela besar, menatap gerbang luar istana yang tertutup kabut tebal, menantikan kepulangan pria yang sangat dicintainya—pria yang akan kembali dengan luka, kegagalan, dan dekapan yang teramat ia rindukan.
untung lawan nya xeena 😝
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