Indonesia
NovelToon NovelToon
Rafka Dan Ragam Senja

Rafka Dan Ragam Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Nirmaya

Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.

Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?

Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpaksa Menerima

Afyah

‘Ru, bisa ketemuan nanti?’

Senja menghentikan sejenak ketikan di atas keyboard kala munculnya sebuah notifikasi yang muncul di layar laptop. Aneh, sahabatnya menghubungi di nomor kerja bukan pribadi.

‘Jam makan siang?’ balas Senja cepat.

Afyah

‘Sehabis pulang kerja aku ke rumahmu’

‘Oke, aku tunggu’

Selesai, tukar pesan tidak menghabiskan waktu sampai dua menit. Sebuah rencana dan keputusan sudah mendapat hasil akhir. Kembali ke pekerjaan semula. Melupakan sejenak pembahasan tadi.

“Permisi, Mba Aru. Ini ada dokumen minta tanda tangan” Yara masuk ke dalam ruangan, di tangannya terdapat dokumen yang ia maksud.

“Kusut banget, Mba mukanya. Cari pacar gih biar ada yang semangatin” Senja yang baru saja ingin membubuhkan tinta di atas kertas berhenti, menatap staf yang tidak ada rasa takut padanya.

Kembali ia membaca isi dokumen tersebut sebelum bertanya “Mba Yara, butuh Approval dari saya segera?”

“Iya, Mba. Mau tak teruskan ke Departemen lain” Senja mengangguk paham. Tapi bukannya langsung menandatangani, dokumen itu justru di tumpuk ke sudut meja. Dan kembali menatap laptopnya.

Hal itu justru memancing kebingungan Yara “Loh, Mba kok di simpan?”

Senja melirik sekilas muka Yara “Panik banget mukanya, Mba. Pacarnya hilang?” ucapan Senja sontak mengundang tawa Yara. Sekarang gadis sebagai staf Senja ini paham maksud dari atasannya.

“Aelah, Ru langsung di balas lagi. Jangan pakai dokumen urgent dong!” Senja mendengus sumbang tak urung meraih kembali dokumen milik Yara dan segera menanda tangani nya. Yara tersenyum senang “Suka aku sama kamu” Yara mengambil dokumen nya dengan riang tidak peduli dengan muka jijik dan memuakkan Senja.

“Oh iya, nanti ke kantin?” ujarnya bertanya sebelum keluar.

“Ngga, bawa bekal aku” Yara manyun mendengarnya

“Ya sudah deh ngga papa” Senja mengangguk begitu pun Yara melenggang keluar ruangan. “Eh, lupa!”

Senja memejamkan mata pusing, apa lagi yang mau di omongin sama temannya ini, karena sekarang Yara sudah kembali ke posisinya semula, Siap mengganggu ketenangannya. “Kemarin aku liat kamu di jemput sama cowo, hayoo siapa?”

Si all. Umpat Senja pelan. Ia melupakan kejadian Rafka menjemputnya kemarin. Dia ngga pintar berbohong apa lagi di hadapannya Yara, gadis tukang kepo di kantor! “Aru! Kok diam sih. Pacar ya? Ciee punya pacar..”

Lihat lah Yara sekarang, tersenyum-senyum kaya habis memenangkan hadiah utama. Padahal Senja belum menjawab dan mengonfirmasi kebenaran tebakannya tadi. “Berisik banget sih kamu! Aku lagi ngisi penilaian kinerja kamu loh ini. Jangan sampai ku isi nilai rendah!” Ancamnya kejam, tapi cara itu berhasil membuat Yara bungkam seketika.

“Beneran?”

“Ya benar lah! Ngga percaya?” Yara menggeleng “Nih, lihat” Senja memutar Laptopnya mengarah Yara. Benar, itu form penilaian. Yara menutup mulut nya syok.

“Ih kok beneran? Aru ih ngga asik. Inikan pribadi” rengeknya pada Senja di balas ketawa tak terelakkan yang semakin memperparah Yara. “Curang! Menyalahgunakan jabatan ini mah!”

“Dih, siapa yang menyalahgunakan?” bantah nya di sela-sela rasa tawa yang masih menggelitik. “Kembali ke kerjaanmu sana, nanti protes pulang malam terus”

Yara memanyunkan bibir tak membantah keluar ruangan, tapi sebelum itu “Ru, bikin bagus nilai ku ya!” pinta nya seenak jidat dan melenggang pergi. Senja tak mengindahkan kemauan Yara, syukurlah dia bisa mengalihkan perhatian Stafnya. Belum saatnya hubungan itu sampai masuk ke ranah kantornya, setidaknya untuk sekarang.

