Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 : Percikan Api & Tameng Ketat

   Ketenangan Kiara yang belum genap seminggu kembali bersekolah langsung diuji. Gosip hangat tentang aksi Khafi dan dirinya yang menerobos hujan jum'at lalu rupanya masih jadi bahan perbincangan yang hangat, apalagi gosip saat Khafi menggendong dirinya saat pingsan di tengah jalannya upacara, masih menjadi trending topic terpanas. Terutama bagi Selly—gadis yang terang-terangan terobsesi pada Khafi.

​Siang itu, saat Kiara sedang membasuh tangannya di wastafel toilet lantai dua, pintu toilet terdorong kasar. Selly masuk bersama dua dayang-dayangnya, Jeje dan Bella. Mereka sengaja berdiri berjejer memblokir cermin.

​"Aduh, cermin toilet sekarang serasa penuh deh," sindir Jeje sambil merapikan lipstik merah mudanya. "Soalnya ada penghuni baru yang mendadak merasa jadi primadona sekolah."

​Selly bersedekap dada, melangkah satu langkah lebih mendekat ke posisi Kiara dengan tatapan menghina. "Caper banget ya, pingsan di tengah lapangan biar digotong Khafi. Mau pakai alibi demam lah, dehidrasi lah... Sakit beneran apa cuma pengen cari perhatian Khafi, sih? Kasihan banget..."

​Kiara mematikan kran air, mengeringkan jemarinya dengan tisu santai tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.

​"Udah selesai ngomongnya?" tanya Kiara datar, menatap pantulan mata Selly dari cermin. "Kalau mau iri bilang aja, Sel. Nggak usah pusing-pusing bikin alur cerita fiksi begini. Mending bakat halusinasi lo itu dipake buat bikin cerpen Indonesia, lumayan dapet nilai."

​"Eh, jaga mulut lo ya!" sergah Bella tidak terima. "Lo tuh siapa sih berani-beraninya manfaatin kebaikan Khafi?! Semua orang juga tau lo itu musuh dia, nggak usah sok kecantikan!"

​Kiara berbalik badan penuh, menatap tiga cewek itu bergantian dengan senyum tipis yang meremehkan. "Gue nggak pernah minta bantuan Khafi. Yang datang duluan siapa, yang gotong siapa? Khafi-nya aja nggak protes, kok malah lo bertiga yang ngerengek? Lo siapanya Khafi? Ibunya? Bukan, kan?"

​Selly menghentakkan kakinya kesal, mukanya memerah menahan malu. "Lo..."

​"Permisi. Cewek-cewek repot, gue mau lewat," potong Kiara santai, menyenggol bahu Jeje hingga cewek itu terdorong ke samping, lalu melangkah keluar tanpa rasa takut.

   ​Namun, kelakuan Selly tidak berhenti di situ. Sore harinya, sebagai ketua ekskul penyiaran, Kiara baru selesai evaluasi rutin saat suasana sekolah sudah mulai sepi dan temaram. Saat hendak berjalan turun melewati tangga belakang dekat lorong laboratorium, langkahnya mendadak dicegah oleh Selly, Jeje, dan Bella.

​"Mau kemana lo? Belum selesai ya urusan kita!" gertak Selly sengaja menghalangi jalan turun.

​Kiara menghela napas lelah, membetulkan tali ranselnya. "Mau pulang lah. Mau apa lagi? Gue nggak ada waktu buat ngelayanin drama lo pada."

​"Nggak usah sok sibuk lo!" bentak Jeje sambil memajukan badannya. "Lo pikir lo siapa, Kiara?! Cuma cewek biasa yang kebetulan sekelas sama Khafi. Nggak usah kecentilan deh deket-deket dia!"

​"Ngasih perhatian, minta dianterin, minta digendong... geli tahu nggak liatnya!" timpal Bella dengan nada mencemooh. "Murahan banget cara lo nyari simpati cowok!"

​Kiara menyilangkan tangannya di dada, menatap Selly tajam tanpa gentar sedikit pun. "Kata 'murahan' itu lebih cocok buat kalian bertiga yang bela-belain nungguin gue di tangga sepi cuma demi nanya masalah cowok. Lo sebegitu insecure-nya ya, Sel? Takut Khafi ngelirik cewek lain sampai lo harus nyegat orang di lorong begini?"

​"Jaga mulut lo, Kiara!" pekik Selly murka, mendorong bahu Kiara kasar. "Khafi itu cuma kasihan sama lo! Lo tuh cuma cewek beban yang bisanya nyusahin orang! Jangan mikir dia beneran peduli sama lo!"

​Kiara menepis tangan Selly dengan sekali sentakan keras. "Kalau emang dia cuma kasihan, terus masalahnya di mana?! Kenapa lo yang kepanasan?! Harusnya lo intropeksi diri, kenapa Khafi lebih milih nolongin 'cewek beban' kayak gue dibanding ngelirik lo yang tiap hari nempel kayak benalu!"

​"KURANG AJAR LO YA!" geram Selly frustrasi.

​Selama hampir lima belas menit mereka saling adu mulut dan dorong-dorongan bahu di lorong tangga itu, hingga Selly dan gengnya akhirnya cape sendiri karena Kiara sama sekali tidak bisa ditindas apalagi sampai menangis. Dengan umpatan kasar, Selly akhirnya menyuruh dayang-dayangnya pergi meninggalkan Kiara sendirian.

​Kiara membuang napas kasar, menyandarkan punggungnya di dinding lorong. Napasnya terengah-engah karena menahan emosi yang melambung tinggi.

   ​Sementara itu di depan gerbang, Mang Ujang yang sudah menunggu sejak jam lima sore mulai gelisah karena ini sudah hampir jam setengah enam dan ponsel Kiara mati. Di rumah, Mama Kiara yang panik akhirnya nekat menelepon Khafi.

​Khafi yang baru saja selesai ganti baju usai latihan fisik mandiri langsung panik saat tahu Kiara belum pulang dan teleponnya tidak aktif. Tanpa membuang waktu, ia mengendarai motornya berkecepatan tinggi kembali ke sekolah.

​Tepat saat Kiara berjalan gontai keluar gerbang dan hendak masuk ke mobil Mang Ujang, tangan panjang Khafi mendadak menahan pintu mobil.

​"Dari mana aja lo? Jam segini baru keluar, ditelpon nggak aktif!" semprot Khafi dengan napas terengah-engah, raut khawatirnya bercampur emosi mendalam. "Nyokap lo panik di rumah, tahu nggak?! Mang Ujang juga hampir kena omel dari tadi!"

​Kiara yang sudah lelah fisik dan emosinya terkuras habis akibat ulah Selly seketika menyalang menatap Khafi. Melihat wajah cowok di depannya—sumber dari segala drama gila yang baru saja ia alami—membuat benteng kesabarannya runtuh total.

​"Nggak usah teriak-teriak sama gue, bisa?" bentak Kiara balik dengan suara bergetar menahan amarah. "Nggak usah sok perhatian! Ini semua gara-gara lo, tau nggak?! Gara-gara kelakuan lo yang sok pahlawan kayak gini!"

​Khafi tersentak. Rasa khawatirnya yang besar mendadak tersentil dengan rasa tak terima. "Kok jadi salah gue?! Gue balik lagi ke sini karena khawatir lo kenapa-napa, ya! Gue ditelepon nyokap lo! Bukannya bilang makasih malah marah-marah nggak jelas!"

​"Gue nggak pernah minta dikhawatirin sama lo! Siapa yang minta lo balik lagi ke sini?! Siapa yang minta lo gendong gue waktu itu?!" sergah Kiara tajam dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena emosi. "Mending lo jauhin gue sekalian! Gue muak kena masalah gara-gara lo!"

​Kiara mendorong dada Khafi keras hingga cowok itu terhuyung mundur, lalu langsung masuk ke mobil dan membanting pintunya. "Jalan sekarang, Mang!"

​Mobil melaju meninggalkan Khafi yang berdiri mematung di depan gerbang dengan napas memburu dan emosi yang melambung tinggi. "Aneh banget tuh cewek! Gue yang khawatir malah gue yang kena semprot!" umpat Khafi emosi.

​Namun, meski hatinya kesal setengah mati, Khafi tetap menaiki motornya dan membuntuti dari jarak aman hingga memastikan mobil yang membawa Kiara selamat sampai di pekarangan rumahnya.

Sesampainya di rumah, Kiara langsung naik ke lantai 2. Tidak mengindahi pertanyaan sang Mama agar ia bisa segera berendam air dingin untuk menghilangkan rasa amarah panas yang membara di dalam tubuhnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   ​Keesokan harinya, suasana kelas XI IPS 2 mendadak dingin mencekam. Khafi dan Kiara benar-benar terlibat perang dingin. Tidak ada adu argumen, tidak ada sapaan, bahkan lirikan mata pun saling dihindari.

​"Buset dah, ini kelas apa kutub utara? Dingin amat," celetuk Ferdi berbisik pada Kevin saat jam pelajaran kosong. "Si Khafi mukanya kayak tekukan celana pramuka, si Kia juga lebih kaya kanebo yang dijemur. Kenapa lagi tuh Tom and Jerry?"

​"Sut! Diem lo, Di. Jangan mancing singa yang lagi tidur buat bangun," bisik Kevin cemas. "Gue nanya Khafi tadi pagi aja cuma dijawab pake deheman doang. Serem."

​Neona yang duduk di samping Kiara juga merasa risih. "Kia, lo berantem sama Khafi? Kenapa sih? Tumbenan aman kalian anteng,"

​"Nggak usah bahas dia, Na. Gue males," jawab Kiara singkat tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

Neona yang merasa diabaikan hanya bisa menghela napas sambil mengangkat kedua bahunya acuh saat beberapa anak kelas menyolek bahunya agar tahu apa yang terjadi pada kedua Tom and Jerry ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   ​Saat jam istirahat kedua, suasana kantin sedang riuh-riuhnya. Kiara duduk di salah satu meja bersama Neona, menikmati semangkuk soto yang ntah kenapa terasa lebih nikmat dari pada kemarin.