Waktu berjalan begitu cepat, tidak ia sadari bahwa hari sudah sore dan pekerjaannya tidak ada habis-habisnya padahal jam pulang sudah terlewat sejam yang lalu, dan dia masih bergeming di kursinya. Itu tadi, sebelum ingatannya memaksa mengingat janji yang sudah tersepakati pagi tadi. Janji dengan Afyah.

“Oh astaga! Afyah!” tanpa pikir panjang segera membereskan pekerjaannya. Biarlah Ia lembur di rumah nanti, yang penting tidak mengingkari janji. Itulah Langkah yang di ambil Senja.

Sekitar ruangannya sudah sepi, karyawan lain sudah pada pulang termasuk Yara yang berpamitan padanya setengah jam yang lalu.

Senja keluar Gedung tempatnya bekerja, menuju parkiran tempat motornya berada. Hari ini Senja sudah membawa motor sendiri, tidak seperti kemarin. Jadi hilangkan drama kemunculan dadakan Rafka seperti kemarin.

Harapannya sekarang, ia lebih dulu sampai sebelum Afyah. Tidak enak rasanya jika sahabatnya datang tapi dia belum tiba. Meski Afyah pasti memaklumi itu.

Sayang seribu sayang, kenyataan memang tidak selalu sesuai keinginan kan? Setibanya di pekarangan rumah, Senja sudah mendapati motor milik Afyah terparkir cantik depan bagasi samping rumah. Ya, Afyah telah tiba. Terbukti dengan suaranya yang sangat di kenali Senja terdengar dari ruang tamu bersama sang Bunda.

“Afyah! Sorry-sorry, dari tadi datangnya?” seruan Senja menarik penuh perhatian Bunda dan Afyah.

“Salam dulu, Senja” Tegur Bunda, Senja meringis pelan “Assalamualaikum, Bunda” salamnya tersenyum. Bunda menggeleng kepala tak heran.

“Waalaikumsalam, ngga kok. Baru juga sampe sepuluh menitan lalu lah” ucap Afyah jujur sejujurnya. Senja menghela nafas lega.

“Mau di sini atau ke kamar?” tawarnya “Kamar aja ya, sekalian aku bebersih diri dulu” finalnya. Ia melenggang terlebih dahulu ke kamarnya. Di belakang Afyah berpamitan ke Bunda dan menyusul Senja.

Kumpul di kamar seperti ini bukan pertama kalinya, jadi Sudah tidak heran lagi. Paling sebentar lagi muncul yang satu. Itu lah pemikiran Bunda menatap kepergian sahabat Putrinya.

Sesampainya di kamar, Senja memulai menyimpan tas laptop di atas meja, melepas hijab dan menghapus make upnya. Afyah pun sudah duduk di atas kasur milik Senja tanpa rasa sungkan, mengambil camilan yang ada di kamar tersebut sembari menunggu Princess rumah selesai dengan urusannya.

“Kamu pulang kerja langsung ke sini?” Tanya Senja, gadis itu sudah berganti pakaian rumahan yang menurutnya nyaman.

Afyah mengangguk “Aku ngga berniat pulang, Ru” Senja menghentikan sisiran rambutnya, beralih menatap Afyah. Baru ia perhatikan gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Terbukti dengan ucapannya tadi dan kondisinya sekarang tampak murung. Oke, ia belum tau untuk sekarang “Daye ngga kamu ajak ke sini?”

“Ngga, aku belum siap dia tau” jawaban Afyah kembali memantik rasa penasaran membumbung tinggi di hatinya. Dengan cepat Senja menyelesaikan acara sisir menyisirnya. Ia tau sahabatnya lagi butuh dia.

Bergabung bersama Afyah yang rasanya sudah tidak berselera menatap camilan di tangannya. Senja diam, menunggu sampai Afyah mau cerita padanya. Memberikan waktu agar gadis itu menenangkan hati dan pikiran.

Tapi bukan suara dan cerita yang keluar, melainkan tetesan air mata jatuh membasahi pipi putihnya. Afyah menangis, setetes demi setetes jatuh tak tertahan, sesak yang semakin lama menekan dada memaksa untuk di keluarkan. Deraian air mata menguasai wajah cantiknya, ia tidak meraung, tangisan tanpa air mata menjelaskan betapa besar rasa sakit yang berusaha di tahan.