​SRRRK!

​Secara mendadak dan terang-terangan, sebuah gelas berisi jus jeruk dingin disenggol kasar oleh Selly yang berpura-pura melintas, hingga tumpah sepenuhnya mengenai bagian depan seragam putih Kiara. Es dan cairan lengket berwarna oranye itu merembes cepat, membuat kemeja putihnya basah kuyup dan menciplak transparan.

​"Ops! Sorry, nggak sengaja! Tangan gue kepeleset," ucap Selly dengan nada mengejek yang sangat kentara, berdiri di samping meja sambil tersenyum puas.

​"SELLY! LO APA-APAAN SIH?!" teriak Neona histeris seraya bangkit berdiri, langsung mendorong bahu Selly hingga cewek itu terhuyung. "Mata lo ditaro di mana, hah?! Sengaja kan lo?!"

​"Santai dong! Kan gue udah bilang nggak sengaja!" nyolot Selly balik.

​Kiara yang mematung mengamati seragamnya basah kuyup langsung berdiri dengan emosi yang sudah memuncak. "Nggak usah akting lo, Sell! Kemarin di tangga belum puas lo ganggu gue?!"

​"Apaan sih?! Siapa yang ganggu lo kemarin?!" elak Selly.

​Tanpa banyak bicara lagi, Neona yang sudah tidak tahan langsung memaju dan menarik rambut panjang Selly kasar. "LO BIKIN SAHABAT GUE SUSAH MULU YA DARI KEMARIN!"

​"ARGH! LEPASIN GAK! JEJE, BELLA, BANTUIN GUE!" jerit Selly kesakitan.

​Seketika perkelahian khas cewek pecah di tengah kantin. Jeje dan Bella ikut menarik rambut Neona, sementara Kiara tidak tinggal diam—ia langsung maju menjambak rambut Selly balik dan mendorong Bella hingga menabrak meja. Suasana kantin gempar, jeritan cewek dan sorakan anak-anak cowok memenuhi ruangan.

​"LEPASIN SAHABAT GUE, LEPAS!" teriak Kiara sambil mencengkeram erat rambut Selly, membalas jambakan cewek itu.

​"LO YANG MURAHAN, KIARA! LEPASIN GAK!" jerit Selly histeris sambil terus saling jambak dengan Kiara.

​Di saat keributan makin meluas, Khafi bersama Kevin, Ferdi, dan Pandu yang baru masuk kantin kaget setengah mati.

​"WOI! ADA APAN TUH?!" teriak Ferdi heboh.

​Mata Khafi menangkap sosok Kiara yang sedang saling jambak dengan Selly, serta kemeja putih Kiara yang sudah basah kuyup dan menciplak transparan. Raut wajah Khafi seketika berubah ketat luar biasa.

​"UDAH, LEPASIN!" teriak Khafi menerobos kerumunan.

​Kevin dan Pandu dengan cepat menarik Neona, Jeje, dan Bella agar terpisah. Sementara Khafi langsung mencengkeram pergelangan tangan Selly, memaksa cewek itu melepas jambakannya dari rambut Kiara, lalu menarik Kiara mundur ke belakang tubuhnya.

​"Khafi... dia duluan yang jambak aku! Lihat nih rambut aku acak-acakan..." isak tangis Selly mendadak pasrah dan playing victim di depan Khafi.

​Khafi pasang badannya rapat-rapat sebagai tameng hidup di depan Kiara, menyembunyikan bagian depan seragam Kiara yang basah dari pandangan puluhan murid di kantin.

​"DIEM LO, SELLY!" bentak Khafi dengan suara menggeledak mendominasi seluruh kantin. Suasananya seketika hening total, tak ada satu pun yang berani bersuara. Tatapan Khafi sangat murka dan membunuh.

​"Khaf, aku tuh korban... dia yang nyiram aku duluan—"

​"Gue nggak butuh akting gila lo!" potong Khafi dengan rahang mengetat keras. "Gue udah tahu semuanya! Soal lo yang cegat dia kemarin sore di tangga belakang, soal lo yang ngatai-ngatain dia cewek beban! udah gue liat rekaman cctv nya."

​Selly membeku di tempatnya, mukanya pucat pasi memperlihatkan rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​"Denger ya, Selly!" tegas Khafi menunjuk wajah cewek itu. "Sekali lagi gue liat lo sentuh, ganggu, atau bikin Kiara nangis... gue nggak peduli lo cewek, urusan lo bakal langsung sama gue! Paham?!"

​Tanpa membuang waktu lagi, Khafi melepaskan seragam putihnya menyisakan kaos dalaman hitam, lalu menyampirkannya ke tubuh Kiara dari depan, membungkus tubuh mungil itu rapat-rapat. Dengan cengkeraman protektif namun lembut di pergelangan tangan Kiara, Khafi menarik gadis itu keluar menerobos kerumunan kantin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!