Senja diam, tidak ada kalimat penenang yang bisa dia lontarkan untuk sahabatnya. Ia membiarkan Afyah menangis, menumpahkan semua rasa sakitnya sampai semuanya lepas dan merasa lega.

Rasa sesak semakin mendera dan memenuhi rongga mengantarkan tangannya menepuk-nepuk keras da da nya. Senja menahan tangannya, nangis boleh tapi jangan menyakiti diri. Itulah prinsip yang kadang lalai ia jalankan. “Jangan sakitin diri, Yah. Nangislah tumpahkan semua rasa sakit yang kamu rasakan”

Tidak ada sampai sedetik suara tangis Afyah pecah memenuhi kamarnya. Tangisan terdengar sangat pilu, Senja tidak tahan mendengarnya. Hati nya ikut merasakan rasa sakit yang di rasakan oleh sang sahabat. Seperti batin yang saling terhubung.

Di rengkuhnya tubuh sahabatnya, memberikan dukungan melalui dekapan yang sebisa mungkin ia buat hangat dan menenangkan sahabatnya. Ia tidak bersuara, tapi tubuhnya memberikan isyarat dukungan penuh. Bahwa “Kamu tidak sendiri di sini”

Tangisan Afyah semakin kencang di dalam dekapannya. Senja pun semakin mendekap erat bahkan setetes air mata ikut terjatuh. Ia tak bisa menahan tangisnya. Afyah, sahabat yang tidak pernah menunjukkan kesedihan di depan mereka, pemikiran paling dewasa, gadis jutek dan cuek terhadap sekitar, menjadi sandaran kedua sahabatnya. Dan sekarang gadis itulah yang paling rapuh, menangis memperlihatkan kepurukan di depannya.

“Aru, Maafkan aku” ucapnya pelan begitu lirih di dalam dekapan Senja. Suara bergetar dan sesugukan.

“Jangan minta maaf, kamu ngga melakukan kesalahan sampai harus meminta maaf pada ku. Meminta maaf lah pada dirimu sendiri” balas Senja, ia menarik nafas pelan menetralisir emosionalnya. Ia terbawa suasana.

Senja merasakan gelengan kepala Afyah tanda penolakan dari gadis itu. Ia tak tahu apa maksud dari permintaan Afyah tadi, ia tak tahu masalah apa yang sedang di hadapi Afyah. Semua masih terasa abu-abu.

“Maaf, maaf aku terpaksa menerima perjodohan itu” ucap Afyah lagi, kalimat itu terasa jelas meski di selingi sesugukan tangisnya. Senja diam, tapi ia sudah mulai paham arah pembahasan kedepannya. Tapi menerima perjodohan kenapa minta maaf padanya?

Afyah melepaskan pelukan Senja, terlihat lah wajah sembab dan bekas air mata masih tersisa. Afyah menarik nafas pelan mengatur nafas sebelum bersuara lagi. Ini tentang nasib persahabatannya kedepan, sungguh ia tak sanggup jika alasan kehancuran persahabatan mereka karean keputusannya ini.

“Aku menerima perjodohan itu” ujarnya mengulang lagi.

Senja mengernyit bingung “Bagus dong, sesuai kemauanmu beartikan? Gimana calonmu baik kan?” Afyah diam, ingin rasanya ia berteriak bahwa calonnya mengancam dan memaksa nya. Tapi ia tak mampu, semuanya sia-sia.

“Kamu ngga mau tau calonku siapa?” tanya nya ragu. Senja tersenyum “Kalau kamu belum siap ngeshare calonmu ngga papa, atau nanti kita ngumpul bareng aja, kamu bawa calonmu, aku sama Daye juga bawa pasangan”

Inilah Senja, tidak ada paksaan dan keingintahuan nya yang bisa membuat orang-orang di sekitarnya merasa risih. Ia begitu menjaga privasi dan batasan. “Aku tak yakin” jawabnya lagi.

“Oh calonmu pemalu? Introvert?” Afyah menggeleng. Bukan, bukan itu tapi.

“Calonku Kamal” ucap nya lirih. Begitu cepat, begitu asing dan begitu tergesa.

“Huh?”

1
Senja Susanti
sama namanya seperti namaku
Aksara Nirmaya: hihii halooo kak Senjaa🤗
total 1 replies
Irma Nsyah
semangat nulisnya 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!